
"Maaf, aku terlambat," ujar Jovi dengan sedikit keringat diwajahnya, membuat dia semakin menarik dan mempesona, bagaimana kedua wanita itu tidak jatuh cinta padanya.
"Kau itu dari mana saja? Kenapa baru datang sekarang? kalau bukan karena kami yang mengulur waktu, mungkin kau tidak akan ikut berkemah," ujar Adit.
"Iya, iya. Terimakasih untuk kalian," jawab Jovi dengan nada bersalah.
"Tidak apa apa, yang penting Jovi sudah ada disini," Mawar ikut menimpali.
"Ya sudah, ayo!" ajak Adit dan mereka pun masuk kedalam bus.
"Ini dia orangnya yang membuat kita menunggu lama, dia pikir dia siapa? Berani beraninya membuang waktu kita," sindir Alex.
"Iya, benar benar tidak tahu malu," teriak teman teman Alex.
"Hey kalian, bisa tidak jangan mengusik orang, benar benar orang yang tidak bermoral," bantah Mawar dengan kesal.
"Apa kau bilang? Coba katakan sekali lagi jika kau berani!" teriak Alex sambil berdiri bertatap muka dengan Mawar.
"Aku bilang kau orang yang tidak bermoral. Puas?" teriak Mawar dengan melototi Alex.
"Kurang ajar," Alex sangat kesal hingga ia ingin memukul Mawar.
Jovi yang berada dibelakang Mawar segera mencengkram tangan Alex dengan kuat, hingga membuat Alex mengaduh kesakitan.
"Kau itu lelaki, berani beraninya ingin memukul seorang wanita, ganti kelamin saja sana," ujar Jovi datar sembari melepas tangan Alex dengan kasar.
"Kurang ajar, beraninya kau menghinaku," Alex dengan marahnya mencengkram kerah baju Jovi.
Jovi sama sekali tidak takut, melainkan dia terlihat sangat tenang, padahal Aurel dan Mawar sudah sangat khawatir.
"Percaya atau tidak? Tampangmu yang sekarang ini, benar benar mirip dengan seekor anj*ng jalanan yang tidak pernah diberi makan," Jovi semakin senang meledek Alex.
Alex semakin terbakar oleh amarahnya, disaat dia hendak memukul Jovi, tiba tiba Adit bersuara.
__ADS_1
"Apa kau sudah bosan hidup hah? Apa kau tidak pernah dikasih tahu oleh temanmu mengenai peringatanku, jangan pernah mengganggu Jovi jika tidak ingin melihat akhir hidupmu melarat," ucap Adit dengan tegas.
Alex seketika terdiam dan melepaskan cengkramannya dari baju Jovi.
"Maafkan aku tuan muda." Alex menunduk hormat pada Adit.
"Duduklah dengan baik ditempatmu, dan jangan coba coba untuk mencari masalah dengan siapapun." Adit memerintahkan Alex layaknya memerintahkan anak kecil.
Alex dengan nurut duduk kembali ditempatnya, dia melirik sekilas kearah Jovi, terlihat Jovi sedang tersenyum penuh penghinaan menatap kearahnya.
Alex mengepalkan tangannya dengan sangat kuat karena kesal, jika bukan karena disana ada Adit, pasti dia akan mengamuk dan menghajar Jovi habis habisan.
Jovi dan teman temannya juga duduk dikursi masing masing, pria dan wanita duduk secara terpisah, wanita duduk disebelah kiri dan pria disebelah kanan.
Beberapa menit kemudian tiga orang mahasiswa berdiri, salah satunya memegang gitar.
"Teman teman sekalian, agar kalian tidak merasa bosan dalam perjalanan ini, izinkan kami untuk menghibur kalian dengan suara kami," teriak salah seorang pria bergitar.
Semua orang bersorak dan bertepuk tangan dengan gembira.
Suasana didalam bus menjadi sangat meriah, dengan suara tawa semua mahasiswa.
Aurel diam diam melirik kearah Jovi yang tersenyum lepas, wajahnya semakin diperhatikan malah semakin tampan, membuat Aurel tenggelam dalam dunianya sendiri menatap kearah Jovi.
Jovi yang sangat teliti, menyadari jika Aurel sedang menatapnya, dia lantas menatap balik kearah Aurel, Aurel tiba tiba memalingkan wajahnya menghadap kedepan seolah olah menikmati pertunjukan teman sekampusnya.
Jovi tersenyum geli sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah Aurel yang berpura pura.
Hingga akhirnya Jovi merasa sangat mengantuk, karena dia memang kurang tidur, Jovi akhirnya terlelap, masuk kealam mimpinya.
***
Kini hari telah siang, Jovi pun terbangun dari tidurnya, semua orang membuka bekal mereka masing masing untuk mengisi perut mereka, Jovi menyadari kalau dia lupa menyiapkan bekal dari rumah, hingga dia berdiam saja sambil menutup matanya agar sedikit tenang.
__ADS_1
Aurel yang melihat Jovi tidak makan, dia datang menghampiri Jovi untuk menawarkan bekal yang sengaja dia bawa untuk diberikan kepada Jovi.
"Jovi. Apa kau ingin menerima ini dariku? Aku sudah menyiapkannya untukmu," ujar Aurel menawari.
Jovi hanya berdiam saja memandangi Aurel, Adit yang tidak sabaran, segera mengambil kotak makanan dari tangan Aurel dan diberikan kepada Jovi.
"Lama sekali. Terima saja! jangan menolak niat baik orang," ujar Adit sambil memberikan kotak makanan ketangan Jovi.
Jovi mau tak mau menerimanya, dia menghela nafas panjang menatap Adit. Lalu berbalik memandang Aurel dan tersenyum.
"Terimakasih atas niat baikmu, akan aku makan nanti," ujar Jovi, lalu menyimpan kotak makanan karena dia tidak merasa lapar
Hati Aurel terasa berbunga bunga karena baru kali ini dia melihat Jovi tersenyum padanya, wajar saja Jovi tidak pernah tersenyum padanya, karena dia yang terlalu galak.
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya mereka sampai ketempat tujuan, semuanya merasa senang dan lega, setelah lama duduk di dalam bus, mahasiswa keluar satu persatu, dan meregangkan badan mereka yang terasa kaku dan menghirup udara segar.
Mereka pun bersiap untuk naik bukit, karena tujuan berkemah mereka memang di atas bukit.
pada awal awal, semua tampak gembira dan bersemangat, tapi setelah setengah dari perjalanan, para wanita telah banyak yang mengeluh karena letih.
"Kakak senior, tidak bisakah kita istirahat terlebih dahulu, kakiku sudah tidak sanggup lagi," ujar salah satu wanita yang sudah sangat kelelahan.
"Suruh saja pada teman lelaki yang masih punya banyak tenaga untuk menggendongmu, kita tidak bisa membuang waktu yang ada, hari sudah sore, akan semakin sulit untuk kita melanjutkan perjalanan jika sudah gelap," bantah senior.
Untungnya masih ada yang baik hati mau menggendongnya, semua wanita yang melihatnya jadi ikut ikutan pengen digendong, tetapi sayangnya sudah tidak ada lagi yang bersedia.
"Aurel, kau tidak ingin meminta Jovi untuk menggendongmu?" Adit dengan sengaja mengucapkannya dengan sedikit keras, karena ingin Jovi mendengarnya.
"Apa apaan kau ini, jangan membuatku malu," bisik Aurel sembari mencubit lengan Adit, Adit tertawa cekikikan.
Jovi yang mendengar perkataan Adit hanya bisa menggelengkan kepala saja.
Setelah sampai ditempat yang dituju, semuanya bergegas memasang tenda, berbeda dengan Jovi, dia langsung pergi berburu untuk makan malam, sekaligus mencoba keampuhan obat pelumpuh yang dia racik sendiri, beserta jarum yang diberikan oleh Paman Ghani.
__ADS_1
"Kemana Jovi? Kenapa aku tidak melihatnya sedari tadi?" tanya Aurel saat dia telah selesai memasang tendanya.
"Tidak tahu, dia bilang ada urusan sebentar dan hanya menitipkan tasnya ini," jawab Adit sambil mengangkat bahunya.