
Aktivitas fisik itu benar benar membuat mereka lelah, mereka sama sama terbaring sambil berpelukan dengan sangat erat seakan tak ingin lepas lagi.
"Jovi .... " Aurel mendongak menatap wajah tampan suaminya. Yang saat ini kepalanya terbenam didada Jovi.
"Kenapa?" Jovi menunduk, hingga mereka saling bertatap mata.
"Aku mencintaimu!" Aurel menatap Jovi penuh cinta.
Jovi tersenyum lebar sembari mendaratkan kembali bibirnya ke kening Aurel.
"Kenapa diam saja? Tidak ada yang mau diucapkan untukku?" Aurel merengek manja.
"Memangnya kamu mau aku mengucapkan apa?"
"Tidak ada. Lupakan saja." Aurel menggeleng lalu kembali membenamkan kepalanya didada Jovi, Jovi tertawa cekikikan melihat tingkah Aurel.
"Cinta itu tidak perlu selalu diungkapkan, nanti kamu akan bosan," ucap Jovi tiba tiba.
Kamu tidak tahu saja, seorang wanita itu selalu menginginkan pernyataan cinta dari pasangannya, hal sederhana seperti itu akan terasa sangat menyenangkan. Kapan dia akan mengerti tentang keinginanku? Selama ini, hanya aku saja yang selalau mengungkapkan perasaanku padanya. Sedangkan dia? Tidak pernah sama sekali. Aurel terus saja memasang wajah masamnya tanpa menatap Jovi.
"Sekarang sudah hampir larut malam. Pergilah mandi!" ujar Aurel sembari melepas pelukan Jovi.
"Tidak mau, aku ingin terus bersamamu." Jovi kembali menarik tubuh Aurel dan memeluknya.
"Ayolah. Kalau kamu tidak mau mandi sekarang, aku yang akan mandi duluan." Aurel merasa tubuhnya sudah sangat lengket akibat pertempuran panas tadi.
"Baiklah. Aku akan pergi." dengan sangat malas Jovi beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Aurel tersenyum menatap punggung Jovi, Akhirnya dia bisa kembali merasakan kelembutan Jovi seperti dulu.
"Aurel .... " teriak Jovi dari kamar mandi.
Aurel mengerutkan keningnya. Kenapa Jovi tiba tiba memanggilnya?
"Sayang .... " terdengar kembali suara Jovi yang berteriak.
"Iya iya. Ada apa?" Aurel segera menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Kenapa belum mandi?" tanya Aurel saat melihat tubuh Jovi yang tidak terkena air sedikitpun.
"Aku tidak bisa mandi sendiri, aku butuh bantuanmu. Kamu lihat! Tanganku masih sakit," ujar Jovi berpura pura.
"Benarkah? Bukannya tadi tanganmu terlihat baik baik saja saat bermain kuda? Kenapa tiba tiba bilang sakit?" Aurel mengangkat alisnya curiga, Jovi tersenyum mendengar ucapan Aurel.
"Sayang. Kamu tahu? Ucapanmu barusan terdengar sedikit nakal," ledek Jovi.
"Kamu ... Bicara apa? Jangan sembarangan!" Aurel memalingkan wajah karena malu.
"Aku bicara sesuai dengan faktanya, ucapanmu barusan memang terdengar nakal. Kamu seakan sengaja mengingatkanku dengan aktifivitas yang seru tadi, apa kamu mau mengulanginya baby?" ucap Jovi dengan nada menggoda.
"Jangan banyak bicara, sini aku bantu!" Aurel langsung mendekati Jovi, Aurel masih saja terlihat malu saat menyabuni badan Jovi.
Jovi tersenyum geli melihat Aurel malu malu, membuat dia semakin ingin memakan Aurel detik itu juga.
"Sayang," panggil Jovi pelan.
"Hmm," jawab Aurel tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kenapa tidak ingin melihat wajahku? Apakah tubuhku lebih menarik dari wajahku yang tampan ini?" goda Jovi, tapi Aurel sama sekali tak menghiraukannya.
"Kamu, kenapa senang sekali membuat aku terkejut?" ujar Aurel cemberut.
Jovi menarik pinggang Aurel dengan sebelah tangannya dan mendekapnya.
"Habisnya, istriku ini begitu menggemaskan, membuat aku kehilangan kendali," bisik Jovi ditelinga Aurel.
" Diamlah. Jangan banyak bergerak, aku sedang memandikanmu." Aurel segera melepas tangan Jovi yang memeluk pinggangnya.
"Apa aku boleh merasakannya lagi?" goda Jovi dengan sangat nakal. Aurel seketika melotot kearah Jovi.
"Besar sekali matamu, membuatku takut saja," ucap Jovi berpura pura, dan Aurel menyunggingkan bibirnya tak habis pikir.
"Bagaimana? Apakah boleh?" tanya Jovi lagi tanpa menghilangkan senyum usilnya.
"Aku sudah sangat lelah, kamu itu kuat sekali, aku tidak kuat menahan seranganmu," ucap Aurel yang masih sibuk menggosok tubuh Jovi.
__ADS_1
"Sekarang aku janji tidak akan lama lagi. Bagaimana?" Jovi terus saja menggoda Aurel.
"Bagaimana ya?" jawab Aurel seolah olah sedang berpikir.
Melihat Aurel yang begitu lama, Jovi tidak lagi menunggu jawabannya, ia segera menyerang bibir merah merekah itu untuk santapan nafsunya.
dan malam itu juga, mereka berhasil melakukannya dua kali dalam satu malam.
Setelahnya mereka mandi bersama, tapi saat ini, Jovi lah yang memandikan Aurel, karena Aurel sudah tidak sanggup lagi mengendalikan tenaganya akibat Jovi yang begitu buas.
"Tadi yang kamu janjikan apa? Kamu bilang tidak akan lama, tapi nyatanya? Tulangku semua hampir remuk, hingga berdiri saja rasanya sangat lemas," ucap Aurel yang terdengar begitu kelelahan.
"Sayang. Kamu tidak bisa menyalahkanku, salahkan adik kecilku ini, kenapa dia tidak ingin di ajak bekerja sama," jawab Jovi yang berpura pura kasihan.
"Jangan bercanda, aku serius. Aku benar benar lelah. Cepatlah sedikit, aku mau istirahat!" Aurel merasa sudah sangat mengantuk saat Jovi masih menggosok punggungnya dengan sabun.
Jovi pun melanjutkan pekerjaannya dan setelahnya dia tidak membiarkan Aurel berjalan keluar dari kamar mandi, melainkan menggendongnya, meski tangannya masih terasa perih.
"Duduk dulu! Aku akan mengeringkan rambutmu," ujar Jovi sembari mengambil hair dryer milik Aurel yang memang dia bawa dari rumahnya.
Namun saat Jovi menoleh lagi untuk menghampiri Aurel, Aurel telah terbaring dikasur tak dapat lagi menahan kantuknya.
"Astaga. Disuruh duduk malah tidur." Jovi mendengus lalu menghampiri Aurel.
"Sayang. Bangun dulu! Tidak baik tidur dalam keadaan rambut yang basah," ucap Jovi sembari mengelus lembut pipi Aurel.
"Aku sangat mengantuk, tidak bisa menunggu lebih lama lagi, meski hanya sedetik. Untuk kali ini biarkan saja aku tidur dalam keadaan rambut yang basah." Aurel sekuat tenaga mengumpulkan sedikit kesadarannya untuk menjawab Jovi, meski matanya tetap terpejam.
"Tidak. Kamu boleh tidur setelah rambutmu dikeringkan," ucap Jovi sambil menusuk nusuk pipi Aurel, namun Aurel sama sekali tak merespon apapun.
"Jika kamu tidak mau bangun, maka aku akan kembali memakanmu untuk yang ketiga kalinya dalam satu malam," bisik Jovi ditelinga Aurel.
Aurel yang belum sepenuhnya tertidur, seketika bangun dengan cepat, ia tidak ingin jika Jovi benar benar akan melakukannya, dia sangat menyerah jika harus melakukan kali ketiga dalam satu malam.
Jovi tersenyum menang melihat Aurel yang terlihat takut saat dia mengucapkan hal itu.
Dan Setelah beberapa menit menahan kantuk, akhirnya Aurel tertidur. Jovi belum sempat mengeringkan rambut Aurel sampai benar benar kering.
__ADS_1
Tetapi ya sudahlah, Jovi juga tidak tega untuk memaksanya bangun, dia juga merasa sangat ngantuk.
Sebelum Jovi tidur, ia mengganti perban lukanya terlebih dahulu, ia tidak lagi sempat meracik obat kunonya, karena dia juga kelelahan, dan setelahnya, dia pun menyusul Aurel untuk memasuki dunia mimpi, dengan memeluk Aurel sangat erat menjalani malam yang penuh sejarah itu.