ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Trending Topic


__ADS_3

Dimalam hari, tepat pada pukul 20:00, Jovi menunggu diluar bandara, sesaat kemudia, seorang gadis cantik, tinggi, dan juga berkulit putih, melambai kearahnya.


Siapa lagi kalau bukan Resta, senyum sumringah ia lontarkan untuk Jovi, setelah begitu lama tidak bertemu.


Resta memeluk Jovi dengan sangat erat, merasa begitu merindukan orang yang dia sukai sejak dulu, namun Jovi sama sekali tak membalas pelukannya.


"Bagaimana kabarmu Jovi? Kamu semakin tampan saja," ucap Resta sembari mencubit pipi Jovi dengan gemas, Jovi hanya tersenyum kecut tak menjawab apapun.


"Kenapa? Apa kamu sakit? Tampaknya kamu tidak bersemangat, apa aku merepotkanmu dengan menyuruhmu untuk menjemputku?" tanya Resta cemberut.


"Tidak. Aku baik baik saja, aku hanya lapar. Bagaimana jika kita makan dulu saja?" Jovi mengalihkan pembicaraan.


"Oh ternyata kamu lapar, kasian sekali. Menungguku disini sampai tidak makan, kamu perhatian sekali," ucap Resta dengan manja.


Jovi hanya tersenyum kikuk melihat sikapnya, lalu masuk kemobilnya dengan disusul oleh Resta yang duduk tepat disampingnya.


"Bagaimana kehidupanmu selama ini? Apakah menyenangkan? Bagaimana kabar Paman dan Bibi?" tanya Resta saat mobil telah melaju.


"Kehidupanku baik, mereka juga baik baik saja," jawab Jovi seadanya.


"Kamu tahu? Aku benar benar merindukanmu selama ini," Resta kembali bicara sembari menyentuh tangan Jovi.


Jovi segera melepas tangannya yang dipegang oleh Resta, berpura pura ingin menggaruk kepala.


"Jovi ... Aku dengar kamu sudah menikah," ucap Resta lirih.


"Iya."


"Dimana istrimu? Aku ingin sekali berkenalan dengannya," ujarnya berpura pura.


"Dia dirumah, tapi untuk kenalan, mungkin tidak sekarang," jawab Jovi, saat ini dia sedang dalam hubungan yang tidak baik bersama Aurel, jika ia mengenalkan seorang wanita padanya, Aurel bisa saja salah paham padanya.


"Oh. Baiklah." Resta mengangguk pelan.

__ADS_1


Tidak lama mereka pun sampai disatu Restaurant, dan mereka makan malam bersama, sambil sesekali mengobrol tentang kehidupan masing masing.


Setelahnya, Jovi mengantar Resta ke sebuah hotel, untuk dia menginap sementara waktu.


Saat baru saja keluar dari ruang lift, tiba tiba Resta mengalami sakit perut yang teramat, akhir akhir ini, sakit perutnya seringkali datang secara tiba tiba, dan itu sungguh sangat menyakitkan baginya, ia sering mendatangi dokter untuk memeriksa apakah ada masalah pada bagian perutnya, tapi jawabannya sama saja, semua normal tanpa ada masalah.


"Kamu kenapa?" tanya Jovi heran, barusan dia tidak apa apa, sekarang tiba tiba kesakitan hingga tak mampu berdiri.


"Perutku sakit sekali Jovi. Aku tidak kuat untuk berjalan." Resta merintih kesakitan memegangi perutnya dengan sangat kuat.


"Kita kedokter saja!" ujar Jovi


"Tidak, tidak. Aku tidak ingin kedokter," tolak Resta, karena dia tahu, akan percuma saja jika datang kedokter.


"Tetapi sakit perutmu akan semakin kuat jika tak diperikasa." Jovi tampak sedikit khawatir melihat Resta yang kesakitan.


"Tidak. Aku hanya perlu istirahat, maka sakitnya perlahan lahan akan menghilang sendiri. Apa kamu bisa menggendongku? Aku tidak kuat untuk berjalan." Resta menatap Jovi, berharap Jovi bersedia untuk menggendongnya.


Sesaat Jovi hanya terdiam tanpa melakukan aksi apapun, tetapi saat melihat Resta yang tampak berkeringat menahan sakit, ia dengan terpaksa harus menggendongnya karena merasa tidak tega.


"Istirahatlah!" Jovi menyelimuti tubuh Resta.


"Apa kamu akan pulang sekarang?" tanya Resta yang sangat berharap bahwa Jovi akan menemaninya.


"Tidak. Aku akan menemanimu disini sampai perutmu tidak sakit lagi," ujar Jovi sembari melangkah menuju Sofa.


"Terimakasih!" Resta tersenyum senang menatap Jovi, dan Jovi hanya membalasnya dengan senyum kecil yang terpahat dibibirnya.


Tidak lama Jovi duduk disana, tanpa sadar ia tertidur, dia merasa sangat lelah, seharian hanya mengelilingi jalanan tanpa tahu mau kemana, mau bekerja, ia sama sekali tidak memiliki mood yang bagus.


Resta tersenyum melihat Jovi yang tertidur, ia lantas menghampirinya, dan duduk disamping Jovi.


Jovi ... Kenapa kamu begitu tampan? Kamu benar benar mampu menggoda semua wanita dengan ketampananmu ini, andai saja yang memilikimu itu adalah aku, maka aku akan merasa menjadi wanita paling beruntung didunia ini. Resta tersenyum mengamati, sesekali tangannya menyentuh wajah, dan rambut Jovi.

__ADS_1


"Dimomen seperti ini, akan sayang jika tidak di abadikan." Resta meraih ponselnya, lalu mengambil gambar dirinya bersama Jovi yang saat ini sedang tertidur pulas.


"Uhh ... Menggemaskan sekali." Resta membagikan momen itu ke sosial medianya.


Dalam sekejap, momen itu mendapatkan beribu like bahkan ada yang menyebarkannya.


Tidak heran jika orang orang terkejut melihat itu, dalam waktu yang cukup lama, sang CEO ADN GROUP yang tidak pernah lagi terlibat dalam scandal dengan para wanita, tiba tiba kini beredar sebuah foto dirinya bersama wanita.


Sontak saja, postingan itu mendapatkan banyak dukungan dari orang orang, bahkan ada yang berdoa agar mereka berdua menikah, dan menjadi pasangan hidup bahagia selamanya.


Keesokan pagi, kembali ada berita yang menyangkut tentang Jovi dan Resta.


Entah reporter mana yang diam diam mengambil foto mereka berdua, dari yang mereka berpelukan di bandara, makan bersama sambil mengobrol ria, sampai disaat Jovi menggendong Resta memasuki sebuah kamar hotel, berita itu kembali menjadi trending topic yang begitu panas, dan dibicarakan dimana mana.


Rasya yang saat ini sedang duduk santai diruang tamu, tidak sengaja melihat berita itu di ponselnya.


Sontak saja dia melompat lompat kegirangan melihat berita kakaknya, dan Jovi.


Tidak menyangka, bahwa kakaknya itu cukup agresif juga dalam mengejar cinta.


Aurel yang baru saja keluar dari kamar, lantas meledek Rasya yang saat ini sedang melompat lompat.


"Yang namanya ank kecil, tetaplah anak kecil, lihat saja tingkahnya, melompat lompat seperti itu seakan sedang mendapatkan sebuah permen," ledek Aurel yang saat ini tengah menuruni anak tangga.


Rasya seketika menoleh kearah Aurel.


"Iya. Aku memang sedang mendapatkan sebuah permen, dan itu benar benar membuatku sangat senang, tapi sayang, itu mungkin akan menyakitkan untukmu, aku harap kamu bisa sabar dan tabah untuk melepas Kak Jovi dari sisimu." Rasya tersenyum sinis kembali meledek Aurel.


"Apa maksudmu berkata seperti itu?" Aurel mengeryit mendengar ucapan Rasya yang begitu tidak sopan.


"Oh. Jadi kamu belum mengetahuinya? Kasihan sekali. Apa kamu tahu kenapa Kak Jovi tidak pulang satu malaman ini?" tanya Rasya dengan sinis.


"Kamu tidak tahukan? Kasian sekali, mungkin sebentar lagi kamu akan berubah status menjadi janda yang terbuang." Rasya kembali menyindir Aurel.

__ADS_1


"Heh. Anak kecil. Aku sarankan kamu lebih menjaga kata katamu. Tidak baik jika kamu berkata tidak sopan dihadapan orang yang lebih tua darimu," ucap Aurel santai, dia sendiri belum mengetahui apa yang dimaksud dari ucapan Rasya.


__ADS_2