
Saat aku mendengar Aurel akan pergi, aku tak dapat menggambarkan isi pikiran dan perasaanku, semua terasa kacau, seakan duniaku tenggelam bersama harapan yang mulai jauh dalam dekapan.
Aku pulang sendiri tanpa kubolehkan Jimmy untuk mengantar, kulihat vila yang kutinggali bersama Aurel dari kejauhan, sangat sepi, lampu tidak ada yang menyala. Kembali aku menjalankan mobilku dengan perlahan hingga masuk ke gerbang vila.
ku injakkan kakiku di teras dengan tatapan kosong, ku buka pintu dengan perasaan yang tak menentu, jantung yang terus berdegup kencang, serta hati yang kian terasa perih.
Hanya ada kegelapan saat aku memasuki vila, segelap jalan kehidupan cintaku bersama Aurel, hingga aku buta arah, entah jalan mana yang harus aku tempuh agar mencapai titik terang itu.
Aku mencari saklar untuk menghidupkan lampu di ruang tamu.
Semua kembali terang saat lampu menyala, tetapi kenapa? Kenapa hatiku masih merasakan kegelapan? Bahkan tidak ada secercah sinar sedikitpun yang menyapa.
Aku melangkah menaiki anak tangga dengan langkah yang begitu pelan, seakan aku tak ingin sampai ke kamar. Kamar itu ada begitu banyak kenanganku bersamanya, dia orang pertama yang paling ingin ku lihat di setiap kali aku bangun dari tidur, ingin menciumnya, memeluknya, dan ingin mencurahkan segala kelelahan yang aku rasakan setiap kali aku pulang dari bekerja, walaupun tidak jarang kami menghabiskan waktu dengan membuat anak di saat aku pulang dan bangun tidur. Entah mengapa, tubuhnya begitu membuatku tidak tahan jika tidak memakannya, dia begitu menggoda, caranya memperlakukanku, membuat aku semakin tidak bisa untuk melupakannya.
***
Hari-hari berjalan sebagaimana mestinya, hanya saja ada perbedaan di dalam hatiku, aku kembali menjadi sosok lelaki yang dingin, rasanya tidak ada yang bisa membuat gairah hidupku bangkit kembali, aku terlalu malas menjalani hari tanpa dia.
Pada suatu saat Roni menghubungiku mengenai Adit yang dibawa oleh sekelompok mafia, aku pun pergi dengan mempertaruhkan nyawaku di medan peperangan, beruntung aku pernah mempelajari bagaimana caranya menembak.
Saat melihat Lani tertembak, aku seakan sedang melihat Aurel, pikiranku kacau pada saat itu, entah mengapa aku tiba-tiba teringat akan dia, aku mengkhawatirkannya, aku ingin menyudahi pertempuran itu dengan cepat, akhirnya aku mengambil resiko dengan menampakka diri agar aku bisa menyerbu lawan dengan leluasa, tetapi pasti akan ada resiko yang besar saat aku keluar tanpa perlindungan. Aku mendengar Jimmy meneriakiku, aku tak perduli, aku hanya fokus menarik pelatuk agar peluru beterbangan mengenai semua lawan, tetapi akhirnya aku tertembak, beruntung pihak lawan sudah banyak yang tumbang, jika tidak, aku pasti akan mati detik itu juga, sebab rasa sakitnya sudah menjalar ke otakku.
Saat aku bangun, aku telah berada di rumah sakit, aku tidak tahu keadaan mereka semua, termasuk Lani yang sempat tertembak.
Saat aku mendengar Aurel yang di bawa pergi, aku tidak bisa menunggu lukaku pulih, aku tahu dia dalam bahaya, aku tidak ingin terjadi apapun padanya.
Sebelum Aurel dibawa pergi, aku menyelidiki tentang Resta, ternyata Resta satu komplotan dengan Deni, wajar saja lelaki itu ada pada saat aku dan Aurel bertengkar, ternyata Restalah yang memberitahunya.
Aku ingin menjemput Aurel. Namun, kabar tentang Adit membuatku mengurungkan niat untuk pergi.
Mendengar Aurel yang di bawa pergi, terlebih dengan luka memar di wajah, aku tidak bisa membiarkannya dilukai lebih lama lagi.
***
Aku akhirnya berhasil membuat Deni tumbang, tapi aku tidak tahu apa dia selamat atau tidak, aku tidak sempat mengelak pada saat dia menembak ke arahku.
__ADS_1
Aku ambruk, aku mengusahakan diriku untuk bisa berbicara mengutarakan isi hatiku pada wanita yang begitu aku cintai.
Setelahnya aku sudah tidak mengingat apapun lagi, cahaya terang seakan telah datang untuk menjemput kedatanganku ke alam lain, tetapi tangisan anak kecil selalu terngiang di telingaku, memanggil agar aku kembali, aku tidak tahu anak kecil siapa yang sedang memanggilku, tapi entah kenapa, aku merasa sangat sakit jika aku harus pergi dan meninggalkannya. Akhirnya aku hanya diam di tempat tanpa bergerak maju ataupun mundur.
Setelahnya aku tidak ingat apapun lagi, semua gelap gulita tak ada cahaya apapun, semua lenyap bersama suara anak itu.
Saat aku terbangun, aku tak melihat Aurel di sampingku. Namun, dadaku masih terasa sedikit sakit.
"Akhirnya kamu bangun, Nak." Aku menoleh ke arah sumber suara, ternyata itu suara Paman Ghani.
Aku melihat ke seluruh sudut, aku melihatnya tidak mirip dengan sebuah rumah, gelap dan hanya diterangi dengan cahaya obor seperti orang-orang di zaman dahulu. Sebenarnya ada di mana aku?
"Kamu tidak perlu heran, kita sekarang ada di sebuah gua, kita berada di tengah hutan." Paman Ghani tampak menuangkan sedikit air ke sebuah gelas bambu dan memberikannya kepadaku.
"Minum ramuan ini terlebih dahulu," ujar Paman Ghani.
Aku sebenarnya tidak heran, Paman Ghani dulu memang tinggal di hutan, itu sebabnya dia memiliki kekebalan tubuh yang begitu kuat karena sering berlatih dan bersemedi di dalam hutan ataupun mencari tempat seperti gua.
Dulu aku tidak percaya akan semua itu, ini sudah Zaman apa? Bagaimana mungkin masih ada yang namanya bersemedi, tetapi saat aku diajak oleh Paman Ghani untuk pergi ke hutan, aku akhirnya mengerti, untuk bertahan di dalam hutan kita memang harus memiliki kekuatan tersendiri agar bisa menjaga keselamatan dari binatang buas, aku bahkan sempat mendapatkan latihan untuk berebut makanan dengan seekor harimau, itu sungguh suatu hal yang mengerikan bagiku, aku berpikir bahwa aku pasti tidak akan dapat mengalahkan harimau tersebut, tapi siapa yang menyangka, ternyata akulah yang mampu mengalahkannya dan merebut makanan itu.
"Hah?" Aku tercengang, maksudnya apa tidur selama tiga tahun?
"Iya. Kau itu lelaki pemalas, bagaimana mungkin kau baru bangun setelah tiga tahun berlalu, aku kasihan melihat sekretarismu itu, dia setiap minggu selalu datang kemari untuk melihat keadaanmu selama tiga tahun terakhir, aku sampai lelah melihatnya. Aku memberimu waktu sampai esok, jika kau tak bangun, aku akan menghentikan pengobatanku dan membiarkanmu tidur selamanya," ujar Paman Ghani lagi.
Aku menelan ludah, ucapan Paman Ghani membuatku merasa bersalah karena telah merepotkannya dengan mengobati dan menungguku di dalam gua selama tiga tahun lamanya.
Keesokan hari, aku sudah bisa berjalan meski sangat perlahan, sebab merasa tidak terbiasa selama tiga tahun aku terbaring tidak sadarkan diri.
Jimmy datang di hari itu.
"Tuan muda, Anda sudah sadar?" Jimmy segera menghampiriku.
Aku mengangguk dan berkata, "Ya."
"Baguslah. Tuan muda, Nyonya Aurel kini sudah melahirkan seorang bayi laki-laki, kini usianya sudah tiga tahun." Aku seketika menoleh ke arah Jimmy dengan membelalakkan mata.
__ADS_1
"Bayi?"
"Iya, Tuan muda. Itu bayi Anda dengan Nyonya Aurel," jawab Jimmy.
Aku hampir melompat kegirangan, ternyata aku memiliki anak yang aku tinggalkan selama tiga tahun.
Aku seketika meminta izin pada Paman Ghani untuk pulang, tapi Paman Ghani melarangku, dia mengatakan aku baru boleh pulang dua tahun lagi untuk memulihkan kembali kesehatanku agar bisa sembuh total.
Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, tetapi aku juga tidak ingin di kemudian hari sakitku kambuh, bagaimana aku akan menjaga mereka berdua jika aku sakit-sakitan.
Akhirnya aku putuskan untuk tetap tinggal. Dan aku memerintahkan Jimmy agar menyelidiki tentang Resta, mungkin di belakangnya masih ada seseorang yang merupakan dalang dari semua itu.
Selama sebulan lamanya Jimmy menyelidiki, ternyata benar saja, paman dan bibi yang dulu pernah datang ke kediaman Adiguna, merekalah dalang di balik penculikan Aurel dan juga Adit, mereka sengaja mengecohku dengan menculik Adit agar Deni memiliki banyak waktu untuk membawa Aurel pergi.
Aku begitu kesal saat mendengar laporan dari Jimmy, ingin sekali aku mencincang habis tubuh mereka menjadi berkeping-keping.
Setelah dua tahun kemudian, aku pulang, aku tidak langsung ke rumah, aku mengunjungi perusahaan terlebih dahulu, sebab Jimmy mengatakan, paman dan bibi ingin anaknya menggantikan aku sebagai pemilik ADN GROUP, bertepatan pada saat aku pulang, mereka sedang mengadakan peresmian untuk pemimpin baru ADN GROUP, aku datang tepat waktu.
Mereka semua yang hadir begitu terkejut melihat kedatanganku, sebagian ada yang tidak percaya bahwa aku masih hidup dan mengira aku adalah hantu.
Aku datang membawa polisi bersama, polisi segera menangkap mereka bertiga.
Sementara Resta, dia juga menjadi buronan polisi, tapi aku tidak menyangka, bahwa mereka juga menuntutku karena telah membunuh Deni.
Jimmy mengurus tentang kasusku, aku diberi keringanan, aku bisa membayar denda sebesar Seratus Triliun, karena posisi Deni juga bersalah dengan membuatku terluka, bedanya aku tidak mati akibat tembakannya.
semuanya aku berikan pada Jimmy untuk diurus, sedangkan aku pulang menemui anak dan istriku.
Setelah mendapat restu dan masalah terselesaikan, aku akhirnya bisa menikah dengan wanita yang begitu aku cintai, aku senang akhirnya bisa berkumpul dengan istri dan anakku.
Hari-hari kami lewati dengan kebahagiaan yang tidak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata.
Selesai
Cerita Samuel sudah tersedia ya, Guys. Judulnya The Greatest Mafia Lord
__ADS_1
Cus, dibaca :)