ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Berlatih


__ADS_3

Sesampainya Jovi dihalaman belakang, tiba tiba gurunya menyerang dari arah samping, namun karena tingkat kewaspadaan Jovi yang tinggi, dia mampu mengelak dengan cepat, keduanya pun bertarung dengan sengit, sekitar lima menit bertarung, tinju mereka saling beradu, hingga terdengar suara yang sangat keras, tetapi tidak menimbulkan rasa sakit sedikitpun.


Paman Ghani bertepuk tangan sembari tersenyum lebar, Jovi segera memberi hormat kepada gurunya.


"Tidak sia sia aku mengajarimu selama ini, kau memang murid kebanggaanku, dalam beberapa tahun kedepan, mungkin kau mampu melewatiku," ujar paman Ghani.


"Paman tidak perlu merendah, paman adalah orang hebat, aku tidak berani mengatakan bahwa aku mampu melewati paman suatu hari nanti," jawab Jovi.


"Kau salah nak, jika kau ingin menjadi orang hebat dalam dunia bela diri, kau harus memiliki tekad dan ambisi yang kuat, jangan berkecil hati seperti itu, katakanlah bahwa suatu hari kau mampu melewatiku, jangan pernah memperlihatkan sikap lembek dihadapanku jika kau ingin terus belajar padaku," tegas Paman Ghani.


"Baik Paman, Jovi akan mengingat pesan Paman," ucap Jovi hormat, Paman Ghani menganggukkan kepalanya.


"Bangunlah," perintah Paman Ghani, Jovi pun menurut dan berdiri tegak dihadapan gurunya.


"Kau pasti sudah tau kenapa aku ingin menemuimu disini," ucap paman Ghani.


"Iya, Papa mengatakannya padaku kemarin malam," jawab Jovi.


"Ilmu ini adalah ilmu yang terakhir yang akan aku turunkan untukmu, karena semua ilmuku telah kuajarkan padamu, dan kau menguasai semuanya, setelah kau menguasai ilmu yang satu ini, aku akan mengajarkanmu bagaimana caranya meracik obat kuno, dan meracik racun untuk berjaga jaga jika ada yang ingin mencelakaimu," jelas Paman Ghani.


"Apakah Paman serius ingin mengajariku cara meracik obat?" tanya Jovi dengan mata yang berbinar binar, sejak dulu dia memang sangat ingin menguasai ilmu dalam meracik obat, tidak dia sangka ternyata gurunya juga menguasai ilmu meracik obat obatan kuno.


Paman Ghani mengangguk dan Jovi tersenyum lebar karena merasa senang.


"Aku akan mengajarimu ilmu terakhir yang aku miliki, ini bisa membuat lawanmu tidak menyadari serangan darimu hingga dia tidak bisa bergerak atau juga bisa terpental jauh tanpa kau menyentuhnya," ujar Paman Ghani.


"Apakah memang bisa seperti itu?" tanya Jovi dan dibalas anggukan oleh Paman Ghani.


"Serangan ini menggunakan tenaga dalam, kau harus memiliki tenaga dalam yang cukup besar, agar bisa menguasainya," ujar paman Ghani dengan serius.

__ADS_1


"Apakah tenaga dalamku saat ini masih kurang?" tanya Jovi lagi.


"Sudah cukup, namun jika kau lebih sering melatih tenaga dalammu, itu akan menjadi lebih baik, kau akan dengan gampangnya menaklukkan lawanmu," Paman Ghani terus menjelaskannya pada Jovi, Jovi hanya mengangguk pelan.


Saat Jovi sedang berdiri tegak, tiba tiba tubuhnya terpental sejauh lima meter dari tempat semulanya, dia tersungkur ditanah, dan menoleh kearah Paman Ghani, terlihat wajah Paman Ghani yang tanpa ekpresi menatap ke arah Jovi.


Jovi bangun dan kembali berjalan menuju kearah paman Ghani, setelah dekat dari paman Ghani, tiba tiba badannya tidak bisa bergerak sedikitpun, terasa seluruh badannya menjadi kaku semua, beberapa saat akhirnya dia baru bisa menggerakkan badannya.


"Paman. Apakah ini ilmu yang Paman sebutkan tadi?" tanya Jovi.


"Iya, tetapi itu belum ada setengah dari kekuatan penuhnya, baru sepertiganya," jawab Paman Ghani.


"Hah? Baru sepertiga? Aku sudah terpental sejauh dua meter dan ini hanya sepertiganya saja? Jika kekuatannya dikerahkan hingga penuh, akan terpental sejauh apa?" Jovi menggelengkan kepalanya tak percaya sekaligus kagum.


"Bagaimana caranya Paman melakukan itu? Aku melihat paman tadi hanya diam ditempat, dan tidak bergerak?" tanya Jovi lagi.


"Aku kan sudah bilang padamu, ilmu ini akan membuat lawanmu tidak menyadari saat kau memyerangnya," ujar Paman Ghani, Jovi mengangguk mengerti.


"Coba kau lakukan apa yang kukatakan tadi, dan arahkan pada batu itu!" perintah Paman Ghani sembari menunjuk kearah batu yang terletak tidak jauh dari Jovi, Jovi mengangguk dan mencoba melakukan apa yang diajarkan oleh gurunya.


Batu bergeser sekitar satu meter dari tempat awal.


"Kenapa batunya tidak terpental? Melainkan hanya bergeser sedikit saja?" tanya Jovi heran.


"Tidak apa, itu sudah sangat lumayan untuk percobaan pertama, kau hanya tinggal melatihnya lebih sering lagi, untuk mencapai ke tingkat maksimalnya," ujar Paman Ghani.


"Sekarang aku akan mengajarimu membuat lawanmu tidak bisa bergerak, caranya juga hampir sama dengan yang ku ajarkan padamu setahun yang lalu, bedanya kau tidak perlu menatap lawanmu dengan tatapan yang mengerikan, kau bisa membuat lawanmu tidak berkutik dengan tatapan yang biasa saja hingga orang yang mengerti tentang tenaga dalam pun tidak akan menyadari apa yang kau lakukan, karena ilmu ini hanya aku saja yang mengetahuinya, dan hanya kuturunkan padamu, kuharap kau bisa merahasiakan teknik ini, untuk mencegah orang lain menyalahgunakan ilmu ini," ucap Paman Ghani panjang kali lebar.


***

__ADS_1


Setelah satu jam berlalu, Jovi telah menguasai ilmu yang diajarkan oleh gurunya dengan baik.


"Benar benar hebat dan cerdas, dalam satu jam sudah mampu menguasai ilmu yang sangat sulit ini, padahal aku sendiri dulunya membutuhkan waktu seminggu baru dapat melatihnya dengan benar, Paman kagum padamu," Paman Ghani tak berhenti memuji Jovi.


"Ini semua berkat kesabaran Paman dalam melatihku, Jovi sangat berhutang jasa pada Paman," ucap Jovi merendah.


"Tidak perlu sungkan, aku malah senang memiliki murid cerdas sepertimu, setidaknya ilmu yang ku miliki ini tidak akan punah dengan cepat, jika aku sudah tiada nanti," Paman Ghani menepuk bahu Jovi dan tersenyum.


"Jangan berkata seperti itu Paman, aku berharap Paman bisa hidup lebih lama lagi-" belum sempat Jovi menyelesaikan perkataannya, Paman Ghani langsung memotong pembicaraan.


"Agar kau bisa belajar ilmu yang lebih banyak lagi dariku kan?" canda Paman Ghani, Jovi menggaruk pelipisnya sembari tersenyum malu.


"Ah, Paman yang lebih tau," ujar Jovi malu malu.


"Emang dasar ini anak," Paman Ghani tertawa lepas dan diikuti pula dengan tawa Jovi.


Disaat Jovi dan Paman Ghani duduk beristirahat melepas penat, tiba tiba ponsel Jovi berdering, Ayahnya meneleponnya untuk mengajaknya makan bersama, karena sedari tadi Jovi tiba, dia belum makan sama sekali.


"Ada apa?" tanya Paman Ghani.


"Papa mengajak Paman dan aku untuk makan bersama," jawab Jovi.


"Baiklah, lebih baik kita makan saja terlebih dahulu untuk memulihkan tenaga, sehabis itu aku akan memberikanmu sedikit materi dan catatan bagaimana cara untuk meracik obat kuno," ujar Paman Ghani, Jovi mengangguk, lalu mereka pun berlalu pergi.


Untuk kemarin dan hari ini Author kasih double up untuk menggantikan empat hari yang tertinggal.


Semoga kalian suka dengan ceritanya.


Salam hangat dari Author, dan jangan lupa dukungannya berupa Vote, like, rate and Coment.

__ADS_1


Terimakasih 😘


__ADS_2