
***
Tiba dikampus Jovi dan Adit berjalan menuju kelas, tiba tiba seseorang menepuk pundak mereka berdua dari belakang, yaitu Aurel, yang sudah keluar dari rumah sakit.
"Hey. Apa kalian tidak ada yang rindu denganku?" Aurel berkata setelah mengejutkan mereka.
"Tidak" Jovi dan Adit berkata dengan serentak. Aurel cemberut pada mereka berdua.
"Hey Jovi, pacarmu ngambek tuh, kamu tidak bermaksud untuk membujuknya?" ledek Adit.
"Pacar apanya, aku tidak akan mau punya pacar mengerikan seperti dia," ujar Jovi berpura pura geli, sontak Aurel memukul lengan Jovi dengan keras, Jovi mengaduh kesakitan.
"Hey, aku belum memberi perhitungan denganmu atas apa yang kau lakukan padaku kemarin, dan sekarang kau malah kembali menghinaku, aku tidak akan membiarkanmu, sini aku beri kau pelajaran, karena sudah seenaknya menindasku," ujar Aurel kesal sembari menarik telinga Jovi dengan keras, Jovi berteriak kesakitan.
"Aawww ... Apa yang kau lakukan, apa kau mau menarik telingaku sampai putus hah? Lepaskan!" teriak Jovi
"Rasakan, itu akibatnya jika kau terlalu berani denganku," ujar Aurel sembari melepaskan tangannya dari telinga Jovi. Jovi meringis dan memegangi telinganya yang sudah memerah.
Adit ikut ngilu melihat telinga Jovi yang ditarik oleh Aurel, meskipun Aurel seorang perempuan tetapi tenaganya tidak diragukan lagi, Adit sudah sering mengalami hal itu, dimana telinganya ditarik oleh Aurel, itu sangat menyakitkan sampai Adit tidak sadar mengelurkan air mata jika telinganya ditarik oleh Aurel, tapi tidak dengan Jovi, Jovi hanya meringis saja, tidak sampai mengeluarkan air mata. seperti Adit.
"Minggir minggir nona muda ini mau lewat, jangan mengahalangi jalanku," ujar Aurel sombong sembari menolak tubuh Jovi dan Adit.
"Apa sahabatmu itu memiliki gangguan mental? kenapa setiap bertemu selalu saja main kasar begitu, tidak bisakah dia menjadi wanita seutuhnya saja," ujar Jovi yang memandangi punggung Aurel yang sudah berlalu.
"Dia memang seperti itu, terima sajalah, jika kau melawan, maka dia akan semakin bengis lagi," Adit tersenyum mengejek, Jovi menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
***
disiang hari Jovi memutuskan untuk pergi ke perpustakaan, untuk melihat lihat, siapa tahu ada buku yang membuatnya tertarik, disaat dia duduk dan membaca buku tentang ilmu bela diri, tiba tiba seorang wanita ikut duduk dihadapannya, wanita itu adalah Mawar.
__ADS_1
"Apa aku boleh duduk disini?" ujar Mawar pada Jovi.
Jovi hanya mengangguk dan melanjutkan membaca buku.
Ya Tuhan, setelah melihat lebih dekat lagi, dia semakin tampan, tetapi sangat disayangkan, dia begitu dingin, jika tidak, mungkin aku akan cepat mengambil hatinya. Batin Mawar.
"Kamu membaca buku tentang ilmu bela diri?" tanya Mawar lagi, Jovi melirik sebentar kearah Mawar sembari mengangguk dan melanjutkan membaca.
Canggung sekali, kenapa dia tidak mau mengeluarkan suaranya walau sedikit saja? Benak Mawar.
"Kamu jago beladiri?" lagi lagi Mawar bertanya.
"Hanya bisa sedikit saja," ujar Jovi tanpa melihat kearah Mawar.
"Wah, hebat sekali, apa kau mau mengajariku?" ujar Mawar tersenyum.
"Kenapa?" tanya Mawar, Jovi dibuat pusing oleh Mawar karena Mawar selalu saja bertanya.
"Karena aku tidak begitu mahir, lebih baik cari orang lain saja," ujar Jovi dengan nada yang semakin dingin.
tetapi Mawar pantang menyerah untuk mendekati Jovi, Mawar terus saja bertanya, walau tentang hal sepele sekalipun, membuat Jovi tidak bisa fokus dalam membaca.
"Katakan saja langsung, mau mu apa? Kau sudah mengganggu konsentrasiku dalam membaca, apa kau tidak memiliki pekerjaan lain, selain menggangguku?" ujar Jovi yang menatap Mawar dengan lekat.
Mawar tergagap mendengar ucapan Jovi yang terlihat tidak senang, harapannya seketika menciut, untuk mendekati lelaki pujaannya.
"Mmm- itu. Aku- Aku tidak bermaksud menganggumu, aku hanya ingin kita bisa kenal lebih dekat saja. Perkenalkan aku Mawar" ujar Mawar sembari mengulurkan tangannya pada Jovi.
"Sudah tahu. Kau wanita pemalas itu kan?" ujar Jovi.
__ADS_1
"Hah? Pemalas? Maksudnya?" Mawar tidak mengerti dengan perkataan Jovi.
"Lupakan. Aku tidak ingin mengenal wanita sepertimu, yang tidak menaati peraturan," ujar Jovi cuek.
Mawar menaikkan alisnya tak percaya.
Mengapa bisa pria ini begitu keras hati, bahkan untuk berkenalan saja dia tidak mau, apa dia tidak menyukai penampilan culunku ini, tapi ini merupakan trik ku, agar tidak ada pria sembarangan yang mendekatiku, tetapi akibatnya lelaki pujaanku juga tidak menyukaiku, apa aku harus menyerah? Tidak, aku harus berjuang lagi, tapi tidak untuk sekarang, lebih baik sekarang aku mengalah dulu saja. Batin Mawar.
"Baiklah, maaf jika aku mengganggu, aku pergi dulu, kamu bisa melanjutkan membaca buku," Mawar bergegas pergi setelah mengucapkannya.
Jovi tidak menanggapi perkataan Mawar, dia terus memandangi bukunya, tetapi saat Mawar pergi, dia mengalihkan pandangannya melihat punggung Mawar dari kejauhan, sembari menggelengkan kepalanya.
Mawar berlari menuju ke toilet, sesampainya disana, dia membasahi mukanya, dan berdiri lama tidak bergerak memandangi wajahnya yang didepan cermin.
"Apa yang salah denganmu ini, apa aku harus merubah penampilanku, agar dia tertarik? Tidak, tidak. Jika aku memperlihatkan wajah asliku belum tentu juga dia akan menyukaiku, lalu langkah apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memakai jurus yang lebih berani lagi?" Mawar berbicara sendiri didalam toilet.
Saat Mawar sedang berbicara tidak karuan, tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang, Mawar lupa menguncinya, disaat melihat Jovilah yang masuk, seketika jantung Mawar berdegup kencang, ia sulit untuk mengatur nafasnya agar bisa tenang.
Inilah saatnya aku menjalankan langkah selanjutnya, tetapi kenapa aku terlalu gugup? walau bagaimana pun, ini sangat berani dan lancang, apa dia tidak akan marah? Benak Mawar.
Mawar seketika maju dengan cepat dan mengecup bibir Jovi tanpa pikir panjang lagi. Jovi seketika membelalakkan matanya tak percaya, bagaimana mungkin wanita ini begitu berani, tiba tiba mencium seorang pria tanpa sungkan.
Sekitar sepuluh detik bibir mereka beradu, Mawar melepaskan kecupannya, dan langsung berlari keluar tanpa berkata apapun bahkan melihat wajah Jovi pun tidak sama sekali, dia tidak memiliki keberanian untuk melihat respon Jovi seperti apa, lebih tepatnya dia takut pria itu akan betul betul marah padanya.
Jovi yang ditinggal pergi oleh Mawar, terdiam seribu bahasa, masih tak dapat percaya dengan apa yang dialaminya barusan, dia masih berdiri tegak tanpa bergerak sedikit pun, beberapa saat dia akhirnya tersadar dari lamunannya.
"Apa yang wanita itu lakukan? Kenapa dia berada ditoilet pria, dan tiba tiba melakukan hal yang tidak senonoh padaku? Apa ini bisa disebut sebagai pelecehan? Aku tidak tahu bahwa wanita sekarang terlalu berani dalam bertindak, bahkan aku tidak sempat untuk mengelak," Jovi berkata kata dengan tatapan lurus kedepan.
"Apa memang aku yang memasuki toilet yang salah?" Jovi keluar untuk memastikan apakah dia memasuki toilet pria atau wanita, tetapi dipintu terbaca dengan jelas, bahwa itu toilet pria, apakah wanita itu sengaja, dan sudah merencanakan semua ini?
__ADS_1