
Kini tibalah saat konferensi pers akan dimulai, Jimmy telah menunggu Jovi diluar ruangan, sedangkan ayahnya telah masuk duluan.
Jovi memakai jasnya lalu masuk dengan diikuti oleh Jimmy di belakangnya.
Saat Jovi masuk, semua wartawan sibuk mengambil fotonya, ayahnya telah duduk disana menunggunya.
Jovi kemudian duduk disamping ayahnya dengan penuh kharisma, dan Jimmy berdiri dibelakangnya.
"Baiklah. Seperti yang kalian tahu, aku mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan tentang pengambilan alih perusahaan dari tanganku ke tangan anak semata wayangku ini, Jovi Adiguna, selanjutnya dia yang akan memimpin seluruh karyawan yang ada diperusahaan ini," ucap Tuan Bram dengan tegas.
"Pak, jika boleh tau, apa alasan Bapak tiba tiba memindahkan ADN GROUP ketangan Tuan muda Jovi? Sedangkan Bapak sendiri terbilang tidak begitu tua," tanya reporter.
"Ini karena anak saya sudah mampu mengemban tugas ini, bukan harus menunggu saya tua baru akan membiarkan dia untuk memimpin perusahaan, justru karena dia yang masih muda, akan lebih bagus jika dia dengan cepat mempelajari tentang dunia bisnis," jelas Tuan Bram.
"Bagaimana menurut anda Tuan Jovi? Bagaimana perasaan anda saat harus memimpin perusahaan sebesar ini, apakah anda merasa sedikit gugup?" tanya sang reporter.
"Hng ... Gugup?" Jovi tersenyum sinis, lalu mengitari pandangannya kesemua orang dengan tatapannya yang bagaikan es, semua orang sedikit takut melihat tatapan Jovi, mereka terdiam, memandang satu sama lain.
"Tidak ada kata gugup disaat harus sukses, kau harus siap secara fisik dan mental jika harus meraih kesuksesanmu, lalu dengan begini kau akan mencapai puncak kejayaan dan selalu bersinar kemana pun kau pergi, lalu untuk apa aku gugup? Justru aku akan semakin bersemangat membantai habis orang orang yang berani berkhianat pada perusahaan. Apa jawabanku ini sudah cukup?" ujar Jovi dengan sangat tegas tanpa memberi para wartawan itu untuk bernafas lega, semua dibuat tegang oleh perkataannya.
"I-Iya. Cukup, cukup." reporter itu tergagap sambil mengangguk dengan cepat merasa sedikit takut.
"Oh, ya. Satu lagi, bagi para karyawan yang bekerja di ADN GROUP ini, aku tegaskan pada kalian, bagi yang berani melanggar peringatan yang sudah disampaikan, maka aku tidak akan pernah sungkan untuk menendang kalian dari perusahaan ini. Camkan itu," ujar Jovi yang memperingati orang orang yang berani melanggar aturan.
"Baiklah, apa yang ingin dikatakan sudah disampaikan, kalian juga sepertinya tidak memiliki pertanyaan lagi, kalau begitu sampai disini saja," ujar Tuan Bram sembari bangkit dari duduknya.
Sebenarnya mereka bukan tidak mau bertanya, mereka memiliki begitu banyak pertanyaan yang ingin disampaikan, tetapi melihat aura Jovi, nyali mereka seketika menciut, mengucapkan sepatah kata saja lidah mereka seakan kelu.
Jovi pun ikut bangkit lalu meninggalkan ruangan dengan diikuti Jimmy dari belakang.
"Pak Presdir, Tuan besar katanya menunggu anda diruangan kerja anda, dia akan mengajak anda untuk berkenalan dengan para karyawan diperusahaan ini," ujar Jimmy, dan Jovi hanya mengangguk pelan.
Tiba diruangan, ayahnya sudah menunggunya disana.
__ADS_1
"Selamat datang, ruangan ini kelak akan menjadi milikmu, bagaimana? Apa kamu menyukainya?" tanya ayahnya.
Jovi mengitari pandangannya keseluruh sudut ruangan.
"Pah. Sejak kapan anda menjadi begitu norak begini? Aku tidak suka dengan walpaper dindingnya. Jimmy, kamu urus itu segera, aku tidak ingin ada corak aneh diruanganku," ujar Jovi mengerutkan alisnya tidak suka.
Norak? Menurutku itu sama sekali tidak norak, kenapa Jovi mengatakan kalau ini norak? Dia benar benar menjadi seorang yang posesif, dulu apapun yang aku suka, dia tidak pernah membantahnya, tetapi sekarang hanya sekedar walpaper dinding saja dia protes, benar benar tidak bisa ditebak lagi. Batin Pak Bram, yang hanya pasrah dengan sikap baru anaknya
"Ya sudah, selama Jimmy mengurus semua ini, Papa akan mengajakmu berkeliling dan berkenalan dengan para karyawan disini," ujar ayahnya.
"Ingat, kau harus mengerjakannya secepat mungkin, jangan sampai saat aku kembali, kau belum selesai mengurusnya, jika itu sampai terjadi, maka bersiaplah gajimu bulan ini akan aku potong," ujar Jovi datar pada Jimmy
Jimmy mengangguk dengan cepat, dia tidak rela jika gaji pertamanya harus dipotong, hanya karena masalah walpaper dinding.
Kenapa presdir begitu kejam padaku? Benar benar tidak memberikan aku sedikit kelonggaran. Batin Jimmy, yang kini hanya bisa pasrah dan menangis didalam hati.
Sedangkan karyawan diseluruh perusahaan, kini benar benar gempar dengan berita yang menayangkan sosok presdir baru mereka, semua media hanya mengabarkan tentang sosok Jovi, kini para wanita yang telah berseteru dengan Jovi, benar benar merasa kaget sekaligus takut, kalau kalau Jovi benar akan memecat mereka dari sini.
"Hah ... Salah kita yang tidak bisa mengenali orang, sampai berani menyinggungnya pula, kita hanya bisa menunggu waktu saja, untuk dikeluarkan dari perusahaan ini," ujar temannya dengan putus asa.
Sedangkan orang orang dibagian pemasaran, tidak kalah terkejutnya, mereka masih sangat ingat orang yang mereka maki maki sebenarnya adalah bos mereka, jika mereka tahu dari awal, mau dibayar berapapun mereka tidak akan sanggup untuk menyinggungnya, kini mereka sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, hanya ada dua kemungkinan, antara dipecat atau diberi kesempatan, mereka berharap kemungkinannya adalah yang kedua.
Jovi menyusuri perusahaan bersama ayahnya, mereka hanya datang kebagian bagian terpenting saja, dan saat mereka pergi kebagian pemasaran, disitu tidak terlihat lagi orang orang yang tidak disiplin, mereka berubah menjadi pekerja yang teladan, melihat ini, Jovi seakan jijik dengan orang orang munafik seperti mereka, dia tak mengatakan apapun, tetapi matanya mengandung sejuta aura yang mengerikan, membuat mereka tak berani untuk menatapnya.
"Kalian semua, perkenalkan, ini adalah presdir baru kalian, mulai sekarang kalian akan bekerja padanya," ujar ayahnya yang memperkenalkan Jovi.
"Hng. Aku takutnya mereka tidak lagi memiliki kesempatan untuk bekerja padaku," sindir Jovi. Mereka semua menunduk ketakutan mendengar perkataan Jovi.
"Maksud kamu?" tanya ayahnya tak mengerti.
"Tidak ada, ayo! aku tidak ingin berlama lama disini," Jovi menggelengkan kepala lalu berbalik pergi.
Ayahnya hanya bisa menggaruk kepala heran, hanya mengikuti apa yang dikatakan Jovi.
__ADS_1
Jovi kembali keruangannya dan tidak disangka Jimmy benar benar cepat dalam mengerjakan sesuatu, semuanya tertata sesuai dengan keinginanya.
"Bagaimana Pak presdir, bagus bukan? Aku sudah menyelesaikannya dengan sangat cepat," ucap Jimmy menyombongkan diri.
"Lumayan," ujar Jovi cuek sembari duduk dikursi keagungannya.
Apa tidak ada kata yang lebih menyakitkan lagi Pak presdir? Aku sudah susah payah, dan kamu hanya mengatakan satu kata, lumayan? Apakah masih ada orang yang sedingin dia didunia ini? Batin Jimmy.
"Jimmy. Apa itu? Buang sekarang juga!" ujar Jovi sembari menunjuk kearah bunga yang terletak diatas meja.
"Kenapa dibuang presdir?" tanya Jimmy heran.
"Jangan banyak tanya, jika aku mengatakan ini, ya kau tinggal menurut saja, tidak perlu repot repot bertanya, apa kau paham?" bentak Jovi, Jimmy ketakutan hingga ia tak lagi membuang waktu, segera mengambil bunga itu lalu memasukkannya ke tempat sampah.
"Jam berapa rapat dimulai?" tanya Jovi ketus.
"Sepuluh menit lagi Pak," jawab Jimmy, dan Jovi hanya diam saja.
"Ambilkan aku segelas teh!" dan Jimmy segera keluar dari ruangan, menuruti apa yang dikatakan Jovi.
Setelah kepergian Jimmy, Jovi meratap keluar jendela, melihat kota dari ketinggian.
Inikan yang kalian para wanita mau, menyukai sebuah kekuasaan, kalian tenang saja, aku pasti akan memanjakan kalian dengan begitu banyak harta berlimpah, tetapi itu tidak gratis, kalian harus membayar lebih dari apa yang aku berikan. Batin Jovi dengan tersenyum sinis, merasa jijik dengan sikap para wanita.
Jimmy kembali dengan segelas teh ditangannya.
"Ini teh anda presdir," ujar Jimmy sambil meletakkan tehnya kemeja.
"Jim ... Apa kau percaya dengan yang namanya cinta?" ujar Jovi tiba tiba.
"Hah?" Jimmy melongo kebingungan, Jovi menoleh melihat ekspresi Jimmy, lalu dia tersenyum sinis.
"Sudahlah, kau tidak perlu menjawabnya, anggap saja aku tidak pernah bertanya," ujar Jovi, dan kembali duduk dikursinya.
__ADS_1