ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Orang yang mengenali Jovi


__ADS_3

"Hey, apa yang kamu lakukan pada Mawar? Kenapa dia tiba tiba jadi aneh begitu?" Adit menyentil pundak Roni yang baru saja hendak melangkah pergi.


"Apa yang bisa aku lakukan padanya? Yang ada aku yang hampir dibuat bonyok olehnya, tapi jika kamu menanyakan tentang, kenapa dia tiba tiba minta ditraktir kelapa muda? itu sebuah usulan dariku, dan dia benar benar melakukan itu," Roni meledek Adit lalu tertawa lepas dan kabur menjauhi Adit.


"Sialan .... " gerutu Adit.


Mereka pun akhirnya melepaskan dahaga dengan menikmati kelapa muda yang terasa begitu segar setelah masuk ditenggorokan.


Hari sudah hampir gelap, mereka memutuskan untuk pergi makan malam.


Mereka memasuki sebuah rumah makan tradisional, dan tiba tiba seorang kakek tua menghampiri mereka dengan wajah yang terlihat senang.


"Tuan muda Jovi, benarkah ini anda? Benar benar tidak dapat saya percaya bahwa anda juga bisa sampai kesini untuk makan dirumah makan saya," ujar kakek tersenyum lebar.


"Tunggu tunggu. Kakek, siapa yang anda sebut tuan muda?" Adit masih belum percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


"Tuan muda Jovi, dia yang saya sebut tuan muda, memangnya kenapa?" tanya kakek heran.


"Hah? Jov, ini maksudnya apa?" Adit bertanya pada Jovi dengan kebingungan.


Jovi masih sibuk berpikir, dia berusaha untuk mengingat siapakah kakek tua itu, dia merasa belum pernah melihatnya.


Sudah pasti Jovi tidak akan mengenalnya, kakek itu adalah salah satu pekerja di kediaman Adiguna, dia bekerja sebagai tukang kebun yang terbilang cukup lama disana.


Rumah makan yang dia dirikan itu juga berasal dari bantuan keluarga Adiguna, jika bukan karena ayahnya Jovi yang membantunya, rumah makannya tidak mungkin akan berkembang, dan dia juga tidak akan terkenal sebagai orang kaya yang disegani.


Dia begitu hormat pada anggota keluarga Adiguna, bahkan jika mereka lebih muda darinya, dia bahkan mampu untuk memberikan seluruh kekayaannya jika memang ada salah satu anggota keluarga yang akan memintanya, karena jika bukan karena mereka, dia juga tidak akan memiliki rumah makan yang bahkan sampai sekarang sudah memiliki cabang dimana mana.


"Maaf Kek, apa mungkin Kakek salah mengenali orang?" tanya Jovi yang masih tidak bisa mengingat siapa sebenarnya kakek itu.


"Tidak mungkin, anda pasti benar adalah tuan muda Jovi, Jovi Adiguna. Benarkan?" kata kakek memastikan.

__ADS_1


"What?" semua teman Jovi terkejut mendengar nama Adiguna, tak terkecuali Aurel.


"Wah, sepertinya Kakek benar benar salah mengenali orang, sahabat saya ini mana ada hubungannya dengan keluarga Adiguna, itu sungguh tidak mungkin." Adit membantah perkataan si kakek karena dia benar benar tidak bisa percaya dengan semua itu.


"Tuan muda kenapa anda diam saja? Kenapa teman teman tuan muda tidak mengenali identitas anda?" tanya si kakek kebingungan.


Jovi mengerutkan dahinya, mencoba untuk mengingat, tetapi dia benar benar merasa tidak pernah melihat kakek itu.


"Kakek, anda sebenarnya siapa? Apa hubungannya Kakek dengan keluarga Adiguna?" tanya Jovi yang sudah tidak ingin lagi berpikir jauh.


"Wajar jika tuan muda tidak mengenali saya, secara saya hanya seorang tukang kebun dulunya di kediaman Adiguna," kakek menjelaskan yang sebenarnya pada Jovi.


Lagi lagi mereka semua terbengong mendengar kakek yang mengatakan tentang kediaman Adiguna, secara, tempat itu masih sangat misterius, mereka bahkan ingin sekali melihat orang yang pernah tinggal disana, bahkan hanya sekedar bekerja disana, semua orang akan sangat senang jika bisa menemui mereka.


"Kakek, benarkah kakek pernah bekerja disana? Bagaimana dengan rumahnya? Apakah sangat besar?" tanya Adit bersemangat.


"Untuk apa kamu menanyakan hal itu, kamu tahu sendiri jawabannya apa, tidak perlu bertanya padaku," kakek mengabaikan Adit yang terlihat sangat berharap agar pertanyaannya dijawab.


Apakah setiap orang yang pernah tinggal disana semuanya sombong begini? Bahkan mengacuhkan pertanyaan dariku. Batin Adit yang merasa kesal karena diabaikan.


"Aku tidak sedang bicara pada kalian, aku berbicara pada tuan muda Jovi," perkataan kakek membuat mereka sedikit tersindir, mereka sedikit kesal dengan perlakuannya, namun mereka juga tidak berani untuk melawan karena kakek juga sangat tua.


"Jov. Apa kamu menyembunyikan sesuatu pada kami semua?" tanya Adit curiga.


"Hah? Tidak, tidak. Apa yang bisa aku sembunyikan pada kalian, sepertinya kakek itu yang salah, mana mungkin aku berasal dari keluarga Adiguna, kamu lihat sendiri keseharianku yang serba kekurangan ini," Jovi mengelak dengan sedikit panik, tetapi kepanikannya tidak berhasil dilihat oleh teman temannya.


"Itu ... Kakek, saya bukanlah orang yang kakek sebutkan itu, nama saya memang benar adalah Jovi, tetapi saya bukanlah berasal dari keluarga Adiguna," ucap Jovi berbohong.


"Hah? Apakah aku sudah begitu tua sampai tidak lagi bisa mengenali seseorang? Benar benar, mataku sudah rabun rupanya," kakek menggelengkan kepala tak habis pikir.


"Kalau begitu saya permisi dulu, kalian lanjutkanlah kembali aktifitas kalian," ujar kakek dan berbalik ingin melangkah pergi.

__ADS_1


"Kakek, tunggu!" teriak Adit dan Kakek menghentikan langkahnya menoleh kearah Adit.


"Ada apa?" tanya kakek datar.


"Kakek, apakah bisa ceritakan sedikit tentang keluarga Adiguna pada kami! kami sangat ingin mendengarnya," Adit sangat berharap agar kakek mau menceritakan padanya.


"tentang kehidupan keluarga Adiguna tidak berhak diceritakan pada orang luar, kamu yang masih bocah ingusan berani sekali ingin mengorek informasi dariku," jawab kakek acuh, Adit tersenyum kaku mendengar kakek mengatakan dirinya sebagai bocah ingusan.


"Ayolah kakek, aku bukan orang luar, apakah kakek tidak mengenalku?" Adit berkata dengan memasang wajah sombongnya.


"Mulai lagi, siap siap saja, sebentar lagi jiwa pamernya akan keluar," bisik Aurel pada mawar, lalu mereka pun tertawa kecil sambil melihat kearah Adit.


"Hng. Memangnya siapa kamu?" tanya kakek dengan santainya.


"Benarkan, Kakek memang tidak mengenali aku, kalau begitu izinkan aku memperkenalkan diri," ucap Adit sombong.


"Aku Adalah Adit Prayoga, pewaris tunggal dari Tuan Johan Prayoga, orang terkaya generasi kelima, dan satu lagi, ini yang lebih penting, kedua orang tuaku sangat bersahabat dengan kepala keluarga Adiguna dan istrinya, apakah informasi ini cukup?" Adit berkata dengan sombong.


Kakek terdiam sejenak mencoba untuk berpikir, Adit sudah sangat yakin bahwa kakek itu pasti mau menceritakan semua padanya, dia tersenyum sombong menatap kearah kakek tua itu.


"Bagaimana Kek? Sekarang sudah mau ceritakan?" Adit mencoba untuk bertanya kembali, dan kakek mengangkat kepalanya tersenyum mengejek kearah Adit, Adit mengerutkan keningnya melihat senyum kakek yang tampaknya tidak bersahabat.


"Hng. Kamu pikir aku akan percaya? Coba kamu pikir dengan logikamu, jika orang tuamu memang benar adalah sahabat dari Pak Adiguna, lalu kenapa kamu sendiri tidak mengetahui sedikitpun tentang keluarga Adiguna? Karena jika dipikir lagi, kamu bisa saja bertanya langsung pada orang tuamu, benar bukan?" kakek dengan santainya meledek Adit.


"Ini ... I-Itu karena mereka tidak ingin mengatakannya padaku, makanya aku tidak mengetahui apapun." Adit menggaruk kepalanya bingung.


"Karena orang tuamu tidak mau memberitahukannya padamu, lalu aku punya hak apa memberitahukanmu?" lagi lagi kakek menyerang balik pada Adit, lalu melangkah pergi meninggalkan mereka.


Semuanya tertawa terbahak bahak melihat Adit yang diabaikan oleh si kakek, terlebih dengan Aurel, dia sampai berguling guling, tidak bisa menahan tawanya melihat wajah Adit yang sudah seperti B*bi.


"Sudah puas kalian menertawakanku? Tidak takut aku akan membiarkan kalian membayar semua yang kalian makan?" ujar Adit kesal.

__ADS_1


Mereka seketika terdiam walaupun terpaksa, Aurel kini benar benar tertawa sampai mengeluarkan air mata.


Mereka pun melanjutkan makan malam mereka dengan gembira, terkecuali Adit, wajahnya sepanjang waktu selalu terlihat masam, tidak ada tawa bahkan senyum sekalipun, dia masih sangat kesal terhadap kakek itu.


__ADS_2