
"Bagaimana? Apakah sekarang sudah merasa sedikit tenang?" Deny teman Aurel membawanya kesalah satu restaurant untuk menenangkan Aurel.
Aurel hanya mengangguk pelan, ia masih sulit untuk membuka suaranya.
"Apa kamu ingin makan?" Aurel hanya menggeleng. Deny terus membujuk Aurel agar Aurel bisa melupakan masalah yang terjadi padanya.
"Sudahlah, Aurel. Lupakan dia, dia bukan lelaki yang baik untukmu, tidak ada lelaki yang mencintai wanitanya malah pergi bermalam dengan wanita lain. Sadarlah! Masih banyak lelaki diluar sana yang bisa menjadikanmu wanita satu satunya dalam hidup mereka. Jangan tangisi lelaki baj*ngan itu, dia tidak pantas untuk ditangisi." Deny sedikit kesal melihat Aurel yang sedari tadi tidak ingin dipujuk, dan terus menangis tanpa henti.
"Tapi aku mencintai dia." Aurel akhirnya kembali membuka suara.
"Cinta? Lalu apakah dia mencintaimu? Kau sudah melihat dengan mata kepalamu, bahwa dia telah berpaling dan menghianatimu, apa lagi yang bisa kau harapkan pada lelaki seperti itu, dia hanya akan terus membuatmu menderita." Deny sedikit emosi dengan Aurel yang begitu keras kepala. Aurel menunduk tak berani mengatakan apapun.
"Ayolah! Kamu sudah dewasa, kamu tahu mana lelaki baik, dan mana yang tidak, jangan selalu membebanimu dengan rasa cinta yang tak terbalas, sulit memang, tetapi cinta itu tak akan pergi jika kamu tak berusaha melepasnya, kau mau cintamu itu berjamur dalam hatimu?" sambil menatap lekat pada Aurel.
"Aku akan berusaha." hanya itu yang dapat dikatakan Aurel saat ini.
"Kau serius?" menatap ragu pada Aurel, Aurel hanya mengangguk pelan.
"Jika kamu ingin melupakan dia, maka kamu tidak bisa tinggal dinegara yang sama dengannya, kamu bisa saja terus bertemu dengannya, dan akan sulit bagimu untuk melupakan dia, jadi aku sarankan kamu untuk pindah kenegara lain, negara yang jarang ia kunjungi." Deny menatap Aurel, berusaha untuk meyakinkannya.
"Aku harus kemana? Lalu bagaimana dengan kedua orang tuaku dan juga adikku?" Aurel bingung harus memilih pilihan apa untuk hidupnya kedepan.
"Aku akan membantumu dan menemanimu pergi, untuk masalah kedua orang tuamu, aku yakin mereka akan setuju jika mendengar penjelasanmu, aku juga akan membantumu untuk berpamitan pada keluargamu." sembari memegang tangan Aurel, tetapi Aurel segera menarik tangannya dari genggaman Deny.
__ADS_1
"Baiklah. Jika memang ini yang terbaik untuk kami berdua, aku akan pergi. Aku juga berharap dia bisa menemukan cinta sejatinya, mungkin kami benar benar tidak berjodoh." dengan begitu putus asa, akhirnya Aurel memutuskan untuk berpisah, melepaskan Jovi dan juga cintanya.
"Baiklah, aku akan mengurus keberangkatan kita, untuk pergi lusa nanti." Deny mengangguk semangat.
"Lusa? Apa tidak terlalu cepat?"
"Lebih cepat, maka akan semakin baik." mencoba meyakinkan Aurel.
Aurel tertunduk, berpikir sejenak, ia sedikit ragu dengan keputusannya, setelah mempertimbangkan begitu lama, akhirnya dia mengatakan bahwa dia setuju untuk pergi, dan Deny pun begitu senang mendengar jawaban dari Aurel.
"Baiklah. Mari aku antar kamu pulang!" mereka pun beranjak dari tempatnya, dan pergi meninggalkan restaurant.
"Antar aku kerumah Jovi dulu," ucap Aurel saat mereka telah dimobil.
"Untuk apa lagi kamu kesana? Mau mengucapkan salam perpisahan? Sudahlah tidak perlu h-" belum sempat Deny mengucapkan kata katanya, Aurel segera menghentikannya.
"Kenapa harus diambil? Kamu bisa membeli yang baru," bantah Deny.
"Disana ada barang yang tidak ada dijual, aku harus mengambilnya." terus menatap lurus kedepan tanpa menoleh.
Deny pun akhirnya pasrah, ia mengikuti saja kemauan Aurel.
Tiba dirumah Jovi, Aurel tak mendapati siapa siapa disana, bahkan Rasya pun tidak terlihat batang hidungnya.
__ADS_1
Tapi baguslah, Aurel terlalu malas jika harus bertemu dengan anak itu, tidak ada hal baik yang akan diucapkannya jika bertemu dengan Aurel.
Aurel terus berjalan menyusuri anak tangga, memasuki kamar milik mereka berdua, dimana tempat itu terlalu banyak kisahnya bersama Jovi.
Aurel duduk di pinggiran kasur tempat Jovi biasanya tidur, ia mengelus bantal yang selalu dipakai oleh Jovi, teringat kembali, dimana saat itu dia dan Jovi selalu bercanda ria dengan lelaki tampan yang menjadi suaminya itu, dan sebentar lagi, dia akan menghilang dari sisi Jovi, untuk sekarang, dan mungkin juga untuk selamanya, kenangan itu mungkin hanya akan menjadi kenangan, dan berakhir dengan kepahitan.
Dihari berikutnya, mungkin dia tidak akan melihat senyum manis Jovi setiap pagi, dia tidak akan mendapatkan morning kiss lagi, sebagaimana yang dilakukan Jovi setiap hari, diwaktu ia bangun, tak akan ada lagi kejahilan dan keusilan Jovi yang selalu menggelitikinya sebelum ia bangun dari kasur, pelukan hangat setiap kali ia tidur, cium kening sebelum tidur, semua itu akan hilang bersama kepergiannya.
Perasaan seperti itu tak dapat membendung air matanya, air mata itu begitu mudahnya menampakkan diri dikelopak mata, dan bermain seluncuran dipipi Aurel.
Aurel melangkahkan kaki menuju kamar mandi, bayangan itu seketika hadir kembali dalam pikirannya, dimana ia sering mandi bersama dengan Jovi, bak mandi yang menjadi kisah cinta mereka disaat mereka berendam air sabun bersama, dan berakhir dengan pembuatan anak, namun sang anak yang selalu dinanti, tampaknya tak kunjung memberikan kabar hingga sekarang,
Aurel kembali menutup kamar mandi itu, biarlah semua kenangan indah bersama Jovi, ia simpan rapi dalam hatinya. Ia berharap, setelah kepergiannya, akan ada rencana indah Tuhan untuk mereka berdua.
Aurel mulai mengemasi barang barangnya, satu foto yang ia selipkan didalam koper, yaitu fotonya yang bersama Jovi, ia akan selalu mengingatnya, bahwa ada satu lelaki yang selama ini selalu bersamanya, menemani hari harinya menjadi lebih berwarna, meskipun sekarang, warna itu perlahan lahan memudar menjadi awan hitam yang mulai pekat.
Tuhan. Aku akan pergi meninggalkan dia, aku tidak akan lagi menyiapkan sarapan untuknya setiap pagi, jadi aku mohon padamu, selama dia masih sendiri, tolong jaga kesehatannya, sebab jika ia sakit, aku takut tidak ada yang akan menjaga dan merawatnya. Itulah doa yang terselip dalam hatinya ditengah kesakitan dan kepedihan akan masalah yang terus berdatangan dalam kehidupan rumah tangganya.
"Kemana Aurel? Kenapa lama sekali?" Deny sedikit cemas menunggu diluar, ia takut, Jovi akan benar benar pulang, dan akhirnya menggagalkan rencananya untuk membawa Aurel pergi.
Setelah dirasa cukup, Aurel menarik kopernya bersiap siap untuk meninggalkan kamar itu beserta kenangannya.
Disaat ia berada diambang pintu, ia kembali melirik dan mengamati segala sudut ruangan. Tidak menyangka, ia akan pergi lagi meninggalkan Jovi, dan tak tahu akankah dia kembali, atau akan benar benar berpisah untuk yang terakhir kalinya.
__ADS_1
"Sudah?" tanya Deny saat Aurel telah keluar dari gerbang rumah. Aurel hanya mengangguk pelan sembari mengusap air matanya.
Mereka pun meninggalkan tempat itu sesegera mungkin.