
"Hai Ron. Apa kabar?" ucap Adit yang tiba tiba masuk keruangan Roni.
"Kamu ini. Tidak bisakah mengetuk pintu dulu sebelum masuk? Kamu seperti ini selalu mengejutkan aku saja," gerutu Roni.
"Iya maaf." mereka pun berpelukan sebagai sahabat yang lama tidak bertemu.
"Bagaimana kabarmu? Kenapa masih sendiri saja sampai sekarang? Tidak berniat untuk mencari pasangan hidup?" ucap Adit sembari menepuk pundak Roni.
"Ah. Jangan tanyakan itu. Wanita tidak ada yang mau denganku, lalu apa yang bisa aku lakukan? Hanya bisa sendiri dan sendiri," jawab Roni dengan malas.
Adit dan Lani tertawa mendengar ucapan Roni, dan mereka pun duduk disofa yang ada diruangan itu.
"Kalian tumben sekali datang kesini. Ada apa?" tanya Roni.
"Haih. Jangan tanyakan itu, aku juga tidak akan ada disini jika Aurel tidak mengajak kami untuk bertemu disini," jawab Adit mengangkat bahu.
"Oh, ya? Kenapa dia tiba tiba mau kesini?" Roni kembali bertanya.
"Jangan tanyakan itu! Aku sendiri tidak tahu alasannya," ucap Adit sembari menggelengkan kepalanya.
"Baiklah. Sembari menunggu malam tiba dan menunggu kedatangan Aurel, aku akan pergi keluar untuk membeli makanan ringan." Roni bangkit dari tempat duduknya.
"Jangan lupa belikan juga untuk makan malam kami berdua, kami akan kelaparan jika tidak makan malam," teriak Adit saat Roni membuka pintu, dan mendengar itu, Roni hanya mengangguk pelan.
Disaat malam tiba, tepat pada pukul 20:00, mereka yang ditunggu tidak kunjung datang, membuat Adit jadi gelisah.
"Kenapa Aurel tidak datang juga? Apa dia serius mengajak kita bertemu disini?" gerutu Adit yang sudah mulai bosan menunggu.
"Sabar saja, mungkin sebentar lagi." ucap Roni.
Dan tiba tiba ponsel Lani berdering.
"Hallo Mawar. Kamu dimana?" tanya Lani saat ia menerima telepon dari Mawar.
"Aku sudah ada didepan. Kalian dimana?" ujar Mawar yang terlihat kebingungan karena itu adalah kali pertama ia datang ke barnya Roni.
"Kamu naik saja keatas, dan cari ruangan yang nomor 01, kami ada disini," jawab Lani.
Beberapa saat kemudian pintu dibuka oleh seseorang, semua melirik kearah pintu, mereka bertiga dibuat kebingungan sekaligus terpukau dengan sosok perempuan yang masuk keruangan itu.
Mawar masuk dan duduk dihadapan mereka bertiga tanpa berbicara apapun, dia sendiri heran melihat mereka bertiga yang membelalakkan mata tanpa ia tahu alasannya.
"Kenapa kalian diam saja? Apa aku terlihat mengerikan?" tanya Mawar yang mengangkat alisnya kebingungan.
"Kamu siapa? Apa kamu diutus oleh dua orang ini untuk menjadi pasanganku? Kalian berdua benar benar perduli padaku, jika wanita yang ingin kalian jodohkan padaku secantik ini, aku pasti tidak akan menolaknya," ucap Roni dengan mata berbinar binar dan mulut ternganga.
"Kamu bicara apa? Kenapa aku tidak mengerti?" Mawar semakin mengerutkan alisnya.
__ADS_1
"Apa kamu seorang peri? Atau ... Seorang bidadari?" Adit mulai membuka suaranya dengan mata yang tak berkedip menatap kagum pada Mawar.
"Ayolah! Kalian ini kenapa? Bicaralah dengan serius!" ucap Mawar yang mendengus kesal.
Mawar tiba tiba teringat, bahwa dirinya memang tidak lagi memakai topeng jeleknya, wajar jika mereka tidak mengenalinya sama sekali.
"Lani. Apa kamu masih mengenalku?" tanya Mawar dengan pelan.
"Kamu kenapa bisa tahu namaku? Apa kamu seorang peramal?" Lani bagai terhipnotis saat menatap Mawar.
Ini lagi. Apa tampangku mirip dengan seorang peramal? Mawar menarik nafas dengan sangat panjang.
"Kalian bertiga. Ini aku Mawar. Kenapa kalian tidak bisa mengenali suaraku? Bukankah suaraku tetap tidak berubah?" ucap Mawar.
Dan akhirnya mereka tersadar dari lamunan mereka, dan kembali mengamati Mawar dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kamu benar adalah Mawar?" tanya Lani tak percaya.
"Iya. Aku Mawar," jawabnya.
"Tapi kenapa wajahmu berbeda?" Lani menyunggingkan bibirnya heran.
"Iya. Selama ini aku selalu berpura pura pada kalian. Maaf ya!" ucap Mawar yang merasa bersalah.
"Dan sekarang ini, adalah wajah aslimu?" tanya Lani, dan Mawar pun mengangguk.
"Aku pikir kamu mengoperasi wajahmu itu, hingga tampak berbeda dari yang dulu," ucap Adit tiba tiba.
"Tentu tidak, yang dulu adalah wajah palsu, dan sekaranglah yang asli," jelas Mawar.
"Kenapa wajah cantik seperti ini harus ditutupi, benar benar sangat disayangkan," timpal Roni.
Wajah Mawar benar benar terlihat berbeda dari yang dulu, Mawar yang sekarang benar benar sangat cantik, itu membuatnya berpikir untuk menutupi wajahnya, jika tidak, maka kemana pun dia pergi, maka akan banyak lelaki yang mencoba menggodanya, bahkan ingin melecehkannya, dengan dia menutupi wajah aslinya, dia baru merasa aman dengan kehidupannya.
Karena sekarang dia sudah dewasa, dia rasa dia sudah bisa menjaga dirinya dari lelaki hidung belang, dia juga merasa lelah jika harus lepas pasang topeng wajahnya itu.
"Tadi aku masih mengira bahwa kamu adalah wanita yang disiapkan oleh Adit dan Lani untuk menjadi pasanganku, ternyata bukan." Roni menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Berlebihan sekali," ucap Mawar tersenyum, dan mereka pun tertawa.
"Kemana Aurel? Kenapa aku tidak melihatnya?" tanya Mawar.
"Iya. Aurel sampai sekarang belum datang, kami sudah sangat lama menunggunya disini?" ucap Adit yang mendengus kesal.
"Apakah dia akan datang bersama Jovi?"
"Haih. Jika dilihat dari hubungan mereka yang tidak akur, mungkin itu salah satu alasan Aurel kenapa dia ingin bertemu disini, mungkin saja dia sedang ada masalah dengan Jovi," jawab Adit yang terlihat suram.
__ADS_1
"Mereka masih belum baikan?" tanya Mawar.
"Entahlah." ucap Adit sambil mengangkat bahunya.
Disisi lain, Aurel sangat gelisah karena Jovi tidak kunjung pulang untuk menjemputnya, apalagi dia sudah sangat terlambat.
Dan tidak lama kemudian, suara klakson mobil terdengar dari luar, dan Aurel segera meraih tasnya dan berlari keluar.
Saat sudah menuruni anak tangga, ia berpapasan dengan Rasya, mereka sama sama tidak mau mengalah, mereka berlari menuju pintu luar dengan saling menyenggol satu sama lain.
"Apa apaan kamu ini, kamu kan lebih tua, harusnya mengalah dengan yang lebih muda," ucap Rasya saat mereka berebut untuk keluar duluan.
"Hey. Apa kamu tau aturan yang berlaku di rumah ini? Disini tidak ada yang namanya mengalah pada yang lebih muda, tetapi siapa yang kuat, dia lah yang berkuasa," jawab Aurel yang tak mau kalah.
"Minggir! Biar aku yang keluar duluan!" ucap Rasya yang mencoba mendorong Aurel, namun Aurel juga balik mendorong, hingga diantara mereka tidak ada yang menang dan juga kalah.
"Ekhem .... " terdengar suara Jovi yang kini sudah berada dihadapan mereka.
Mereka berdua mendongak menatap wajah Jovi lalu tersenyum malu sekaligus takut.
"Apa perlu pintu ini aku buat lebih lebar lagi agar kalian tidak berebut untuk keluar?" ucap Jovi dingin.
Mereka seketika membetulkan posisi dan tersenyum menggaruk kepala mereka yang tidak gatal.
"Ini semua salahnya Kak Aurel, dia tidak mau mengalah padaku," ucap Rasya yang menyalahkan Aurel.
"Kenapa malah menyalahkan aku? Seharusnya kamu tidak perlu keluar. Jovi juga tidak menginginkan sambutan darimu, karena Jovi hanya ingin menjemputku untuk pergi keluar," ucap Aurel sinis.
"Hah. Kalian mau pergi kemana? Tidak mau tahu, pokoknya aku harus ikut bersama kalian," bantah Rasya.
"Mau ikut kemana? Ini acara orang dewasa, anak kecil sepertimu tidak diperbolehkan ikut serta dalam acara ini," ucap Aurel sembari menyentil jidat Rasya.
"Siapa yang menyuruhmu untuk menyakitiku? Dan satu lagi, aku bukan anak kecil, aku juga sudah dewasa," bantahnya sembari memegangi keningnya yang dijentik Aurel.
"Hey. Kamu mulai tidak sopan ya bicaranya, apa mau durhaka padaku?" ledek Aurel.
"Kamu .... "
"Stop." Suara Jovi membuat mereka berdua terdiam.
"Kalian jika merasa sudah dewasa, lalu kenapa masih berdebat seperti anak kecil seperti ini? Dan kamu Rasya, diamlah dirumah, acara yang kami adakan tidak cocok untukmu, jadilah anak baik dengan tetap tinggal dirumah," ucap Jovi dengan serius.
"Tapi Kak."
"Tidak ada tapi tapian. Menurutlah! Atau kamu mau aku pulangkan!?" ucap Jovi dingin.
Rasya terdiam dan tidak berani lagi untuk membantah. Aurel tersenyum puas melihat wajah cemberut Rasya.
__ADS_1
Saat Jovi dan Aurel hendak berangkat, Aurel menyempatkan diri menoleh untuk meledek Rasya, dan Rasya mencebikkan bibirnya karena kesal.