ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Malam bersejarah


__ADS_3

"Baiklah. Hari ini kita akan rayakan ulang tahun Aurel dengan minum minum sepuasnya," Teriak Adit, dan mereka tampak bahagia mendengarnya.


"Hey. Apa kamu tidak ingin bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan? Kamu lihat! Bibirku berdarah akibat pukulanmu." Jovi tiba tiba menghentikan langkah Adit.


"Apakah ini sakit?" Aurel memegangi sudut bibir Jovi yang tampak merah bekas darah.


"Iya. Ini sangat sakit, hingga aku tidak bisa berjalan dengan seimbang. Kamu bantu aku duduk ya!" Jovi melingkarkan tangannya keleher Aurel dengan sangat manja.


"Hey. Yang sakit itu bukan kakimu, apa hubungannya sakit dibibir dengan tidak bisa berjalan? Ini sangat terlihat bahwa kamu hanya ingin mencari simpati pada Aurel," bantah Adit.


"Tapi lututku masih gemetaran yang di akibatkan dari sakit ini. Sayang, aku sudah banyak melakukan banyak hal untuk mempersiapkan kejutan untukmu, apa kamu tega membiarkan aku seperti ini?" rengek Jovi pada Aurel, membuat Aurel tidak tega melihatnya.


"Baiklah. Biar aku memapahmu," ucap Aurel sembari berjalan dengan memapah Jovi, tetapi yang terlihat oleh teman temannya Jovi tidaklah dipapah oleh Aurel, lebih tepatnya, Jovi terlihat sedang memeluk Aurel.


Kenapa makhluk satu ini berubah jadi kekanakan seperti itu? Aurel juga, dia dengan mudahnya percaya akan omongan Jovi. Dia berubah jadi anak yang polos. Adit menggeleng halus menatap tingkah mereka.


"Aah ... Mereka manis sekali," ucap Mawar yang tampak menginginkan seperti mereka.


"Apa kamu juga ingin seperti itu? Aku bisa mewujudkannya untukmu," timpal Roni yang sedikit berbisik pada Mawar.


"Bicara apa kamu?" Mawar memukul lengan Roni malu malu.


Roni tertawa kecil melihat wajah imut Mawar yang sudah memerah.


"Kenapa? Apa aku bukan tipemu? Aku juga tampan kok, meskipun tidak bisa dibandingkan dengan Jovi," ucap Roni merendah.


"Tidak tampan bukan berarti tidak ada yang suka." Mawar menimpali.


"Jadi kamu menyukaiku?" goda Roni.


"Kenapa jadi aku? Sudahlah. Aku ingin bersenang senang dengan bir itu." Mawar segera pergi dengan membawa wajah yang tampak malu.


Roni menggeleng pelan merasa puas telah berani menggoda Mawar.


Malam itu mereka benar benar menikmati sepanjang malam dengan begitu banyak menghabiskan bir, hingga mereka mabuk berat setelahnya.


"Roni. Sediakan satu kamar untukku!" ucap Jovi dalam keadaan mabuk.


"Aku juga," timpal Adit yang tak kalah mabuk.


Roni yang kini juga sedang mabuk, berusaha merogoh ponsel dari kantongnya.

__ADS_1


"Hallo. Kamu sediakan dua kamar untuk temanku," ucap Roni pada bawahannya via telepon.


Setelah kamar tersedia, mereka membawa pasangannya masing masing.


Dan Roni tinggal diruangan itu bersama Mawar, Mawar saat ini benar benar sangat mabuk, ia kehilangan akal sehatnya dengan berjalan sempoyongan menghampiri Roni.


"Roni ... Aku mencintaimu!" Roni yang selama ini terbiasa dengan minuman beralkohol, dia tidak begitu mabuk hingga ia masih secara sadar mendengar ucapan Mawar.


Roni segera melotot menatap Mawar, ia tak percaya bahwa Mawar mengatakan itu padanya.


Ia tidak ingin berpikir jauh, bisa jadi Mawar mengatakan itu hanya karena ia sedang dalam pengaruh alkohol sehingga tidak menyadari apa yang sedang ia katakan.


Tetapi saat Roni mencoba menjauh, Mawar selalu saja menempelkan dirinya pada Roni, dan berkata hal hal yang tidak masuk akal.


Roni yang sebagai lelaki normal, tentu tidak tahan dengan segala macam godaan yang terucap dari bibir wanita cantik nan imut itu.


Roni menelan ludahnya saat Mawar tanpa sadar menggesek gesekkan dadanya ketangan Roni.


Roni yang saat ini juga sedikit mabuk, tidak mampu lagi menahan hasratnya untuk tidak memakan Mawar.


Roni segera ******* bibir kecil Mawar dan Mawar juga membalasnya, lidah mereka kini menari nari dan saling menyentuh, dan itu membuat hasrat Roni semakin menggebu gebu.


Dan malam itu juga, mereka melakukan hubungan intim layaknya suami istri.


Disisi lain, Adit dan Lani yang sudah mabuk berat, mereka juga tanpa sadar melakukan hal itu, itu semua terjadi diluar akal sehat mereka.


Begitu pula dengan Aurel dan Jovi, tetapi mereka tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena mereka sudah sah sebagai sepasang suami istri.


Dan malam itu, terjadi pembuatan anak secara massal diantara ketiga pasangan itu.


Aaakkhhh


Keesokan paginya, suara teriakan Mawar terdengar dari ruangan Roni, membuat Roni tersentak kaget hingga berdiri tanpa busana hingga membuat Mawar kembali berteriak keras.


Saat Roni menyadari bahwa tubuhnya tidak memakai sehelai benangpun, ia kembali duduk dengan memeluk kedua lututnya begitupun dengan Mawar, kerena diruangan Roni hanya ada sofa, disitu tidak ada kasur maupun selimut untuk sekedar menutupi tubuh mereka, hingga mereka berdua hanya bisa memeluk lutut untuk menutupi bagian bagian yang tidak harus dilihat.


"Kamu ... Apa yang kamu lakukan padaku? Bisa bisanya kamu mengambil kesempatan disaat aku sedang tidak sadar?" bentak Mawar yang tengah duduk di sofa membelakangi Roni.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, disaat kamu mabuk, kamu tidak sadar memperkosaku, kamu telah menodai keperjakaanku, wanita mana lagi yang mau padaku jika aku tidak lagi perjaka?" ucap Roni dengan nada kasihan seolah olah dialah yang menjadi korban, dan kini juga sedang membelakangi Mawar di satu sofa yang sama.


"Apa katamu? Mana ada aku memperkosamu, aku ini anak yang baik, tidak mungkin melakukan hal yang aneh seperti itu," bantah Mawar.

__ADS_1


"Ck. Apa kamu yakin jika kamu tidak melakukannya?" ucap Roni tertawa geli.


"Memang benar, aku tidak mungkin melakukan itu, aku juga tahu batasan," Mawar masih memeluk erat kedua lututnya tanpa menoleh sedikitpun.


"Apa kamu mau aku menceritakan bagaimana liarnya kamu saat memperkosaku?" ledek Roni.


"Kamu .... " Mawar berdiri sembari memukul Roni dengan keras.


"Apa? Mau mengajakku berperang?" Roni juga tanpa sadar ikut berdiri.


Disaat mereka tersadar dan saling memandang ke bagian yang terlarang, tiba tiba mereka berteriak dan buru buru duduk kembali seperti posisi awal.


beberapa saat tidak ada yang berbicara, mereka sama sama syok dengan apa yang mereka lihat.


"Kamu lagi lagi menodai mataku, tidak cukupkah kamu sudah menodai harta berhargaku?" gerutu Mawar kesal.


"Hey. Memangnya kamu kira hanya matamu saja yang ternoda, mataku lebih ternoda, kamu hanya melihat satu saja yang menjulang, sedangkan aku? Aku melihat dua. Satu diatas dan satu dibawah," ucap Roni tak mau kalah.


"Dasar lelaki mesum, ********. Apa yang kamu lihat hah?" bentak Mawar dengan sangat kesal.


"Aku melihat semuanya," ucap Roni santai.


"Bre**sek. Tidak tahu malu, akan ku cungkil matamu itu yang sudah berani lancang melihatnya." kesal Mawar.


"Kalau begitu aku juga akan mencungkil matamu karena sudah melihat barang kejantananku." lagi lagi ada saja bantahan dari Roni membuat Mawar tidak tahu lagi harus bicara apa.


"Ambilkan bajuku! Cepat!" perintah Mawar.


"Tidak mau, ambil saja sendiri!" ujar Roni cuek.


Lalu dia meraih pakaiannya sendiri dan memakainya.


"Hey. Apa kamu sengaja melakukan ini? Ini hanya akalanmu saja kan? Hanya ingin melihat tubuhku yang tanpa pakaian," ucap Mawar sinis.


"Siapa juga yang mau melihat tubuh bugilmu? Ini! Aku berbaik hati mengambilkannya untukmu." Roni melempar semua pakaian kearah Mawar, dan membuat Mawar berwajah muram.


"Ini yang kamu katakan berbaik hati? Yang ada kamu itu sangat kasar. Tutup matamu! aku ingin memakai pakaianku."


"Tinggal pakai saja kenapa harus menyuruhku untuk menutup mata? Aku juga tidak akan melihat dada ratamu itu," ucap Roni sembari berjalan kearah meja kerjanya.


Mawar mencebikkan bibirnya kesal karena ucapan Roni yang menyebut dadanya rata.

__ADS_1


__ADS_2