
Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju vila.
"Siapa sebenarnya mereka itu? Kenapa mereka menghadang jalan kita?" tanya Aurel pada Jovi, dan Adit segera menoleh kearah Jovi penasaran, karena Jovi mengatakan bahwa orang itu ingin membunuhnya.
"Hanya sekelompok perampok," jawab Jovi datar.
"Sialan kau, kau bilang mereka ingin membunuhku, jadi kau berbohong? Jika kau mengatakannya dari awal, aku pasti akan turun dan menghajar mereka sendiri," kata Adit menyombongkan diri.
"Besar sekali omonganmu itu, jika tidak mampu jangan banyak bicara," Aurel memukul kepala Adit kesal.
Adit tidak berani untuk bicara lagi, dia seketika menjadi kucing yang penurut.
***
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka tiba di vila yang telah disewa oleh Adit.
"Hah. Akhirnya sampai juga, lelah sekali," ujar Adit saat keluar dari mobil sambil meregangkan pinggangnya.
Adit sudah tidak sabar ingin. merebahkan badannya, disaat dia melangkah untuk masuk, Jovi menarik leher bajunya dari belakang hingga membuat Adit mundur beberapa langkah.
"Mau kemana kau? Siapa yang akan kau suruh membawa barangmu? Kembali dan bawa sendiri!" perintah Jovi, Adit mencondongkan bibirnya kesal, dia meledek Jovi dari belakang saat Jovi tak melihatnya.
Jovi menoleh kebelakang dan Adit tertangkap basah sedang mengejek Jovi.
"Tingkahmu sekarang ini persis sekali seperti monyet, lebih baik kau cepat ambil barangmu jika kau tidak mau bernasib seperti perampok tadi," Jovi menakuti Adit dan Adit segera berlari untuk mengambil barangnya didalam mobil.
"Dasar psychopath, tidak bisa melihat orang senang sedikit, awas saja kau," Adit mengomel sendiri saat mengambil barang barangnya.
Adit masuk ke vila dan terlihat teman temannya semua duduk diatas sofa.
Adit berjalan menghampiri mereka lalu menghempaskan badannya disofa.
"Huh. Lega sekali," ujar Adit.
"Dasar pemalas," ledek Jovi.
"Apa yang kau katakan? Coba ulangi sekali lagi!" Adit melototi Jovi.
"Kenapa kau tiba tiba jadi galak begini, apa kau sedang PMS," lagi lagi Jovi mengejek Adit.
__ADS_1
"Memangnya kau anggap aku wanita? Menyebalkan sekali," Adit kembali merebahkan badannya kesofa, mereka semua tertawa melihat Adit yang sedang kesal.
Para wanita. Apa kalian tidak pergi memasak? Aku sangat lapar," ujar Adit yang masih merebahkan diri disofa.
"Kau tidak menyewa pelayan?" Aurel melototi Adit.
"Tidak, uangku sudah terkuras banyak menyewa vila ini, aku tidak mau mengeluarkan uang lagi," jawab Adit santai.
Aurel sangat kesal pada Adit yang begitu pelit, rasanya ingin sekali dia mencincang habis tubuh Adit.
"Sudah, tidak apa apa, biar aku saja yang memasak," ucap Mawar agar mereka tidak berdebat lagi.
"Sebaiknya kau tirulah si Mawar, dia sangat pengertian," ujar Adit, Aurel semakin kesal dibuatnya, dia segera berdiri menuju dapur untuk memasak bersama Mawar, Adit tertawa merasa menang.
***
setelah selesai makan siang, mereka semua tertidur, hingga saat mereka terbangun waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.
Jovi dan Aurel berencana untuk jalan berdua disekitar vila, menikmati pamandangan alam yang begitu indah, karena vila mereka terletak diatas puncak.
Saat Adit mengetahui mereka hanya pergi berdua, dia menggerutu tidak karuan karena tidak mengajaknya.
"Ya sudah jika tidak ingin mengajakku, aku jalan sendiri saja," Adit masih saja mengomel tanpa henti.
Disaat dia sedang kesal, dan masih berada dijalan depan vila, tiba tiba seorang gadis memakai jaket hitam dan topi hitam berlari dengan kencang dan menabraknya, hingga mereka berdua jatuh bersamaan dengan posisi Adit yang tertindih oleh wanita itu.
Adit kesakitan dan segera mendorong gadis itu dengan kuat membuat gadis itu terduduk dilantai.
"Aauu ... Kau ini kasar sekali," ujar gadis itu dengan nada kesakitan.
Adit bangkit berdiri sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit karena terhempas dengan kuat.
"Kau ini, tidak bisakah berlari sambil memandang jalan, kau hampir membuatku masuk rumah sakit, badanku jadi remuk semua," gerutu Adit kesal.
Gadis itu ikut berdiri sambil memegang pantatnya.
"Kau sendiri kenapa menghadang jalan? Salahmu sendiri, kenapa tidak mengelak saat melihatku hampir menabrakmu, ini bukan sepenuhnya salahku." gadis itu berbalik memarahi Adit.
"Beraninya kau menyalahkanku, dan berdalih seakan akan kaulah yang benar, minta maaf sekarang juga!" perintah Adit dengan kesalnya.
__ADS_1
Namun gadis itu mengabaikan Adit dan menoleh kebelakang, terlihat orang orang yang mengejarnya sudah terlihat dari kejauhan.
Gadis itu segera menghampiri Adit dan memeluk tangannya dengan sangat kuat, Adit kebingungan melihat tingkahnya.
"Pria tampan yang baik hati, maukah kau menolongku? Aku dikejar oleh orang jahat, tolong aku ya!" ucap gadis itu yang masih menempel pada Adit.
"Sekarang kau ingin menjilatku, aku tidak akan sudi menolongmu," jawab Adit sombong.
"Ayolah Tuan tampan, jika aku tertangkap kau juga akan ikut ditangkap," gadis itu terus membujuk Adit.
"Lepaskan!" seru Adit lalu melangkah pergi.
Gadis itu mengejarnya lalu melompat kepunggung Adit, posisinya sekarang Adit menggendong gadis itu dipunggungnya.
"Apa yang kau lakukan? turun sekarang juga," Adit membrontak ingin melepaskan tangan si gadis yang melingkar erat dilehernya.
"Tidak mau, kau harus menolongku, atau aku akan terus seperti ini, cepat bawa aku pergi dari sini! atau kita akan tertangkap," gadis itu semakin mengeratkan lingkaran tangannya dileher Adit membuat Adit susah bernafas.
"Sialan kau." Adit mau tidak mau berlari sambil menggendong gadis itu, disaat dia melihat ada tempat persembunyian, dia segera berbelok untuk bersembunyi, dia sudah tidak kuat jika harus menggendong gadis itu lebih jauh lagi.
Adit berjongkok menyembunyikan dirinya, sedangkan gadis itu tidak juga mau melepaskan Adit.
"Lepaskan, kita sedang bersembunyi, untuk apa kau terus berada dipunggungku, kau pikir dirimu itu ringan? Badan sudah seperti badak, masih saja menyuruh orang untuk menggendongmu," kata Adit asal, gadis itu sebenarnya memiliki tubuh yang ideal, namun karena Adit yang sedang kesal, dia lantas berbicara semaunya.
"Apa yang kau katakan? Badan seksiku ini kau katakan seperti badak? Apa kau mau telingamu ku gigit?" gadis itu memukul kepala Adit kesal.
Apa semua wanita berprilaku kasar seperti ini pada lelaki? Tidak lama lagi lelaki akan punah dari muka bumi ini. Batin Adit.
Saat mereka melihat orang yang mengejar gadis itu melewati mereka tanpa tahu bahwa mereka sedang bersembunyi, gadis itu dan juga Adit akhirnya bernafas lega.
"Mereka sudah pergi, turun sekarang juga," Adit berusaha membuka tangan gadis itu yang masih melingkar dilehernya, tetapi bukannya mau melepas, wanita itu semakin mempererat pelukannya dileher Adit.
"Lepaskan! Kau ini kenapa? Apa sangat suka memeluk leherku seperti ini?" ujar Adit kesal.
"Aku tidak akan melepaskannya, siapa yang akan menjamin bahwa orang orang itu tidak akan menangkapku, pokoknya aku tidak akan melepaskanmu, kau harus membawaku kemana pun kau pergi," bantah gadis itu.
"Apa kau masih waras? Mereka menangkapmu atau tidak, apa ada urusannya padaku? aku bahkan tidak mengenalmu sama sekali," ujar Adit ketus.
"Aku tidak mau tahu, kau harus membawaku bersamamu!" ujar gadis itu tak mau kalah.
__ADS_1
Adit menghela nafas panjang merasa geram dengan sikap wanita itu, namun dia tidak punya pilihan lain selain membawanya bersama kembali ke vila.