
Baru saja Jovi ingin mengatakan sesuatu, tiba tiba mulutnya terhenti saat menyadari bahwa Aurel sudah tidak ada.
"Sejak kapan dia pergi dari sini? Jangan sampai dia marah karena kejadian ini, bisa bisa kulitku dikupas habis olehnya," Jovi bergumam sendiri.
Aurel kini berjalan dengan langkah cepat menuju kantin dimana Adit dan Roni berada, setelah ia sampai dimeja Adit, dia segera duduk dengan kasar tanpa melihat kearah dua sahabatnya itu. Adit dan Roni dibuat heran dengan sikap Aurel.
"Ada apa?" tanya Adit.
Aurel melirik kearah Adit tanpa berbicara apapun dan tiba tiba dia menggapai gelas yang berisi jus jeruk milik Adit dan meminum habis isinya, Adit dan Roni semakin heran melihatnya.
"Kau ini kenapa sih?" kini gantian Roni yang bertanya.
Aurel kembali menatap Roni dan merebut gelas yang dipegang oleh Roni dan meminumnya hingga habis tanpa sisa.
Roni ternganga keheranan melihat sikap Aurel.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau sakit?" ujar Roni dan menempelkan tangannya ke kening Aurel.
"Lepaskan tanganmu," ujar Aurel kesal sembari menepis tangan Roni
"Galak sekali, benar benar tak ada yang berubah selama dua tahun belakangan ini," ujar Roni sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku kan sudah mengatakannya padamu, lebih baik berhati hati, jangan banyak bertingkah didepannya," ujar Adit berbisik pada Roni.
Aurel menyipitkan matanya saat melihat Adit berbisik pada Roni, sembari memukul pundak Adit dengan buku yang ditangannya.
"Apa yang kau katakan padanya, ku sarankan padamu agar tidak berbicara yang bukan bukan padanya, jika sampai aku mengetahuinya, kau tau kan akibatnya?" Aurel menatap Adit dengan tatapan tajam, membuat Adit tidak berani untuk berkata apapun.
Aurel yang masih kesal tiba tiba menyita makanan Adit dan memakannya dengan cepat hingga habis, Adit hanya berdiam saja, itu sudah menjadi hal yang lumrah baginya.
tidak cukup hanya memakan makanan Adit, Aurel kembali menyita makanan Roni dan melahapnya.
"Kau ini kenapa sih? Kenapa begitu rakus begini?" Roni masih saja penasaran kenapa Aurel bersikap seperti itu.
"Aku sangat kesal," jawab Aurel dengan mulut dipenuhi dengan makanan.
__ADS_1
"Apa harus serakus itu jika sedang kesal?" tanya Roni.
"Kenapa? Setidaknya aku sedikit melupakan kekesalanku dengan cara makan yang banyak," ujar Aurel yang terus saja makan dengan lahapnya.
"Sudahlah, jangan bertanya lagi, kau tidak akan tahu kehidupan seorang wanita seperti apa, bagiku sebagian wanita memiliki kebiasaan yang sangat aneh, kita para lelaki tidak bisa memahaminya," ujar Adit pada Roni.
Aurel yang selesai makan menjadi kebingungan karena tidak mendapati air didekatnya.
"Sekarang kau mau apa? mau minum? jangan berharap kami akan memesankanmu, pesan saja sendiri," ujar Adit kesal. Aurel menyipitkan matanya mendengar ucapan Adit.
"Coba kau katakan sekali lagi!" ujar Aurel dengan mengangkat gelas kosong ingin memukul Adit.
"Stop. Baiklah Tuan Putri, aku tidak akan berani bicara lagi," ujar Adit panik, bagaimana dia tidak panik, saat Aurel sedang marah, apapun bisa dia lakukan, dia bisa menjamin jika membuatnya marah, gelas yang dipegang oleh Aurel itu pasti akan mendarat kekepalanya.
Jika dia jadi bos mafia, pasti akan sangat kejam dan keji, dan akan sangat ditakuti oleh siapapun, tapi bagus juga kalau dia bukanlah seorang bos mafia, jika sampai itu terjadi, aku tidak bisa membayangngkan seperti apa dia nantinya. pasti akan menjadi orang yang tanpa berbelas kasihan. Batin Adit.
"Kau haus kan? Ini aku bawakan minuman, minumlah!"
Tiba tiba seseorang menyodorkan segelas minuman dingin kehadapan Aurel. Aurel mengangkat kepalanya dan terlihat Jovi yang tersenyum padanya. Suasana hati Aurel seketika berubah lagi, Aurel sendiri pun tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini, tetapi entah kenapa tidak ada perasaan menyesal dihatinya.
"Tidak. Terimakasih, aku bisa memesannya sendiri," ujar Aurel sambil bangkit dari tempatnya, tetapi Jovi menarik tangannya kemudian berbisik pada Aurel.
Aurel akhirnya pasrah, dia tidak memiliki pilihan lain lagi, dia benar benar malu jika mengingat kejadian itu bersama Jovi, dia kembali duduk dan meneguk minuman dari Jovi dengan kasarnya.
Sedangkan Adit dan Roni dibuat kebingungan dengan sikap Jovi dan Aurel yang tidak seperti biasanya.
***
Kelas Aurel telah berakhir, dia memutuskan untuk langsung pulang saja, diperjalanan pulang entah kenapa dia tidak bisa menyingkirkan bayangan tentang Jovi, seakan Jovi sedang melayang layang diatas kepalanya.
"Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku malah memikirkan lelaki itu? Dan saat memikirkannya kenapa jantungku berdetak sangat cepat. Tidak, tidak, pasti bukan sedang jatuh cinta kan? Selama ini aku tidak pernah mengenal yang namanya cinta, dan tidak mungkin aku tiba tiba jatuh cinta padanya. Iya, ini pasti tidak benar," gumam Aurel.
Tidak perduli seberapa kerasnya dia mecoba untuk menepis bayangan Jovi, tetapi itu membuatnya semakin dan semakin mengingat kejadian tadi bersama Jovi.
***
__ADS_1
Hingga malam tiba, Aurel tetap tidak bisa menghilangkan pikirannya tentang Jovi, seakan Jovi ada disetiap sudut ruangan kamarnya..
Aurel kembali membuka matanya, teringat lagi kejadian yang tadi siang, itu membuatnya semakin sulit untuk terlelap.
Bahkan wangi tubuh Jovi pun masih diingatnya, seakan masih melekat pada tubuhnya.
Aurel bangun dari rebahannya, waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi, namun matanya tidak juga ingin tertidur.
"Hah. Ada apa ini? Kenapa aku tidak bisa tidur sampai jam segini? Aku tidak pernah seperti ini biasanya, apa yang dilakukan pria itu, sampai membuatku menjadi seperti ini," Aurel berbicara sendiri diatas tepat tidurnya sembari menghela nafas kasar.
Aurel kembali berbaring, dan menutup mata dengan tangannya.
"Ayolah. Tidur, ini sudah sangat larut, jangan memikirkannya terus," ujar Aurel sambil menepuk nepuk matanya.
Sekitar jam empat pagi, Aurel baru bisa terlelap, hingga ia tidak menyadari bahwa hari telah pagi.
"Aurel, Aurel. Apa kamu masih tidur? Ini sudah pagi, apa kamu tidak pergi kuliah hari ini?" teriak ibunya Aurel sambil mengetuk ngetuk pintu kamar Aurel.
sekitar lima menit mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban dari dalam, ibunya sedikit khawatir, dia memutuskan unt[k menelpon Aurel saja.
Aurel yang terlelap akhirnya sedikit sadar mendengar suara deringan ponselnya.
dia mengangkat teleponnya dengan mata yang masih tertutup
"Hallo" Aurel mengangkatnya dengan malas.
Ibunya yang mendengar suara serak Aurel menjadi sedikit lega, karena ia tahu kalau anaknya baru saja bangun.
"Apa kau tidak ingin kuliah hari ini?" tanya ibunya.
"Jam berapa sekarang?" Aurel balik bertanya.
"Sudah jam 07:35," jawab ibunya.
Aurel langsung membelalakkan matanya,dan segera bangkit dari tempat tidur.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan siap siap," ujar Aurel tergesa gesa.
Setelah siap. Aurel langsung berangkat tanpa sarapan terlebih dahulu.