ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Menyuapi Jovi


__ADS_3

****


Keesokan harinya, Jovi berangkat kekampus bersama Adit, sepanjang perjalanan Adit tidak henti hentinya menanyakan tentang hubungan Jovi dan Aurel, namun Jovi tetap diam saja, dia tidak ingin menjawab pertanyaan pertanyaan Adit yang begitu banyak.


Setibanya mereka dikampus, Aurel segera menghampiri Jovi.


"Jovi. Apakah kamu sudah sarapan pagi ini? Aku membawakanmu nasi goreng buatanku, terimalah! semoga kamu menyukainya," ujar Aurel yang menyodorkan kotak makanan pada Jovi.


"Sejak kapan kau bisa memasak? Bukankah kau wanita paling payah jika berurusan dengan dapur?" ledek adit.


"Diam kau, jangan banyak bicara," bentak Aurel sambil melototi Adit.


Adit menaikkan sudut bibirnya.


"Hmm ... Sekarang aku paham, kalian sudah resmi menjadi sepasang kekasih kan? Pantas saja Aurel datang dengan wajah manis seperti itu, tidak seperti biasanya," ledek Adit, Wajah Aurel berubah menjadi merah, malu sekaligus kesal melihat Adit yang tidak berhenti meledeknya.


Aurel ingin sekali melayangkan pukulannya pada Adit, namun berhubung ada Jovi, dia masih menahan rasa kesalnya.


"Terimakasih ya! seharusnya kau tidak perlu repot untuk menyiapkan sarapan untukku, ini akan menyusahkanmu," ujar Jovi.


"Tidak, tidak. Ini sama sekali tidak merepotkan, aku senang melakukannya." Aurel dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Ekhem. Apa kalian masih menganggapku ada disini?" Adit seketika bersuara saat dia diabaikan begitu saja.


Aurel dan Jovi hanya tersenyum saja.


"Kalau begitu terimakasih, aku akan memakannya nanti," ujar Jovi.


"Aurel. Kenapa kau tidak menyiapkan sarapan untuk aku juga? Curang sekali, sudah mendapatkan kekasih, sahabat sendiri dilupakan," bantah Adit.


"Besok besok sajalah aku siapkan untummu," jawab Aurel ketus.


Saat mereka berada di kantin, Jovi membuka kotak bekal yang diberikan oleh Aurel.


"Tumben sekali kau membawa bekal ke kampus, seperti anak kecil saja," ledek Roni yang belum tahu kalau itu adalah pemberian dari Aurel.


"Ssstt. jangan berisik, dia itu sedang menghayati momen membuka kotak bekal dari kekasihnya," bisik Adit sambil. menyenggol Roni dengan sikunya.


Jovi menatap kearah Adit, seketika Adit membetulkan duduknya berpura pura tidak mengatakan apapun.

__ADS_1


"Apakah mereka benar benar jadian?" tanya Roni penasaran, Adit mengangguk dengan cepat.


Roni tersenyum lebar sembari berteriak dan memeluk Adit, membuat Adit terbelalak karena terkejut.


"Ada apa denganmu? Apa kau sedang dimasuki hantu genit?" ledek Jovi.


"Iya, iya. Sepertinya begitu, entah mengapa aku ingin sekali memeluk Adit, hingga tak ingin melepaskannya," ujar Roni sambil tertawa palsu.


Adit merasa sesak karena Roni yang memeluknya begitu erat, Adit sekuat tenaga melepaskan pelukan Roni dan akhirnya terlepas juga.


"Apa apaan kau ini, yang jadian siapa? Yang gembira siapa? Bisa bisanya kau senang sampai memelukku seperti ini," bisik Adit sambil memelototi Roni.


"Ah, kau ini, jangan galak galak padaku," Roni memukul bahu Adit sembari tersenyum kaku.


Ada apa dengan anak ini? Apakah dia mulai tidak waras, tingkahnya aneh sekali. Batin Adit.


Roni melamun sambil sesekali memaksakan diri untuk tersenyum


Aurel. Aku turut senang jika kau menemukan kebahagiaanmu, meskipun orang yang disampingmu bukan aku, aku akan terus mendukungmu dari belakang, melihatmu tersenyum bahagia itu sudah cukup buatku. Semoga kau bahagia dengan pilihanmu. Benak Roni.


Roni memang dari dulu telah menyukai Aurel, sejak mereka masih duduk dibangku SMA hingga sekarang, namun Roni tidak pernah ingin mengatakan tentang perasaannya ke siapapun, termasuk pada Adit, dia hanya memilih untuk diam, dia sering beberapa kali menanyakan pada Aurel, apakah Aurel pernah menyukai seseorang, namun jawaban Aurel tetap sama, tidak pernah. Hingga saat dia mengetahui bahwa Aurel menyukai Jovi, yaitu sahabatnya sendiri, akhirnya dia mengalah dengan perasaannya.


"Hey. Kau kenapa melamun? barusan bertingkah aneh, sekarang malah diam saja," kata Adit yang memecah keheningan.


"Hah. Tidak. Aku sangat terharu melihat Aurel yang akhirnya mendapatkan kekasih, sampai aku tidak bisa berkata kata lagi," Roni tertawa keras, namun menyimpan sebuah kegetiran dihatinya.


"Ada ada saja kau ini," ujar Adit yang tidak menyadari keganjalan dari raut wajah Roni.


Sedangkan Jovi menatap lekat kearah Roni, dia menyadari ada yang tidak beres dari perilaku Roni saat ini, namun dia juga tidak ingin berpikir yang tidak tidak tentang sahabatnya.


Beberapa saat kemudian, Aurel datang menghampiri mereka.


"Hai semuanya," sapa Aurel.


"Hai," jawab mereka serentak.


"Kau tampak ramah sekarang ya," goda Adit, Aurel tersenyum sambil menatap Jovi dengan hangat, dan dibalas dengan senyuman pula oleh Jovi.


"Tatapanmu sungguh melelehkan hatiku," Adit berkata sambil menatap kearah Roni yang sebenarnya dia sedang meledek Aurel.

__ADS_1


Aurel dan Jovi seketika mengalihkan pandangan mereka masing masing karena malu.


Adit tersenyum meledek melihat tingkah malu mereka sebagai pasangan yang baru saja jadian.


Aurel akhirnya duduk disamping Jovi dan melihat sarapan yang dia berikan belum disentuh sedikitpun oleh Jovi.


"Kenapa tidak dimakan? Makanannya tidak akan enak dimakan jika sudah dingin," Aurel memasang wajah masamnya.


"Bagaimana aku bisa memakannya jika kedua orang ini tidak memberikan aku kesempatan untuk makan," Jovi dengan jahilnya menimpakan semua masalah pada kedua sahabatnya.


"Dasar kalian ini, selalu saja buat masalah," bentak Aurel sembari memukul kedua orang itu.


Adit dan Roni mengerutkan keningnya mengaduh kesakitan sambil memegangi bahu mereka yang terasa panas akibat pukulan dari Aurel.


Jovi meledek mereka dengan menirukan ekspresi kedua orang itu.


"Kau kenapa malah memukul kami? Kami tidak melakukan apapun, ini hanya trik Jovi, menimpakan kesalahan pada kami, ini tidak ada hubungannya dengan kami berdua," ujar Adit yang masih memegangi bahunya.


"Kau masih ingin berdalih? Apa pukulanku masih belum cukup kuat?" bentak Aurel.


"Baiklah kau yang menang," Adit segera mengangkat tangannya mengalah.


Adit melirik kearah Jovi, dan terlihat Jovi yang tersenyum mengejek.


Siapa yang menyuruhmu selalu meledekku tadi, memangnya kau pikir aku tidak tahu? Rasakanlah balasannya. Benak Jovi sembari tersenyum puas.


Awas saja kau Jovi, kau menang kali ini, tapi tidak lain kali. Batin Adit yang menyipitkan matanya menatap Jovi dengan tatapan liciknya.


"Sekarang makanlah, tidak ada yang akan mengganggumu lagi," ujar Aurel tersenyum manis pada Jovi, Jovi membalas dengan senyuman pula.


Saat Jovi meraih kotak makanannya Aurel seketika menariknya dari tangan Jovi, Jovi dibuat bingung olehnya.


"Biar aku yang menyuapimu," ujar Aurel.


Jovi melirik kearah Adit dan terlihat Adit yang mendengus kesal.


"Oh, kamu mau menyuapiku? Aku sangat senang jika kau mau menyuapiku sayang," ujar Jovi yang sengaja membuat iri Adit dan Roni.


Aurel terlihat malu mendengar Jovi memanggilnya dengan sebutan sayang.

__ADS_1


Uh. Geli sekali, sejak kapan anak ini belajar genit. Batin Adit.


Aurel menyuapi Jovi dengan lembut, Jovi memakannya sambil melirik kearah Adit, Adit seketika mengalihkan pandangannya, berpura pura tidak melihat apapun, Jovi tersenyum menang melihat Adit yang tidak berkutik lagi.


__ADS_2