
Jovi benar benar bingung harus mengambil langkah apa? Jika dia harus menikah, wanita mana yang harus dia pilih, sementara dia sendiri sungguh sangat malas berhubungan dengan wanita manapun.
"Tuan. Apa anda baik baik saja?" tanya Jimmy khawatir.
"Tidak apa apa," jawab Jovi ringan tanpa menoleh kearah Jimmy.
Jimmy tidak lagi berani bertanya, dia memutuskan untuk pergi mengambilkan segelas teh untuk Tuannya.
"Tuan. Ini teh untuk anda, mungkin setelah minum teh, anda bisa lebih baik lagi," ujar Jimmy sembari meletakkan teh kemeja Jovi.
"Dan ini Tuan. Ada undangan untuk anda." ucap Jimmy.
Jovi menoleh, "Undangan apa?" tanya Jovi.
"Tidak tahu Tuan, saya belum membukanya," jawab Jimmy hormat.
Jovi meraih undangan yang dibawa oleh Jimmy, dan membaca isinya.
Ternyata undangan Reuni kampus, yang akan diadakan besok lusa.
Jovi menelepon Adit, dan Adit juga mendapatkannya, tentu saja dia akan datang.
Disisi lain, Aurel yang berada di New York, sudah sembuh total dari penyakitnya, dia merasa kesembuhannya adalah suatu keajaiban dari Tuhan, dia masih diberikan kesempatan hidup sekali lagi.
"Aurel. Kita harus pulang, perusahaan Papa disana sudah hampir bangkrut, kita tidak bisa tinggal disini lagi, usaha Papa disini juga sama sekali tidak berkembang, takutnya kita nanti akan jadi gelandangan, jika perusahaan kita di Indonesia tak bisa diselamatkan," ujar ayahnya yang frustasi.
"Tapi Pah. Bagaimana jika aku bertemu lagi dengan Jovi, aku takut jika sampai aku bertemu dengannya," jawab Aurel yang masih membantah untuk pulang.
"Malah bagus jika kamu bertemu dengan Jovi, kamu tahu Jovi sekarang adalah Raja di Indonesia, kamu bisa meminta tolong padanya, agar mau menolong perusahaan Papa agar tidak bangkrut, mengingat hubungan kalian yang dulu sebagai sepasang kekasih," bujuk ayahnya.
"Itu sudah masalalu Pah, aku malu jika harus datang padanya meminta bantuan, aku pasti akan dianggap hina oleh Jovi, tidak. Aku tidak siap bertemu dengannya." Aurel terus saja menolak.
"Lalu kamu mau makan apa disini? Persediaan uang kita sudah sangat menipis, jika perusahaan kita tidak segera ditolong, maka habislah semuanya," ayahnya semakin depresi, karena Aurel yang tidak ingin pulang, dan dia juga tidak mungkin rela, jika meninggalkan anaknya sendiri dinegara lain.
"Papa mohon sama kamu, mengalah untuk kali ini saja ya!" mohon ayahnya.
__ADS_1
Aurel menjadi tidak tega melihat ayahnya yang sampai memohon padanya, akhirnya Aurel menuruti kemauan ayahnya. Pulang ke Indonesia.
"Baiklah. Aku akan ikut bersama kalian, pulang ke Indonesia," Aurel hanya bisa pasrah.
***
Keesokan harinya mereka berangkat, pulang ke Indonesia, saat keluar dari Airport, Aurel seakan melihat masalalunya, yang dulu bersama Jovi, dan semua sahabatnya, seketika dia menjadi rindu dengan suasana indah itu, terlebih pada Jovi, rindunya seakan tidak bisa terbendung lagi saat menginjakkan kaki kembali di Indonesia.
Bagaimana kabarmu sekarang? Pasti sangat baik, kamu yang sekarang telah memiliki segalanya, tidak, bukan dari sekarang, tetapi memang dari dulu kamu telah memiliki segalanya, hanya saja, kamu menutupinya dariku. Gumamnya sembari tersenyum getir.
Aurel kini tiba dirumahnya, diliriknya sofa yang ada di ruang tamu, dimana tempat Jovi dulu menunggunya, saat akan jalan jalan berdua, hatinya seakan teriris, sangat perih, mengingat masa indah yang kini tidak lagi dia miliki.
Saat dia menaiki tangga, teringat kembali saat dia terjatuh dari ketinggian, dimana itu awal dari retaknya hubungan mereka, Aurel mencoba manahan air matanya, terus berjalan menuju kekamarnya.
Perlahan dibukanya kamar yang penuh sejuta kenangan itu, saat pintu terbuka, semua masih sama seprti dulu, semua barang barangnya, terletak rapi seperti dulu, dia seakan kembali kemasa lampau, disaat dia masih menjadi kekasih Jovi.
dia melangkah dengan kaki gemetar menuju kasurnya, duduk ditepian kasur, tiba tiba Aurel tak kuasa lagi menahan tangisnya, sebulir demi sebulir, kristal bening jatuh kepipinya.
Mengingat kasur tempat dia selalu berbincang ria ditelepon bersama Jovi, tempat dia saling berbalas chat mesra dengan Jovi, tempatnya setiap malam menatap foto Jovi sebelum tidur, hingga ia sengaja memasang foto Jovi yang begitu besar, dan ia tempelkan dilangit kamarnya tepat diatas tempat tidurnya.
Aurel mendongak, dan terlihat sebuah foto pemuda yang tersenyum manis, wajah yang begitu tampan, lengkungan bibir yang begitu sempurna, membuat Aurel ingin sekali bertemu lagi dengan kekasih masalalunya, tetapi jika dia mengingat dirinya yang begitu kejam meninggalkan Jovi tanpa memberikan alasan padanya, membuat dia tidak berani berpikir untuk menemui Jovi.
Aurel tiba tiba teringat pada Adit, dia segera meraih ponselnya untuk menghubungi Adit.
"Hallo. Dit," ucap Aurel pelan saat telepon telah tersambung.
"Aurel. Bagaimana kabarmu?" tanya Adit.
"Aku baik, aku sekarang ada di Indonesia."
"Hah? Serius? Kapan kamu pulangnya, kenapa tidak kabari aku? Aku kan bisa menjemputmu," Adit setengah tidak percaya Aurel malah pulang ke Indonesia.
"Tidak perlu, aku baru sampai, sekarang sudah berada dirumah, apakah kamu mau bertemu denganku?" tanya Aurel.
"Tentu. Aku sudah sangat merindukanmu, sangat lama tidak bertemu denganmu lagi," jawab Adit antusias.
__ADS_1
"Siapa yang kau rindukan?" Lani yang baru saja masuk, mendengar Adit yang merindukan seseorang, seketika melotot kearah Adit.
"Bukan. Bukan siapa siapa, ini Aurel, dia baru pulang, dia ingin bertemu denganku," jelas Adit.
"Wah ... Benarkah? Coba sini berikan ponselnya!" Lani merebut ponsel Adit tiba tiba.
"Hallo Aurel, wah apa kabar kamu, aku sangat merindukanmu, kenapa lama sekali baru pulang?" Lani tak henti hentinya melontarkan pertanyaan pada Aurel, hingga Aurel bingung mau menjawab apa?
"Hallo. Aurel, kamu masih disana kan?" panggil Lani saat tidak mendengar suara apapun.
"Kamu berbohong padaku?" Lani memukul Adit, mengira Adit mempermainkan dia.
"Tidak, tidak, dia pasti bingung mau bicara apa, karena kamu langsung menanyakan sejuta pertanyaan padanya.
"Hallo Lani, aku baik baik saja, apa kita bisa bertemu?" Aurel tiba tiba bersuara.
"Oh. Pasti, aku akan pergi bersama Adit sekarang juga." Lani segera memutus panggilan dengan Aurel, dan langsung menarik Adit untuk bertemu Aurel.
Aurel juga segera berangkat, dan dia tiba duluan disana, sekitar lima menit menunggu akhirnya mereka sampai juga.
"Adit, Lani. Sini!" teriak Aurel saat melihat mereka tiba.
Lani melambai lambai dengan wajah tersenyum senang dengan sedikit berlari menghampiri Aurel.
Mereka berpelukan dengan sangat erat saat bertemu untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
"Aurel. Aku sangat merindukanmu, kamu kemana saja? Kenapa baru pulang sekarang?" tanya Lani.
"Ada sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan," ujar Aurel yang tersenyum kecut.
"Baiklah, kita tidak bicarakan itu, bagaimana kehidupanmu selama lima tahun ini? Apakah menyenangkan?" tanya Lani dengan mata berbinar.
Lagi lagi Aurel tersenyum kaku, mana mungkin harinya menyenangkan saat harus berjuang melawan kanker ganas, terlebih harus hidup tanpa Jovi, itu menyakitkan.
Nah. Aurel udah pulang tuh wkwk
__ADS_1
Oh, ya. Author mau kasih tau lagi nih, Author punya novel baru, judulnya Bos Angkuh. Up setiap jam 07:00 Mampir kesana juga ya, tidak lupa juga dong kasih like, coment, fav, dan vote nya.
Dukung Author setiap hari di novel sebelah ya, Author butuh banget soalnya. Please!! 😁😘