ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Morning kiss


__ADS_3

Keesokan harinya.


Cahaya mentari menyeruak masuk kedalam kamar hingga membuat Aurel terbangun dari tidurnya.


Ia memicingkan matanya menatap kearah jendela, dan ternyata langit sudah tampak terang.


Aurel menatap wajah Jovi yang tertidur pulas dihadapannya, pelan pelan Aurel mengelus rambut Jovi, lalu ia tersenyum kecil menatap wajah tampan suaminya itu.


Aurel mencium pipi Jovi dengan sangat pelan, takut akan membangunkan Jovi, tetapi setelah dia baru saja usai mendaratkan ciumannya, tiba tiba Jovi langsung menerobos pertahanannya dan langsung mengecup bibir Aurel.


"Kamu .... " Aurel melotot karena terkejut.


"Morning kiss," ucap Jovi tersenyum manis.


"Kamu pura pura tidur?" ucap Aurel kesal.


"Iya. Itu salah satu trikku untuk memberikanmu kejutan," ucap Jovi tanpa merasa bersalah.


"Hmm. Aku akan bangun untuk membuatkanmu sarapan," ucap Aurel sembari bangkit dari kasur, tapi tiba tiba Jovi menarik tangannya.


"Jangan pergi dulu, aku masih ingin bersamamu," ucap Jovi dengan lirih.


"Kamu tidak ingin sarapan?" tanya Aurel.


"Menu sarapanku pagi ini kamu saja, aku ingin memakanmu," Jovi menarik tubuh Aurel hingga Aurel kembali terbaring disampingnya.


"Oh. Tidak tidak. Jika kamu melakukannya lagi, maka kamu bisa terlambat pergi kekantor, kerjaanmu pasti banyak kan?" Aurel melepas pelukan Jovi mencoba untuk menghindar, karena dia tidak akan sanggup jika Jovi harus memaksanya untuk melakukan hal seperti kemarin malam, Aurel benar benar merasa lelah.


"Sayang, kamu lupa jika aku adalah bosnya, aku datang kapan saja tidak akan ada yang berani memarahiku," ucap Jovi tersenyum licik.


"Hmm. I-Itu, aku merasa sangat lapar, aku ingin buat sarapan untuk makan. Aku pergi dulu ya!" Aurel berlari kecil meninggalkan Jovi dikamar.


Jovi menatap punggung Aurel sembari menggelengkan kepala dan tersenyum lucu melihat wajah panik istrinya.


Setibanya Aurel didapur, ia melihat Rasya yang sedang mengambil air disana, Rasya yang melihat Aurel dengan mata yang sedikit bengkak, lantas tersenyum meledek.

__ADS_1


"Jika suamimu tidak menyukaimu lebih baik kamu pergi saja dari kehidupannya, kamu tidak layak berada disamping Kak Jovi, yang pantas menjadi pendamping Kak Jovi hanyalah Kak Resta," ucapnya sinis saat Aurel sedang memulai pekerjaannya didapur.


"Memangnya kamu siapa? Berani menentukan pendamping untuk Jovi, kamu itu masih anak kecil yang tidak mengerti tentang kehidupan orang dewasa, jadi lebih baik kamu diam saja dan belajar dengan baik agar tidak selalu ikut campur dengan kehidupan orang," ucap Aurel santai tanpa menoleh kearah Rasya.


"Hng. Kamu yakin aku masih anak anak? Jangan salahkan aku jika suatu saat aku mampu memisahkan kalian berdua," ucapnya sinis.


"Coba saja jika kamu mampu untuk melakukannya, aku tidak takut, karena Jovi hanya mencintaiku," jawab Aurel datar dan masih sibuk dengan alat alat dapur.


Mendengar ucapan Aurel, Rasya tertawa cekikikan merasa lucu dengan apa yang dia dengar.


"Apa kamu salah berbicara? Atau aku yang salah mendengar? Kak jovi itu tidak menyukaimu, dan kemarin itu sangat terlihat jelas perlakuannya yang menarikmu dengan paksa saat kamu membentakku, jadi jangan bermimpi untuk dicintai oleh Kak Jovi." ucap Rasya membantah.


Aurel menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Rasya.


"Oh, ya? Kamu yakin dengan ucapanmu itu? Kalau begitu kita tunggu saja sampai Jovi turun kesini," bisik Aurel ditelinga Rasya dengan senyum ledekannya.


Rasya mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Aurel.


Dan kebetulan Jovi terlihat menuruni anak tangga, Aurel tersenyum kearah Jovi.


"Morning Sayang," ucap Aurel yang meninggalkan Rasya dan menghampiri Jovi, ia sengaja ingin memberi tamparan balik pada Rasya.


Aurel tersenyum manis dan sesekali melirik Rasya untuk membuatnya semakin panas.


Rasya mengerutkan alisnya tak percaya dengan apa yang dia lihat, kemarin dia baru saja melihat perlakuan Jovi yang begitu dingin pada Aurel, tapi sekarang, dia malah melihat mereka yang begitu mesra, sedangkan dia tidak pernah membayangkan bahwa mereka akan sangat akur seperti itu.


"Sebentar, aku ambilkan susu dan sandwich untukmu," ucap Aurel lalu menyiapkan sarapan untuk Jovi.


"Permisi ya!" Aurel sengaja menyenggol bahu Rasya saat dia ingin mengambil susu.


Rasya mencebikkan bibirnya kesal dengan sikap Aurel yang sangat berani padanya.


Ia lantas berlalu pergi dari sana dengan membawa wajah masamnya, hentakan kaki yang terdengar sangat jelas karena dia yang begitu kesal.


Aurel yang melihat itu, tersenyum puas karena berhasil membuatnya kesal.

__ADS_1


"Malam ini, apa kamu ada waktu?" ucap Aurel saat memberikan segelas susu pada Jovi.


"Tidak ada. Kenapa? Apa ingin melanjutkan aktivitas kita yang kemarin malam?" tanya Jovi dan tersenyum menggoda.


"Kamu ini, tidak bisakah memberikan absen untuk aktivitas yang satu itu? Tidakkah punyamu akan patah jika melakukannya setiap hari?" sungut Aurel berwajah masam.


"Sayang. Kamu menginginkan senjataku patah? Kamu tidak mengkhawatirkan tentang masa depanmu?" ujar Jovi berpura pura terkejut.


"Tidak. Karena aku bisa cari lelaki lain," jawab Aurel santai sembari tersenyum.


"Jika kamu berani melakukan itu, siapapun pria yang mendekatimu, maka aku akan senang hati untuk meracuninya," ancam Jovi dengan nada bercanda pula.


"Berani meracuni orang, tidak takut akan dibawa polisi?" ucap Aurel.


"Jika tidak bisa memilikimu, maka apa bedanya dengan aku dipenjara atau tidak? Sama sama hidup dalam kesendirian. Jadi aku tidak takut," ucap Jovi datar tanpa ekspresi.


"Kamu marah?" Aurel memiringkan kepalanya ingin melihat ekspresi Jovi.


"Tidak, tapi hampir," ucapnya datar.


Aurel tertawa cekikikan mendengarnya.


"Aku hanya bercanda, jangan marah!" bujuk Aurel.


"Aku juga bercanda, senjataku tidak akan patah walau dipakai tiap hari," Jovi tertawa kecil menatap Aurel yang tampak merasa bersalah.


Pembicaraannya kenapa malah balik kesana lagi? Aurel menyunggingkan bibirnya tak habis pikir.


"Jangan bahas kesana dulu. Jika malam ini kamu tidak sibuk, bagaimana jika kita janji ketemu dengan Adit dan Lani?" ujar Aurel dengan antusias.


"Boleh. kamu saja yang memberitahukan pada mereka. Ketemu di barnya Roni," Jawab Jovi setuju.


Setelah sarapan, Jovi berangkat ke perusahaan dengan diantar Aurel sampai kedepan vila


Saat Aurel hendak masuk, ia terkejut saat Rasya yang tiba tiba berdiri didepannya.

__ADS_1


"Katakan! Apa yang kamu lakukan pada Kak Jovi sampai dia begitu baik padamu? Kamu pasti meminta Kak Jovi untuk bersandiwara kan?" Rasya melototi Aurel dengan menaruh curiga pada Aurel.


"Apa yang bisa aku lakukan? Hey anak kecil. Bukankah aku sudah bilang padamu, jangan suka mencampuri urusan orang lain? Lebih baik kamu belajar agar kamu menjadi anak yang pintar, oke?" jawab Aurel dengan santai dan meninggalkan Rasya begitu saja, ia terlalu malas untuk berdebat megenai hal yang tidak penting.


__ADS_2