ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Berterus terang


__ADS_3

Semuanya berjalan keluar dari rumah sakit, bersiap untuk kembali kekota.


Disaat semua orang kebingungan, Jovi diam diam tersenyum dan juga sedikit merasa bersalah, karena dia, pria itu harus diomeli oleh Dokter.


***


Keesokan harinya, Aurel sedang duduk santai ditaman kampus dengan pandangan lurus kedepan, tiba tiba Adit dan Roni datang menghampiri.


"Hey. Melamun saja," teriak Adit sembari melompat duduk disebelah Aurel, begitu juga dengan Roni, hingga Aurel terhimpit ditengah tengah mereka berdua.


"Bisa tidak, datang jangan mengagetkan orang!" bentak Aurel, Adit dan Roni hanya tersenyum jahil.


"Bagaimana perkembanganmu terhadap Jovi?" tanya Roni tiba tiba, seketika wajah Aurel sedikit masam.


"Tidak tahu, sepertinya Mawar juga menyukai Jovi, dan mereka terlihat dekat saat ini," jawab Aurel dengan nada kecewa.


"Lalu kau menganggap Jovi juga menyukai gadis itu?" tanya Adit.


"Mungkin saja kan, kita tidak bisa menebak isi hati orang," ujar Aurel sambil mengangkat bahunya.


"Lalu kenapa kau sendiri malah menebak nebak isi hatinya? Begini saja, daripada kau selalu berfikiran yang tidak tidak, lebih baik kau langsung saja mengutarakan apa yang kau rasakan terhadap Jovi, zaman sekarang sudah tidak apa apa jika wanita yang bergerak duluan," Adit mencoba memberi saran.


"Darimana kau tahu jika zaman sekarang wanita bebas bergerak duluan?" tanya Aurel.


"Itu hanya pandanganku saja," jawab Adit sambil tersenyum malu dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dasar kau ini," gerutu Aurel.


"Ya kan aku hanya memberikan saran padamu, tapi lebih baik kau mengikuti saranku, aku yakin Jovi akan menerimamu," jelas Adit dengan percaya diri.


"Benarkah? Berapa persen keyakinanmu dalam hal ini?" tanya Aurel.


"Seratus persen." Adit menjawab dengan cepat.


"Bagaimana jika dia tidak menerimaku?" tanya Aurel dengan serius.


"Kau jangan berfikir kesana dulu, mencoba terlebih dahulu tidak ada salahnya, aku sudah katakan, jika dia pasti akan menerimamu. Percaya padaku!" jawab Adit dengan mantap.


"Benar apa yang dikatakan oleh Adit, jika kau ingin mendapatkan keberhasilan kau harus melalui percobaan terlebih dahulu, baru kau bisa mengetahui hasilnya," timpal Roni. Aurel mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Lalu bagaimana rencana kalian?" Aurel memandangi Adit dan Roni bergantian.


"Jovi akan memulai kelasnya siang ini, sementara dia juga tidak bekerja pada pagi hari, kau bisa mengajaknya sekarang untuk bertemu di sebuah cafe, agar kau juga bisa lebih tenang mengungkapkan isi hatimu," jelas Adit dan dibalas anggukan oleh Aurel.


"Kalau begitu berikan aku nomornya!" ujar Aurel sembari mengeluarkan ponselnya.


Mawar yang diam diam mendengar pembicaraan mereka dibalik pohon, merasa sangat kecewa, tidak menyangka Aurel benar benar menyukai Jovi, orang yang juga dia sukai. Matanya kini sudah berkaca kaca, tetapi dia masih berpikir positif, jika memang Jovi menerima Aurel, mungkin dia juga akan merelakan Jovi, dan tetap mencintainya dalam diam.


Baginya, asalkan bisa melihat orang yang dia cintai menemukan kebahagiaannya, dia juga akan turut senang, meskipun hatinya bagai tersayat sayat oleh pedang yang begitu tajam.


Aurel segera menelepon Jovi saat mendapatkan nomornya dari Adit.


"Hallo. Jovi, ini aku Aurel, apa kita bisa bertemu sekarang?" tanya Aurel dengan sedikit gugup.


"Ada apa?" tanya Jovi penasaran.


"Ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu," jawab Aurel.


"Sebegitu pentingnya kah, sampai tidak bisa mengatakannya di telepon," ujar Jovi.


"Iya, kita harus bertemu langsung, karena ini sangat penting," jawab Aurel dengan serius.


"Baiklah, dimana kita akan ketemu?" tanya Jovi lagi.


"Baiklah, aku akan berangkat sekarang," ujar Jovi, dan menutup teleponnya.


Sedangkan Mawar masih saja mendengarkan pembicaraan Aurel dan Jovi, dia juga berencana untuk pergi ke taman, dimana tempat mereka akan bertemu, dia ingin sekali mengetahui jawaban dari Jovi.


"Kenapa malah ketemu ditaman? Bukannya aku menyarankan dicafe?" tanya Adit, setelah Aurel selesai berbicara pada Jovi.


"Apa bedanya ditaman dan dicafe? justru ditaman lebih santai, agar aku juga tidak begitu tegang saat berbicara padanya," bantah Aurel, Adit hanya mengangguk saja dan mengalah, akan tidak baik jika dia harus berdebat dengan Aurel, karena mengigat Aurel yang begitu galak.


Aurel pun berangkat ketempat tujuannya, saat dia sampai disana, Jovi belum terlihat.


Beberapa menit kemudian setelah Aurel menunggu, akhirnya Jovi tiba dan menghampiri Aurel.


Melihat Jovi yang sudah berada dihadapannya, Aurel sangat gugup, tangannya berkeringat dingin, jantungnya tak berhenti berdegup kencang, sampai sampai dia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun saat Jovi berada dihadapannya.


"Ada apa?" tanya Jovi saat melihat Aurel yang menatapnya.

__ADS_1


"Tidak- Tidak apa apa. Duduklah!" Aurel mempersilahkan Jovi duduk.


"Apa yang ingin kau beritahukan padaku?" Jovi langsung bertanya setelah duduk disamping Aurel.


Sementara Mawar, dia juga berada tidak jauh dari Jovi dan Aurel, dia sudah mempersiapkan hatinya untuk mendengarkan jawaban dari Jovi.


"Hmm- Itu. Aku-." ucapan Aurel terbata bata, mulutnya seakan tidak bisa mengutarakan isi hatinya pada Jovi, belum lagi dia sama sekali tidak mempersiapkan kata kata yang pas untuk dikatakan.


"Kenapa?" Jovi mengerutkan keningnya heran.


"Hmm- Apa kau sudah memiliki kekasih?" tanya Aurel malu.


Jovi semakin bingung lagi dengan pertanyaan Aurel.


"Apakah itu penting?" tanya Jovi.


"Itu sangat penting untuk pembahasan kita saat ini, dan juga menentukan, apakah aku akan memberitahumu atau tidak, apa yang ingin aku katakan." Aurel mengatakannya dengan sangat cepat.


"Apa hubungannya? Tapi baiklah, akan ku katakan, aku tidak memiliki kekasih," jawab Jovi datar.


Didalam hati Aurel tersenyum senang, tapi mengingat, apakah Jovi akan menerimanya atau tidak, hatinya kembali gelisah.


"Begini, Jovi. Aku tidak tahu harus memulainya darimana, tetapi apa yang aku katakan mewakili hatiku yang paling dalam, selama ini aku tidak pernah memikirkan lelaki manapun, tetapi beberapa hari belakangan ini, setiap saat, setiap menit, dan bahkan setiap detik, pikiranku tak pernah lepas dari bayang bayangmu," perkataan Aurel terhenti sejenak dan Jovi menatap Aurel sambil mengangkat alisnya tak mengerti.


"Aku menyukaimu," ujar Aurel dengan cepat.


Jovi seketika menatap Aurel dengan lekat, tidak percaya, apa yang dikatakan Adit memang benar, bahwa Aurel menyukainya, menurut Jovi Aurel yang memiliki watak yang keras bukanlah wanita yang dengan gampangnya jatuh cinta, tetapi kenapa Aurel bisa menyukainya?


"Kau bercanda?" Adit tersenyum tidak percaya.


"Aku serius, aku tidak perduli kau mau mengatakan aku wanita seperti apa, mungkin kau menganggapku wanita yang murahan karena dengan lancangnya mengatakan ini padamu, tapi jika aku tidak memberitahumu, aku takut aku akan menjadi gila karena perasaan yang sungguh sulit untuk ditahan," jelas Aurel, seketika dia berubah menjadi wanita polos saat menjelaskan isi hatinya pada Jovi.


Apa yang akan Jovi katakan pada Aurel selanjutnya?


Apakah dia akan menerima cinta Aurel, si wanita galak?


Tunggu kelanjutan ceritanya ya!


Selalu dukung Author, berupa Vote, rate5, like, and coment.

__ADS_1


Salam hangat dari Author 😘


Terimakasih ❤


__ADS_2