ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Berangkat ke Markas


__ADS_3

"Kalian tunggulah di sini, aku ingin merundingkan hal ini pada paman Ghani, agar dia bersedia meminjamkan muridnya untuk membantu kita, kita tidak bisa pergi tanpa ada bantuan sedikit pun." Jovi berdiri keluar untuk menuju ke mobilnya.


"Apa perlu saya mengantar Anda Tuan muda?" Jimmy segera bersuara.


"Tidak perlu, tetaplah disini!" Sembari melambaikan tangan agar Jimmy tidak bergerak dari tempatnya.


Jovi pergi ke perguruan Paman Ghani, dan beruntungnya Paman Ghani ada di sana.


"Paman. Apa kabar?" Jovi memeluk Paman Ghani.


"Paman baik. Ada apa? Tumben sekali datang ke sini." Paman Ghani mempersilahkan Jovi duduk.


"Begini Paman, aku akan langsung pada intinya. Aku berniat menyelamatkan temanku yang saat ini sedang disekap oleh salah satu gang mafia. Aku ke sini untuk meminta bantuan Paman, apakah Paman bersedia meminjamkan tiga murid paman untuk ikut membantuku?" Jovi berharap kedatangannya tidak sia-sia.


"Paman tidak masalah. Tapi Paman akan menanyakan terlebih dahulu pada mereka. Apakah mereka mau, atau tidak," ujar Paman Ghani tak yakin.


"Baiklah Paman. Paman bisa menanyakan pada mereka terlebih dahulu." Paman Ghani pun mengangguk pelan lalu pergi meninggalkan Jovi.


Tidak lama kemudian Paman Ghani datang kembali bersama tiga muridnya.


"Mereka adalah tiga orang terbaik yang ada di sini, mereka juga bersedia membantumu." Paman Ghani kembali duduk di samping Jovi.


Jovi menatap pada ketiga orang tersebut, "Terimakasih Saudaraku." Jovi membungkuk hormat pada ketiga orang itu.


Paman Ghani cukup terkejut melihat Jovi yang membungkuk hormat, walau bagaimanapun Jovi lah yang seharusnya diberikan penghormatan yang seperti itu.


"Berikan hormat kembali padanya?" Paman Ghani memberi kode mata pada mereka, dan mereka tampak kebingungan tak mengerti.


"Ah. Tidak apa-apa Paman. Tidak perlu terlalu sungkan. Bisa kita berangkat sekarang? Kami tidak memiliki banyak waktu?" Mereka bertiga pun mengangguk setuju, dan mengikuti Jovi masuk ke mobil.


Sebelum Jovi menuju ke rumah Roni, ia menyempatkan diri untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu, ada sesuatu yang perlu dia ambil.


Setelah Jovi tiba, mereka semua tampak menunggu dengan gelisah.


"Baiklah. Kita akan berangkat sekarang! Di antara kalian siapa yang bisa menggunakan senjata api?" Jovi menatap mereka secara bergantian.


Tidak ada satupun diantara mereka yang menyahut pertanyaan Jovi, tapi Jimmy pelan pelan mengangkat tangannya dengan ragu.

__ADS_1


"Kau bisa Jim?" Jovi menatap lekat pada Jimmy.


"Hanya bisa sedikit Tuan, tidak begitu mahir!"


"Baiklah. Ambil ini!" Jovi melempar satu senjata api kepada Jimmy, dan Jimmy dengan cepat menangkapnya.


"Jov. Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Roni.


"Aku membelinya di perdagangan senjata rahasia. Baiklah, kita berangkat sekarang." Jovi melangkah duluan menuju ke mobil.


"Mawar. Kamu diamlah di rumah ya! Jangan ke mana-mana selama aku tidak ada, dan juga jangan sesekali membuka pintu pada orang yang tidak dikenal." Roni memegangi kedua belah pipi Mawar memperingati. Mawar pun mengangguk pelan.


Sebenarnya Mawar benar-benar takut dengan kepergian Roni, tetapi dia juga kasihan pada Adit yang saat ini tidak tahu keadaannya seperti apa.


Sebelum berangkat, Roni menyempatkan diri untuk mencium kening Mawar, dan mengelus perutnya berbicara pada anak yang belum lahir itu.


Di perjalanan, mobil Jovi berada di depan untuk memimpin jalan, mobil Roni mengikutinya dari belakang bersama Lani dan ketiga murid Paman Ghani.


"Jim. Kau sudah mendapatkan lokasi markas mereka kan?" tanya Jovi.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, dan memakan waktu yang begitu lama, akhirnya mereka tiba di tempat yang mereka tuju.


Jovi mengawasi markas itu dari kejauhan, namun sama sekali tidak ada yang berjaga di depan pintu masuk.


"Apa kau yakin ini tempatnya? Kenapa terlihat begitu sepi?" Alis Jovi mengerut heran.


"Saya yakin Tuan. Saya sudah memastikannya dengan sangat jelas, ini memang markas mereka. Bagaimana jika kita masuk untuk melihat keadaan di dalam?" usul Jimmy.


Jovi keluar, juga disusul oleh Roni dan rekan yang lain.


Mereka masuk dengan mengendap endap pelan, agar musuh juga tidak mengetahui kehadiran mereka.


"Berhati-hatilah! Kita tidak tahu apa yang terjadi di dalam, jadi aku minta pada kalian, apapun yang terjadi nanti, cukup fokus pada keselamatan diri kalian masing masing, jangan bertindak gegabah yang nantinya bisa mengancam keselamatan diri kita semua!" Sebelum masuk lebih jauh lagi, Jovi menyempatkan memberi penegasan pada mereka. Mereka semua mengangguk mengerti.


Baru melangkahkan kaki beberapa kali, mereka sudah mendengar suara dari arah yang tak jauh dari mereka, suara itu terdengar begitu ramai dan juga cukup heboh.


Jovi berusaha mengintip dari celah kotak kayu yang tersusun di hadapannya itu, yang ia lihat begitu banyak anggota yang berkumpul di sana.

__ADS_1


Ada yang sedang mabuk mabukan, tidur-tiduran, bermain judi, dan sebagainya.


Yang lebih mengejutkan Jovi, netranya tanpa sengaja melihat pemandangan di mana Adit saat ini sedang disiksa oleh sekelompok anggota mereka.


Tangan Jovi terkepal kuat menatap geram pada mereka yang beraninya hanya mengeroyok orang lemah.


Jovi mengarahkan mereka untuk masuk diam-diam tanpa sepengetahuan sekelompok penjahat itu.


Namun mata Lani yang tak sengaja menangkap pemandangan di mana Adit sedang dipukuli habis habisan, tanpa sengaja berteriak histeris memanggil Adit.


Jovi terkejut tak habis pikir, Lani malah membuat masalah untuk mereka semua, rencana yang sudah disusun rapi oleh Jovi, harus berantakan begitu saja akibat kecerobohan Lani.


Semua orang yang ada di sana menoleh kearah mereka, Jovi kini pasrah harus berjalan mendekat.


Jovi berada di barisan paling depan bersama Jimmy.


"Lepaskan dia!" Jovi berkata dengan suara lantang pada mereka yang saat ini sedang memukuli Adit.


Keadaan Adit saat ini benar-benar menghkawatirkan, dia tampak terkulai lemas dengan tangan yang di ikat, bahkan untuk melihat teman-temannya yang datang saja dia tampak tak berdaya.


Wajahnya kini hampir tak dikenali, semua terdapat luka memar bahkan berdarah.


Lani menutup mulutnya berusaha menahan suaranya agar tidak menangis histeris melihat keadaan Adit saat ini. Ia menyesal, sangat menyesal telah membuat Adit marah hingga sampai menyinggung anggota geng mafia.


"Siapa kalian?" teriak salah satu dari mereka yang tampak begitu garang.


"Siapa kami tidaklah penting. Aku hanya ingin kalian melepaskan dia?" Sembari menunjuk Adit, Jovi berbicara dengan sangat santai.


"Oh. Ternyata kalian adalah temannya. Bagus, kalian datang tepat waktu, kalau saja kalian terlambat, mungkin nyawa pecundang ini akan segera lenyap." Mereka semua tertawa terbahak bahak mendengar ucapan temannya.


"Cih. Dasar sekelompok sampah." Jovi menatap hina pada mereka semua.


Doorrr


Satu tembakan terdengar dari senjata api milik mereka.


"Kalian semua bersembunyilah!" teriak Jovi pada semua rekannya, dan dia pun juga ikut sembunyi. Tidak menyangka lawan mereka juga memiliki senjata api. Kali ini mereka lebih tidak boleh bertindak gegabah.

__ADS_1


__ADS_2