
Bu Riana sekuat tenaga melepaskan dirinya dari dekapan Tuan Bram, dia menghampiri Aurel setelah berhasil mendorong jauh Tuan Bram darinya.
"Kau ... Kau wanita kepar*t. Ini semua salahmu, anakku harus merenggut nyawa karenamu. Kau juga harus mati." Bu Riana mencekik leher Aurel sekuat tenaga dengan penuh amarah.
Aurel sama sekali tak melakukan perlawanan apapun, tubuhnya hanya membeku, dia seakan seperti patung hidup, bernyawa tapi tak bergerak.
Aurel sendiri begitu syok mendengar pernyataan bahwa Jovi tidak selamat, bahkan air matanya sudah tidak bisa keluar lagi, Tatapan matanya kosong, raut wajahnya tak terbaca, wajahnya pucat, bahkan dia tidak merasakan sakit apapun dari cekikan ibu mertuanya.
Tuan Bram segera menghampiri istrinya yang saat ini seakan sedang dalam pengaruh iblis.
"Lepaskan. Dia bisa mati jika kamu mencekiknya seperti ini." Tuan Bram berusaha menarik tangan istrinya agar berhenti menyakiti Aurel.
"Biarkan. Itulah yang aku mau." Tangan Bu Riana semakin kuat mencekik Aurel.
Setelah sekuat tenaga berusaha menarik tangan istrinya, akhirnya bisa terlepas juga. Tubuh Aurel langsung jatuh ke lantai begitu saja, ia kini sudah tidak sadarkan diri lagi.
Aurel segera dibawa untuk pemeriksaan.
Di sisi lain, Tuan Ghani memanggil Jimmy saat Jimmy sedang menunggu Aurel yang di periksa oleh dokter.
"Ada apa Tuan?" tanya Jimmy.
"Ini. Surat ini ditulis oleh Jovi sebelumnya, bacalah!" Tuan Ghani memberikan secarik kertas pada Jimmy, tentu saja dia hanya berbohong, Jovi sama sekali tidak menulis apapun sebelumnya, dia bahkan tidak sadarkan diri saat Tuan Ghani masuk untuk melihatnya, surat itu melainkan ditulis oleh Tuan Ghani sendiri.
Setelah memberikan surat, Tuan Ghani langsung pergi.
Jimmy duduk dan mencoba membuka kertas itu dengan hati-hati. Setelah ia baca, alisnya tampak berkerut, tiba-tiba ia bangun dan pergi begitu saja meninggalkan Aurel yang masih di periksa oleh dokter.
Ke esokan harinya, jasad Jovi dibawa pulang ke tanah air. Tiba di airport, begitu banyak wartawan yang menunggu diluar, semua petugas yang melidungi sampai kualahan menghadang para wartawan itu, bahkan pengagum dan penggemar Jovi juga ada yang mencoba menerobos masuk ingin melihat, entah darimana mereka mendapatkan informasi tentang kematian Jovi.
Bahkan Adit dan Roni juga mengetahuinya, mereka juga saat ini sedang menunggu di luar bandara untuk memastikan beritanya, mereka sama sekali tak percaya dengan kabar angin yang mereka dengar.
Saat mereka melihat Aurel yang tidak jauh dari mereka, segera menghampiri Aurel.
__ADS_1
"Aurel. Bagaimana keadaan Jovi? Dia baik-baik saja kan? Berita tentang kematian Jovi itu tidak benar kan?" Adit menggoyang badan Aurel yang saat ini benar-benar terlihat kaku, dia benar-bemar seperti robot yang tidak memiliki pikiran, tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Aurel, bahkan sorot matanya selalu menatap lurus kedepan tidak memandangi Adit dan Roni.
"Aurel. Kenapa kamu diam saja? Jawab aku!" Adit semakin keras menggoyang badan Aurel, namun sama sekali tidak ada respon apapun dari Aurel.
Jimmy yang saat ini tidak sengaja melihat Aurel yang sedari tadi terus dipaksa oleh Adit, segera datang menghampiri.
"Tuan Adit. Tolong jangan paksa Nyonya muda seperti itu, dia sedang dalam keadaan yang tidak boleh diganggu." Jimmy melepas tangan Adit yang sedari tadi terus menggoyang tubuh Aurel.
"Jim. Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Berita itu tidak benar kan?" Adit kembali menggoyang tubuh Jimmy.
"Maaf Tuan Adit. Berita itu memang benar adanya. Tuan muda Jovi telah pergi meninggalkan kita semua, saya adalah orang yang turut menjadi saksi atas kepergian Tuan muda." Jimmy menenggelamkan wajahnya merasa begitu menyesal.
Adit seketika merasa tulang lututnya begitu lemah, tak mampu menopang tubuhnya dengan seimbang.
Adit terduduk di lantai masih tak percaya dengan semua itu, matanya kini mulai memerah.
Bagaimanapun juga, Jovi adalah sahabatnya yang paling peduli tentang dirinya, Jovi jugalah yang berani mengambil resiko paling besar saat menyelamatkan hidupnya dari kelompok naga merah, dia berhutang paling banyak pada Jovi.
Di saat Jovi pergi menyelamatkan Aurel, bahkan dia tidak tahu dan tidak pergi untuk membantu. Betapa tak inginnya Jovi melihat mereka dalam bahaya sehingga dia pergi sendiri mempertaruhkan nyawanya.
Tidak lama, sebuah peti tampak dibawa oleh beberapa orang, keluar dari bandara.
Adit segera bangun dan berlari kearah sana dengan langkah yang tak beraturan.
"Tolong. Beri aku kesempatan untuk melihatnya!" ujar Adit saat ia dihadang oleh salah satu petugas untuk mendekati peti Jovi.
"Maaf Tuan. Peti Tuan muda Jovi tidak boleh didekati oleh siapapun, itu perintah dari keluarganya." Petugas itu terus menghadang Adit yang terus memberontak tak ingin dicegah.
Di sisi lain, orang tua Aurel juga juga menyusul ke bandara, saat mereka melihat Aurel, langsung segera menghampiri.
"Aurel. Kamu tidak apa-apa sayang?" Bu Dina memeluk Aurel begitu erat, berusaha untuk menguatkan anaknya.
Tangisnya juga pecah saat melihat rombongan yang membawa peti Jovi.
__ADS_1
Mendapat pelukan dari ibunya, seketika Aurel sedikit merespon, bibirnya mulai sedikit terbuka, tangannya juga membalas pelukan ibunya.
Seketika air matanya kembali menetes, Aurel masih sulit untuk menerima kenyataan bahwa Jovi benar-benar pergi dari kehidupannya.
"Mah .... " Aurel sudah mulai bisa membuka suaranya meski sedikit berat.
"Iya sayang." Bu Dina mengelus wajah anaknya dengan perasaan iba.
"Jovi Ma." Bibirnya kembali bergetar menyebut nama Jovi.
"Kamu yang kuat ya. Dia sudah tenang di sana." ucapan ibunya bahkan membuat Aurel semakin sedih, air matanya kini semakin deras membasahi pipinya.
"Ini semua karena Aurel. Ini semua salah Aurel. Jovi pergi karena keegoisan Aurel. Aurel ingin ikut bersama Jovi Ma, Jovi berjanji ingin kembali berjodoh dengan Aurel di kehidupan selanjutnya." Aurel semakin menagis dalam pelukan ibunya, hatinya benar-benar hancur saat ini.
***
Jovi di makamkan hari itu juga, Aurel tidak ikut hadir di pemakaman Jovi karena Bu Riana melarangnya, tapi dia tetap menyaksikannya dari kejauhan dengan di temani oleh ibunya.
Pemakaman belum selesai dilakukan, tapi Aurel sudah pingsan duluan, ibunya begitu panik, segera ia membawa Aurel untuk ke rumah sakit.
***
"Bagaimana dokter? Apa dia baik-baik saja?" tanya Bu Dina usai dokter memeriksa keadaan Aurel.
"Sepertinya dia mengalami depresi berat, ini sangat berbahaya untuk janin di dalam perutnya, saya sarankan untuk tidak membebani dia dengan suatu masalah, agar pikirannya bisa rileks dan tetap tenang," jelas dokter.
"Anak saya hamil Dok?" tanya Bu Dina, dan dokter pun mengangguk.
Bu Dina kembali meneteskan air mata, antara sedih dan juga bahagia, dia bahagia karena Aurel sebentar lagi tidak akan merasa kesepian, tapi dia juga sedih, karena anak itu akan lahir tanpa seorang ayah, apalagi pada saat itu, Aurel pernah bercerita, bahwa Jovi ingin sekali memiliki seorang anak, tapi Aurel tak kunjung hamil, tetapi kenapa baru sekarang? Di saat Jovi telah tiada, dan tidak bisa melihat anaknya tumbuh besar.
Bu Dina mengusap rambut Aurel merasa kasihan dengan takdir hidup yang telah digariskan untuk anaknya itu.
Author mau kasih inget lagi nih, jangan pada ngegas, ikuti kembali alurnya.
__ADS_1
Salam damai Author ucapkan lagi untuk kalian. 😂