
Keesokan harinya, Jovi yang masih tertidur nyenyak, tiba tiba mendengar ponselnya berdering.
Jovi meraba ponselnya dengan mata yang masih terpejam.
"Hallo," suara Jovi terdengar serak saat dia bangun.
"Jovi. Apa kamu bisa pulang sekarang? Ini penting," ucap ayahnya diseberang telepon.
Jovi seketika membuka matanya, jarang sekali ayahnya mau memanggilnya pulang karena urusan penting, biasanya dia sendiri juga bisa menyelesaikannya.
"Baiklah, aku kesana sekarang." Jovi bergegas bangun dari kasur, bersiap siap untuk pergi.
Setelah selesai, Jovi keluar dan Jimmy telah menunggunya.
"Pulang kerumah Jim!" ucap Jovi saat masuk ke mobil.
"Baik Tuan." Jimmy melajukan mobil, memecah jalanan kota.
Setelah sampai Jovi tak menunggu apapun lagi, dia segera turun, berjalan dengan cepat, khawatir terjadi apa apa pada keluarganya.
Saat Jovi masuk, terlihat keluarganya yang sedang berkumpul, dan ada tiga orang yang tidak dikenali oleh Jovi.
Pria paruh baya yang sepertinya seumuran dengan ayahnya, seorang wanita dan seorang pemuda yang juga umurnya juga tidak jauh berbeda dengannya.
"Ada apa?" pertanyaan pertama yang diutarakan Jovi saat masuk.
"Duduk dulu," jawab ayahnya datar.
Jovi menurut, dan duduk dihadapan orang yang tak dia kenal.
"Siapa kalian?" Jovi mengerutkan alis berkata dengan cuek.
"Sombong sekali, Hey, Bram. Bagaimana caramu mendidik anak? Sampai bisa seangkuh ini," sungut pria paruh baya itu.
"Bagaimana Ayahku mendidikku, itu sama sekali tidak ada hubungannya padamu, punya hak apa kau mencampuri urusan kami, ayah dan anak?" jawab Jovi yang sudah mulai kesal.
"Hng. Kau bertanya aku punya hak apa? Kami adalah anggota keluarga ini, dan istriku adalah kakak dari ayahmu," ujarnya sombong.
"Ck ... Kau tau, ada berapa banyak orang yang ingin sekali diakui oleh keluarga ini, sampai mereka rela mengaku ngaku sebagai anggota keluarga, ya contohnya seperti kalian ini," bibir Jovi menyungging sinis.
"Anak sialan, beraninya kau menghina kami," ucapnya dengan marah sambil membentak meja.
__ADS_1
"Apa kau tahu seberapa mahalnya meja yang kau pukul itu? Jika dia rusak, kau tidak akan mampu membayarnya," ucap Jovi sinis.
"Kau ini, orang yang berpendidikan, tetapi tidak memiliki otak," timpal pemuda itu.
"Siapa yang menyuruhmu untuk angkat bicara," sungut Jovi dengan ketus.
"Kenapa? Kau takut?" ujarnya menyombongkan diri.
Jovi tertawa, tawa yang terdengar mengerikan.
"Lucu sekali. Takut? Kau bilang aku takut? Sejak kapan dalam hidupku ada yang namanya takut? Apalagi pada makhluk jadi jadian seperti kalian ini." Jovi terus saja tertawa mengejek mereka, membuat mereka semakin jengkel.
"Kau tidak usah banyak bicara, kau lihat ini, ini semua bukti kalau kami adalah anggota keluarga Adiguna," ujarnya sembari melempar sebuah map pada Jovi.
Jovi melirik sekilas kearah mereka lalu meraih map itu.
Disana ada sebuah akta kelahiran yang bernama Lusi Adiguna, dan surat dari kakek Jovi yang ia tulis saat anak pertamanya lahir, dan sebuah gelang yang terlihat sama persis yang dimiliki oleh ayahnya, yang diberikan oleh kakek, dan itu semua benar benar asli tanpa direkayasa.
Jovi kembali melirik mereka bertiga dan melanjutkan membaca surat yang ditulis oleh kakeknya.
Setelah Jovi selesai, dia kembali melemparkan kertas kertas itu ke meja.
"Kami ingin anak kami Rio, menggantikanmu mengambil alih ADN GROUP, dan aku menggantikan Ayahmu memimpin keluarga," ucapnya tanpa sungkan.
"Hng. Berani sekali, kalian anggota keluarga yang terbuang, berani meminta hak sampai seperti itu, kalian terlalu menganggap tinggi diri kalian," ucap Jovi sinis.
"Lalu apa lagi? Sebagai anggota keluarga ini, dan terlebih Istriku adalah anak tertua dari kakekmu, itu semua berhak kami dapatkan," ujarnya yang masih saja terlihat angkuh.
"Bodoh sekali jika aku menuruti permintaan kalian, apa yang pernah kalian lakukan untuk membantu keluarga Adiguna berkembang sampai sekarang ini? Tidak ada kan? Dan sekarang kalian datang tiba tiba ingin merebut semua yang kami perjuangkan dari nol. Apa kalian masih waras?" Jovi semakin geram pada mereka bertiga.
"Tetapi kami juga tetap berhak memilikinya," sungutnya lagi.
"Berhak? Yang berhak disini hanya aku, Kakek mewarisi semua harta Adiguna hanya padaku, bukan pada kalian," Jovi semakin kesal.
"Kalau begitu anggap saja ini sebagai kompensasi untuk kami yang selama ini tidak pernah mendapatkan apapun dari kakekmu." Pria paruh baya itu benar benar tidak ingin mengalah.
"Hng. Lucu sekali. Kompensasi apa? Kalian pikir aku tidak tahu, dia yang melarikan diri dari rumah, lalu untuk apa diberi kompensasi?" ucap Jovi sembari menatap tajam pada Bu Lusi.
Hah? Darimana anak ini tahu? Aku tidak pernah mengatakannya pada siapapun, lalu dia, bagaimana bisa? Lusi bergumam dalam hati.
"Kau tidak menyangka kan? Aku bisa mengetahui semua itu, kau tenang saja, semua rahasiamu saat masih tinggal disini dulu, tersimpan rapat di memoriku, apa kau mau aku mengatakan semuanya?" Jovi memberikan serangan balik pada mereka.
__ADS_1
Tiba tiba wajah Bu Lusi berubah menjadi pucat, rahasianya tidak boleh sampai terbongkar, yang tahu hanya dia dan kakeknya Jovi.
Dan kenapa Jovi bisa tahu semuanya, tentu saja kakeknya sendiri yang menceritakan padanya, hampir semua yang terjadi pada keluarganya, diceritakan pada Jovi, tidak heran jika Jovi juga mengetahui tentang rahasia Bu Lusi.
"Bagaimana? Masih ingin meminta hak?" Jovi tersenyum sinis menatap tajam kearah mereka.
"Tentu saja, aku beri kau waktu selama sebulan, jika dalam sebulan kau masih belum memiliki seorang istri, maka anakku lah yang berhak memimpin ADN GROUP, kau sendiri pasti tahu aturannya kan?" ucapnya lagi.
Jovi tahu betul peraturan yang diberikan oleh kakek saat harus memimpin perusahaan, yang pertama harus memiliki keluarga dulu, baru boleh diberikan padanya, tetapi Jovi yang sekarang, siapa yang akan dia jadikan istri?
Jovi terdiam, dia benar benar geram pada ketiga orang itu, namun dia juga tak bisa mengelak, karena memang itulah fakta dan aturannya.
"Ingat itu, aku akan datang lagi setelah satu bulan mendatang, aku tidak perduli jika kau membongkar rahasiaku," ucap Lusi dan menarik suami dan anaknya pergi.
Dia sebenarnya juga takut jika rahasianya dibongkar oleh Jovi, namun dia juga tak mau terlihat kalah didepan mereka, dan pada akhirnya dia memutuskan untuk memberi waktu pada Jovi.
"Bagaimana ini? Aturan itu sebenarnya memang sudah ditetapkan oleh Kakekmu, tetapi Ayah melanggarnya, karena dikeluarga ini juga tidak ada yang keberatan, hingga mereka datang mengacaukan segalanya," ucap ayahnya yang sedikit panik.
"Dia benar benar bisa melakukan itu, jika kamu tidak segera memiliki istri," timpal pamannya.
"Kalian tidak perlu khawatir, aku akan menyelesaikannya," ujar Jovi yang masih berusaha tenang.
"Jalan satu satunya agar mereka tak berani datang lagi meminta hak, adalah dengan kamu menikah Jovi," ucap Ayahnya.
Jovi benar benar bingung, dia sendiri tidak memiliki pasangan untuk diajak menikah, lalu siapa yang harus dia ambil sebagai istrinya, belum lagi, dia merasa belum siap untuk menikah.
"Nanti aku pikirkan kembali, kalian tenang saja." Jovi berdiri dan meninggalkan rumah bersama Jimmy untuk kembali keperusahaan.
Yuhuuu, kita main tarik ulur dulu ya guys, asal jangan main tarik ulur perasaan, sakit tau. Hehe..
Pasti masih nanyain nih, Aurel mana? Kok gak muncul juga sampai sekarang?Hehe sabar ya sayangku.
kasih vote Author yang banyak dong, biar peminatnya juga banyak hehe
Atau siapa tahu diatara kalian ada yang punya koin, bolehlah bagi dikit ke Author hehe.. lumayan tau.
Aku sayang kalian, sampai ketemu kembali di eps berikutnya. Hehe 😘😊
pembaca: Thor jangan rakus bisa nggak? Gak baik tau.
Author: iya maaf, Author juga manusia, Hehe.. 😂
__ADS_1