
Jovi yang melihat Aurel terus menangis, dia seketika ******* bibir Aurel dengan ganasnya, Aurel terkejut hingga membuka matanya selebar mungkin.
Jovi melepaskan cengkramannya, dia merangkul pinggang Aurel, sedang tangan satunya bertumpu didinding.
Aurel tak dapat bergerak karena Jovi mendekapnya dengan sangat erat.
Cukup lama Jovi melahap habis bibir Aurel, membuat Aurel sedikit sesak.
Kini Jovi berjalan mendekati kasur, masih mendekap Aurel, dan bibir mereka pun masih beradu.
Jovi menjatuhkan tubuh Aurel di atas kasur dan kembali melahapnya habis habisan.
Dipagi itu juga, mereka melakukannya untuk pertama kali, sebagai sepasang suami istri.
Tetapi Aurel merasa sedih, bukan seperti itu yang dia inginkan, Jovi mengambil mahkotanya dalam keadaan emosi yang sedang memuncak, membuat dia jadi tidak nyaman saat melayani Jovi, dia hanya ingin memberikan hak Jovi disaat Jovi benar benar mencintainya dan memperlakukannya dengan lembut, bukan kasar seperti itu.
"Haduh. Kenapa Tuan muda sangat lama? Entah berapa lama sudah aku menunggunya disini, sampai sampai aku tertidur disini, bokongku ini sudah sangat panas rasanya duduk berjam jam menunggunya," ujar Jimmy mengeluh, begitu lama menunggu tuannya. Dia tidak tahu bahwa tuan mudanya sedang bercinta dengan istrinya.
Setelah selasai, Jovi tak lagi menghiraukan Aurel, dia pergi begitu saja saat selasai memakai pakaiannya.
Apa akan terus begini? Apa aku hanya akan menjadi pemuas nafsunya? Setelah selesai dia langsung pergi begitu saja, apa sekarang dia masih punya hati? Kenapa dia begitu kejam? Aurel merasa sedih dengan perlakuan Jovi yang begitu tidak baik padanya.
Jimmy yang tengah duduk santai didalam mobil, tidak menyadari kalau Jovi sudah datang, Jovi mendengus kesal karena pintu mobil dikunci oleh Jimmy.
Jovi memanggil Jimmy dari luar, namun Jimmy sama sekali tak mendengarnya, karena Jimmy memasang earphone ditelingannya.
Kekesalan Jovi pada Aurel belum reda sepenuhnya, Jimmy malah membuatnya semakin gondok karena lalai dalam bekerja.
Tanpa pikir panjang, Jovi menghantamkan tinjunya dikaca mobil.
Praakk
Seketika kacanya retak dipukul oleh Jovi.
Jimmy hampir terlonjak karena kaget, ia pikir ada pembunuh yang menembakkan peluru dimobil.
Saat dia memandang kedepan, terlihat Jovi yang berdiri sambil menyilangkan tangan menatap tajam pada Jimmy.
Jimmy tidak pikir panjang lagi, ia keluar dari mobil dengan panik menghampiri Jovi.
__ADS_1
"T-Tuan. Apakah barusan Anda yang memecahkan kaca mobil?" tanya Jimmy terbata.
"Apa yang kau lakukan didalam mobil? Pintunya kau kunci, lalu tidak mendengar panggilan dariku? Apa kau masih ingin bekerja?" bentak Jovi.
"M-Maaf Tuan. A-Aku tidak sengaja mengabaikan Anda," jawab Jimmy tertunduk.
"Keluarkan mobil yang satunya, gajimu bulan ini dipotong untuk perbaikan kaca mobil yang pecah," ucap Jovi datar.
Ah? Kenapa aku yang menanggung semuanya? Kan Tuan sendiri yang memecahkannya? Jika aku membantah, pasti Tuan akan menambah potongan gajiku. Huh, pasrah sajalah. Jimmy menggaruk kepalanya menyesal.
"Kenapa masih diam? Tidak mendengar apa yang aku perintahkan?" Jovi kembali menatap tajam pada Jimmy.
"I-Iya Tuan. Segera saya lakukan." Jimmy langsung pergi menuruti apa yang diperintahkan oleh Jovi.
Saat mobil mereka melaju meninggalkan vila, diam diam Aurel menatapnya dari jendela kamar dilantai atas, bulir air mata itu, terus saja berjatuhan dipipinya tanpa bisa ia kendalikan.
Dulu disaat mereka pacaran, Aurel mendambakan sebuah rumah tangga yang harmonis bersama Jovi, tetapi tidak menyangka, yang terjadi sekarang adalah kebalikan dari semuanya.
Aurel berbalik merebahkan dirinya dikasur, pelan pelan dia meraba pipinya, seketika dia meringis kesakitan, akibat dari cengkraman Jovi yang sangat kuat.
Aurel memiringkan badannya menatap lurus kedepan, tatapan yang begitu kosong. Tidak tahu, apa lagi yang harus dia lakukan? Mungkin hanya bisa pasrah dengan nasibnya.
Aurel kembali bangun untuk pergi mandi, badannya terasa tidak nyaman jika tidak mandi setelah melakukan hubungan itu.
Setelah mandi, Aurel menyusuri seluruh vila untuk melihat lihat.
Tidak ada satupun pelayan disana. Lalu bagaimana jika Jovi hendak makan? Apakah dia tidak pernah makan disini? Pertanyaan itu terlintas dipikiran Aurel.
Tidak lama kemudian terdengar suara bel pintu berbunyi, Aurel segera pergi keluar untuk melihat siapakah yang datang.
Disaat Aurel membuka pintu, terlihat wanita cantik berdiri dihadapannya, wanita itu terlihat masih muda, mungkin hanya dua tahun lebih muda darinya.
"Siapa ya?" tanya Aurel.
"Kakak ini siapa? Kenapa Kak Jovi tidak mengatakan apapun saat aku meneleponnya?" wanita itu bertanya balik.
Kak Jovi? Panggilan yang begitu akrab. Mungkinkah dia adiknya Jovi? Batin Aurel
"Oh. Kakak pelayan rumah disini ya? Baiklah, aku ingin masuk, permisi!" ucapnya saat Aurel belum sempat menjawab apa apa tentang dirinya yang sebagai istri Jovi.
__ADS_1
wanita itu dengan santainya masuk dan duduk disofa, sedangkan kopernya dia tinggal diluar.
Tiba tiba terdengar suara teriakannya dari dalam, "Kak. Tolong bawakan koperku ya!"
Aural hanya bisa pasrah saja dan membawakan kopernya yang terasa begitu berat. Apakah dia akan tinggal disini?
"Kak. Tolong ambilkan aku segelas jus ya! Aku haus!" ucapnya, memperlakukan Aurel benar benar seperti pelayan, itu wajar, karena memang dia mengira Aurel adalah pelayan, Aurel sendiri malas untuk menjelaskan tentang siapa dirinya.
"Baiklah." Aurel menuruti kemauannya.
Disaat Aurel hendak membawakan jusnya, terdengar wanita itu sedang menelepon seseorang, Aurel menghentikan langkahnya, ingin mendengar, siapakah yang dia telepon?
"Kak? Kakak kapan pulang? Aku kesepian disini," ujarnya yang terdengar manja.
"Hah? Malam? Itu lama sekali Kak, tidak bisa cepat sedikit?" ujarnya lagi tanpa Aurel tahu apa yang dikatakan oleh orang yang deseberang telepon.
"Sore? Oke. Janji ya! Jangan sampai telat!" ucapnya lagi.
Aurel tidak tahu siapa yang dia telepon. Setelah dia mengakhiri teleponnya, Aurel kembali melangkahkan kaki untuk membawakan jus yang diminta oleh wanita itu.
"Ini, silahkan diminum!" ucap Aurel sembari meletakkan jus kehadapannya.
"Terimakasih!" jawabnya yang tanpa menoleh kearah Aurel.
Saat Aurel hendak meninggalkannya, dia segera memanggil.
"Kak. Tolong rapikan kamar untukku ya! Karena kedepannya, aku akan tinggal disini untuk sementara," ujarnya pada Aurel.
Aurel mengangguk pelan lalu pergi menuju kamar tamu untuk dibersihkan.
Aurel sebenarnya sangat lelah, tetapi karena dia tidak tahu siapa wanita itu, dia akhirnya tetap melalukannya, dia takut, wanita itu adalah orang penting dari keluarga Adiguna, dia tidak ingin meninggalkan kesan buruk pada mereka, siapa tahu akan berpengaruh pada reputasi Jovi kedepannya.
Aurel membersihkan kamar untuknya, kamar yang terlihat tidak pernah ditempati tampak hanya ada sedikit debu, apakah sebelumnya pernah ada pelayan disini? Pertanyaan itu terlintas dipikirannya.
Tetapi dia tetap membersihkannya agar tampak lebih rapi, agar tamunya juga nyaman saat menempatinya.
Guys. kalau author gak lanjutin ceritanya kalian bakal kecewa gak yah? hehe, serius nanya ini!
Author bingung mau lanjut apa nggak.😥
__ADS_1