ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Pertempuran


__ADS_3

Jovi mengelus dan mencium rambut Aurel dengan perasaan yang penuh penyesalan.


Hampir ... Hampir dia kehilangan Aurel untuk kedua kalinya, jika sampai itu terjadi, dia tidak akan mampu memaafkan dirinya yang sudah sangat berdosa pada istrinya.


"Maaf .... " ucap Jovi lirih, penuh dengan penyesalan.


"Kenapa kamu selalu melakukan apapun yang aku perintahkan? Kenapa kamu tidak pernah mau membantah perkataanku? Padahal kamu tahu, permintaan yang aku ucapkan barusan, adalah suatu hal yang bodoh dan tidak bermoral, tetapi kenapa kamu masih saja melakukannya?" Jovi merasa sangat bersalah pada Aurel.


Bukannya menjawab, Aurel semakin menangis sesenggukan dalam pelukan Jovi, dan Jovi semakin mengeratkan pelukannya pada Aurel.


Begitu lama mereka berpelukan dalam suasana hati yang sulit untuk diungkapkan.


Jovi melepaskan pelukannya dan menatap wajah Aurel, tangan yang terluka masih ia sembunyikan dari Aurel.


Air mata yang masih saja mengalir di pipi Aurel, ia usap dengan sangat lembut sembari tersenyum hangat.


"Maafkan aku telah membiarkan air mata berharga ini jatuh begitu saja dikedua belah pipi yang cantik ini. didunia ini, aku lelaki paling bodoh yang telah rela bersikap kasar padamu, kamu yang begitu banyak berkorban untukku, tetapi aku memperlakukanmu dengan tidak adil. Maafkan atas keterlambatanku dalam menyadari kebenaran ini!" ucap Jovi sembari menatap Aurel dengan perasaan bersalahnya.


Aurel mendongak melihat wajah Jovi, ia tak mampu untuk berkata apapun, ia tak percaya, bahwa hati Jovi akan luluh setelah kejadian ini. Hanya air matanya yang mampu mengungkapkan perasaannya saat ini.


"Jangan ... Jangan tumpahkan kembali air matamu ini! Karena setiap kali aku melihatnya, hatiku merasa sangat perih, aku tak ingin melihatnya lagi. Kamu harus kuat, jangan hadapi masalah hanya dengan menangis, kamu harus belajar lagi menjadi Aurel yang dulu. Kuat, pemberani, dan tangguh. Aurel yang seperti itulah yang aku inginkan, dan jadilah seperti Aurel yang dulu, Aurel yang aku cintai," ucap Jovi yang masih memandangi Aurel dengan tatapan hangatnya.


Pelan pelan sudut bibir Aurel tertarik dan tersenyum kecil menatap Jovi.


"Aku juga ingin menjadi Aurel yang dulu, tetapi jika menyangkut tentangmu, aku tidak bisa menghadirkan sikap yang kuat seperti itu, hatiku lemah jika dihadapkan denganmu. Kamu, adalah satu satunya lelaki yang mampu mewarnai hidupku, dan aku tak pernah menyesal akan hal itu, aku bangga menjadi wanitamu, dan teruslah menjadi lelakiku yang lembut seperti dulu." Aurel pelan pelan meraih wajah Jovi yang begitu lama tak pernah ia sentuh dengan tangannya.


Jovi tersenyum, dan mendaratkan bibirnya ke kening Aurel.


"Berjanjilah untuk kedepannya, jangan terus memikirkan tentangku, fokuslah pada dirimu sendiri, bagiku tidak ada yang lebih penting darimu. Dan aku, aku akan terus melindungimu kapan pun itu, beri aku kesempatan untuk menebus rasa sakitmu selama lima tahun ini," ucap Jovi sembari menggenggam tangan Aurel, Jovi lupa bahwa darah segar masih mengalir di tangannya dan Aurel menyadari ada cairan aneh yang mengenai kulit tangannya.


Aurel menunduk, dan terlihat cairan kental bercucuran dilantai, dan itu berasal dari tangan Jovi.


"Jovi ... Tanganmu?" Aurel segera menatap Jovi, dan Jovi masih terlihat santai meski sedang terluka.


"Tidak apa apa, ini hanya luka kecil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Jovi menggeleng sembari menyembunyikan tangannya.


"Luka kecil?" Aurel menggapai tangan Jovi dengan cepat.


"Ini yang kamu bilang luka kecil? Darah yang sebanyak ini tidak mungkin hanya terdapat luka kecil. Kita ke dokter ya!" ucap Aurel dengan panik.

__ADS_1


"Tidak tidak. Tidak perlu sampai pergi kedokter, ini bukanlah masalah besar." Jovi menggeleng tidak setuju.


"Jika tidak mau, biar aku yang mengobatinya. Ayo sini! Duduk dulu!" Aurel menarik Jovi agar duduk dikasur.


Jovi hanya menurut saja, membiarkan Aurel melakukan apapun yang dia suka.


Duduklah dengan baik, aku akan mengambil kotak obatnya.


Aurel berlari kecil mencari kotak obat, Jovi tersenyum kecil mengamati pergerakan Aurel.


"Jovi. Kotak obatnya dimana?" teriak Aurel yang sibuk mengobrak abrik isi lemari. Aurel masih tidak tahu letak barang barang yang ada dirumah itu, karena dia juga baru saja pindah.


Jovi tertawa cekikikan melihat tingkah Aurel yang sedang panik.


"Aurel .... "


"Hmm." jawab Aurel tanpa menoleh.


"Kotak obatnya bukan disana," ucap Jovi tertawa geli.


"Lalu?" Aurel berhenti mencari kotak obat dan menoleh kearah Jovi.


"Kenapa tidak bilang dari tadi!?" Aurel menghela nafas panjang lalu segera menghampiri Jovi.


Aurel membersihkan darah yang menutupi luka Jovi dengan sangat hati hati.


"Kamu tahan sedikit ya! Aku akan mengoleskan obatnya." Aurel menatap Jovi untuk mengingatkan. Jovi mengangguk pelan.


Aakkhh


Teriak Jovi tiba tiba membuat Aurel terkejut dan menghentikan gerakannya mengoles obat.


"Sakit?" tanya Aurel sembari meringis ngilu mendengar Jovi yang berteriak.


"Tidak," ucap Jovi memasang wajah tanpa dosa lalu tertawa jahil. Aurel mencebikkan bibirnya kesal karena ditipu.


"Kamu .... " Aurel menyipitkan matanya lalu kembali mengoles obat, kali ini ia tidak lagi bersikap lembut, membuat Jovi meringis kesakitan.


"Aurel .... " panggil Jovi saat Aurel sedang sibuk membereskan obat obatan yang habis di pakai.

__ADS_1


Aurel mendongak, dan tiba tiba Jovi menyerbu bibir Aurel hingga Aurel membelalakkan matanya terkejut.


Jovi terlalu tiba tiba hingga dia sama sekali tidak ada persiapan menerima peperangan itu.


Kotak obat yang tadinya belum sempat disimpan oleh Aurel, kini semua berjatuhan kelantai.


Mereka berdua tidak lagi memperdulikan apapun yang disekitar mereka, Jovi menanggalkan pakaian Aurel satu persatu dan melemparkannya dengan sembarangan, hingga kini tidak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuh mungil Aurel.


"Mmmm" desahan Aurel membuat Jovi semakin bergairah.


Jovi menuruni leher jenjang itu dan meninggalkan jejak kepemilikannya disana.


Semakin lama Jovi semakin menyerbu kebawah, membuat tubuh Aurel sedikit bergetar menerima rangsangan dari bibir Jovi.


Setelah cukup lama mereka melakukan pemanasan, kini tibalah pertandingan yang sesungguhnya dimulai.


"Aku mulai ya. Kendalikan suaramu Sayang!" bisik Jovi menggoda.


"Nakal sekali." wajah Aurel tampak merah menahan malu, ia memalingkan wajahnya tak berani memperlihatkan wajah malunya pada Jovi.


Jovi tersenyum lucu melihat wajah Aurel yang begitu menggemaskan.


Dan tibalah saatnya Jovi membebaskan adik kecilnya untuk menemukan sarangnya.


Saat ular itu memasuki sebuah gua yang rimbun, tiba tiba tubuh Aurel merasakan sensasi yang berbeda. Benar benar berbeda dari yang kemarin.


pertempuran hebat itu benar benar membuat suhu ruangan terasa panas.


Ruangan yang ber-AC tetap tak menghentikan keringat mereka untuk bercucuran membasahi seluruh tubuh.


Benih cinta menyatu dengan rasa indah yang bagaikan surga dimalam itu.


Dua jam dalam pertempuran, akhirnya mereka menyelesaikannya dengan membawa kemenangan yang begitu membahagiakan.


Aurel merasakan kelembutan Jovi saat menggaulinya, sangat berbeda yang dirasakannya tempo hari saat Jovi mengambilnya dengan perasaan emosi.


Malam itu terasa begitu indah bagi Aurel, akhirnya dia kembali merasakan cinta Jovi dengan kelembutan yang selama ini dia rindukan.


Hehe.. maaf ya ceritanya jadi sedikit vulgar, semoga kalian tetap suka sama ceritanya. 😊

__ADS_1


__ADS_2