ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Malam yang ceria


__ADS_3

Aurel melirik kearah tas Jovi.


"Apakah dia membawa tenda juga?" Tanya Aurel.


"Tidak, kami bertiga akan tidur disatu tenda yang kubuat ini," ujar Adit yang sedang sibuk memasang tenda.


Aurel mengangguk dan kembali ketendanya.


"Ayo, sebagian lelaki, kita akan mencari kayu bakar sebelum hari menjadi gelap, dan sebagian juga berjaga jaga disini," teriak senior, dan semuanya berkumpul termasuk Adit dan Roni.


Setelah beberapa menit mereka pergi mencari kayu bakar, Jovi pun kembali membawa lima ekor ayam hutan.


Dua orang lelaki yang melihat Jovi menenteng Ayam hutan segera datang menghampiri.


"Wah Jovi. Banyak sekali kau mendapatkan ayam hutan, bagaimana cara kau mendapatkannya? Bolehkah kau berbagi pada kami? Kami tidak memiliki bekal lagi, pasti kami akan sangat lapar jika tidak makan malam," ujar seorang pria yang datang menghampiri Jovi.


Dua orang itu memang bukanlah orang kaya, mereka cukup sadar diri, tidak akan meminta pada orang yang memiliki derajat diatas mereka, karena pasti mereka hanya akan mendapat hinaan, mereka mengetahui bahwa Jovi juga bukan orang kaya, baru berani untuk meminta bantuan pada Jovi, karena menurut mereka, Jovi pasti akan mengerti dengan keadaan mereka sebagai orang yang tidak punya.


"Boleh, bawalah ini, nanti malam akan kita bakar bersama sama," ujar Jovi sambil memberikan semua ayam hutan yang ada ditangannya, dua orang pemuda itu tampak sangat senang menerimanya, mereka pergi dengan wajah tersenyum gembira.


Jovi yang tidak mendapati Adit dan Roni didalam tenda, dia lantas pergi menghampiri Aurel untuk bertanya.


"Apa kau melihat kedua anak tuyul itu?" tanya Jovi. Adit dan Roni memang sedikit pendek dari Jovi, itu sebabnya Jovi mengatakan mereka anak tuyul.


"Anak tuyul?"Aurel mengangkat alisnya tak mengerti.


"Maksudku Adit dan Roni. Kemana mereka pergi?" Jovi kembali bertanya.


Aurel tertawa geli mendengar Jovi menyebut kedua orang itu dengan sebutan anak tuyul, didunia ini mungkin hanya dia yang berani menyebut Adit dengan sebutan anak tuyul.


"Kau ini berani sekali mengatakan Adit sebagai anak tuyul, apa kau masih belum mengetahui identitasnya?" Aurel tak bisa menyembunyikan tawanya, meskipun sebenarnya dia sangat senang, bahwa Jovi memilih untuk bertanya kepadanya.


"Aku tahu, tapi tidak masalah, orang tuanya juga tidak akan marah padaku." Jovi berkata dengan datar.

__ADS_1


Tentu saja orang tuanya Adit tidak akan marah, lebih tepatnya mereka tidak akan berani, karena mereka mengetahui identitas Jovi yang sebenarnya.


"Percaya diri sekali," ujar Aurel. Jovi hanya tersenyum kecil.


"Eh. Jovi, tadi kamu dari mana saja? Kenapa aku tidak melihatmu?" Mawar tiba tiba muncul dari arah belakang.


"Oh. Tadi aku pergi berburu ayam hutan," jawab Jovi dengan menoleh kearah Mawar.


Sudah tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka berdua, kini mereka bertegur sapa tanpa ada rasa canggung.


"Oh, benarkah? Kenapa kau tidak mengajakku? Aku penasaran sekali ingin melihat orang berburu. Apakah kau mendapatkan ayam hutannya?" Mawar bertanya dengan girang,


Mawar adalah sosok wanita yang ceria, meskipun tempo hari dia merasa canggung jika berhadapan dengan Jovi, kini kecanggungannya hilang begitu saja.


"Iya. Aku mendapatkannya," jawab Jovi.


"Wah, kau hebat sekali, berapa ayam hutan yang berhasil kau buru?" Mawar bertanya seakan akan sudah begitu akrab pada Jovi.


Aurel yang melihat kedekatan Mawar dan Jovi menjadi semakin canggung, dia sebenarnya sedikit tidak enak melihat kedekatan mereka, tetapi dia juga tidak berani untuk melarang Mawar berbicara pada Jovi, karena dia sendiri juga bukan siapa siapanya, Aurel hanya bisa tersenyum kaku mendengar percakapan mereka.


"Wah ... Banyak sekali. Hanya sebentar saja dan kamu sudah mendapatkan lima ekor. Dua jempol untukmu." Mawar berkata sambil mengeluarkan kedua jempolnya.


"Bisa saja," Jovi lagi lagi tersenyum melihat tingkah Mawar.


Aurel semakin tidak enak melihat Jovi terus terusan melempar senyum pada Mawar, namun dia juga tidak bisa berbuat apa apa.


"Hmm. Aku permisi dulu ya, kalian lanjutkanlah berbincang bincang." Aurel memutuskan untuk pergi saja, dari pada dia harus tidak enak hati melihat kedekatan mereka berdua.


Setelah kepergian Aurel, rombongan yang mencari kayu bakar sudah kembali.


"Mereka sudah datang, aku pergi dulu ya," ujar Jovi sambil melangkah pergi.


"Baiklah. Daaah .... " teriak Mawar pada Jovi, dan Jovi pun menoleh sembari tersenyum kearah Mawar.

__ADS_1


***


Hari sudah malam, semuanya duduk mengelilingi api unggun yang sudah dinyalakan, semuanya bernyanyi nyanyi dengan ceria.


Sedangkan Adit, Roni, dan beberapa pria lainnya, sedang berjoget joget, sesekali menirukan orang yang sedang berdansa, membuat semua orang melihatnya tertawa lepas, apalagi si Mawar, dia tertawa sambil mengangkat kedua tangannya menggerakkan kekiri dan kekanan seperti orang yang tanpa beban.


Jovi hanya menikmati pertunjukkan kedua sahabatnya itu sambil sesekali tersenyum malu melihat tingkah kedua orang itu yang seperti anak anak, bergoyang sana sini tanpa sungkan.


"Jovi ... Ayolah kemari! kita bersenang senang menikmati malam yang tanpa bintang ini," teriak Adit pada Jovi, dan Jovi hanya menggelengkan kepala tidak ingin ikut ikutan bertingkah seperti mereka.


"Hah. Payah sekali," dengus Adit tanpa berhenti berdansa dengan Roni, seperti orang yang sedang mabuk saja, lupa diri, tidak mengingat akan statusnya sebagai orang yang disegani.


Mawar yang mambawa kamera, tidak menyia nyiakan momen itu, dia mengabadikan semua momen yang ada, semua foto foto Jovi juga dia ambil secara diam diam.


"Ayolah! siapa lagi yang ingin bernyanyi? Kini giliran wanita yang bernyanyi," ujar salah satu pria yang barusan membawakan sebuah lagu.


Namun tidak ada yang memiliki nyali untuk bernyanyi, beberapa saat kemudian Mawar mengangkat tangannya, bersedia untuk menyanyi.


"Biar aku saja," Teriak Mawar.


"Heh. Si jelek. Lebih baik kau jangan bernyanyi, semuanya tidak ada yang bagus darimu, apalagi suaramu, akan sangat mengganggu semua orang yang ada disini," teriak Alex.


"Kau lihat! tidak ada yang bersedia untuk mengisi acara, apa salahnya aku ikut memeriahkan malam ini dengan suaraku, biarpun tidak bagus, yang penting malam kita tidak terasa sunyi," bantah Mawar. Sebagian mengangguk setuju pada Mawar, dan sebagian juga ada yang tidak suka melihat Mawar karena wajah Mawar yang jelek.


"Sudah, sudah. Tidak ada salahnya jika dia ingin bernyanyi, dari pada acara kita berakhir dengan cepat, akan tidak menyenangkan jadinya," senior mencoba untuk mencairkan suasana.


"Ya sudah. Aku juga tidak sabar ingin melihat kau ditertawakan karena suara jelekmu itu," teriak Alex.


Mawar hanya menghela nafas kasar dengan sikap Alex yang begitu menyebalkan.


Mawar mengambil nafas dalam dalam, karena dia sudah begitu lama tidak bernyanyi didepan orang banyak, mungkin dia akan sedikit gugup.


Terakhir kali dia bernyanyi didepan banyak orang, sewaktu dia masih SMP. Dimana saat itu dia mengikuti lomba yang diadakan sekolah, dan dia mendapatkan peringkat pertama dengan suara indahnya.

__ADS_1


__ADS_2