ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Gadis sombong


__ADS_3

Disaat Adit sedang mengoceh tanpa henti, Jovi berteriak membuat Adit terkejut.


"Stop" Jovi memandangi Adit yang sedang terkejut, wajahnya sudah seperti orang yang menahan kentut. Jovi tertawa cekikikan melihat ekspresi Adit.


"Apa apaan kau ini? Beraninya meneriakiku. Kau tidak lihat aku sedang berada dalam dunia khayalanku? Apa kau tidak takut jika aku marah dan tidak jadi mentraktir makanan yang sudah kau telan itu?" ujar Adit dengan kesal, tapi tidak benar benar marah.


"Dunia khayalan apanya? Kau berharap keluarga Adiguna akan memberikan rumahnya untukmu? Apakah tidak ada hal penting yang bisa kau pikirkan?" ujar Jovi menatap serius pada Adit.


"Apa kamu pikir keluarga Adiguna itu tidak penting, kau menganggapnya seperti lelucon, apa kamu tidak pernah membaca atau menonton berita yang menyangkut keluarga Adiguna, mereka itu sangat luar biasa, hampir semua stasiun televisi menayangkan berita tentang mereka, dan kamu masih juga tidak tau?" Adit kembali mengoceh tanpa henti.


Anak ini, dipancing sedikit malah semakin heboh. Jovi berkata dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


"oh. Iya juga ya, kamu kan tidak memiliki televisi dirumahmu, bagaimana mungkin bisa menonton beritanya, aku turut prihatin denganmu, berjuanglah terus ya!" ujar Adit sambil menepuk nepuk pundak Jovi.


Untuk apa aku menonton berita tentang keluargaku sendiri, aku sudah cukup tau tentang kehidupan dalam keluargaku. Batin Jovi.


"Kau ini sedang menghinaku atau menyemangatiku?" ujar Jovi dengan tatapan serius.


"Stop. Jangan menatapku seperti itu, kamu tau jika kamu mengeluarkan tatapan itu, gigiku serasa ingin rontok. Aku tidak menghinamu, jangan marah ya!" ujar Adit tersenyum seperti orang ketakutan.

__ADS_1


Tidak bisa dipungkiri, tatapan Jovi yang sedang marah memang sangat mengerikan, seperti ada aura mistis yang keluar dari tubuhnya, membuat nyali menjadi ciut. Itu sebabnya Adit berusaha menenangkan Jovi, dia tak bisa membayangkan jika Jovi sampai marah.


"Eh, Jovi. Ngomong ngomong kenapa kamu tidak mengajari aku cara menatap orang seperti harimau, seperti tatapanmu itu saat sedang marah, benar benar mengerikan, jika orang biasa yang melihat itu, mungkin sudah pipis dicelana," Adit tertawa pelan.


"Kau yakin ingin belajar?" tanya Jovi dengan santai, Adit dengan cepat menganggukkan kepalanya.


"Mudah. Kamu harus bertarung dulu dengan seekor harimau jantan, setelah itu, kamu akan memiliki aura yang sama dengannya," ujar Jovi tanpa melihat kearah Adit. Adit yang sedang menyuap makanannya tiba tiba tersedak hingga wajahnya memerah karena terus terbatuk.


"Gila saja kamu, sebelum aku bertarung dengan harimau, mungkin aku sudah pingsan duluan saat melihat taringnya," ujar Adit dengan wajah yang terlihat merah, dan Jovi hanya tersenyum kecut.


"Jika kamu tak punya nyali, lebih baik kamu tidak perlu berharap banyak," ujarnya sambil menyuap makanannya.


"Hey. berisik sekali kalian ini, kalian pikir kantin ini milik kalian? Mengganggu ketenangan orang saja," teriak wanita cantik yang duduk dimeja depan mereka.


"Kenapa? Jika tak suka lebih baik kau makan dirumahmu saja, ngapain makan disini?" kata Adit yang tak senang dengan ucapan wanita itu.


"Apa? Kau berani melawan aku? Aku Siska Wirawan, cucu dari keluarga Wirawan, tak pernah ada yang berani menyinggungku, dan kau siapa? Berani beraninya membentak aku," wanita itu berdiri dan menunjuk nunjuk kearah Adit.


"Hng. Kau pikir keluarga Wirawanmu itu hebat? Bagiku kalian itu hanya dapat disandingkan dengan sampah. Menjijikkan." Adit kembali menyindir.

__ADS_1


"Kau ... Ada hak apa kau menghina keluargaku? Kuperingatkan padamu, jangan sekali sekali berani cari masalah denganku, atau kau akan terima akibatnya," ujar Siska dengan sangat marah.


"Wow. Aku sangat takut. Gadis cantik, kuberi kau kesempatan untuk minta maaf sekarang, selagi aku masih belum marah, mungkin aku akan menerima permintaan maafmu." Adit menatap wanita itu dengan lekat. Sedangkan Jovi sedari tadi hanya berdiam menikmati pertunjukkan Adit tanpa berniat untuk ikut campur.


"Kau belum pantas untuk membuatku meminta maaf, seharusnya yang meminta maaf itu adalah kau," ujar Siska sambil berkacak pinggang.


"Kau yakin tidak mengenali aku?" ujar Adit tersenyum sinis.


Saat ini tiba tiba teman Siska menarik lengannya dan membisikkan sesuatu padanya sambil memperlihatkan layar handphone nya, seketika wajah siska berubah menjadi pucat, seluruh badannya gemetaran, matanya tak berkedip saking terkejutnya.


Ya Tuhan, apa yang sedang kulakukan, aku sudah menyinggung dia yang seharusnya tak aku singgung, tamatlah sudah riwayatku, bagaimana aku menghadapi situasi seperti ini. Aku benar benar buta, tak bisa melihat orang dengan status tinggi seperti dia, bahkan keluargaku bukanlah apa apa dimatanya, dan aku masih menyombongkan diri dihadapannya, sungguh bodoh. Batin Siska.


Kini Siska berjalan menghampiri Adit dan membungkukkan badannya meminta maaf.


"Maafkan saya tuan muda, saya benar benar buta sampai berani menyinggung anda, sekali lagi maafkan saya." Siska berkata dengan suara yang gemetar, tidak berani mengangkat kepalanya.


"Sekarang kau tau salah? Pergi sana, jangan ganggu ketenanganku," ujar Adit dengan cuek.


Aurel pun berterimakasih karena Adit tidak memperpanjang masalah yang dia buat. Tidak berpikir panjang lagi dia segera menarik temannya untuk pergi meninggalkan kantin.

__ADS_1


__ADS_2