
Melihat Jovi sedari tadi hanya berdiam saja, Roni akhirnya mengambilkan segelas air putih untuknya.
"Ini, minumlah terlebih dahulu! Agar kamu bisa lebih tenang." sembari menyodorkan segelas air pada Jovi, Jovi menerimanya dan menguk habis air itu.
"Apakah jadi lebih tenang?" tanya Roni sembari duduk disamping Jovi.
"Sedikit," jawab Jovi dengan memijit dahinya merasa pusing.
"Apa sudah bisa menceritakan padaku, kenapa Adit tampak begitu marah padamu?" tanya Roni.
"Aku tidak tahu, aku hanya bertanya padanya, kenapa dia tampak begitu murung, tidak aku sangka dia begitu emosi saat aku menanyakan itu, aku sendiri juga tidak bisa menahannya, hingga kami jadi bertarung," ucap Jovi datar.
"Mungkin dia memang sedang dalam masalah, biarkan saja dulu dia menenangkan hatinya," ujar Roni, dan Jovi mengangguk pelan.
"Baiklah. Aku akan pulang sekarang, maaf telah membuat keributan di tempatmu." Jovi menepuk pundak Roni sembari bangkit dari tempatnya.
"Apa kamu bisa menyetir sendiri? Apa mau aku antar?" tanya Roni.
"Tidak perlu, aku masih bisa." Jovi melambaikan tangannya dan berlalu pergi.
Ditengah perjalanan, dalam keadaan hati yang begitu buruk, Jovi malah melihat Aurel sedang mengobrol ria dengan seorang lelaki yang tidak ia kenal, lelaki itu cukup tampan, dari tatapannya, sangat terlihat jelas bahwa ia menginginkan Aurel.
Jovi memarkir mobilnya dan pergi menghampiri mereka.
Tanpa mengatakan apapun, Jovi hanya langsung memukul pria itu yang mencoba ingin merangkul Aurel, tanpa Aurel ketahui.
Sontak saja, Aurel begitu terkejut saat melihat Jovi terus terusan memukul pria itu tanpa henti, bahkan pria itu tak dapat untuk mengelak karena Jovi menindih tubuhnya yang saat ini terbaring dilantai.
"Jovi stop!" Aurel mendorong tubuh Jovi hingga Jovi menghentikan pukulannya dan kembali berdiri.
Aurel segera membantu temannya itu untuk berdiri, yang saat ini wajahnya telah terdapat luka memar dimana mana, bahkan sampai berdarah.
"Apa kamu baik baik saja?" tanya Aurel khawatir melihat luka diwajahnya.
__ADS_1
"Ini tidak bisa dikatakan baik baik saja, ini terlalu sakit," ucap pria itu yang meringis kesakitan sembari memegangi wajahnya.
Aurel menatap Jovi dengan sangat marah, ia berjalan menghampiri Jovi dan tanpa mengatakan apapun, tangannya melayang begitu saja, mendarat diwajah Jovi.
Jovi memegangi wajahnya yang dipukul oleh Aurel, sembari tersenyum sinis menatap Aurel dan pria itu bergantian.
"Apa ini adalah jawaban bahwa kamu lebih membela dia?" itu kali pertama Jovi mendapatkan penghinaan dengan ditampar oleh seorang wanita.
"Jovi ... Aku .... " Aurel mencoba medekati Jovi untuk meminta maaf, namun Jovi segera menghadang Aurel untuk tidak mendekat padanya.
Pria itu mendekat kearah mereka.
"Aurel. Dia itu siapa? lelaki itu memegang bahu Aurel membuat Jovi yang melihatnya hanya bisa mengepalkan tangan sekuat mungkin mencoba untuk mengendalikan dirinya.
"Bukan siapa siapa. Kalian bisa melanjutkan obrolan gembira kalian, dan untuk kamu, selamat telah mendapatkan lelaki baru, semoga tuhan memberkati kalian." Jovi menatap tajam pada Aurel lalu melangkah pergi meninggalkan mereka.
Aurel saat ini hanya mematung menyesali perbuatannya pada Jovi, dia tidak dapat mengendalikan dirinya dan memukul Jovi begitu saja.
"Aku tidak apa apa, biar aku antar kamu ke rumah sakit untuk mengobati lukamu." walau bagaimana pun, temannya itu terluka karena dia, dia tidak mungkin lepas dari tanggung jawab begitu saja.
Aurel dan lelaki itu cukup dekat waktu SMA, bahkan Aurel sempat menyukainya, semenjak mereka berpisah, Aurel menjadi mati rasa, ia begitu galak dan kasar pada lelaki, sampai ia bertemu dengan Jovi, sifat itu perlahan lahan menghilang, dan menjadi Aurel yang biasa lagi.
Disisi lain, Jovi yang mengendarai mobil, tidak tahu harus kemana.
Dari awal, moodnya memang tidak bagus, ditambah melihat pemandangan yang tidak enak, membuat dia kehilangan akal sehatnya.
Jovi yang mengendarai mobil dengan laju diatas rata rata, ditambah dengan pikiran yang kacau, hampir menabrak seseorang dijalan, untungnya dia dengan cekatan menginjak rem mobil hingga aspal terlihat berasap akibat gesekan ban mobil yang begitu kuat.
Jovi segera turun dari mobil untuk mengecek keadaan orang yang hampir ditabraknya.
"Apa Anda baik baik saja?" tanya Jovi poda seorang wanita yang saat ini tengah berjongkok sambil menutupi wajahnya, mungkin dia sedikit kaget dengan apa yang terjadi barusan.
Wanita itu pelan pelan mengangkat wajahnya, mendongak menatap Jovi, dan tiba tiba ia mengerutkan alisnya merasa tidak asing dengan lelaki yang berdiri dihadapanya itu.
__ADS_1
"Jovi .... " wanita itu segera berdiri saat menyadari bahwa itu benar benar Jovi.
"Yenny?" raut wajah Jovi seketika berubah, mendapati orang yang dihadapannya itu adalah mantan kekasihnya.
"Ternyata kamu masih mengenalku? Bagaimana kabarmu?" air muka Yenny tampak begitu senang melihat Jovi.
"Baik baik saja." Jovi menjawab dengan datar.
"Kamu mau kemana? Bisakah kamu mengantarku? Anggap saja kamu menebus kesalahanmu yang hampir menabrakku," ucap Yenny yang mencoba membujuk Jovi. Mantan kekasihnya itu bukanlah pemuda miskin yang ia kenal dulu, bagaimana mungkin Yenny tidak tertarik untuk menjerat Jovi masuk kedalam pelukannya.
"Baiklah. Masuklah! Aku akan mengantarmu." Jovi kembali melangkah kemobil dengan disusul oleh Yenny.
Jovi mengantar Yenny hingga didepan hotel, dimana Yenny tinggal saat ini.
Yenny merasa kecewa karena tidak berhasil mengajak Jovi untuk masuk kekamar hotelnya, bahkan nomor telepon Jovi saja ia tak mendapatkannya, saat ini ia hanya pasrah, berharap suatu saat akan kembali bertemu dengan Jovi.
Jovi yang masih mengendarai mobil tanpa tujuan, tiba tiba ponselnya berdering.
"Hallo Kak. Kakak dimana? Bisakah Kakak menjemput Kak Resta? Malam ini dia akan tiba." suara Rasya dari seberang telepon.
"Baiklah," jawab Jovi singkat lalu menutup telepon, itu membuat Rasya berwajah masam karena selalu di abaikan.
"Ini semua gara gara Kak Jovi menikah dengan si Aurel itu, Kak Jovi jadi tidak baik lagi padaku. lihat saja nanti setelah Kak Resta datang, siap siap saja kamu dicampakkan olehnya." licik Resta.
Dimalam hari, Aurel yang baru saja pulang, tiba tiba harus disambut oleh sindiran Rasya yang tak ada habisnya.
"Kamu jadi istri bagaimana sih? baru pulang dimalam hari, apa tidak ingat dengan suami?" ketus Rasya saat Aurel hendak menaiki anak tangga.
"Itu bukan urusanmu," jawab Aurel tak perduli.
"Hm ... Saat ini kamu bisa saja tak perduli, liat saja nanti setelah Kak Jovi kembali pada Kak Resta, dia pasti akan mencampakkanmu, saat itu telah tiba, mau kamu menangis darahpun tidak akan ada yang perduli padamu," ucap Rasya sinis.
Diam diam Aurel sedikit khawatir mendengar ucapan Rasya, namun ia tak ingin memperlihatkannya, ia terus berjalan menaiki anak tangga tanpa menoleh sedikitpun.
__ADS_1