ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Berangkat keperusahaan


__ADS_3

Keesokan harinya, Jovi bangun sepagi mungkin.


Asisten Jimmy telah menunggu dimobil.


"Ayo Jim!" ujar Jovi dan Asisten Jimmy membukakan pintu mobil buat Jovi.


"Apa saja jadwalku hari ini," tanya Jovi.


"Jam 09:00 nanti anda akan menghadiri konferensi pers bersama Tuan besar, setelah itu anda akan menghadiri rapat pengenalan oleh para pemegang saham, lalu akan kembali rapat, untuk anda menyampaikan peraturan baru pada pegawai diperusahaan," ujar Jimmy dengan sangat tegas, terlihat sekali dia orang yang profesional, dan Jovi hanya mengangguk mengerti.


"Oh, ya. Nanti kamu menuju parkiran bawah tanah saja, agar tidak terlihat begitu mencolok, karena aku ingin melihat cara kerja para staf diperusahaan, aku tidak akan membiarkan mereka yang bekerja tidak disiplin diperusahaanku," ucap Jovi dengan aura yang sangat dingin.


Bosku ini mengerikan sekali, hanya mengeluarkan perkataan seperti itu berhasil membuatku sedikit takut. Batin Jimmy.


"Baiklah Tuan muda," Jimmy masih mempertahankan sikap profesionalnya.


"Kamu tidak perlu bersamaku, kamu bisa bersantai sementara selama konferensi pers belum dimulai," ujar Jovi saat mereka telah tiba diparkiran bawah tanah.


"Baiklah Tuan muda, saya akan datang pada anda tepat waktu," ucap Jimmy hormat.


"Ini, kamu simpan dulu, nanti bawalah bersamamu jika konferensi pers akan dimulai," ujar Jovi yang memberikan jasnya pada Jimmy.


"Baiklah Tuan muda," Jimmy membungkuk hormat, dan Jovi berlalu pergi meninggalkan parkiran bawah tanah, untuk masuk keperusahaan lewat pintu utama.


Jovi masuk keperusahaan, tapi apa yang dia lihat, hanya ada para staf yang berkumpul sedang bergosip.

__ADS_1


"Eh, apa kalian sudah dengar berita? Aku dengar perusahaan ini akan dipimpin oleh anaknya Tuan Bram, mereka akan mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan perpindahan tangan memimpin perusahaan ini," ujar salah satu pegawai staf.


"Yang benar? Kamu tahu darimana? Jangan sembarangan menebak!" ujar temannya.


"Aku serius, semua orang yang bekerja disini juga tahu tentang itu, hanya kamu saja yang selalu ketinggalan berita hot seperti ini," ujarnya lagi.


"Wah ... Aku jadi penasaran ingin melihat wajahnya, selama ini kan Tuan Bram tidak pernah mengekspos tentang anaknya, dan sekarang dia akan menjadi pemimpin kita sekarang, dia pasti seorang pemuda yang tampan, andai saja aku bisa mendapatkan dia, dan menjadi kekasihnya, tidak tampan juga tidak apa apa, yang penting kan dia orang yang sangat kaya," ucap temannya yang sedang menghayal mendapatkan Jovi.


"Ck. Jangan banyak bermimpi," ujarnya lagi sambil menyetil jidat temannya.


Jovi benar benar geram melihat wanita yang seperti itu, tidak disiplin dalam bekerja, masih menghayal untuk mendapatkannya karena uang, munafik sekali.


"Kalian, apa sudah selesai bekerja, sampai bisa menyempatkan diri untuk bergosip disini?" ucap Jovi dingin.


Semua menoleh kearah Jovi, sebagian ada yang terkesima melihat ketampanannya dan sebagian ada yang kesal karena Jovi berani mengusik mereka.


"Kau yakin mampu mendepak aku dari sini?" ujar Jovi sinis.


"Kenapa tidak? Aku bisa saja melaporkanmu pada atasan karena sikapmu yang tidak sopan ini," ancamnya pada Jovi.


"Hng. Yang aku lihat justru kaulah yang berprilaku tidak sopan, seharusnya kau yang didepak dari sini," jawab Jovi datar tanpa ekspresi.


"Hey kau, lelaki pengecut, jangan beraninya hanya dengan wanita, dasar lelaki murah," teriak salah satu pegawai sambil menunjuk nunjuk kearah Jovi.


Jovi seketika memukul meja dengan sangat kuat, membuat mereka semua terkejut setengah mati, Jovi benar benar geram pada wanita yang berani menyumpah serapahi dia, setidaknya sekarang dia bukanlah orang yang berbelas kasihan seperti dulu, dia tidak perduli dengan siapa dia berlawanan, selama ada yang membuat hatinya jengkel maka orang itu akan lenyap.

__ADS_1


"Masih ada yang berani melawanku?" aura kejam seketika keluar dari mata Jovi.


Mereka terdiam tak berani untuk bersuara, sebagian ada juga yang menatap dendam pada Jovi, tak terima Jovi yang membentak mereka.


Melihat mereka yang terdiam Jovi seketika merasa puas, dia begitu puas jika wanita tidak berani melawannya.


Dendamnya terus berlaku pada semua wanita terkecuali ibunya, hatinya kini benar benar telah diselimuti oleh aura kejam, tidak ada ampun bagi wanita yang berani melawannya.


Jovi tersenyum sinis mengitari pandangannya pada semua wanita yang tadi sedang menggosipi dia, lalu dia melangkah pergi meninggalkan mereka semua.


setelah kepergian Jovi, mereka semua merasa tidak terima, ada yang menyumpahinya, ada yang sengaja meledeknya, dan bahkan ada yang berniat untuk balas dendam padanya.


Mereka tidak tahu saja, bahwa orang yang tengah mereka lawan itu adalah pemimpin baru mereka, yang baru saja mereka gosipi dan mereka sanjung sanjung, jika saat itu mereka tahu, mungkin mereka akan mati berdiri karena terkejut.


Jovi kembali berjalan untuk melihat lihat perusahaan dan cara kerja semua pegawai disana.


Saat Jovi masuk dibagian pemasaran, disana benar benar hanya ada orang yang tidak disiplin, melakukan segala hal yang mereka mau, yang Jovi lihat hanyalah mereka yang sedang sibuk menatap layar ponselnya, ada yang bermain game, ada yang sedang senyum senyum melihati ponselnya, dan bahkan ada yang merokok, padahal didalam perusahaan telah diberi peringatan jangan ada yang merokok, tapi mereka tetap saja melanggarnya.


Inikah yang disebut sebagai perusahaan nomor satu? Apa ini? Pegawainya saja seperti ini, kerja tidak becus, merokok sana sini, bermain ponsel disaat jam kerja, aku yakin beberapa tahun lagi jika orang sperti ini tetap dipertahankan dalam perusahaan, maka tunggu saja perusahaan ini akan gulung tikar karena ulah mereka yang tidak disiplin. Batin Jovi.


"Apa kalian pikir perusahaan ini milik kalian? Melakukan hal semau yang kalian suka, ini adalah waktu kerja, tidak sepantasnya kalian menyepelekan pekerjaan diperusahaan ini," suara Jovi berhasil membuat mereka semua menoleh kearahnya.


"Siapa kau? Beraninya bicara seperti itu pada kami, pekerjaan kami biarlah kami yang mengaturnya, tidak butuh ceramah darimu, mengganggu saja," gerutu salah satu staf.


"Disini kalian bekerja digaji, apa hak kalian membelakangi pekerjaan kalian seperti ini? Perusahaan tidak menggaji kalian secara cuma cuma, kalian pikir perusahaan ini rumah kalian yang bisa melakukan apapun?" Jovi mengerutkan kening begitu kesal melihat cara kerja mereka yang begitu seenaknya.

__ADS_1


"Lalu apa hakmu menggurui kami, aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, kau bekerja dibagian mana? Akan aku urus pemecatanmu sekarang juga, minta maaf sekarang juga jika kau tidak ingin dipecat dari perusahaan ini," ujarnya sambil menunjuk kearah Jovi.


"Kau bisa mencari informasi tentang aku, dan saat kau mengetahuinya, kuharap kau tidak mati kejang kejang, karena begitu terkejut." tatap Jovi dengan sinisnya, lalu Jovi pergi dari sana karena tidak lama lagi konferensi pers akan segera dimulai.


__ADS_2