
Adit kembali ke vila dengan menggendong gadis itu dipunggungnya, perasaannya tidak dapat ia gambarkan, benar benar sangat lelah, tiba diteras vila, Adit berhenti melangkah.
"Kita sudah sampai, apa kau sudah bisa turun?" ucap Adit yang sudah sangat kelelahan.
"Apakah ini rumahmu? Wuaah ... Besar sekali, aku baru akan turun jika setelah kita masuk kedalam," kata gadis itu santai.
"Apakah tidak ada permintaan yang lebih baik dari ini? Kau benar benar sudah sangat menyusahkan aku," bentak Adit kesal.
"Siapa yang menjamin bahwa ini benar benar rumahmu? Siapa tahu kau hanya sedang berbohong, dan di saat aku turun bisa saja kau mangambil kesempatan untuk kabur," bantah gadis itu.
"Ya Tuhan. Apa salah dan dosaku? Sampai kau mempertemukan aku dengan wanita yang tidak waras seperti dia ini." Adit bergumam sendiri.
Adit akhirnya mendorong pintu dan masuk kedalam, terlihat semua sahabatnya sedang duduk bersama di sofa sambil berbincang bincang.
Saat melihat Adit pulang dengan membawa seorang gadis dipunggung nya, mereka semua melongo dan tidak berbicara sepatah katapun.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Adit dengan kesal.
"Dit. Apa kau tidak menyadari jika kau sedang menggendong seseorang dipunggungmu?" tanya Roni melongo mencoba memastikan apakah yang dipunggung Adit benar benar manusia apa bukan.
Dilihat dari kepribadian Adit, dia tidak akan sudi menggendong wanita sampai seperti itu.
"Entahlah, sepertinya ada makhluk tak kasat mata yang selalu menempel dipundakku sepanjang perjalanan," ucap Adit lelah.
"Kau serius? Tetapi kami semua bisa melihatnya, itu berarti dia juga manusia," jawab Roni polos.
"Turun kau sekarang juga!" kata Adit sambil menoleh kebelakang.
Gadis itu pun akhirnya turun, dan Adit langsung merebahkan badannya disofa karena terlalu kelelahan.
"Hallo semuanya, perkenalkan aku Lani," ucap gadis itu memperkenalkan diri.
"Hallo, kami temannya Adit," jawab Aurel dan Mawar kebingungan.
"Bagaimana bisa kalian datang bersama? dan bahkan Adit menggendongmu sampai kesini," tanya Aurel heran.
__ADS_1
"Hmm ... Itu. Mmm ... Anu," Lani tak mampu mengeluarkan kata katanya, dia hanya bisa menggaruk kepala dengan jari telunjuknya.
Aurel dan Mawar masih menunggu jawaban dari Lani.
"Itu ... Jangan bahas itu ya, kita bahas yang lain saja," ujar Lani mengalihkan topik.
Aurel dan Mawar hanya melongo kebingungan.
"Baiklah." Aurel menganggukan kepala pelan.
***
Seiring berjalannya waktu tibalah waktu mereka untuk kembali ke kota, namun Lani tidak mau ditinggal, dan akhirnya mereka membawa Lani ke kota.
"Oh, iya. Aku lupa bertanya, sebenarnya siapa orang yang mengejarmu itu, kenapa mereka mengejarmu sampai kesini?" tanya Mawar.
"Ceritanya panjang, intinya, aku meminjam uang pada mereka untuk biaya kuliah ku, tetapi aku tidak sanggup membayarnya, mereka mengancam akan membunuhku jika aku tidak membayar hutangku, padahal aku sudah katakan pada mereka aku pasti membayarnya tapi tidak sekarang, kerena memang aku belum mendapatkan uangnya, tetapi mereka tetap tidak menerima alasan apapun dariku, mereka membawaku dari kota sampai kesini, dan disaat mereka lengah aku dapat melarikan diri, dan berada disini bersama kalian," jelas Lani frustasi.
Mawar ikut merasakan kesulitan yang telah menimpa hidup Lani, jadi dia mengajak Lani untuk tinggal bersama dirumahnya, dan Lani pun begitu senang mendengarnya.
***
Sedangkan Adit, entah sejak kapan benih benih cinta tumbuh didalam hatinya terhadap Lani.
Hingga dipertengahan semester kuliahnya, dia memberanikan diri untuk menyatakan cintanya pada Lani.
Di tepi danau tempat mereka bertemu, Adit yang mengenakan pakaian rapi, dan Lani yang tampak cantik dengan polesan make up tipis membuat Adit semakin terpesona olehnya.
Saat berada dihadapan Lani, Adit tersenyum penuh arti menatap Lani yang kini terlihat polos.
"Lani .... " panggil Adit dengan lembut, Lani pun mengangkat kepalanya menatap Adit, mata mereka saling beradu penuh makna yang tersirat dihati mereka masing masing.
Lani menunggu, apa yang akan Adit katakan padanya?
"Mungkin ini terdengar sedikit berlebihan, tetapi aku tidak dapat menahan gejolak rasa didadaku, hatiku seakan menggedor gedor pintu tenggorokan ku agar aku mengutarakan apa yang sedang mengganjal dihatiku," kata kata Adit terhenti sejenak dan menatap Lani penuh arti yang dia sendiri sulit untuk menggambarkan isi hatinya.
__ADS_1
Lani terus saja menunggu, kata kata apa yang selanjutnya yang akan dikatakan oleh Adit? Membuatnya semakin tidak sabar untuk mendengarkan apa maksud Adit yang mengajaknya bertemu ditepi danau.
"Lani ... Aku mencintaimu! Maukah kau menikmati sisa hidupmu bersamaku? Aku tidak akan mengatakan apakah kau mau hidup denganku baik susah maupun senang, karena aku, Adit. Tidak akan membiarkan orang yang aku cintai hidup susah bersamaku, aku akan berusaha untuk memberikan yang terbaik padamu. Jadi, apakah kamu mau menemaniku dari sekarang hingga aku menjemput ajalku?" Adit menyatakan cintanya sambil menekuk satu lutunya ketanah, lalu memperlihatkan cincin couple pada Lani.
Lani menutup mulutnya tak percaya, perasaannya saat ini benar benar sulit ia gambarkan, perasaan haru, senang, semua bercampur menjadi satu.
Jujur saja dia sebenarnya lebih dulu menyukai Adit, tetapi karena status Adit yang begitu tinggi, dia tidak sanggup berharap jauh tentang perasaannya.
Mata Lani kini berkaca kaca, melihat orang yang dia cintai juga memiliki perasaan yang sama padanya.
"Adit ... Kamu serius dengan apa yang kamu katakan?" tanya Lani masih tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar dari mulut Adit.
Adit mengangguk sembari tersenyum hangat menatap Lani penuh cinta.
"Adit ... Meskipun kamu mengatakan, bahwa kamu tidak akan membiarkan aku hidup susah bersamamu, tetapi siapa yang akan mengetahui roda kehidupan kita kedepannya, dan aku harus mengatakan ini padamu. Aku bersedia menjalani hidup bersamamu tidak hanya dalam kesenangan, tetapi juga dalam kesusahan, aku akan selalu ada untukmu dan akan selalu mendukungmu dari belakang," jawab Lani mantap dan Adit tersenyum sumringah.
Adit lantas memasangkan cincin kejari manis Lani dengan sangat hati hati, lalu memasang cincin kejarinya sendiri.
Adit bangkit, lalu menggenggam kedua tangan Lani dengan sangat lembut.
"Terimakasih ... Terimakasih sudah memberikan aku kesempatan untuk menjagamu," ucap Adit yang terus menatap Lani dengan hangat.
"Seharusnya aku yang berterimakasih karena kamu mau mencintai aku dengan segala kekuranganku ini.
Adit ... Terimakasih ya!" ucap Lani lirih sembari meneteskan air mata terharu.
"Kenapa menangis? Kau tidak cantik jika menangis, tolong jangan pernah menangis ya! aku tidak akan memaafkan diriku ini jika sampai aku mendapatimu menangis seperti ini," Adit segera menghapus air mata Lani dan memeluknya.
Pelukan Adit begitu hangat dirasakan oleh Lani, dia membalas pelukan Adit dengan sangat erat, dan tak ingin melepaskannya.
***
Readers: "Thor, tokoh utamanya siapa sih? Jovi atau Adit? Kok lebih baper ke Adit dari pada Jovi, gimana sih?"
Author: "Tenang tenang, kisah cinta Jovi belum berakhir, diharapkan untuk bersabar ya! untuk eps ini, berikan Adit kesempatan untuk membuat kalian baper, ya meskipun kalian belum tentu baper juga saat ngebacanya, hehe." 😁
__ADS_1
"Sama satu lagi, jangan lupa like dan coment nya ya! kalau mau vote lebih bagus lagi." 😁✌