ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Flash Back On 1


__ADS_3

Pov Jovi


Di saat reunian, aku berpikir keras apakah aku harus pergi atau tidak, Jimmy memberikan laporan bahwa Aurel telah kembali dan akan menghadiri reunian itu. Hati dan otakku berperang hebat, otakku memerintahkan agar aku tidak pergi, namun aku tak bisa memungkiri bahwa aku juga merindukannya.


Untuk lima tahun yang berlalu tanpa kehadirannya, hariku benar-benar kosong. Jelas aku tak ingin memperlihatkannya di hadapan publik, aku sebagai seorang lelaki dan CEO ADN GROUP, selalu dikenal sebagai orang yang tak takut apapun, berkharisma dan tanggung jawab. Namun di balik itu, aku sangat ketakutan, takut akan kehilangannya.


Aku bisa saja menyelidiki tentang alasannya yang pergi tanpa memberiku jawaban yang pasti, namun kembali lagi pada ketakutanku, takut menerima kenyataan yang mungkin akan menampar hatiku, lagi dan lagi.


Setelah menimbangnya begitu lama, kuputuskan untuk pergi, setidaknya mengobati sedikit rasa rinduku padanya yang sudah menggunung, yang mungkin sewaktu waktu akan meledak tanpa aku sadari.


***


"Tuan muda. Ini tuksedo Anda. Saya letakkan di atas kasur." Suara Jimmy yang masuk membawa tuksedo untuk ku pakai di acara reunian.


Tiba di depan hotel netraku tertuju pada mobil Adit yang juga baru terparkir di tempat yang tidak jauh dari mobil yang aku pakai saat ini, aku memperhatikannya dan benar saja, Aurel keluar dari mobil itu. Satu kata untuknya. Cantik.


Perlahan sudut bibirku tertarik tipis, ingin sekali aku memeluknya dengan erat dan tak ingin melepaskannya lagi, namun hal itu selalu bertolak belakang dengan hatiku yang terlanjur terkoyak.


Dia tampak begitu senang memasuki hotel sambil bercanda ria dengan Lani.


Sedangkan aku, bahkan untuk sekedar tersenyum pun begitu sulit, sebuah senyuman dari bibirku dianggap langka bagi semua orang.


"Tuan muda-" Suara Jimmy yang memanggilku namun segera aku hentikan karena aku tau dia ingin mengajakku keluar dari mobil.


Aku memperhatikannya hingga punggung wanita yang aku rindukan itu lenyap dari balik pintu utama. Aku menghela napas berat, bimbang apakah aku harus turun atau tidak, aku bahkan tidak memiliki keberanian untuk menatap wajahnya.


Lama aku membeku di tempat, pada akhirnya aku tetap pergi.

__ADS_1


Saat memasuki tempat acara, aku mengitari pandanganku ke seluruh manusia yang ada di sana, semua orang menyambutku terkecuali dia, aku sempat bertanya pada hatiku, ke mana dia? Mataku tertuju pada Adit dan Roni, kuhampiri mereka tanpa menghiraukan sambutan semua orang.


Tidak begitu lama saat aku mengobrol, seketika aku mendengar suara Lani dari arah belakang memanggil Adit, aku pun ikut menoleh, seketika jantungku berdegup dengan kencang, wanita yang begitu aku rindukan kini juga tengah menatapku, aku kembali mengalihkan pandanganku darinya, aku tidak siap untuk bertemu, apa yang akan aku katakan jika sampai dia menghampiriku, aku tidak memiliki serangkaian kata untuk menyambut kedatangannya.


Tidak bisa kupungkiri, hatiku memang masih mencintainya, tetapi aku terlanjur kecewa oleh kepergiannya yang tanpa memberiku alasan. Aku memutuskan pergi meninggalkan Adit dan Roni dengan alasan bahwa aku masih ingin menyapa yang lain.


Saat menyampaikan pidato, aku sekilas meliriknya, dia tampak memperhatikan aku, aku tahu dia juga tidak bisa sepenuhnya melupakan kenangan kami di masa lalu, tetapi dia sendirilah yang memutus ikatan itu.


Setelah pidatoku selesai, aku sengaja bersikap lembut pada dua wanita yang menghampiriku, aku mengajak mereka keluar dengan maksud agar Aurel berpikir bahwa tanpa dia, aku juga masih bisa mendapatkan wanita lain.


Dan tidak ku sangka, ternyata Aurel mengikutiku hingga ke atap bangunan, aku menyadarinya saat aku tidak sengaja melihat wajahnya di pantulan kaca yang ada di dinding, karena sudah terlanjur diikuti, akhirnya aku mencari tempat kosong, yaitu di atap gedung. Mungkin dia ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting atau ingin menjelaskan alasannya pergi tanpa alasan, jujur aku masih ingin mendengar pengakuannya langsung. Aku telah bertekad, jika dia menjelaskan tentang kepergiannya dan meminta maaf, aku akan memaafkannya tanpa pertimbangan, tapi siapa sangka, apa yang aku harapkan ternyata berbanding terbalik.


"Jovi ... Keluargaku sedang dalam kesusahan, perusahaan Ayahku saat ini sudah hampir bangkrut. Maukah kamu menolong kami?"


Kalimat itu bagaikan sebuah halilintar yang menyambar hatiku hingga hangus dan menghisap darahku tanpa sisa, aku menelan ludahku yang terasa pahit, pahit bagaikan kenyataan ini.


Aku benci kalimatnya yang seperti itu. Kenapa? Kenapa dia harus mengatakan itu di saat hari di mana kami bertemu untuk pertama kalinya selama lima tahun terakhir?


Aku meninggalkannya setelah mengajukan persyaratan.


Esoknya aku membawa dia ke kantor catatan sipil untuk daftar pernikahan, kami pun menikah dan langsung mendapatkan buku nikah di hari itu juga.


Hari-hari kami lewati tanpa ada perdamaian sedikit pun, hingga pada suatu saat, kami lagi-lagi beradu mulut, di situlah Aurel mengatakan alasannya kenapa dia pergi, aku terkejut sekaligus tak percaya, mengapa dia tidak bilang dari awal, jika dia mengatakannya, aku mungkin bisa saja menyembuhkan dia, tetapi sudahlah, itu sudah terjadi.


Dia mengatakan kalau dia peduli dan mencintaiku, sekalian saja aku menyuruhnya untuk membuktikan apa yang dia katakan. Namun, aku malah tidak menyangka bahwa dia benar-benar menuruti ucapanku dan ingin membunuh dirinya sendiri.


Tentunya dengan sigap aku melompat dan merebut kembali sebilah pisau di tangannya, aku bahkan tidak sadar bahwa tanganku sudah berdarah terkena sayatan saat aku menggenggam benda tajam itu.

__ADS_1


Setelah melempar pisau itu jauh-jauh, jantungku berdegup kencang menatapnya, seraya memeluk tubuhnya yang kini mulai mengurus, mungkin beban hidupnya terlalu berat akibat tekanan yang kuberikan.


Aku menyesali perbuatanku, bagaimana bisa aku menjadi lelaki pecundang dan pengecut seperti ini, bersikap kasar pada wanita yang aku cintai dan pada akhirnya tetap saja membuat hatiku sakit.


Semenjak kejadian itu, aku dan Aurel kembali berdamai dan menjadi sepasang suami istri yang saling mencintai layaknya pengantin baru, kini aku hanya menginginkan seorang anak hadir di tengah-tengah kehangatan cinta kami, tetapi sayangnya, kami belum diberi kepercayaan untuk memilikinya, aku sabar menanti meski aku sangat menginginkannya.


Hari-hari berjalan seperti biasa, hingga pada suatu hari, aku dan Aurel lagi-lagi mendapat masalah, masalah pada hubungan kami, aku tidak pulang ke rumah pada saat itu karena ketiduran di dalam hotel bersama Resta, teman masa laluku, Aurel pun sama sekali tak menghubungiku di malam itu.


Hingga pada keesokan paginya, aku mendengar suara Resta sedang berbicara pada seseorang lewat panggilan telepon, aku menguping sembari berpura-pura tidur, samar-samar aku mendengarnya menyebut nama Aurel, aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas, suaranya begitu kecil. Itu benar-benar membuatku penasaran.


Setelah percakapan mereka terputus, Resta kembali menelepon sesorang.


"Hallo, Rasya. Apa kamu masih berada di rumah Jovi?" Ternyata dia menelepon adiknya, aku pun lanjut menguping pembicaraan dia, kini suaranya semakin terdengar jelas.


"Lebih baik kamu pulang sekarang juga, jangan tinggal di situ lagi, jaga dirimu baik-baik." Aku hanya mendengar sebatas itu, tidak tahu apa lagi yang mereka bicarakan.


Saat Resta berada di kamar mandi, aku diam-diam meraih ponselku dan memberi pesan singkat pada Jimmy, yang isinya adalah sebuah perintahku agar dia menyelidiki tentang Resta.


"Kamu sudah bangun?" tanya Resta saat melihatku duduk di sofa dengan memegang ponselku.


"Iya." Jawabku singkat sembari mengangguk.


"Pergilah mandi agar kamu terlihat segar, wajahmu terlihat begitu kusam." Dia tertawa layaknya seperti wanita polos, aku hanya menanggapinya dengan senyuman simpul, aku terlalu malas untuk bicara.


Aurel pun datang pada saat aku berada di kamar mandi, mengintip di celah pintu yang kubuka sedikit, aku melihat bahwa Resta membenturkan kepalanya sendiri di dinding sembari berteriak keras, aku keluar dengan berpura-pura tidak mengetahui apapun, awalnya aku ingin membela Aurel, tetapi karena Aurel menuduh bahwa aku melakukan sesuatu bersama Resta, demi apapun itu, aku menolak tuduhannya, aku sama sekali tak melakukan apapun, aku hanya sekedar tidur tanpa sengaja, aku benar-benar lelah di malam itu.


Lagi-lagi terjadi kesalah pahaman, aku lelaki yang keras, ditambah dengan Aurel yang juga keras kepala dan tak ingin mengalah, membuat kesalah pahaman itu semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Aurel pergi, saat aku mengejarnya, ternyata aku melihat dia memeluk lelaki yang kulihat kemarin, hatiku tentunya semakin hancur, kubiarkan dia bersama lelaki itu, mungkin Aurel butuh ketenangan, jika bersama lelaki itu bisa membuat Aurel tenang, kenapa aku harus mencegahnya.


Aku akhirnya mengutus seseorang untuk mengikuti kemana Aurel pergi, mendengar pembicaraan Resta di telepon, membuatku sedikit waspada akan keselamatan Aurel.


__ADS_2