ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Aurel dan Jovi


__ADS_3

Jovi berjalan tanpa menghiraukan semua orang yang menyambutnya, dia berbelok kearah Adit dan Roni, membuat semua orang menjadi canggung karena diabaikan begitu saja.


Adit sedikit panik saat melihat Jovi yang hendak menuju kearahnya, dia takut saat Jovi datang, Aurel juga kembali.


"Ada apa dengan ekspresimu? Tidak suka aku disini?" ucap Jovi dingin saat melihat Adit yang sedang gelisah.


"Ha? Hehe ... Siapa bilang aku tidak suka? Aku suka kok?" jawab Adit dengan memaksakan diri untuk tersenyum.


Jovi meraih gelas berisi bir yang ada di meja, "Ayo bersulang!" ajak Jovi. Adit dan Roni saling bertatapan mata sedikit khawatir.


Jovi mengerutkan alisnya melihat sikap mereka yang sedikit aneh.


Saat mereka berdua menyadari bahwa Jovi sedang mengamati, mereka buru buru meraih gelas dimeja dan bersulang dengan Jovi.


"Sayang. Apa acaranya sudah dimulai?" ujar Lani yang baru saja kembali dari toilet.


Mereka semua menoleh termasuk Jovi.


""Deg""


Jantung Aurel seketika menggebu dengan sangat kencang saat melihat wajah seseorang yang benar benar tidak asing lagi diingatannya.


Tatapan mereka beradu dengan sangat lama, namun yang dirasakan Aurel kini berbeda, tatapan Jovi saat ini begitu dingin, berbeda diwaktu dulu disaat Jovi yang selalu menatapnya dengan begitu lembut.


Kini yang dikhawatirkan Adit akhirnya terjadi juga, mereka benar benar bertemu, Adit takut Jovi akan memarahinya habis habisan.


Aurel masih berharap bahwa Jovi akan menyapanya di awal pertemuan mereka selama lima tahun tidak berjumpa, namun harapan itu selamanya akan menjadi sebuah harapan semata, Jovi yang diharapkan akan menyapa, malah berpaling muka seakan sama sekali tidak mengenal Aurel.


Hati Aurel benar benar sakit saat Jovi mengabaikannya, tetapi dia berusaha menyimpan rasa sakitnya, dan memaksakan diri untuk tersenyum.


Lani ikut sedih melihat Aurel yang diabaikan oleh Jovi, namun dia juga tidak berani mengatakan apapun, dia sendiri juga takut pada Jovi.


Sedangkan Mawar yang tidak tahu apa apa, memilih untuk diam saja, dia takut jika dia bicara, malah memperkeruh suasana.


Aurel mencoba memaksakan dirinya melangkah kedepan untuk menghampiri Jovi dengan langkah gemetar, kakinya seakan menolak untuk kesana.


Jovi yang menyadari bahwa Aurel menghampirinya, dia segera meletakkan gelasnya kemeja.


"Lanjutkanlah obrolan kalian, aku pergi dulu untuk menyapa yang lain," ujar Jovi sembari melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun kearah Aurel.


Lagi lagi Aurel dibuat kecewa dengan sikap Jovi yang tidak ingin melihatnya sedikitpun, dia sadar bahwa memang dia yang memulai keretakan antara hubungan mereka berdua, jadi wajar Jovi bersikap dingin padanya.


Aurel ingin sekali meneteskan air matanya, dadanya benar benar sesak menatap punggung Jovi yang begitu kokoh berlalu pergi meninggalkannya, namun karena disana masih ada teman temannya, dia memilih untuk menahannya, hingga dadanya berasa ingin pecah menampung segala kesedihan dihatinya.


"Perhatian perhatian. Dimalam yang begitu bahagia ini, kita yang seakan bernostalgia ke lima tahun yang lalu, dan kalian pasti telah banyak mengalami bermacam macam kejadian didalam hidup kalian masing masing, saya selaku pembawa acara dimalam ini, ingin menyampaikan salam rindu untuk kalian semua, dan kita sambut sang investor terbesar dikampus kita, yang juga merupakan alumni dari kampus kita. Tuan Jovi Adiguna, saya persilahkan dengan hormat agar bersedia memberikan sepatah kata atau motivasi untuk kami semua agar bisa sukses seperti anda. Silahkan Tuan!" ucap pembawa acara dengan membungkuk hormat.


Jovi maju dengan langkah yang begitu tegas dan berani, semua orang menatap kagum padanya, dia yang masih muda telah meraih puncak kejayaan tanpa batas. Hingga ketitik dimana tidak ada orang yang berani menyinggungnya.


Meskipun dari awal perusahaannya memang sudah sangat besar dan maju, tetapi setelah Jovi yang mengambil alih, semuanya menjadi benar benar terkendali, semua berlomba lomba ingin bekerjasama dengan ADN GROUP.


"Ternyata presdir ADN GROUP adalah teman kuliah kita dikampus. Wuaahh ... Aku bangga sekali," ujar seorang wanita yang berjingkrak senang.


"Huh ... Andai saja aku tahu, aku pasti akan mengejar dan memenangkan hatinya, pasti semua wanita akan iri padaku," ujarnya lagi tersenyum sumringah.


"Jika sekarang ingin mengejarnya juga tidak masalah, mumpung sekarang dia ada disini, aku dengar Tuan Jovi belum memiliki pasangan, tidak ada salahnya jika kita mencoba, siapa tahu dia benar benar tertarik pada kita," ucap temannya.


Setelah Jovi turun, kedua wanita itu dengan cepat menghampirinya.


"Tuan, apakah kami boleh bersulang dengan anda?" ujarnya dengan genit, sambil menempelkan dadanya dibadan Jovi.

__ADS_1


Sebenarnya Jovi agak risih dengan tingkah mereka, tetapi karena disana ada Aurel, dan Aurel terlihat selalu memperhatikannya, dia sengaja ingin memperlihatkan pada Aurel, bahwa tanpa dia pun, tetap akan banyak wanita ingin mengantri menjadi pasangannya.


Jovi merangkul mereka berdua dan memaksakan diri untuk tersenyum manis, Aurel yang melihat itu, seketika memalingkan wajahnya menahan air mata, Lani mengelus pundak Aurel mencoba untuk menenangkannya.


Tidak lama, Jovi mengajak mereka berdua keluar dari sana, Jovi memasuki sebuah kamar hotel bersama kedua wanita itu.


"Kalian tunggulah disini sebentar, aku mau mengambil sesuatu terlebih dahulu," ucap Jovi.


"Jangan lama lama ya Tuan!" ujar wanita itu dengan genitnya.


Sedangkan Aurel, dia beralasan ingin pergi ketoilet, sebenarnya dia ingin mengikuti Jovi.


Saat Aurel keluar, dia melirik mencari keberadaan Jovi, dan terlihat Jovi keluar dari salah satu kamar tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.


"Jim. Kau urus kedua wanita murahan itu!" ujar Jovi pada Jimmy yang menunggunya dari luar kamar.


"Baik Tuan!" Jimmy membungkuk hormat, dan Jovi berlalu pergi.


Aurel dengan segera mengikuti Jovi diam diam dari belakang.


Jovi berniat untuk pergi ke atap hotel untuk menenangkan dirinya.


Setibanya Jovi disana, Aurel bersembunyi di balik kegelapan, namun percuma saja, Jovi masih menyadari keberadaannya.


"Keluarlah, tidak perlu sembunyi disana, aku tahu kau mengikutiku dari tadi," ucap Jovi datar tanpa menoleh kearah dimana Aurel sembunyi.


"Aurel memejamkan matanya merasa takut, kakinya yang sudah gemetaran, masih dia paksakan untuk berjalan mendekati Jovi.


"Jovi .... " panggil Aurel dengan lirih.


Jovi sama sekali tak menghiraukan Aurel yang memanggilnya, masih dengan posisinya yang membelakangi Aurel.


"Jovi ... Aku tahu aku salah telah memutuskan hubungan denganmu, maukah kamu memaafkanku?" Jovi diam beberapa saat membuat Aurel kembali memanggil namanya.


"Kau tidak pantas menyebut namaku seperti itu, panggil aku Tuan! Dan apa alasanmu hingga kau mengikutiku sampai kesini?" ujar Jovi dingin tanpa menoleh sedikitpun kearah Aurel.


Aurel tertunduk mendengar ucapan Jovi, tidak berani untuk berkata apapun maksudnya yang mengikuti Jovi sampai keatap hotel.


"Katakan cepat! Aku tidak suka berbasa basi, dan jika kau masih ragu, lebih baik pergi sekarang, dan kembali datang jika kau sudah siap," ujar Jovi yang masih mengacuhkan Aurel.


"Jovi ... Keluargaku sedang dalam kesusahan, perusahaan Ayahku saat ini sudah hampir bangkrut. Maukah kamu menolong kami?" Aurel mengira Jovi tidak akan mau mendengar apapun tentang masalalu mereka, walau sebenarnya dia ingin sekali mengatakan yang sebenarnya pada Jovi alasan kepergiannya yang meninggalkan Jovi, namun lidahnya seakan kelu ingin mengatakan itu semua.


Jovi tersenyum sinis menatap Aurel dengan tatapan hina.


Jovi tidak menyangka, diawal pertemuan mereka kembali setelah lima tahun, Aurel datang padanya hanya ingin meminta bantuan, pandangan Jovi terhadap Aurel kini semakin buruk, tidak ada lagi hal baik yang dipikirkan Jovi mengenai diri Aurel.


Padahal sesungguhnya Jovi sangat mengharapkan penjelasan dari mulut Aurel sendiri, kenapa dia tiba tiba memutus hubungan secara sepihak tanpa membicarakan terlebih dahulu padanya. Jovi kecewa, benar benar kecewa pada Aurel yang sekarang.


"Ck ... Beri aku satu alasan, kenapa aku harus membantumu?" ujar Jovi sinis menatap Aurel yang sedari tadi hanya tertunduk.


"Aku tidak punya alasan, tetapi tidak bisakah kamu membantuku dengan melihat hubungan kita di masalalu?"


Ck. Tidak tahu malu, benar benar tidak tahu malu. Atas dasar apa dia berani menyuruhku membantunya dengan mempertimbangkan hubungan di masalalu? Jovi memaki maki Aurel dalam hatinya. Tidak ada lagi Aurel yang ia kenal dulu, Aurel yang didepannya sekarang hanyalah orang baru dimatanya.


"Kau pikir hanya dengan itu mampu membuat aku membantumu? Hubungan kita dulu telah lama hilang dari ingatanku, apa yang bisa kau tukarkan padaku sekarang?" Jovi mengantongi kedua tangannya berkata dengan sangat dingin pada Aurel.


"Apapun. Apapun yang kamu mau, aku bersedia memberikannya padamu," ucap Aurel tanpa ragu.


Mendengar perkataan Aurel, Jovi melepaskan tawanya yang begitu banyak mengandung kepahitan dalam hatinya.

__ADS_1


"Termasuk tidur dan memuaskanku?" tanya Jovi tiba tiba.


Aurel sedikit gemetaran mendengar ucapan Jovi, tetapi dia tetap rela memberikan kehormatannya pada orang yang dia cintai.


Aurel mengangguk pelan dan berkata "Iya." pada Jovi, dan itu sukses membuat Jovi kembali tertawa dengan hinanya menatap Aurel.


"Bagus. Sangat bagus, aku suka mendengar kata kata itu, yang keluar dari mulut jal*ngmu ini." Jovi mencengkram dagu Aurel dengan sangat kuat, membuat Aurel kesakitan.


Aurel benar benar merasa sakit, saat Jovi menyebutnya dengan kata j*lang.


Kemana Jovi yang dulu memperlakukan aku dengan lembut? yang selalu mamanjakan aku, dan selalu melindungi aku setiap hari. Kemana dia? Gumam Aurel didalam hati.


"S-Sakit Jovi," rintih Aurel kesakitan, Jovi melepaskan cengkramannya dengan sangat kasar, membuat Aurel terdorong mundur.


Aurel tak kuasa menahan air matanya saat diperlakukan kasar oleh Jovi, Jovi yang kini benar benar sangat kejam padanya.


"Kenapa kau menangis hng? Apa kau pikir aku akan merasa iba padamu?" ucap sinis Jovi.


"Apakah kamu begitu benci padaku?" ucap Aurel lirih, berusaha agar bisa berjalan dengan seimbang mendekati Jovi.


"Ya. Aku benci. Sangat membencimu," ucap Jovi dengan geram.


Aurel semakin sakit mendengar jawaban dari Jovi, dia berusaha mengusap air matanya yang tanpa henti mengalir dikedua belah pipinya.


"Jika kau ingin melihat perusahaan Ayahmu bangkit kembali, datang ketaman xx besok, aku akan menjemputmu disana, jangan sampai kau telat sedetikpun, atau kau akan melihat usaha ayahmu hancur tanpa sisa," ucap Jovi, dan berlalu pergi meninggalkan Aurel, tanpa menoleh sedikitpun.


Kaki Aurel tak mampu untuk berdiri lebih lama lagi, ia terduduk dilantai dengan tangis yang semakin pecah setelah kepergian Jovi.


ia tak mampu berkata apapun lagi. Sakit, hanya sakit yang dia rasakan saat ini, ia sendiri tak mampu untuk menolak kenyataan yang ada, mungkin memang itulah balasan yang harus dia terima setelah meninggalkan Jovi begitu saja.


Disisi lain. Lani, Adit, Roni dan Mawar sibuk mencari keberadaan Aurel.


Mereka berkumpul diparkiran, lelah mencari Aurel kemana mana namun tidak juga menemukannya.


Saat Jovi keluar dan menuju kemobil, Lani meneriakinya.


"Tuan Jovi. Apa kamu melihat Aurel?" seketika Adit panik saat mendengar Lani menanyakan tentang Aurel pada Jovi.


Jovi menatap dingin kearah Lani, membuat mereka semua menjadi tegang dengan tatapannya.


"Dia hilang apa ada hubungannya padaku? Apa kau pikir aku yang menculiknya?" ucap Jovi datar.


Lani tak berani lagi untuk menatap Jovi, ia tertunduk takut.


Jovi berlalu pergi setelah mengucapkan kata katanya.


Jovi tidak akan mau bergabung dengan mereka selama mereka memihak pada Aurel, dia masih belum bisa menghilangkan rasa kesalnya pada Aurel.


Sepanjang perjalanan, Jovi tidak bisa menghilangkan bayangan Aurel yang sedang menangis diatap hotel, tetapi rasa kesalnya tidak mampu dikalahkan oleh rasa khawatirnya, membuat Jovi tidak ingin memperlakukannya dengan baik.


Amarah Jovi belum juga padam hingga dia sampai ke vila tempat yang ia tinggali sekarang.


Jovi membanting pintu dengan sangat keras saat dia masuk kekamar.


"Sial .... " Jovi berteriak sembari memukul dinding kamarnya.


"Mengapa wanita itu benar benar bodoh? Bisa bisanya dia menyetujui persyaratanku. Apa urat malunya sudah terputus? Jika aku tidak bersedia membantunya, apakah dia akan meminta bantuan pada bos lain dan menyetujui persyaratan apapun yang diajukan untuknya? Termasuk memberikan tubuhnya? Sial." Jovi kembali memukuli dinding tanpa henti, semua pikiran buruk terlintas di otaknya.


Dia sebenarnya perduli pada Aurel, namun kepeduliannya masih terselimuti oleh dendamnya saat Aurel meninggalkannya tanpa memberikan dia alasan.

__ADS_1


__ADS_2