ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Roni Membentak Mawar


__ADS_3

Disisi lain Adit yang baru saja tersadar, mendapati Lani berada dipelukannya. Adit lantas membangunkannya.


"Lani bangun!" Adit menepuk pelan wajah Lani, dan Lani pun terbangun.


Saat Lani menyadari dirinya yang dipeluk oleh Adit dalam keadaan tanpa busana, ia segera melepas pelukan Adit dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Kenapa? Tidak perlu menutupinya dariku, karena kita sudah melakukannya kemarin malam," ucap Adit mengerutkan alisnya.


Wajah Lani tampak pucat karena begitu panik, Adit terlihat heran melihat raut wajah Lani.


"Kamu kenapa? Apa kamu sakit?" Adit mencoba mendekati Lani, namun Lani semakin menjauhi Adit, membuat Adit semakin bingung.


Adit terdiam sesaat menatap Lani yang sedari tadi tidak ingin berbicara.


Lani segera memakai pakaiannya dan berlari menuju kamar mandi tanpa mengatakan apapun pada Adit.


Adit menggaruk kepalanya tidak tahu harus berbuat apa, sikap Lani membuatnya bertanya tanya.


Ada apa dengan dia? Apa dia menyesali kejadian yang kemarin malam? Batin Adit.


Adit lantas beranjak dari kasur dan mengenakan pakaiannya kembali.


Saat selimut tersibak, terlihat noda putih yang menodai kasur berwarna coklat itu, Adit sama sekali tak melihat ada bercak darah disana.


Adit memicingkan matanya menatap noda itu, jika tidak ada noda darah, apa itu artinya Lani sudah tidak perawan lagi sebelum dia menggaulinya? Lalu siapa yang telah mendahuluinya? Kenapa Lani sama sekali tak ingin mengatakannya? Semua pertanyaan itu terlintas dipikiran Adit.


Adit lantas berdiri didepan pintu kamar mandi menunggu Lani keluar.


disaat Lani keluar, ia dibuat terkejut oleh sosok Adit yang telah berdiri tepat dihadapannya, wajahnya seketika berubah kembali menjadi pucat.


"Apa tidak ada yang ingin kamu bicarakan padaku?" tatap Adit dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Lani tampak gugup mendengar ucapan Adit, ia tidak berani untuk mengatakan yang sebenarnya. Baginya, itu hanyalah seberkas kenangan yang begitu menyakitkan.

__ADS_1


"Kamu. Apa kamu juga memiliki pertanyaan untukku?" Lani balik bertanya.


"Tidak ada," jawab adit dengan sangat dingin.


"Kalau begitu, aku juga tidak punya hal untuk dibicarakan," ucap Lani sembari berlalu melewati Adit.


Mendengar ucapan Adit yang sama sekali tidak ingin bertanya apapun, Lani mengira bahwa Adit sama sekali tak perduli tentang dirinya, dan ia pun menjadi enggan untuk mengatakan yang sebenarnya.


Adit lantas keluar dari kamar itu meninggalkan Lani seorang diri dengan membawa wajah muram.


Suara debaman pintu terdengar sangat keras saat Adit menutupnya, tampak Adit begitu kesal pada Lani yang tak ingin menjelaskan apapun tentang masalah keperawanannya.


Lani mencoba mengibas matanya agar air mata itu tidak jatuh dari kelopak matanya.


ia menatap kearah pintu dimana Adit menutupnya dengan sangat keras.


Adit berpapasan dengan Jovi dan Aurel saat ia hendak masuk keruangan Roni.


"Dit. Dimana Lani?" tanya Aurel.


Aurel lantas tidak ingin lagi bertanya pada Adit, mereka bertiga memasuki ruangan Roni, dan suasana sunyi menyelimuti ruangan itu saat melihat Mawar dan Roni sama sama berdiam tanpa menghiraukan satu sama lain.


"Ada apa dengan kalian? Kenapa tidak ada obrolan apapun?" Aurel dibuat bingung pada semua temannya yang dalam satu malam tiba tiba berubah sikap menjadi sangat pendiam.


"Tidak apa apa, hanya malas untuk berbicara," ketus Mawar, Aurel mengangkat alisnya tersenyum heran mendengar ucapan Mawar.


Aurel kembali menoleh kearah Roni yang kini sibuk dengan komputernya.


Tiba tiba Lani masuk keruangan itu hingga membuat Adit kembali memasang wajah masamnya.


"Apa kemarin malam terjadi pertempuran hebat disini?" ledek Jovi.


Seketika Mawar dan Roni menatap satu sama lain hingga membuat Jovi tertawa geli.

__ADS_1


"Tidak terjadi apa apa disini, kami tidur sangat pulas," jawab mawar dengan berbohong.


"Oh. Benakah?"


"Tentu saja," ketus Mawar lalu kembali menyibukkan diri dengan ponselnya.


"Lalu apa itu? Kenapa ada noda yang tampak tidak asing bagiku, dan itu sama persis pada saat aku dan Aurel melangsungkan malam pertama," ledek Jovi. Mawar seketika melotot dan menoleh kearah sofa yang ditunjuk oleh Jovi.


Astaga. Kenapa ada noda disana? Kenapa aku sama sekali tidak menyadarinya? Apa benar Roni dan aku melakukan hal itu kemarin malam? Pantas saja aku merasa ada yang aneh dibagian bawahku, dan juga terasa sedikit perih, tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Begitulah batin Mawar yang merasa sangat malu karena ketahuan oleh teman temannya.


Mawar segera menutupi noda itu dengan tas kecilnya.


"Untuk apa kamu menutupinya? Mereka juga sudah melihatnya," ucap Roni tanpa menoleh dan sibuk pada komputernya.


"Kamu ... Ini semua gara gara kamu," bentak Mawar yang menyalahkan Roni.


Roni seketika berhenti pada aktivitas pekerjaannya, dan menoleh kearah Mawar.


"Kenapa menyalahkan aku? Bukankah kamu sendiri yang datang menggodaku? Sebagai lelaki normal, aku tidak akan menolak wanita yang sudah susah payah untuk mendapatkan keperjakaanku," ucap Roni dengan wajah tanpa bersalah.


"Kamu ... Jangan coba coba untuk membalikkan fakta, jelas jelas kamulah yang mencari kesempatan padaku," bantah Mawar tidak terima, mereka yang mendengar perdebatan antara Mawar dan Roni, hanya bisa menggeleng pelan sembari tersenyum geli.


"Oh, ya? Apa kamu yakin jika aku yang bersalah? Apa kamu mau aku menunjukkan buktinya pada mereka?" licik Roni.


"Bukti apa? Kamu hanya bisa mengancamku saja," ucap sinis Mawar.


"Aku benar memiliki rekaman suaramu yang saat itu sedang menggodaku. Apa kamu juga ingin mendengarnya? Percayalah, ini terdengar sangat seru, dan jika mereka mendengarnya, mereka akan tahu bagaimana jika mereka yang menjadi aku, mereka juga tidak akan tahan dengan godaan yang seperti itu. Aku tidak menyangka jika kamu bisa semahir itu dalam menggoda pria," ucap Roni berbohong.


Roni mengeluarkan ponselnya seolah olah memang memiliki buktinya, Mawar lantas panik melihat kepercayaan diri Roni, ia segera melangkah dengan cepat menghampiri Roni dan menarik paksa ponsel itu dari tangan Roni.


Tanpa melakukan pengecekan pada ponsel itu, Mawar hanya langsung membantingnya ke dinding, membuat semua orang disana terkejut.


"Apa yang kamu lakukan pada ponselku? Apa kamu tidak tahu bahwa ponsel itu sangat penting? Disana ada nomor pejabat pejabat penting yang akan bekerja sama dalam usahaku, kamu melemparnya sama saja dengan membuatku bangkrut," Roni tanpa sadar membentak Mawar dengan suara yang lantang, membuat Mawar jadi takut.

__ADS_1


Usai dibentak oleh Roni, Mawar langsung berlari keluar tanpa bicara apapun, ia sendiri tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini, ada perasaan sedih dihatinya saat mendengar bentakan yang keluar dari mulut Roni.


Lani segera menyusul Mawar keluar, dan Aurel pun juga meminta izin pada Jovi untuk ikut mengejar Mawar.


__ADS_2