ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Cemas


__ADS_3

setelah selesai makan Jovi kembali melanjutkan perjalanannya.


Saat Jovi tiba dikontrakannya waktu sudah menunjukkan pukul dua belas, mobil sudah ia kembalikan, ia membersihkan diri lalu membaca buku yang diberikan oleh paman Ghani, didalamnya begitu banyak resep obat obatan yang legendaris dan terbukti sangat ampuh, segala jenis racun juga ada disana, tiba tiba mata Jovi menjadi cerah melihat isi buku itu.


Jovi membacanya satu persatu lalu mempraktekkannya, dia mencoba membuat obat untuk luka luar karena menurutnya itu akan sangat berguna nantinya, setelah obatnya selesai, dia mencoba mengoleskannya pada bekas luka dikakinya, karena didalam buku tertulis, selain menyembuhkan luka, obat itu juga bisa menghilangkan bekasnya.


beberapa menit kemudian, bekasnya hilang tanpa sisa, Jovi terbelalak tidak percaya.


"Benar benar obat yang ajaib, ini pertama kalinya aku melihat obat yang seampuh ini, sangat luar biasa," ujar Jovi takjub.


Jovi semakin semangat mempraktekkan resep obat dan racun yang ada dibuku itu, hingga dia tidak sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi, saat dia melihat jam dilayar ponselnya dia segera menyelesaikan pekerjaannya dan menyiapkan segala keperluan untuk dia bawa berkemah nanti, Jovi pun tidur untuk menambah tenaganya,


saat langit telah terang, Jovi masih saja terlelap, hingga ia tidak sadar bahwa dia hampir terlambat untuk berangkat.


Jovi bergegas bangun, Adit juga sudah pergi duluan karena dia mengira Jovi belum pulang, hingga Jovi terpaksa naik ojek karena motornya dibawa oleh Adit.


Dikampus semua mahasiswa baru telah berkumpul, dan siap untuk berangkat, namun dicegah oleh Aurel.


"Nanti dulu Kak, temanku masih belum datang, kasih waktu lima menit lagi ya!" mohon Aurel pada seniornya.


"Kita sudah hampir terlambat, perjalanan juga jauh, kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi," jawab senior.


"Sudahlah Kak senior, kita berangkat saja, pasti dia hanya ingin menunggu Jovi si anak miskin itu, waktu kita sudah tidak banyak," teriak Alex pada senior.


Aurel sangat kesal melihat Alex yang mencoba menghasut senior.


"Aku mohon Kak, sebentar saja, dia pasti akan segera sampai," Aurel terus saja memohon, rasanya dia tidak ingin pergi jika sampai Jovi tidak datang.


Tiba tiba Mawar juga datang menghampiri senior dan memohon untuk diberikan waktu, senior mereka pun tidak punya pilihan selain menyetujuinya.


"Baiklah, aku beri waktu lima menit, jika dalam waktu lima menit dia belum juga datang, kita akan berangkat," tegas senior.


"Terimakasih senior," ucap Mawar dan Aurel.


Aurel sedikit cemas, dia berjalan mondar mandir tidak karuan, saat dia melihat Adit dan Roni, Aurel segera menghampiri mereka.

__ADS_1


"Bagaimana? Apakah sudah ada kabar?" tanya Aurel pada Adit.


"Belum, dia tidak mengangkat panggilan dariku," jawab Adit.


"Tapi dia bilang akan ikut serta kan?" Aurel kembali bertanya, dan Adit hanya mengangguk cemas.


"Kemana sebenarnya dia pergi, kenapa tidak ada kabar sampai sekarang?" ujar Aurel khawatir.


Adit yang melihat kecemasan Aurel tiba tiba menarik Aurel untuk duduk.


"Aku ingin bertanya padamu, tapi kau harus jawab dengan jujur," ujar Adit dengan wajah yang tampak serius.


"Ada apa?" tanya Aurel penasaran.


"Kau menyukai Jovi kan?" Adit langsung mengatakan intinya.


Aurel seketika memalingkan wajahnya karena malu.


"A- Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti," jawab Aurel dengan tergagap.


"Sekarang aku ingin bertanya pada kalian, jika kita selalu memikirkan seseorang lalu jantung kita selalu berdegup kencang, apalagi saat bertemu dengan orangnya, apakah itu bisa disebut sebagai jatuh cinta?" tanya Aurel serius.


Adit dan Roni tertawa terbahak bahak membuat Aurel menjadi kebingungan.


"Kenapa kalian malah tertawa?" tanya Aurel kebingungan.


"Kami sudah tahu jawabannya, ternyata kau benar benar menyukai Jovi, wajar jika kau tidak memahami tentang perasaanmu, karena selama ini kau selalu sendiri dan tidak pernah jatuh cinta," ledek Adit.


Aurel tersipu malu dan sedikit kesal mendengar ucapan Adit.


"Tapi aku masih belum yakin," ujar Aurel ragu.


"Kenapa harus ragu? Begini. Apakah selama ini kau merasakan, selalu ingin dekat dengannya, selalu ingin melihat wajahnya, merasakan perasaan ingin memiliki, dan merasakan tidak senang jika ada wanita lain yang mendekatinya?" tanya Roni, dan Aurel mengangguk pelan.


Roni menjentikkan jarinya.

__ADS_1


"Ya. Kau memang sudah jatuh cinta pada Jovi," ujar Roni yang terlihat senang.


"Kalau begitu kau harus bergerak cepat, sebelum kau didahului orang lain," kata Adit dengan antusias.


"Kau ini bicara apa? jika aku mengatakan apa yang ku rasakan, apa kau pikir dia akan menerimaku begitu saja? Pikir dengan otakmu!" Aurel berkata sambil menjentik jidat Adit.


"Kau tenang saja, kami berdua akan membantumu, kau hanya tinggal mengikuti langkah dari kami saja," kata Adit sambil mengelus kepala Aurel.


"Berhenti mengelus kepalaku, aku bukan anak anak," Aurel segera menepis tangan Adit.


"Galak sekali," goda Adit.


"Sekarang aku tanya pada kalian, apa yang membuat kalian begitu percaya diri mengenai Jovi," tanya Aurel.


Adit dan Roni saling menatap lalu mereka berdua tersenyum penuh maksud, Aurel merasa curiga pada mereka berdua.


Waktu telah berjalan lima menit, senior mereka tidak bisa menunggu lagi


"Ayo semuanya masuk kedalam bus, kita akan segera berangkat," teriak senior, semua mahasiswa satu persatu memasuki bus, kini hanya tinggal mereka berempat, termasuk Mawar yang sangat enggan untuk pergi tanpa kehadiran Jovi.


"Bagaimana ini? Jovi sampai sekarang belum datang juga, apa dia benar benar tidak akan ikut serta?" tanya Aurel dengan nada kecewa.


"Tidak apa apa jika dia tidak ada, masih ada kami," ujar Adit mencoba menenangkan Aurel.


"Ayo kita naik, kalau tidak nanti kita bakal diomeli lagi," ajak Roni.


Aurel dengan malasnya berjalan mengikuti Adit dan Roni, dia sengaja melambatkan langkahnya sambil melirik kearah kiri dan kanan, berharap Jovi akan datang, berbeda dengan Mawar, dia hanya tegak mematung dengan wajah cemas.


"Mawar. Ayo, bus sudah mau berangkat," teriak Aurel.


Mawar menoleh kearah Aurel, dia pun tersenyum kaku, pikirannya masih saja dipenuhi oleh Jovi, Mawar mau tak mau mengikuti Aurel, berjalan kearah bus.


Belum sempat mereka masuk, tiba tiba Jovi datang, Jovi bergegas turun dari motor setelah memberi uang pada tukang ojek.


Jovi menghampiri temannya dengan sedikit berlari, angin yang meniup rambutnya, semakin membangunkan aura ketampanannya, hingga jantung Aurel dan Mawar terasa ingin meledak melihat ketampanan Jovi, Jovi seakan menjadi sang idola yang sangat menyilaukan dibawah terik matahari pagi dimata Aurel dan Mawar.

__ADS_1


Aurel dan Mawar tidak menyadari kalau mereka sedang tersenyum selebar mungkin seakan sedang mendapat harta karun. Bagaimana tidak, pria yang sedari tadi mereka tunggu akhirnya berada didepan mata mereka, segala gundah yang bersarang dipikiran mereka, kini terasa lepas melihat kedatangan Jovi.


__ADS_2