
Kini tiba waktunya rapat pertemuan antara pemegang saham dan Jovi.
Jovi berjalan dengan tegap memasuki ruangan, saat Jovi masuk, keheningan tiba tiba menyelimuti seluruh ruangan, hanya terdengar suara langkah kaki Jovi yang mengintimidasi.
Jovi duduk dikursi ketua dengan gaya angkuhnya mengitari pandangan keseluruh orang yang ada disana.
Tidak ada yang berani menatapnya, aura Jovi yang mengerikan membuat mereka menekuk leher tak berani mendongak.
"Apa kalian semua bisu? Aku datang tidak ada kata sapaan. Apa kalian menganggap remeh aku?" mata Jovi tersulut kejam menatap para pemegang saham.
Mereka dibuat gemetar oleh suara berat Jovi, sangat terdengar jelas bahwa dia orang yang tidak boleh dilawan.
"Selamat siang Presdir," sapa mereka serentak dengan suara sedikit gemetar.
Jovi hanya diam saja, hanya matanya yang menatap tajam pada mereka semua, bagaikan seekor elang yang hendak memangsa, tidak ada yang berani bertatap muka dengannya.
Dia masih sangat muda, tetapi dia mampu membuat orang orang disekitarnya tak berani berkutik.
"Kalian pasti sudah tau siapa aku, aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi, hanya membuang waktu saja," begitulah sikap Jovi yang sekarang, tidak akan bersikap lemah lembut pada orang.
"Aku hanya ingin melihat laporan keuangan selama sebulan penuh ini, dan berikan aku dokumen keuangan bulan lalu!" ucap Jovi dingin.
Salah satu dari mereka memberikan berkas berkas yang diminta oleh Jovi.
Jovi membukanya, semua orang terlihat gugup, Jovi melirik sekilas kearah mereka, membuat mereka tertunduk kembali.
Jovi meneruskan melihat daftar keuangan perusahaan, namun setiap kali dia membalikkan kertas, keningnya semakin berkerut pula.
"Apa ini? Kenapa keuangan bulan ini menurun?"Jovi melempar berkas ke meja dengan kasarnya.
"Iya, kami juga tidak tahu presdir, akhir akhir ini sepertinya ada yang menggelapkan dana perusahaan, tetapi kami belum menemukan dalang dibalik semua ini," ujar salah satu dari mereka.
"Rupanya masih ada yang mau main main dengan perusahaan ini." Jovi menyeringai kesal.
"Baiklah, aku akan menyelidiki semua ini, tapi aku minta pada kalian, perketat sistem keamanan, jangan sampai mereka bisa seenaknya," ujar Jovi dengan tegas.
"Baik Presdir," ucap mereka serentak.
Jovi pun berdiri dan meninggalkan ruangan bersama Jimmy, setelah kepergian Jovi, akhirnya mereka bisa bernafas lega, tekanan yang diberikan Jovi benar benar membuat mereka mati kutu.
"Jim. Berikan aku data pengeluaran perusahaan, aku ingin lihat seberapa banyak yang sudah dicuri oleh anj*ng jalanan itu," ujar Jovi saat berada diruangannya.
__ADS_1
"Baik Tuan," Jimmy mengambil berkas berkas yang diminta oleh Jovi.
"Ini Tuan." Jimmy memberikannya kepada Jovi.
Jovi memperhatikannya dengan seksama, ternyata benar, ada yang mencoba menggelapkan uang perusahaan.
"Ada yang tidak beres dengan Pak Andika ini, dia mengeluarkan uang perusahaan dengan jumlah yang begitu banyak, namun tidak ada alasan yang masuk akal dengan pengambilan uangnya, sudah jelas dia yang mencoba untuk korupsi. Jim, telepon Pak Andika sekarang," perintah Jovi dengan sedikit kesal.
Jimmy menelepon Pak Andika, tidak lama kemudian Pak Andika pun datang
"Selamat siang Presdir," sapa Pak Andika dengan hormat.
"Aku ingin bertanya padamu, dua minggu yang lalu, kau mengeluarkan uang perusahaan sebanyak dua miliar, apa gunanya, dan dengan siapa kau bersekongkol hingga tidak ada yang menyadarinya?" ucap Jovi langsung pada intinya, seketika wajah Pak Andika menjadi pucat pasi, dia tidak menyangka Presdir barunya mampu membuka kedoknya dengan begitu cepat, padahal dia sudah memastikan semuanya aman terkendali, lalu bagaimana bisa itu ketahuan.
"Jawab aku!" teriak Jovi sambil memukul meja dengan keras hingga membuat Pak Andika terkejut setengah mati.
Tubuhnya kini berkeringat dingin, lidahnya tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, kakinya seakan tidak bisa berdiri dengan seimbang.
"Jim, pukul dia sampai dia mau mengaku!" perintah Jovi.
"Baik Presdir." Jimmy pun memukul Pak Andika dengan begitu ganas, tetapi Pak Andika tetap tak mau bicara.
"Jangan berhenti sampai dia mau mengatakan yang sebenarnya!" Jovi benar benar menikmati pertunjukkan itu.
"Oke stop," Jovi mengangkat tangannya pertanda memerintahkan Jimmy untuk berhenti.
"Katakan!" ucap Jovi dengan dingin sambil melangkah kehadapan Andika.
"Mm ... Itu- Aku- Aku bekerja sama dengan Boby, uangnya kami bagi dua, dan-" belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, Jovi sudah melayangkan pukulan keperut Andika, hingga Andika memuntahkan darah, pukulannya benar benar membuat Andika meraung kesakitan.
"Telepon Boby sekarang juga," ucap Jovi pada Andika.
Andika sekuat tenaga merogoh ponselnya dan menelpon Boby dengan tangan yang gemetaran.
Beberapa menit kemudian Boby datang, dan seketika matanya terbelalak ketakutan melihat nasib Andika yang sangat menyedihkan.
"Ini dia, komplotan anj*ng tak berguna, berani melawan aku maka terima saja akibatnya," ujar Jovi tersenyum sinis.
"Jim. Kau tau apa yang harus kau lakukan?" Jovi menyeringai.
"Sudah pasti tuan," ucap Jimmy tersenyum sambil memainkan tangannya.
__ADS_1
Jimmy berjalan mendekati Boby, membuat Boby mundur beberapa langkah karena ketakutan.
"Tuan Presdir, ada apa ini? Kenapa Tuan menyuruh Tuan Jimmy untuk memukul. saya?" Boby masih ingin berpura pura tidak tahu apa apa. Jovi mencebikkan bibirnya menyeringai.
"Kau sendiri tahu alasannya, tidak perlu bertanya apapun lagi. Tunggu apa lagi, Jimmy, habisi dia!" ucap Jovi dengan marah.
Jimmy dengan cepat menghajar Boby habis habisan. Disaat Jimmy sibuk memberi pelajaran pada Boby, telepon Jovi berdering, nomor yang tak dikenal nampak dilayar ponselnya.
"Siapa?" Jovi mengangkat telepon dengan nada acuh.
"Jovi. Kau ini benar benar pintar bersandiwara. Apa maksudnya ini? Berapa tahun kau membohongi aku? Ternyata kau memang benar keturunan keluarga Adiguna, kenapa kau tidak sekalian saja menjadi aktor dengan akting payahmu itu?" terdengar suara Adit yang memarahi Jovi dari seberang telepon.
Jovi tersenyum sinis, dari dulu hingga sekarang Adit benar benar tidak berubah, terlalu blak blakkan, meskipun dia sekarang tahu bahwa Jovi adalah orang yang disegani diseluruh penjuru, tetapi dia masih berani memarahi Jovi.
"Ayo bertemu!" jawab Jovi tiba tiba.
"Itulah yang ku mau," ujar Adit kesal.
Adit menutup teleponnya dengan segera.
"Jim, kau urus mereka berdua, aku ada urusan diluar, jika kau kelelahan menghajar mereka, tinggal serahkan mereka kepolisi, dan jangan lupa, sita semua yang sudah mereka ambil dari perusahaan, jangan terlewat sedikitpun," ucap Jovi.
"Apa perlu aku temani Tuan?" tanya Jimmy.
"Tidak perlu, mereka masih membutuhkanmu," Jovi menatap Andika dan Boby dengan sinis, lalu melangkah pergi.
Jovi melajukan mobil mewahnya sendiri, disaat dia sampai dimana tempat mereka akan bertemu, semua mata tertuju pada mobilnya yang begitu mewah, harganya saja sudah ratusan miliar, bagaimana mereka bisa acuh saat melihatnya.
Jovi keluar dengan sangat elegan, berkharisma, gantle, terlihat dirinya yang tampan, tubuh yang tinggi, membuat dia semakin bersinar dimata para wanita yang melihatnya turun dari mobil.
Jovi berjalan dengan angkuhnya memasuki sebuah restaurant, disana Adit sudah menunggunya.
Adit yang melihat Jovi datang seakan tidak mengenalinya lagi, Jovi yang dulu dan yang sekarang sungguh sangat berbeda jauh, langkah kakinya saja sudah mengundang ketertarikan, dia semakin tampan, namun dibalik ketampanannya, terselip sikap yang begitu dingin dari dirinya.
Jovi berdiri tegak dihadapan Adit, namun Adit masih saja ternganga karena tak percaya bahwa yang didepannya sekarang itu adalah Jovi.
Aura Jovi yang sekarang, sangat terlihat seperti seorang pebisnis yang handal.
"Apa kau akan terus menatapku seperti itu?" ujar Jovi dingin menatap Adit.
Adit seketika tersadar, ia menggelengkan kepala beberapa kali mencoba menguasai dirinya kembali.
__ADS_1
Jovi duduk dihadapan Adit, Adit merasa dirinya yang sekarang jika dibandingkan dengan Jovi, benar benar sangatlah jauh, bagaikan bumi dan langit.