ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Buku nikah


__ADS_3

Keesokan harinya Aurel pergi ketaman yang disebutkan Jovi, dia sendiri tidak tahu alasan Jovi ingin menjemputnya karena apa? Atau dia benar benar akan meniduri Aurel? Meski begitu, Aurel sama sekali tidak keberatan, hidupnya kini sudah tidak terkendali lagi, tidur dengan Jovi atau tidak, itu tidak akan merubah segalanya.


Aurel pasrah dengan nasibnya kedepan, namun dia tidak bisa menjamin, apakah dia mampu melewatinya dengan senyum palsu ataukah akan terus menangis dikemudian hari.


Lima menit Aurel menunggu, tiba tiba asisten Jimmy datang menghampirinya.


"Nona. Tuan sudah menunggu anda dimobil, mari ikuti saya!" ucap Jimmy dengan sopan. Aurel mengangguk pelan dan mengikuti Jimmy dari belakang.


Jimmy membukakan pintu mobil untuk Aurel, dan terlihat Jovi yang sedang memperhatikan sebuah dokumen ditangannya.


Jovi sama sekali tidak menoleh kearah Aurel, membuat Aurel canggung dan bingung mau menyapanya atau tidak.


"Hai .... " Aurel memberanikan diri untuk menyapa Jovi.


Jovi menoleh menatap Aurel dengan wajah datar tanpa ekspresi, lalu kembali memalingkan wajahnya menatap dikumen ditangannya.


Astaga. Apa aku tidak ada kata sapaan lain? Canggung sekali rasanya. Aurel menunduk memejamkan matanya merasa malu dengan apa yang dia ucapkan, terlebih Jovi sama sekali tak menghiraukannya.


Setelah beberapa menit diperjalanan, mereka tiba dikantor catatan sipil.


Apa ini? Tidak mungkin kan Jovi mau mengajak aku menikah? Aurel terkejut, jantungnya semakin berdegup kencang.


"Jovi. Kenapa kita kesini?" tanya Aurel gemetar.


"Bukannya kau menyetujui persyaratan apapun dariku, agar aku bersedia menolong perusahaan ayahmu? Dan inilah syaratnya, kau harus menikah denganku!" jawab Jovi tanpa menoleh.


Hanya dengan begini aku bisa mengikatmu dan melakukan apapun yang aku mau. Batin Jovi.


"T-Tapi. B-Bukannya kamu membenciku? Lantas kenapa mau aku menikah denganmu?" tanya Aurel tergagap.


"Jangan berpikir seakan aku menikahimu karena cinta, benci itu tetap ada, dan dengan menikahimu aku bisa melakukan apapun terhadapmu," ujar Jovi sinis.


Bagai disambar petir disiang bolong mendengar pernyataan dari Jovi, kini Aurel mengerti, dengan menikah padanya, dia bisa bebas melakukan apapun padanya, ternyata ini hanya awal dari balas dendam Jovi.


Aurel sekuat tenaga menahan air matanya, ia tak ingin terlihat lemah didepan Jovi, Aurel tak lagi bertanya apapun, Jovi pun sudah keluar dari mobil tanpa menghiraukan Aurel sama sekali


Jimmy kembali membukakan pintu untuk Aurel, Aurel dengan berat hati keluar dari mobil.


"Manja sekali," cetus Jovi mengerutkan keningnya, lalu melangkah pergi.


Aurel hanya diam ditempat, ragu apakah dia akan pergi atau tidak.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kau benar benar ingin melihat keluargamu bangkrut?" ucap Jovi datar saat melihat Aurel berdiam diri.


Aurel mengangkat kepala melihat Jovi, dan sekali lagi memberanikan diri untuk mengambil langkah yang dia sendiri tidak tahu apakah itu benar atau salah.


Dia hanya bisa mempersiapkan diri jika sewaktu waktu Jovi akan menyakitinya.


Aurel melangkah mengikuti Jovi dari belakang dengan diawasi oleh Jimmy, dia seakan akan sudah seperti tawanan yang harus dijaga dengan ketat.


Tidak menunggu waktu lama, dengan mengandalkan kekuasaan Jovi, mereka dengan cepat mendapatkan buku nikah mereka, kini mereka berdua sah menjadi suami istri dimata hukum.


"Buku nikah aku yang akan menyimpannya, kau hanya perlu menjadi istri yang penurut, jangan coba coba untuk membantah apapun yang aku katakan, atau kau sendiri akan tahu akibatnya, dan satu lagi, kau tidak boleh mencampuri urusan pribadiku, jangan berani melarangku untuk melakukan apapun yang aku mau, kau tidak diizinkan untuk berkomentar tentang kehidupanku diluar. Apa kau mengerti?" ucap Jovi yang masih menatap lurus kedepan.


Aurel diam saja, dia tidak berani membayangkan kehidupan seperti apa yang harus dijalaninya bersama Jovi, sedangkan dia tidak diizinkan untuk berkomentar sedikitpun, dia hanya perlu menurut apapun yang dikatakan oleh Jovi, hanya satu yang dipikiran Aurel, rumah tangganya bersama Jovi, mungkin tidak akan berjalan dengan tenang dan bahagia, mungkin sewaktu waktu dia akan terjatuh dalam neraka yang tak memiliki batas kedalaman.


"Aku tanya, apakah kau mengerti atau tidak?" bentak Jovi, saat melihat Aurel yang tanpa respon apa apa dengan semua peraturan yang dia katakan.


"I-Iya. Aku mengerti," jawab Aurel tergagap.


"Bagus. Dan satu lagi, kau tidak diperbolehkan berhubungan dengan lelaki manapun selain aku, jangan membuat malu diriku didepan orang orang, aku tidak ingin jika muncul skandalmu dengan lelaki lain, akan mempengaruhi reputasiku kedepannya." Jovi dengan santainya mengatakan semua itu pada Aurel.


Apa dia menganggapku seperti boneka yang hanya bisa dia atur sendiri, dan apakah dia hanya perduli pada reputasinya dibanding dengan perasaanku ini? Apa dia tidak ingin bertanya tentang kenyamananku dengan semua peraturannya ini? Apakah aku benar benar hilang dari hatinya sampai dia begitu tega padaku? Semua pertanyaan itu terlintas dipikiran Aurel, namun percuma dia membantah, Jovi tidak akan mau mendengarkannya.


Mobil terus melaju hingga tiba di rumah Aurel.


Aurel hanya mengangguk pelan, tidak ada lagi kata kata yang bisa dia ucapkan, semuanya di atur oleh Jovi, akan percuma jika dia membantah.


Setelah Aurel turun, Jovi dengan segera memerintahkan Jimmy untuk meninggalkan tempat itu.


Aurel menatap mobil Jovi yang pergi begitu saja tanpa pamit padanya.


Aurel dengan berat melangkah masuk kerumahnya, dan alangkah terkejutnya Aurel saat dia masuk, Fina sudah menampakkan diri diambang pintu.


"Hayo ... Siapa itu tadi yang mengantar Kakak?" goda Fina.


"Apa? Itu suamiku," jawab Aurel dengan memaksakan untuk tersenyum, walau itu terlihat kaku.


"Suami apanya? Pacar saja tidak punya," sindir Fina.


"Jika sudah punya suami, kenapa harus punya pacar?" Aurel mengangkat bahunya berusaha untuk bersikap santai.


"Yang benar?" goda Fina.

__ADS_1


"Sudahlah aku lelah, mau istirahat dulu. Bye." Aurel melangkah pergi sembari melambai dengan membelakangi Fina.


"Aku bilangin Mama sama Papa ya," teriak Fina.


"Bilang sana," ujar Aurel tak perduli.


Fina mencebikkan bibirnya kesal karena diabaikan oleh Aurel.


Dimalam hari, saat mereka tengah makan malam, Aurel memberanikan diri untuk mengatakan tentang dia dan Jovi pada keluarganya.


"Pah. Aku sudah meminta bantuan pada Jovi untuk masalah perusahaan," ujar Aurel pelan dengan sedikit gemetar.


Semuanya berhenti mengunyah saat mendengar perkataan Aurel.


"Kak. Kamu serius telah bertemu dengan Kak Jovi?" tanya Fina tak percaya, Aurel mengangguk pelan.


"Apa reaksi pertamanya saat dia melihatmu?" tanya ibunya.


"Dia masih sangat baik padaku," ucap Aurel berbohong.


"Serius?" tanya Fina lagi.


"Iya. Bahkan dia mengajakku menikah tadi pagi, aku telah menerima lamarannya, dan mengambil buku nikah bersamanya," ucap Aurel berusaha tersenyum seolah dia sedang bahagia.


"Benarkah? Bagus kalau begitu," ucap ibunya senang.


"Iya. Besok aku akan pindah bersamanya, bolehkan?" Aurel berharap mereka setuju dan percaya dengan omongannya.


"Tentu boleh, sebagai istri, kamu memang harus ikut bersama suamimu," Bu Dina menggenggam tangan Aurel merasa bahagia.


"Jadi Jovi mau membantu perusahaan Papa?" tanya ayahnya.


"Iya Pah. Dia akan membantu, jadi Papa tidak perlu khawatir soal perusahaan, menantumu akan turun tangan langsung," ucap Aurel tersenyum.


"Baiklah, tapi kenapa Jovi tidak kesini?" tanya ayahnya.


"Dia sangat sibuk Pah, jadi tidak sempat, tadi dia hanya mengantarku saja," jawab Aurel datar.


"Oh. Jadi mobil mewah yang mengantar Kakak tadi adalah Kak Jovi?" tanya Fina, Aurel mengangguk pelan.


mereka semua tidak ada yang menyadari kebohongan Aurel, Aurel sukses berakting didepan mereka semua.

__ADS_1


Aurel tidak ingin mereka ikut terbebani dengan masalahnya dengan Jovi, dia lebih memilih untuk menanggungnya sendirian, tanpa melibatkan orang lain.


__ADS_2