ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Mabuk mabukan


__ADS_3

Adit dan Lani sibuk mencari petunjuk tentang keberadaan Jovi, namun tetap saja tidak menemukannya.


"Kita buat pengumuman saja, siapa tahu ada orang yang pernah melihatnya," ujar Lani.


"Iya, ide yang bagus," ucap Adit.


"Sambil menunggu, lebih baik kita juga pergi mencarinya, siapa tahu tidak sengaja bertemu dijalan," ucap Lani, dan diangguki oleh Adit.


***


Begitu lama Adit dan Lani berkeliling menyusuri jalan, namun Jovi tak juga ditemukan.


"Sudah tengah malam begini, kita akan mencarinya dimana lagi?" tanya Lani yang sudah sangat mengantuk.


"Lebih baik aku antar kamu pulang dulu saja, biar aku yang mencarinya sendiri," ujar Adit kasihan melihat Lani yang sudah sangat mengantuk.


"Apakah kamu tidak apa apa mencarinya sendiri?" tanya Lani.


"Tidak apa apa. Ya sudah, aku antar kamu pulang dulu," Adit memutar balik mobilnya kembali kehotel dimana Lani tinggal.


Setelah mengantar Lani pulang, Adit melanjutkan mencari Jovi.


Tidak berapa lama, ponselnya berdering, ada nomor tak dikenal yang mengirim foto Jovi lengkap beserta alamat dimana Jovi berada sekarang.


"Bar?" Adit sedikit heran, Jovi tidak pernah datang kesana, lalu kenapa dia kesana? Dan fotonya terlihat bahwa dia sangat mabuk." Adit mengerutkan keningnya tak percaya.


Adit segera melajukan mobilnya menuju alamat yang dikirim padanya.


Tiba disana, Adit mencari Jovi, entah dia duduk dimana? Sangat sulit menemukannya.


Tidak lama kemudian akhirnya Adit menemukan Jovi, tengah duduk di meja paling pojok, dimeja terdapat begitu banyak botol bir, entah sudah berapa lama dia minum disana.


Adit segera menghampiri Jovi yang sedang mabuk, saat Adit mendekat, bau alkohol begitu menyengat tercium dari badan Jovi.


"Apa yang kau lakukan disini? Apa kamu masih waras? Minum sebanyak ini apa kau tidak takut akan mati ditempat?" teriak Adit ditelinga Jovi, karena disana sangat berisik.


"Siapa kau? Jangan menggangguku!" Jovi yang tidak sadar karena pengaruh alkohol mendorong Adit agar menjauh darinya.


Apa yang membuat anak ini sampai mau meminum alkohol, sebelumnya tidak pernah menyentuh botol bir, dan sekarang malah meminumnya bahkan sampai sebanyak ini. Batin Adit yang sangat heran melihat Jovi.

__ADS_1


"Hey, sadarlah, ini aku Adit," ujar Adit sambil menepuk pipi Jovi agar dia sadar.


"Adit? Siapa Adit? Aku tidak kenal orang yang bernama Adit, menyingkirlah," Jovi kembali meraih botol bir lalu meneguknya tanpa henti.


"Hentikan. Apa kau masih waras hah?" bentak Adit sembari merebut botol bir dari tangan Jovi.


Jovi menatap dingin kearah Adit, membuat Adit sedikit menyesal telah membentaknya, dia takut jika Jovi akan mengamuk ditempat itu.


Jovi menunjukkan senyum yang mengerikan, membuat nyali Adit jadi menciut, Adit tak mampu berkata apapun lagi.


"Jovi .... " panggil Adit pelan.


"Hmm," jawab Jovi ketus saat tersadar beberapa saat.


"Kamu kenapa seperti ini? Apa yang terjadi? Katakan padaku," ujar Adit sembari duduk dihadapan Jovi.


Jovi menatap lekat kearah Adit, namun Adit memberanikan diri untuk menatap balik kearah Jovi.


Lagi lagi Jovi tersenyum sinis, entah apa yang ada dipikirannya, dia hanya meraih kembali botol bir yang ada dihadapannya, tanpa henti meneguknya hingga habis, Adit menelan ludah tak percaya melihat Jovi seganas ini meminum bir, Jovi bersendawa, tercium aroma alkohol yang begitu menyengat dari dirinya.


Tidak bisa, aku tidak bisa membiarkan dia seperti ini, aku harus membawa dia pulang apapun caranya. Batin Adit sembari berdiri untuk membawa Jovi pulang.


Setelah sekuat tenaga menarik Jovi akhirnya Adit mampu membuat Jovi berdiri.


"Kamu ini berat sekali," ujar Adit


Jovi berdiri dengan sempoyongan, akhirnya Adit memapahnya keluar dari bar.


Adit membawanya dengan susah payah baru bisa sampai ke mobilnya.


"Hah ... Kenapa lelaki ini berat sekali, aku seakan membawa barang berton ton beratnya," ujar Adit yang bersandar diluar kaca mobil karena kelelahan memapah Jovi.


Adit masuk dan melajukan mobilnya pulang ke Apartemen Jovi.


"Astaga ... Apa aku harus memapahnya lagi untuk masuk kesana? Ya Tuhan, ampuni aku, apa aku memiliki dosa dimasa lampau? Kenapa aku memiliki teman seperti dia ini? Merepotkan sekali," ujar Adit yang merasa tidak sanggup lagi untuk membawa Jovi.


Adit tersenyum kecut memandangi Jovi yang sedari tadi selalu berbicara tak karuan sepanjang perjalanan.


"Kau tidak perlu memapahku, aku bisa sendiri, kau pergilah duluan," ujar Jovi yang masih dalam pengaruh alkohol.

__ADS_1


"Ini kamu yang mengatakannya ya, jangan salahkan aku nantinya," ujar Adit dan berlalu pergi meninggalkan Jovi.


Entah sudah berapa lama Adit menunggu di Apartemen Jovi, namun Jovi tak kunjung sampai.


"Kemana anak itu, astaga ... jangan bilang kalau dia tersesat masuk ke apartemen orang, matilah aku, salahku kenapa tidak memantau nya tadi." Adit menepuk jidatnya tak habis pikir


Adit segera keluar dari Apartemen.


"Dasar anak muda tidak tahu malu, berani beraninya masuk ke tempat orang sembarangan," teriak tante tante pemilik Apartemen yang salah dimasuki oleh Jovi.


Bagaimana dia tidak marah, saat Jovi masuk, dia sedang asyiknya bercinta dengan pacarnya, tiba tiba Jovi masuk merusak suasana indah mereka, lenyap sudah surga dunia yang hampir mereka capai karena kedatangan Jovi.


Adit yang melihat Jovi dimarahi oleh tante tante, dia segera berlari menghampiri mereka.


"Maaf. Ini ada apa ya?" tanya Adit.


"Kamu siapa? Jangan ikut campur!" bentaknya.


"Saya temannya, dia kenapa ya? Kenapa Tante memarahi dia?" Adit semakin bingung.


"Oh, ternyata kamu temannya, gimana sih kamu yang jadi temannya, kenapa membiarkan dia yang tidak waras berkeliaran ditempat ini? Hasilnya dia malah memasuki tempat orang," Tante itu berbalik memarahi Adit, Adit tidak tahu dia harus bagaimana? Dia juga merasa lucu, ternyata ada juga hari, dimana Jovi disebut tidak waras oleh orang lain, hatinya ingin sekali tertawa, namun mengingat suasana tegang ini dia akhirnya tetap bersikap biasa saja.


"Maafkan teman saya Tante, dia tidak sengaja, lagian Tante kenapa tidak mengunci pintunya?" ujar Adit, Tante itu terdiam tak menjawab pertanyaan Adit.


Memangnya apa yang harus dia jawab? Apakah dia harus menjawab bahwa dia lupa karena sedang asyik bercinta? Tidak mungkin kan.


"Sudahlah, bawa teman gilamu ini untuk pergi dari sini, jangan sampai mengganggu ketenangan orang." dia memutuskan untuk tidak melanjutkannya lagi, karena menurutnya akan sangat merepotkan nantinya.


Setelah Tante itu masuk, Adit tertawa terpingkal pingkal merasa lucu dengan kejadian itu, dia tahu jelas apa yang dilakukan oleh tante tadi, itu terlihat jelas dari pakaian yang berserakan didalam apartemennya, lelaki yang duduk disofa memakai selimut tebal menutupi dirinya yang tidak memakai sehelai benang pun dibadannya, karena pintu memang terbuka lebar saat Adit ada disana, ditambah tante itu keluar hanya dengan memakai baju yang begitu seksi.


Tebakannya hanya satu, yaitu mereka sedang Anu anu didalam sana.


Disaat Adit berhenti tertawa, dia mendapati Jovi sudah tidak ada didekatnya, Adit menoleh kebelakang, ternyata Jovi berjalan sendiri dengan langkah sempoyongan menuju ke Apartemennya.


Adit berlari menyusul Jovi, dia takut Jovi akan salah lagi memasuki apartemen orang, seperti kejadian yang barusan.


Adit kembali memapah Jovi yang sedang mabuk, tiba di tempat Jovi, Adit segera membawa Jovi kekamarnya, dan menghempaskan tubuh Jovi kekasur.


"Hah ... Akhirnya aku bisa istirahat juga, benar benar merepotkan, lihat saja besok, bagaimana aku memberimu pelajaran," Adit meregangkan pinggangnya lalu berbaring disofa yang ada dikamar Jovi.

__ADS_1


__ADS_2