ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Keguguran


__ADS_3

"Deny. Aku harus pulang! Adit dalam bahaya, aku tidak bisa tinggal diam di sini tanpa tahu keadaan mereka di sana." Aurel berbicara dengan panik saat Deny baru masuk kerumah.


"Tidak. Kau tidak boleh pulang! Bagaimana kamu bisa melupakan Jovi jika hal kecil seperti ini saja kau langsung ingin pulang." Deny dengan acuh mengabaikan permintaan Aurel.


"Ini bukan hal kecil. Adit dibawa oleh geng mafia, keadaannya sekarang belum diketahui, bagaimana mungkin kau menganggap ini cuma hal kecil?" Aurel mulai kesal dengan sikap Deny.


Aurel sempat menelepon Mawar menanyakan tentang Adit, setelah Mawar mengatakan yang sebenarnya, Aurel semakin panik, lebih tepatnya ia takut dengan keadaan Jovi yang saat ini ikut menyerang, bagaimana jika Jovi ikut terluka dalam aksinya itu?


"Jika kamu pulang, apa yang ingin kau lakukan? Kamu juga tidak bisa membantunya, tidak ada yang bisa kau lakukan di sana. Jadi singkirkan niatmu untuk pulang ke sana!" Deny menyalakan sebatang rokok, dan duduk dengan santai di sofa.


Aurel tampak curiga melihat sikap Deny, Deny seperti memiliki maksud yang tidak baik padanya.


Terserah jika kau tidak ingin membawaku pulang, aku juga akan pulang sendiri tanpa bantuanmu!" Aurel berjalan kesal menuju pintu depan, belum sempat ia keluar selangkahpun, Deny telah memukul bagian tertentu pada lehernya membuat Aurel pingsan begitu saja.


Dooorr


Satu tembakan dari lawan tepat mengenai bahu Jovi.


"Tuan muda." Jimmy berteriak keras memanggil Jovi saat tembakan mengenai majikannya itu.


Roni bahkan tak kalah terkejut menyaksikan itu.


"Jovi. Apa kamu baik-baik saja?" teriak Roni.


Jovi yang saat ini sedang memegangi bahunya, segera memberi kode tangan bahwa dia masih bisa bertahan.


Tangan yang kini dilumuri oleh darah, masih berusaha menarik pelatuk dan menumbangkan beberapa orang, darah segar terus mengalir di bahu kanannya.


Jimmy tampak tidak fokus mengkhawatirkan tuan mudanya, tapi ia juga salut melihat Jovi yang memiliki kemampuan dan tenaga yang melebihi orang biasa.


Tembakan itu saja tidak mampu menumbangkannya, bahkan ia masih kuat menyerang meski darah terus-terusan mengalir dengan derasnya.


Markas naga merah kini berubah jadi lautan darah, begitu banyak orang yang telah ditumbangkan oleh Jovi dan Jimmy. Terlebih saat Jovi menampakkan diri pada lawan, dia membunuh orang seperti sedang membunuh semut, sangat mudah, betapa mengerikannya dia.


Namun dibalik itu semua, harus ada resiko yang dia tanggung, dengan menampakkan diri seperti itu, itu artinya dia bisa saja ditembak kapan saja jika dia sampai lengah sedikit saja.

__ADS_1


 


Doorrr


Satu tembakan lagi menembus dada kanan Jovi, darah segar seketika menyembur dari mulutnya, Jovi terbatuk mengeluarkan darah begitu banyak.


Jimmy seketika gemetaran melihat pemandangan itu, apa yang dikhawatirkan akhirnya terjadi juga.


Jovi berhenti menembak ke arah lawan, sakit di dadanya membuat dia sedikit kehilangan keseimbangan.


Melihat Jovi lengah, pihak lawan mengambil kesempatan melepas tembakannya pada Jovi, karena menurut mereka, Jovi-lah yang paling berbahaya.


Dooorrr


Tidak sampai di situ saja, akhirnya Jovi menerima tembakan lagi di kaki kirinya, Jovi seketika berlutut menahan sakit dari peluru yang masuk ke bagian tubuhnya.


Jimmy semakin geram melihat mereka yang terus terusan menyerang kearah Jovi, sambil menggertakkan gigi, kembali memainkan pistolnya dengan wajah yang begitu merah menahan amarah.


Tinggal beberapa orang yang tersisa dari pihak lawan, Jimmy dengan buasnya membidik ke arah mereka tanpa ada ampun.


Usai pihak lawan dibantai habis, Jovi akhirnya ambruk jatuh ke lantai, tangannya masih memegangi dada yang terasa begitu sakit.


"Tuan muda." Jimmy mengangkat kepala Jovi agar berbaring di pangkuannya.


"Tuan muda bertahanlah! Aku akan segera membawa Tuan ke rumah sakit!" Dengan begitu panik, ia menyeka keringatnya yang tanpa henti bercucuran di dahinya.


Jovi perlahan membuka matanya, samar-samar ia melihat ada satu pihak lawan yang berusaha bangkit dengan menodongkan pistolnya ke arah Jimny.


Jovi sekuat tenaga mengangkat pistolnya, dan terlebih dulu menembakan kearah lawan, hingga pihak lawan kembali ambruk tanpa sempat menyerang balik.


Jimmy benar-benar terkejut saat melihat kearah belakang, ternyata di tengah kesakitan, majikannya itu masih berusaha untuk melindunginya.


Setelah berhasil menembak lawan, Jovi akhirnya hilang kesadaran, luka tembak itu benar-benar terasa sakit, ditambah lagi dengan kehilangan banyak darah, wajahnya kini benar-benar terlihat pucat.


Jimmy akhirnya membawa Jovi ke mobil.

__ADS_1


Ketiga murid Paman Ghani dan Roni, masing-masing memiliki luka tembak, tetapi mereka hanya terkena tipis, tidak sampai mengenai ke dalam tubuh.


Mereka membantu Jimmy untuk mengangkat Jovi, sementara Roni mengangkat Lani, dikarenakan Adit juga yang sangat lemah tidak sanggup untuk mengangkatnya.


Jimmy mengendarai mobil dengan laju di atas rata-rata, hanya ada kepanikan yang terlihat dari raut wajahnya.


Tiba di rumah sakit, Jovi dan Lani segera di operasi untuk mengangkat peluru yang masuk di tubuh mereka.


Mereka menunggu di luar dengan barharap Lani dan Jovi bisa terselamatkan.


Mawar yang mengetahui bahwa mereka berada di rumah sakit, segera datang dengan perasaan cemas.


Satu jam lamanya mereka menunggu, akhirnya operasi selesai dilakukan, Dokter pun keluar dari balik ruangan.


Mereka dengan segera mengerumuni dokter, hanya ingin bertanya apakah mereka baik-baik saja.


"Operasi berjalan dengan lancar, tetapi bayi yang di dalam perut perempuan itu tidak bisa kami selamatkan. Sementara yang lelaki, dia kehilangan banyak darah, kami tidak bisa memprediksi kapan dia akan sadar," ujar Dokter menjelaskan.


"Bayi? Maksud Anda?" Adit sudah berdebar-debar mendengar pernyataan Dokter.


"Ya. Perempuan itu hamil, namun bayinya tidak selamat."


Seketika Adit tumbang begitu saja, kakinya terlalu lemah setelah mendengar bahwa ternyata Lani sedang mengandung anaknya, dan dia sama sekali tidak tahu itu, bahkan sekarang bayi mereka tidak dapat diselamatkan.


Adit benar-benar menyesali semua perlakuan buruknya pada Lani, jika bukan karena dia, mungkin bayi mereka masih memiliki kesempatan untuk lahir ke dunia ini, dan hidup bahagia bersama mereka berdua.


"Dit. Kamu tidak apa-apa?" Semua orang terkejut melihat Adit yang tumbang begitu saja.


Seketika Adit terbatuk mengeluarkan darah yang sedikit kehitaman, seketika mereka semua menghampiri Adit. Setelah memuntahkan darah, Adit tidak sadarkan diri hingga ia dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut.


Sementara Adit sedang diperiksa, Lani dan Jovi juga dipindahkan keruang rawat.


Roni dan ketiga murid Paman Ghani juga diobati oleh dokter akibat sentuhan peluru yang melayang tipis di daging mereka.


"Maaf. Aku tidak bisa ikut mengantar kalian pulang ke perguruan, karena aku masih harus menunggu mereka di sini." ujar Roni.

__ADS_1


"Tidak apa-apa." mereka pun pergi dengan diantar oleh Jimmy.


"Kamu juga pulanglah sebelum hari mulai gelap, tidak baik untukmu jika berlama-lama di sini!" Roni berkata pada Mawar, dan Mawar hanya mengangguk dan pergi meninggalkan rumah sakit.


__ADS_2