ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Menggoda Aurel


__ADS_3

Aurel mengerutkan keningnya, berjalan menuju kearah mereka berdua, Aurel seketika memukul punggung Jovi dengan buku yang dia bawa, Jovi terkejut dan memegangi punggungnya, dia menoleh kebelakang, terlihat wajah Aurel yang begitu dingin dan ganas.


Matilah aku, ada Mak Lampir disini, bisa habis aku dicakar cakar olehnya. Benak Jovi.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Jovi dengan mengangkat alisnya.


"Yang harusnya bertanya itu aku, apa yang kau lakukan disini? Seorang gadis polos seperti dia kau buat menangis, kau pasti mau melecehkan dia kan?" ujar Aurel marah.


"What? Melecehkan? Yang ada itu aku yang sedang dilecehkan, bukan dia," ujar Jovi.


"Hng. Lucu sekali, mana ada seorang lelaki dilecehkan oleh seorang wanita, apa kau masih waras? Kau pikir aku gampang kau tipu?" ujar Aurel dingin.


"Yang bilang aku menipu siapa? Aku juga tidak perduli kau percaya atau tidak, aku hanya menjelaskan faktanya saja, kenapa kau marah?" Jovi mengerutkan keningnya menatap Aurel. Aurel jadi salah tingkah mendengar ucapan Jovi.


"Yang mengatakan aku marah siapa? Aku sama sekali tidak marah, aku hanya kesal kau berani menindas wanita yang lemah seperti dia." Aurel segera menjawab dan melirik kearah Mawar yang sedari tadi tegak bersandar di dinding.


"Oh, benarkah? Aku tidak yakin dengan ucapanmu, yang ku lihat kau tampaknya sangat marah melihat aku bersama wanita lain. Oh, apa jangan jangan kau cemburu?" goda Jovi, wajah Aurel seketika memerah.


Apa apaan ini, kenapa jantung ku tiba tiba berdegup kencang? Apa aku belum sembuh total dari kecelakaan itu? Aneh sekali. Benak Aurel.


"Kau jangan sembarangan, siapa yang cemburu denganmu, kau lelaki mesum, siapa yang akan menyukaimu?" ujar Aurel malu, entah kenapa dia menjadi salah tingkah seperti itu.


Mawar yang mendengar perdebatan mereka, pelan pelan mengangkat kepalanya.


Siapa wanita ini? Aku tidak pernah melihatnya bersama Jovi, apakah dia pacarnya? Jika memang benar, bagaimana dengan aku? Apakah aku harus menyerah begitu saja? Seharusnya bukan kan? Aku benar benar merasa tidak rela jika Jovi dimiliki wanita lain. Benak Mawar.

__ADS_1


"Apakah aku lelaki mesum? Tetapi kau tetap suka kan?" Jovi terus saja menggoda Aurel.


"Siapa yang suka? Bermimpi saja sana!" bentak Aurel kesal.


"Lalu kenapa kau terlihat semakin marah? Aku rasa tidak mungkin penyebabnya karena aku menindas orang, karena kau sendiri juga suka menindas orang, benar kan apa yang aku katakan?" goda Jovi.


Mawar yang mendengar mereka terus saja berdebat, dia segera membereskan bukunya yang berserak di lantai, memutuskan untuk pergi saja, karena menurutnya perdebatan mereka juga tak ada sangkut pautnya dengan dirinya.


"Kau diamlah, tanggung jawab dengan apa yang kau lakukan pada gadis itu, dia sudah kau buat menangis," Aurel mengalihkan pandangannya, tetapi dia tidak menemukan Mawar ditempat.


"Kemana wanita itu? Kenapa dia sudah tidak ada? Kapan dia pergi?" Aurel bergumam sendiri.


"Wajar saja jika kau tidak melihat dia pergi, karena sedari tadi kau hanya fokus menatapku, aku semakin yakin jika kau benar benar menyukaiku," ujar Jovi tersenyum menggoda.


"Apa apaan? Siapa yang menyukaimu? Aku sama sekali tidak tertarik padamu," kata Aurel ketus.


saat Jovi berada didepan Aurel, dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Aurel, membuat Aurel sontak berjalan mundur, melihat Aurel mundur, Jovi tersenyum geli, dia kembali berjalan maju mendekati Aurel, Aurel terus saja mundur, sampai menabrak dinding.


"Mau kabur kemana? Karena kau sudah melepaskan mangsaku, jadi lebih baik kau saja yang menggantikannya," ujar Jovi yang berbisik ditelinga Aurel, seketika wajah Aurel menjadi merah, dan menjadi salah tingkah.


"Kau. Apa yang ingin kau lakukan? menjauh dariku!" Aurel mendorong tubuh Jovi, namun Jovi tak bergerak sedikitpun.


Kuat sekali dia, aku sudah mengerahkan seluruh tenagaku, namun dia tak mundur walau selangkahpun, apakah selama ini dia hanya berpura pura saja saat aku menindasnya? Benak Aurel.


"Kenapa tidak melawan lagi? Apa sekarang kau sudah menyadari kalau kau sebenarnya menyukaiku?" Jovi tersenyum menggoda Aurel.

__ADS_1


"Kenapa kau selalu membahas itu? Aku sudah katakan aku tidak menyukaimu sama sekali, jawaban yang bagaimana lagi yang kau inginkan?" ujar Aurel dan menatap jovi dengan lekat.


Jovi tersenyum melihat Aurel yang serba salah.


"Ada apa pacarku yang manis? Kenapa wajahmu penuh dengan keringat seperti ini? Apa kamu merasa gugup berdekatan denganku? Itu hal yang wajar kok kalau sedang jatuh cinta." Jovi berbisik ditelinga Aurel sembari tersenyum.


"Siapa yang kau sebut pacarmu? Aku tidak sudi, aku berkeringat karena kau tidak membiarkan aku untuk bergerak sedikitpun," ujar Aurel kesal.


"Lho, apa kau sudah lupa siapa yang memintaku untuk menjadi pacarmu? Dan lagi aku tidak melarangmu untuk bergerak, jika ingin bergerak ya tinggal bergerak saja, tetapi aku tidak bisa menjamin saat kau bergerak apakah bibirmu tidak akan mengenai wajahku ini," Jovi terus saja menggoda Aurel.


"Dasar mesum. Aku hanya memintamu untuk menjadi pacar pura pura saja, bukan pacar yang sesungguhnya. Cepat jauhkan wajahmu dariku sekarang," Aurel semakin kesal karena dia benar benar tidak bisa bergerak karena Jovi mendekatkan wajahnya begitu dekat dengan wajah Aurel.


"Aku tidak melakukan apa apa padamu, kenapa kau mengatakan aku mesum? Meskipun kau mengatakan hanya pura pura, tapi jika aku mengatakan ini serius bagaimana?" ujar Jovi tersenyum, wajah Aurel seketika memerah.


"Jangan pernah bermimpi untuk menjadi pacarku, kau tidak termasuk kriteria lelaki yang aku cari," ujar Aurel malu.


"Benarkah begitu?" Jovi tersenyum penuh maksud.


"Tentu saja benar," ujar Aurel.


Aurel tanpa sadar memalingkan wajahnya kesamping dan tanpa sengaja bibirnya mengenai wajah Jovi, seketika Jovi terkejut, dia benar benar tidak menyangka akan terjadi juga, padahal dia tidak bermaksud untuk membuat Aurel benar benar menciumnya, dia hanya ingin menggoda wanita yang menurutnya sangat berhati batu, apakah akan luluh atau tidak, tidak disangka malah terjadi sesuatu yang tidak diduga.


Aurel juga sangat terkejut hingga ia menutup bibirnya dengan tangan, dia membelalakkan matanya memandang kearah Jovi, sedangkan Jovi terdiam seribu bahasa menatap Aurel.


Beberapa menit kemudian mereka sama sama memalingkan wajah mereka masing masing, Aurel merasa sangat malu, saat melihat Jovi yang sudah tidak begitu dekat dengannya, Aurel langsung berlari keluar ruangan meninggalkan Jovi seorang diri.

__ADS_1


Jovi masih belum menyadari kepergian Aurel, ia masih saja melamun.


Apa apaan ini? Dalam sehari mendapat ciuman dua kali dari wanita yang berbeda, satu dibibir dan satu diwajah, wajahku juga pertama kalinya dicium oleh wanita, apakah ini disebut musibah atau keberuntungan? Batin Jovi.


__ADS_2