ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Terjadi kecelakaan


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu, semenjak Jovi masuk kuliah. Aktivitasnya berjalan sebagaimana mestinya, dia juga diterima kerja disalah satu Restaurant sebagai seorang pelayan, yang juga dibawah kendali Ayahnya, tetapi Jovi tidak mengetahui hal itu, bagi Jovi itu tak masalah menjadi seorang pelayan, toh dia hanya membutuhkan uang untuk biaya hidupnya sehari hari yang pengeluarannya tidak begitu besar, sedangkan biaya kuliahnya ditanggung penuh oleh Ayahnya.


Pagi hari Jovi telah bersiap untuk berangkat kuliah karena dia memiliki kelas pagi, sedangkan Adit, kelasnya dimulai siang hari, jadi mereka tidak berangkat bersama.


diperjalanan dia melihat kerumunan orang, tengah mengerumuni sebuah mobil yang tampak baru saja terjadi kecelakaan, mobilnya sudah rusak parah, namun Jovi tetap bisa mengenali mobil itu.


Ya, itu adalah mobil Aurel, Jovi bergegas menerobos kerumunan orang yang semakin bertambah jumlahnya, tetapi dia heran kenapa orang orang hanya berdiam diri tak menolong, apakah mereka masih memiliki hati? Jovi mencoba membuka pintu mobil, dan untungnya tidak terkunci jadi dia bisa langsung membukanya.


Setelah Jovi membuka pintu, terlihat Aurel yang berlumuran darah, lukanya tampak serius, Jovi segera mengangkat Aurel keluar dari mobil, sedangkan Aurel yang masih memiliki sedikit kesadaran, samar samar melihat wajah Jovi yang begitu serius saat menggendongnya.


Jovi meminta tolong orang orang untuk menyetop taksi, saat ada taksi yang berhenti segera Jovi membaringkan Aurel dikursi belakang dan dia ikut masuk dan memangku kepala Aurel dipahanya.


Sesampainya dirumah sakit, Jovi meminta tolong dan segera para perawat datang untuk membawa Aurel agar ditangani oleh dokter, sedangkan Jovi memberikan tas Aurel kesalah satu suster yang berjaga dimeja kasir, agar menghubungi keluarga Aurel mengenai keadaan Aurel sekarang.


Sementara tangan dan baju Jovi saat ini, dipenuhi dengan darah, kerena menggendong Aurel tadi, namun ia tak peduli dengan hal itu, dia pun menuju kearah ruangan dimana Aurel ditangani.


setelah setengah jam berlalu, akhirnya kedua orang tua beserta Adiknya Aurel datang dengan wajah panik, terlebih ibunya yang segera berlari menghampiri Jovi

__ADS_1


"Nak. Apa kamu yang menolong anak Tante? Bagaimana dengan keadaan dia sekarang?" tanyanya dengan wajah panik


"Iya Tante. Masalah keadaannya saya tidak bisa memastikan, dia masih ditangani oleh dokter, semoga saja tidak ada luka yang serius," ujar Jovi mencoba untuk menenangkan Ibunya Aurel yang bernama Dina


Bu Dina hanya mengangguk pelan, berharap putrinya bisa selamat dari kecelakaan itu


"Berhubung keluarga Aurel sudah disini kalau begitu saya pamit pulang untuk mengganti baju saya, gak enak dilihatin orang dengan baju penuh noda darah begini," ujar Jovi


"Ya sudah kalau begitu, hati-hati dijalan ya! sekali lagi terimakasih sudah nolongin Aurel," ujar Bu Dina dengan mata sembabnya yang terlihat sangat menghawatirkan anaknya.


Selang beberapa saat Dokter pun keluar dari ruangan dimana Aurel ditangani. Orang tua Aurel bergegas menghampiri Dokter dan bertanya "Bagaimana keadaan Anak saya Dok? Apa dia baik-baik saja?"


"Saat ini saya belum bisa memastikan. Saat laporan pemeriksaan sudah keluar, baru kita bisa mengetahui apakah ada luka serius yang dialaminya, mungkin sebentar lagi dia akan sadar. Kalian sudah bisa menemuinya, tapi harus ingat, saat dia sadar jangan biarkan dia banyak bergerak dulu." Dokter menjelaskan dengan seksama


"Baik terimakasih Dok," ujar Doni, Ayahnya Aurel.


Dokter hanya mengangguk dan berlalu pergi.

__ADS_1


Disisi lain Jovi tiba dikontrakannya, dia tidak langsung masuk kerumahnya melainkan berbelok kerumah Adit untuk memberitahukan tentang Aurel, Jovi langsung masuk karena memang pintu tidak dikunci, terlihat Adit tengah berbaring disofa sambil bermain game


"Udah selesai lo kuliahnya? Kok cepet banget? Jangan bilang lo bolos kuliah," ujar Adit tanpa menoleh kearah Jovi, Jovi tak bereaksi apapun dan juga tidak mengeluarkan suara, Adit menoleh kearah Jovi, seketika dia terduduk membelalakkan mata.


"What? Apa-apaan ini? Kenapa baju lo penuh dengan noda darah begini? Lo habis bunuh orang? Jangan bilang kalau lo mau sembunyi dirumah gue karena kejaran polisi." Adit mengeluarkan seribu pertanyaannya membuat Jovi pusing.


"Udah ngocehnya? gak capek apa nyerocos mulu dari tadi?" ujar Jovi datar


Adit mengerutkan keningnya tak mengerti "Gue bukannya ngoceh, gue lagi nanya sama lo, lu dateng dateng dengan baju penuh darah begini gimana gue gak kaget coba?" ujar Adit penuh keheranan


"Aurel kecelakaan." Adit berkata tanpa ekspresi


"What? Serius? Lo gak lagi bercanda kan? Kenapa baru bilang sekarang sih?" Adit tersentak kaget hingga melompat bangun dari sofa.


"Gimana gue mau kasih tau kalau lo dari tadi gak mau diem," ujar Jovi dengan keras, namun Adit tak menghiraukannya dia terus melangkah keluar untuk pergi melihat Aurel. Baginya Aurel sudah seperti Adik kandungnya, jadi dia tidak mungkin tidak kaget saat mendengar Aurel terkena musibah, Adit langsung pergi tanpa menanyakan keadaan Aurel.


"Itu anak. Memangnya dia tau Aurel dirawat dimana, main pergi gitu aja," gerutu Jovi dan dia pun merogoh handphone nya, mengetik nama rumah sakit dimana Aurel dirawat lalu dikirim ke Adit.

__ADS_1


__ADS_2