
Andre benar benar merasa terhina dengan perlakuan Jovi, kini wajahnya sudah seperti harimau yang hendak menerkam, namun tetap saja dia tak bisa melawan, karena disana masih ada Adit, dia tak berani berbuat kesalahan didepan Adit, karena Adit bisa saja mengancam untuk membuat keluarganya bangkrut, tidak sulit bagi Adit jika ingin menghancurkan keluarganya.
Andre akhirnya memilih untuk pergi, tapi dia tetap tidak akan melupakan penghinaan Jovi terhadap dirinya.
Kau tunggu saja, ini bukanlah yang terakhir, aku pasti akan membuatmu bertekuk lutut memohon ampun dihadapanku, tunggu saja pembalasanku nanti. Batin Andre sambil melangkah pergi dengan diikuti kedua temannya.
"Pantas dipuji, kau sangat keren, dua jempol kuberikan untukmu," ujar Adit sambil memperlihatkan kedua jempolnya.
"Kau berikan aku jempol, memangnya bisa kumakan?" ujar Jovi datar, Adit pun tertawa dengan sikap Jovi yang sok cuek.
"Oke oke. bagaimana kalau kutraktir makan dikantin?" bujuk Adit.
"Jika kau traktir, apa aku ada alasan untuk menolak?" jawab Jovi tersenyum.
Adit kembali tertawa dan mereka melangkah pergi untuk mengisi perut mereka.
__ADS_1
Sesampainya dikantin, mereka memesan makanan yang mereka suka, dan duduk disalah satu meja disudut kantin.
"Hey, dengar dengar perusahaan ADN GROUP berinfestasi dikampus kita ini," ujar salah satu wanita yang duduk dimeja yang bersebelahan dengan Jovi dan Adit.
"Ha. Serius? Perusahaan ADN GROUP yang legendaris itu?" temannya bertanya.
"Iya. Dan katanya putra dari pemilik perusahaan itu kuliah disini. Haih, jika aku bertemu dengannya aku akan meminta tanda tangannya dan kupajang dikamar ku sebagai barang berharga," ujar si wanita dengan wajah tersenyum girang.
"Demi apa? Putranya kuliah disini juga? Membayangkan jika aku satu kampus dengannya saja membuat hatiku serasa ingin meledak saking senangnya," timpal temannya dengan senyum yang lebar.
Jovi yang mendengar percakapan mereka tersenyum menggelengkan kepala, jika saja mereka tau orang yang sedang mereka bicarakan sedang duduk bersebelahan dengan mereka, mungkin mereka akan pingsan saking senangnya.
Di Indonesia ini, siapa yang tidak kenal dengan keluarga Adiguna. Keluarga Adiguna sudah menjadi keluarga legendaris, yang super kaya, bahkan perusahaannya banyak yang berada diluar negeri, banyak yang memimpikan bisa bertemu dengan anggota keluarga Adiguna, bahkan jika bertemu dengan seorang pelayan dikeluarga Adiguna pun mereka akan sangat senang.
"Huh. memangnya kita ini siapa? jangankan jadi pacar, bahkan sekedar berjabat tangan dengannya saja kita tidak pantas, dia begitu terhormat, perbedaan kita terlalu jauh, lebih baik singkirkan saja khayalanmu itu!" ujar temannya dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Iya juga. Eh, tapi ngomong ngomong, ada yang tau gak sih orangnya yang mana? Aku benar benar penasaran dengan sosoknya, aku tebak pasti sangat perkasa, punya tubuh atletis dan juga wajah yang sempurna," ujarnya sembari tersenyum genit.
Lagi lagi Jovi menggelengkan kepalanya, bisa bisanya seorang wanita membayangkan bagaimana tubuhnya, dan lagi wanita itu berbicara didepannya. Adit yang melihat tingkah Jovi, dia jadi penasaran.
"Kau kenapa? Apa ada yang salah dengan omongan mereka? Kau tak perlu heran begitu, wajar saja semua wanita kagum pada sosok putra Adiguna itu, dia berasal dari keluarga yang super kaya, sangat legendaris, bahkan keluargaku tak layak jika dibandingkan dengan keluarga Adiguna," ujar Adit, Jovi hanya tersenyum kecut dan menganggukan kepalanya pelan.
"Eh, tapi orang tua ku katanya bersahabat dengan mereka, tapi aku tidak pernah bertemu dengan mereka, katanya keluarga Adiguna memiliki rumah yang sangat megah, bukan sembarang orang bisa memasukinya, orang tuaku saja tidak pernah masuk kerumah megah itu," kata Adit lagi
Ini anak kenapa malah ikut bergosip sih, tidak tahu saja orang yang dia gosipin itu ada dihadapannya. Batin Jovi.
"Katanya sih, mereka sering tinggal dirumah yang menurut mereka mungkin tidak megah tetapi padahal rumah itu setara dengan rumahku, aku tidak bisa membayangkan bagaimana megahnya rumah asli mereka, katanya sih alasan mereka jarang tinggal disana karena anaknya itu yang tidak mau," lagi lagi Adit selalu mengoceh dan sepertinya tidak berniat untuk berhenti, sedangkan Jovi diam saja sambil menyantap makanannya dan tak menghiraukan perkataan Adit.
"Menurutku anaknya itu bodoh sekali, ngapain juga dia tidak suka tinggal dirumah yang super megah itu, jika aku jadi dia, aku pasti menikmatinya, jika tak ingin tinggal disitu kenapa tak berikan saja padaku, aku akan dengan senang hati menerimanya," ujar Adit lagi dengan wajah tersenyum tanpa melihat Jovi, dia seperti sedang menghayati ceritanya sendiri.
Beraninya kau bilang aku bodoh, awas saja kau, dan lagi siapa juga yang mau berikan kau rumah, bermimpi saja sana. Batin Jovi
__ADS_1