
Andra tengah memainkan sebuah ponsel di tangannya. Ponsel Rea tertinggal di mobilnya. Kebingungan tersirat di wajah Andra setelah embaca sekilas pesan yang ada di ponsel Rea.
"Aku ingin pulang dan menyelesaikan sekolahku di sana."
Satu pesan dikirim, disusul sebuah balasan yang membuat Andra semakin penasaran dengan Rea.
"Apa kau sudah memberitahu keluargamu? Papa, mama dan kakakmu. Apa kau sudah siap berhadapan dengan Clara, dia semakin menjadi sekarang. Aku sendiri tidak tahu kenapa BK yang sekarang acuh saat melihat Clara berulah"
"Apa yang sebenarnya dia alami? Apa yang sudah dilakukan oleh orang bernama Clara ini?" gumam Andra, melihat balasan dari nama kontak bernama Nana itu.
Tidak, sebenarnya bukan nama Clara yang mengganggu pikirannya. Tapi keinginan Rea untuk kembali ke kotanya. Ada rasa tidak rela saat Andra mengetahui itu. "Bodo amatlah. Memang urusannya apa denganku!" Andra menepis rasa peduli yang mulai tumbuh di hatinya.
"Clara......" Andra menggumam pelan. Dia kemudian teringat saat Rea meracau dalam gendongannya. " Apa salahku padamu, Clara? Kenapa kau terus menggangguku?" Begitulah Rea mengigau dalam tidurnya. Dua kali Andra mendengar Rea ketakutan saat menggumamkan nama Clara.
"Apa ini ada hubungannya dengan masalah mental yang Rea alami?" lirih Andra. Pria itu teringat ucapan Gina saat mereka baru tiba di kota ini.
*******
"Masak badan kayak gini disebut triplek?" gumam Rea. Memperhatikan tubuhnya di sebuah cermin full body di walk in closetnya. Gadis itu hanya memakai tank top dan hot pants ketat berwarna hitam. Kontras dengan kulit putih mulus hasil upgrade-an salon terkemuka di ibukota. Sebenarnya kulit Rea memang sudah mulus dari sananya. Staf salon itu bilang hanya membersihkan tubuh Rea tanpa melakukan perawatan tambahan seperti pemutihan atau yang lainnya.
Rea membolak balikkan tubuhnya, melihat tubuhnya dari sisi manapun. "Enggak kok kalau kayak triplek," gumam Rea lagi. Tubuh Rea memang proporsional dengan tingginya yang menyentuh 168 cm. Dada berisi dan bokong sintalnya sudah terlihat jelas di usinya yang 19 tahun. Apalagi jika gadis itu memakai jeans dan kaos ketat. Lekuk tubuhnya auto bikin ngiler lawan jenisnya.
"Bodo amatlah sama omongannya, emang gue pikirin!" Akhirnya Rea memilih mengabaikan ucapan Andra. Masuk ke kamar tidurnya, gadis itu langsung mengacak-ngacak kamar dan tasnya. "Ponselku mana?" kata Rea lirih. Dia harus mengecek jadual lesnya hari ini. Jika tidak ada schedule, dia ingin pergi ke dojang (tempat latihan taekwondo) untuk membanting seseorang. Sekedar menyalurkan rasa frustrasinya. Rea benar-benar tertekan dengan pertanyaan Bella yang terus menanyakan soal keadaannya.
Gadis itu terus mengacak-acak kamarnya, tanpa tahu, Andra terpaku berdiri di depan pintu yang setengah terbuka. Pria itu menelan ludahnya kasar, melihat betapa seksi dan mulusnya tubuh Rea. "Gila tu body, bikin otak travelling aja pagi-pagi," gerutu Andra dalam hati. Andra seketika menarik sebutan triplek pada tubuh Rea.
"Ehemmmmm," deheman Andra membuat Rea berbalik. Bola matanya membulat melihat Andra berdiri di pintu kamarnya. "Pakai baju yang benar!" desis Andra. Rea seketika melirik ke bawah. "Alamak!" Gadis itu melesat masuk ke walk in closetnya. Mencari kaos dan trainingnya. "Mati aku! Bagaimana aku tidak tahu akuntan judes itu ada di sana?" maki Rea pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Sementara itu Andra langsung menarik nafasnya lega. Melihat Rea yang sudah memakai pakaiannya. "Lain kali tutup pintunya!" galak Andra. Pria itu menyerahkan ponsel Rea lantas berlalu dari sana. Rea hanya melongo melihat sikap Andra itu. "Duh gini amat suka sama gunung es galak," sesal Rea.
"Ya...Na, sorry hapeku dibawa sama dia. Ini baru dikembaliin," suara Rea membuat Andra menghentikan langkahnya.
"Kau harus siap mental jika ingin kembali. Meski aku tidak yakin keluargamu akan mengizinkan,"
"Tapi tinggal satu semester. Tanggung jika aku meneruskannya di sini. Soal Clara....."
Rea menggigit bibirnya saat menyebut nama Clara. Bisa Andra lihat wajah ketakutan dan trauma Rea. Setelahnya, Andra tidak lagi mendengarkan percakapan Rea dengan Nana. Pria itu menuruni tangga. Membalas sapaan ART di rumah itu. Masuk ke dalam mobilnya, pria itu lantas menghubungi seseorang. "Bisa kita bertemu? Ada yang ingin aku bicarakan," kata Andra. Tak lama mobil Andra melaju keluar dari rumah Matt Aherne yang mewah. Menuju ke rumah sakit tempat Gina bekerja.
*****
"Jadi bagaimana?" tanya Andra. "Kalau mendengar ceritamu. Ada kemungkinan mengarah ke sana. Tapi kenapa kau bicara padaku? Bukannya Gina psikolog?" tanya Steve. Seorang hipnoterapi.
"Dia sebenarnya ditangani oleh Bella, tapi sebulan ini dia gagal mengorek keterangan dari Rea. Dia selalu bilang baik-baik saja kalau ditanya," jawab Andra.
Steve sendiri pernah mendengar cerita dari Shane soal Rea, anak angkat Matt Aherne, yang kata Shane selalu membuat illfeel Andra. "Terserahlah kalau begitu. Aku tunggu saja kabar baiknya," seringai Steve. Andra melengos mendengar perkataan Steve.
*****
"Hyaaaaaaaakkkk!"
"Bruugghhhhh!!"
"Aduuuhhh, kalau marah kira-kira dong. Aku sabeum-mu (pelatihmu) bukan samsakmu!" protes seorang pria berwajah lokal. Pria itu meringis, merasa ngilu pada punggungnya. Rea tersenyum puas, berlatih sebulan dan gadis itu sudah menyandang sabuk biru di pinggangnya. Sebuah prestasi yang sangat bagus untuk pemula seperti Rea.
"Aku tidak marah," jawab Rea. Jadual lesnya kosong. Karena guru pianonya ada keperluan, jadi di sinilah ia, menjadikan Rio, sang pelatih sasaran bantingannya. "Tidak marah tapi tertekan," sahut Rio, pria berusia 21 tahun itu. Mahasiswa yang merangkap jadi guru di dojang itu.
__ADS_1
"Tidak juga," jawab Rea sendu. "Kau itu perlu orang lain untuk bicara, katakan apa masalahmu, itu lebih baik daripada melampiaskan dengan cara ini. Curhat pada orang yang kau percaya membuatmu merasa lega," saran Rio.
"Aku merasa lega sekarang," balas Rea. "Lega badanmu tapi tidak hatimu," tambah Rio. Pria itu berlalu dari hadapan Rea, setelah seseorang memanggil Rio.
******
"Aku benci menjadi lemah!" Rea mengepalkan tangannya. Gadis itu berjalan gontai, keluar dari dojang itu. Bryan membunyikan klaksonnya, saat melihat Rea. "Kak Bryan, dari mana?" tanya Rea sumringah.
"Selesai meeting sama klien. Kebetulan lewat sini. Terus lihat kamu," jawab pria berambut pirang itu. Bryan punya lesung pipi saat tersenyum. "Mau pulang sekarang?" tanya kekasih Terry itu. "Rumah sepi, belum pada pulang. Papa dinas keluar lagi," sendu Rea. Bryan tersenyum kecut. Sadar kalau gadis itu kesepian.
"Mau ikut bersenang-senang?" tanya Bryan sambil menaikkan satu alisnya. Bryan seorang pemilik agensi. Kantor managemen artisnya adalah yang terbesar di ibukota. Beberapa artis terkenal bernaung di bawah agensi milik Bryan itu.
"Kau siap?" tanya Bryan. Pria itu melihat wajah antusias Rea. Detik berikutnya, Rea mulai mengikuti latihan koreo untuk para trainee di agensi Bryan. Pria itu cukup terkejut dengan kemampuan Rea. Gadis itu punya tubuh kategori model dengan ukuran depan dan belakang sesuai porsinya. Ditambah kemampuan dance Rea yang rupanya lumayan juga. Gadis itu mampu mengikuti gerakan koreo dengan baik. Mereka berlatih di sebuah studio dance full kaca.
Kredit Pinterest.com
Diam-diam Bryan merekam aksi Rea, lantas mengirimkannya pada Gina, "Adikmu berbakat sekali, boleh aku mengorbitkannya menjadi artis di managemenku?" tanya Bryan pada Gina.
Gina jelas membulatkan matanya melihat Rea ngedance di studio Bryan. Nicky dan Andra juga ikut membelalakkan matanya.
"Hei, playboy jangan harap aku mengizinkan Rea jadi artismu. No way!" kata Gina langsung menghubungi Bryan. Sementara wajah Andra terlihat menggelap melihat tubuh seksi Rea menjadi tontonan orang banyak di studio itu.
"Dia ini benar-benar suka cari gara-gara. Dasar biang kerok!" batin Andra kesal
*****
__ADS_1