Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Aku Sedang Membujukmu


__ADS_3

Tubuh Rea panas dingin seketika, saat tahu ke mana Gina membawanya. Kantor Andra. Gadis itu jelas ketakutan jika harus bertemu Andra. Masih terbayang di benak Rea, bagaimana pria itu memarahinya terakhir kali. Tanpa basa basi, pria itu langsung mengatakan dirinya tidak tahu malu, sok kecakepan, tukang cari perhatian. Bryan bahkan sampai melerai Andra agar mulut judesnya itu berhenti menģomel.


Sebab Rea sudah menangis terisak di belakang punggungnya. "Kau lagi, kenapa kau membawanya ke sini?" Bryan pun tak luput dari sasaran mulut pedas Andra. Rea perlu dua hari untuk melupakan kejadian itu. Meski Andra sudah minta maaf karena kemarahan Gina yang tidak terima Rea di buat menangis.


Dan kini, setelah Rea bisa mengurangi kesedihannya. Gina malah membawa dirinya ke sini. "Katanya pengen cari kesibukan. Nah ini tempat yang cocok untukmu," kata Gina. Membuka pintu kantor Andra. "Cocok sih cocok Kak, tapi penghuninya yang tidak cocok sama Rea," gadis itu sedang mengutarakan protesnya. Kalau buat ngilangin bosannya dia harus ke kantor Andra, dia mending mati karena bosan.


"Abaikan saja dia. Katanya mau jadi akuntan bersertifikat, kamu bisa memulainya dari sini," Gina berjalan sembari memeluk lengan Rea. Mendorong sebuah pintu yang Rea tahu itu ruang kerja Andra. "Dia datang," kata Gina. Andra sejenak melirik judes ke arah Rea, membuat Rea reflek memundurkan langkahnya. "Seperti yang kauminta, Rea mulai magang di sini, jadi kau harus baik padanya. Jika aku dengar dia menangis. Awas kau!" desis Gina penuh ancaman.


Pria itu tidak menoleh sama sekali saat Gina bicara. Baginya meminta maaf pada Rea adalah hal yang tidak tercantum dalam kamus hidupnya. "Kak, aku pulang aja ya," Rea berbisik di belakang punggung Gina. Dia tarik kata-katanya ingin jadi akuntan kalau mentornya Andra.


"Kau sudah bilang iya, jadi kau tidak bisa mundur lagi," akhirnya Andra bersuara. Dingin dan tajam. "Aduh Na, gue mau pulang aja! Gue batalin deh acara jadiin ni akuntan judes motivasi gue buat belajar," jerit Rea dalam hati.


Rea hanya bisa pasrah setelah Gina benar-benar meninggalkan kantor Andra. Untuk sesaat, Rea hanya berdiri diam, karena Andra sama sekali tidak memintanya duduk. Dan Rea terlalu takut untuk melakukan sesuatu tanpa perintah Andra. Hingga akhirnya, Andra menghentikan pekerjaannya. Melepas kacamata bacanya. Lalu melihat ke arah Rea. "Kau tahu kan aku tidak suka berurusan denganmu," kata Andra pedas. Rea seketika berbalik, ingin keluar dari sana. Emosinya langsung merangkak naik begitu mendengar perkataan Andra.


Bukan keinginannya kalau sekarang dia ada di sana. Bukan keinginannya juga kalau dia berada di kantor Andra. "Buka pintunya!" Untuk pertama kalinya dia menunjukkan kemarahannya pada Andra. Dia tahu pria itu mengunci otomatis pintu ruangannya. Andra menarik sudut bibirnya. Baru kali ini dia melihat Rea marah, dia ingin menguji sejauh mana Rea berani marah padanya.


"Tidak mau!" tolak Andra, pria itu duduk bersandar di kursi kebesaran sembari melipat tangannya di depan dada. Mengunci pandangannya pada Rea yang semakin hari semakin membuat dada Andra berdesir tidak karuan. Gadis itu semakin menunjukkan pesonanya. Tidak jarang Andra mendengar bisik-bisik staf prianya. Mereka sibuk membicarakan kecantikan Rea yang memang bertambah setiap harinya.

__ADS_1


"Kau bilang tidak suka berurusan denganku. Aku akan pergi kalau begitu," gadis manis itu balik memandang Andra yang kali ini jelas menunjukkan senyumnya. "Membiarkanmu pulang dan aku harus mendengar omelan kakakmu sepanjang hari. Tidak, Rea. Aku memang tidak suka berurusan denganmu. Tapi aku punya hal yang bisa membuatmu tidak menggangguku," kata pria itu licik.


Tapi perkiraan Andra meleset, dia pikir, dirinya akan menikmati wajah sengsara Rea ketika dia meminta gadis itu merapikan dokumen audit dari tahun lalu di ruang arsip. Bukannya menderita, Rea justru menikmati "hukuman" dari Andra. Ditambah lagi, Andra malah dibuat kebakaran jenggot saat Rea terlihat asyik mengobrol dengan beberapa stafnya.


Shane yang baru kembali dari kantor pajak, langsung heran melihat wajah mendunģ Andra. "Kenapa mukamu seperti mau makan orang begitu?" tanya Shane menyerahkan laporannya.


"Tidak ada," jawab Andra acuh. Shane mengerutkan dahinya, hingga kemudian dia teringat, dirinya melihat Rea di ruang arsip. Kantor Andra menerapkan dua sistem dalam auditnya, manual dan digital. Jadi setelah versi digitalnya selesai, semua hasil audit itu akan dicetak lalu masuk ke bagian arsip.


"Jangan bilang ni cowok cembokur sama Rea," batin Shane. "Alah An, An....sok-sok-an jual mahal. Lihat Rea digoda pria lain baru lu ketar ketir," tambah Shane cekikikan dalam hatinya.


Dia ingin menjauhkan Rea dari staf prianya yang jelas tertarik pada adik Gina itu. Tapi dia tidak bisa terang-terangan melakukannya. Bisa turun gengsi dan harga dirinya. Hingga sebuah panggilan membuat wajah Andra berbinar. Pria itu langsung melangkah ke meja Rea setelah usai menerima telepon.


"Ikut denganku setelah makan siangmu selesai," kata Andra singkat, padat dan jelas. "Ha?" Rea melongo mendengar ucapan Andra. Dan disinilah Rea, menunggu Andra dengan wajah cemberutnya. Dia ini punya kepribadian ganda atau bagaimana. Sebentar tidak ingin berurusan dengannya, sebentar mendekatinya. Maunya apa sih tuh orang. Rea menggertakkan giginya menahan kesal. Hingga gertakan giginya berubah menjadi mulutnya yang ternganga melihat penampilan Andra.


Dari tadi pagi, Rea melihat penampilan pria itu biasa saja. Tapi sekarang setelah Andra memakai jas birunya, beuuhhh pria itu berubah tampan seratus kali lipat di mata Rea. Terlebih pria itu terlihat begitu berkharisma saat menjelaskan soal audit pada Dio, stafnya. Aura kepemimpinan Andra jelas terpancar saat pria itu bicara pada Dio. "Gila! Gimana gue mau berhenti jadi fans tu akuntan galak kalau dia tampannya spek dewa gini" rutuk Rea dalam hati.


"Ayo pergi," suara baritone Andra membuyarkan lamunan Rea. Gadis itu kembali memanyunkan bibirnya. Duduk di samping Andra dalam mobilnya yang mulai melaju ke suatu tempat. Rea tidak tertarik untuk bertanya ke mana tujuan mereka. Dia juga enggan mengajak Andra bicara. Gadis itu lebih tertarik melihat pemandangan di luar mobil mereka.

__ADS_1


Rea bahkan acuh saat Andra menerima panggilan ponselnya. "Aku sedang membawanya ke sana.....dalam lima belas menit kami akan sampai," kata Andra lantas menutup teleponnya.


"Kau tidak ingin tahu ke mana kita akan pergi," tanya Andra kali ini. Rea langsung menoleh ke arah pria itu. "Sial! Kenapa dia tampan sekali!" maki Rea dalam hati melihat Andra semakin cool dengan kaca mata hitamnya.


"Bertanya atau tidak, setuju atau tidak. Kau tetap akan membawaku ke sana kan," balas Rea jengah. Dia benar-benar lelah dengan sikap Andra. "Bagus kalau kau tahu," sahut Andra. Mobil pria itu mulai memasuki sebuah gedung yang membuat Rea mengerutkan dahinya.


"Turun!" kata Andra membukakan pintu untuk Rea. "Tidak mau! Kenapa kita ke sini?" Gadis itu balik bertanya. "Tentu saja untuk kebaikanmu,"


Rea jelas terkejut. Detik berikutnya Rea memasang kembali seatbeltnya. Sebagai jawaban atas permintaan Andra. "Turunlah, kau harus menghilangkan masalah yang ada dalam dirimu," desis Andra. Pria itu sudah membuka kembali seatbelt Rea. Lantas menarik tangan Rea, gadis itu coba bertahan. Menarik balik tangannya dari tarikan Andra.


"Katakan padaku, apa yang kau takutkan?" Rea tertegun melihat Andra yang kini berjongkok di hadapannya. Terlebih melihat sikap pria itu yang begitu manis padanya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Rea.


"Kau tidak lihat? Aku sedang membujukmu," jawab Andra. Untuk pertama kalinya, dua pasang mata itu bersua pandang.


******

__ADS_1


__ADS_2