Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Andra Emosi


__ADS_3

"Pak...Pak...tolong bantuin saya."


Rea berteriak pada satpam yang berada di pos satpam di depan rumahnya. Pak satpam memberi pertolongan begitu tahu nona mudanya yang memanggil.


"Ada orang di rumah gak, Pak?"


Rea bertanya takut, tanpa dia melihat deretan mobil yang terparkir di garasi samping rumahnya. Belum sempat mendapat jawaban dari si satpam. Satu suara dari belakang pak satpam membuat jantung Rea serasa mau copot.


"Kamu kenapa, Re?"


"Andra?"


Pria itu panik melihat Rea yang bersandar pada badan taksi yang ditumpanginya. "Kenapa Re?"


Itu suara Mark.


"Kak, bayarin."


Lirih gadis itu. Mark dengan cepat melakukan permintaan sang adik. Begitu taksinya pergi. Tubuh Rea langsung oleng, membuat Mark curiga.


"Kamu kenapa?"


Gadis itu terdiam sembari menggigit bibir bawahnya. Sakit dia rasakan di pergelangan kakinya.


"Kayaknya kakiku keseleo."


*


*


"Nggak mau, sakit!"


"Nanti kalau gak dipijit tambah parah, Re. Nanti lama sembuhnya."


Rea menangis ketika Mark mulai mengangkat kakinya. Menempatkannya di paha pria itu. Gina bergidik ngeri. Dia tahu sakitnya seperti apa dipijit pas kaki keseleo.


Dan benar saja. Teriakan Rea melengking ketika Mark memutar lalu menarik pergelangan kaki Rea. Andra bahkan memejamkan matanya mendengar teriakan Rea.


"Ampuunnn deh, emang gimana ceritanya kamu bisa keseleo. Terus di mana ponsel kamu."


Rea terdiam seketika. Dia terkilir ketika berlari keluar dari villa Brad. Juga tas serta ponselnya tertinggal di mobil pria itu.


"Mati aku."


Kalau mereka semua tahu perbuatan Brad, bisa dikeroyok tu dosen sama mereka semua. Rea terdiam.


"Malah diam..."


"Aduh, sakit Kak."


"Makanya jawab...ponselmu mana?"


"Tertinggal di mobilnya Brad."


Cengir Rea.


"Sekalian tasnya?"


Gadis itu mengangguk. Dan seterusnya cercaan pertanyaan terus mendera Rea. Gadis itu berusaha menjawab setenang mungkin. Meski satu pandangan tidak percaya terlihat di mata Gina. Dia tahu benar Rea tengah berbohong.

__ADS_1


Dan malam harinya meski dicecar Gina, Rea kekeuh berkata dia tidak bohong. Hingga sang kakak menyerah. Dia tahu Rea menyembunyikan sesuatu dari mereka semua.


*


*


Hari berikutnya, Rea membawa mobilnya sendiri. Dia tidak mau menunggu dijemput, sebab kakinya masih terasa sakit. Ditambah dia jalan pincang. Semua temannya langsung bertanya apa yang terjadi. Rea terpaksa berbohong kalau semua berjalan lancar tidak ada hal penting yang terjadi.


Gadis itu juga memberitahu kalau dia terkilir saat terjatuh di rumahnya. Tanpa dia tahu, dua orang melihat Rea yang tampak kepayahan saat berjalan.


"Apa yang kau lakukan padanya?"


Brad hanya terdiam mendengar pertanyaan wanita yang ada di depannya. Brad sendiri cukup terkejut melihat keadaan Rea. Dia tidak tahu kalau Rea sampai terkilir karena ulahnya.


Hari itu kelas berakhir cepat. Jerry dan Devi pulang lebih dulu karena ada urusan. Apa lagi Rea membawa mobil sendiri. Jadi mereka pikir Rea akan aman.


Rea baru akan masuk ke mobilnya ketika tangan Brad menahannya. Pria itu menarik Rea menjauh dari sana.


"Lepas....Pak. Sakit...aawwww."


Mendengar rintihan Rea baru pria itu sadar kalau gadis yang tengah diseretnya tengah kesakitan.


"Ngapain lagi? Balikin tas saya!"


Rea langsung melihat marah pada Brad. seperti biasa, raut wajah Brad datar dan dingin. Detik berikutnya pria itu kembali menarik tangan Rea. Tapi Rea dengan segera menepisnya.


"Jangan ganggu saya lagi. Kalau bapak tidak mau mengembalikan tas saya, tidak masalah. Tapi jangan pernah usik hidup saya."


Rea berjalan tertarih. Meninggalkan Brad yang yang diam membisu. Mengetahui betapa kerasnya hati Rea. Gadis itu menutup pintu mobilnya lantas melajukannya ke luar gerbang kampus. Bradley Scott, untuk pertama kalinya tidak berkutik menghadapi tingkah seorang gadis.


*


*


"Pernikahan bukanlah halangan bagi seorang wanita untuk mengembangkan diri. Terlebih di era modern seperti sekarang. Banyak seorang istri yang mampu berperan ganda. Menjadi istri juga seorang wanita karier. Aku tahu cukup tahu karakter Andra. Dia tidak akan mengekang kebebasanmu dalam berkarier, aku jamin itu. Asal kamu bisa membagi waktu antara rumah tangga dan pekerjaannmu. Itu poin pentingnya."


Nasihat panjang dan lebar dari Steve terngiang di telinganya. Juga soal Bradley, Steve menyarankan pada Rea untuk jujur pada Andra. Menceritakan semua pada Andra tanpa ada yang ditutupi.


Tanpa Rea sadari, Alex sedari tadi mengetuk kaca mobil gadis itu. Rea tersentak kaget saat melihat Alex berdiri di samping mobilnya.


"Kenapa gak masuk? Malah ngelamun di mobil."


Gerutu Alex. Pria itu membantu Rea berjalan, tahu kalau kaki gadis itu terkilir. Keduanya masuk ke kantor bersamaan dengan Andra yang baru keluar dari ruang meeting.


"Kenapa tidak bilang mau ke sini?"


Pria itu menyambut tangan Rea. Lantas


membawanya duduk di sofa. Menaikkan kaki Rea ke atas sofa.


"Aku bawa mobil sendiri. Dan aku mau bicara sama, Kakak."


Rea menatap dalam wajah Andra yang sibuk meletakkan bantal di bawah kakinya. Ya, apalagi yang dia cari. Dia mendapatkan apa yang semua wanita inginkan dari seorang pria. Cinta, wajah tampan, tajir, pengertian, sabar...semua ada dalam diri Andra.


"Bicara apa?"


"Aku mau minta maaf, sudah egois sama, Kakak. Aku tidak memahami Kakak."


"Tunggu, ini soal apa?"

__ADS_1


Gadis itu menyusut air mata yang hampir luruh dari bola matanya. Lantas mulai bercerita. Sampai dia selesai mendongeng, Andra hanya mengulum senyumnya.


"Jadi sudah berubah pikiran nih ceritanya. Mau dinikahin?"


Rea mengangguk pelan.


"Siap diunboxing? Kata Gina sakit looo."


Rea langsung membulatkan matanya, iya Gina pernah bercerita soal malam pertamanya. Dan itu berhasil membuat Rea sedikit ngeri bila berpikir soal unboxing. Meski Gina mengiming-imingi enak setelahnya. Mendengar pertanyaan soal unboxing, Rea langsung menggeleng.


"Nah itu masih takut. Gitu kok pengen dikawinin."


Rea melongo, bukannya kemarin Andra ribut ingin menikahinya. Kenapa sekarang dia juga berubah pikiran. Gadis itu jadi bingung dibuatnya


"Setahun, aku akan memberimu waktu setahun. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Sebelum aku benar-benar menjeratmu. Tapi jangan berpikir untuk lari dariku."


Kata Andra sembari mengusap lembut pipi Rea. Pria itu juga akhirnya sadar diri. Menikah bukan hal yang bisa dipaksakan. Perlu kesepakatan dari dua belah pihak. Kesediaan dari dua orang yang akan menjalani biduk rumah tangga tersebut.


"Kak Andra gak bohong?"


"Bohong...besok aku cari cewek yang mau nikah sama aku. Lusa...."


"Ihhh kok gitu sih."


Rea merengek manja. Dengan Andra yang langsung melebarkan senyumnya. Melihat aksi protes menggemaskan Rea. Pria itu lalu memeluk Rea. Dia sebenarnya sangat merindukan sang tunangan setelah perdebatan mereka hari itu. Tapi dia sedikit menahan diri.


"Nggaklah, aku gak bakal nikah sama orang kecuali kamu. Percaya deh."


"Meski harus nunggu lama?"


"Ya jangan lama-lama. Nanti keburu karatan juniorku."


Satu cubitan mendarat di perut sixpack Andra. Pria itu meringis tertahan.


"Gak boleh selingkuh...gak boleh nikah sama cewek lain."


"Lah kok posesif amat. Situ diuber dua cowok di kampus aja, aku gak protes."


Rea melepaskan pelukan Andra. Lalu memandang wajah sang tunangan. Jadi Andra selama ini tahu kalau Ken dan Brad mengejar dirinya.


"Aku tahu semua yang terjadi di kampus. Jangan kamu pikir aku tidak tahu apa-apa. Kamu tidak akan lepas dari pengawasanku."


"Lalu apa Kak Andra tahu kalau Brad...."


Rea membisikkan sesuatu di telinga Andra. Mata pria itu mendelik tajam. Dia emosi mendengar apa yang dibisikkan Rea. Detik berikutnya, pria itu melangkah keluar dari ruangan itu dengan wajah penuh kemarahan.


"Kak, jangan menghajarnya. Aku sudah melakukannya."


Rea berteriak, memanggil Shane dan Alex untuk mencekal Andra. Gadis itu buru-buru berdiri, lalu berlari, alhasil dia jatuh terjerembab di karpet kantor Andra. Pergelangan kakinya terasa sakit luar biasa. Sepertinya keadaan kakinya bertambah parah.


Rea hampir menangis, hingga Dion melihat Rea yang terduduk di karpet. Pria itu berteriak memanggil bosnya. Hingga Andra yang tengah berdebat dengan Alex terpaksa menghentikan sejenak emosi yang sudah merayap sampai ke ubun-ubun.


****



Kredit Pinterest.com


Pinky...pinky...jangan lupa ritual jempolnya 🥰🥰

__ADS_1


****


__ADS_2