Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Rencana Aneh


__ADS_3

Ken memandang undangan pernikahan Andra dan Rea yang berada di tangannya. Undangan itu datang bukan atas namanya tapi atas nama sang ayah. Dua minggu lagi hari besar itu akan dihelat. Kecewa? Sudah pasti. Hampir tiga tahun, Ken memupuk rasa cintanya pada Rea. Berharap kalau gadis itu akan menyambut uluran tangannya dan menerima cintanya suatu hari nanti.


Tapi nyatanya tidak. Kenyataan pahit harus Ken telan, karena Rea telah memilih Andra. Pria yang sejak pertama telah memenuhi relung hati Rea. Pada awalnya sulit untuk menerima semua ini. Hingga sang papa berkata, bukankah cinta tidak harus memiliki.


Ken menarik nafasnya saat teringat ucapan sang papa. Ya benar, cinta tidak harus memiliki. Ken perlahan mulai belajar melepas Rea. Membiarkan gadis itu bahagia dengan pilihannya. Yang perlu Ken lakukan sekarang adalah menyingkirkan hal-hal yang bisa membahayakan Rea.


Katakanlah Ken bodoh. Berharap pada hal yang sudah jelas tidak akan dia miliki. Tapi bukankah itu semua haknya. Perasaannya adalah miliknya, jadi suka-suka dialah.


Lamunan Ken buyar ketika ponselnya berbunyi. Senyum Ken langsung terkembang begitu melihat siapa yang menghubunginya. Ken tidak menjawab panggilan itu. Hanya mengirim pesan pada si penelepon. Selanjutnya pria berwajah imut itu memakai jaket kulitnya.


"Halo...rencana A kita lakukan."


Hanya satu kalimat itu yang Ken katakan saat menghubungi seseorang.


"Kalian akan berakhir hari ini. Akan kupastikan kalau kalian tidak akan melukai Rea lagi."


Batin Ken sembari masuk ke dalam mobilnya. Melajukannya menuju apartemen miliknya.


Mobil Ken masuk ke sebuah bangunan mewah. Mewah tapi sepi, hal itu sengaja dibuat agar target Ken tidak curiga. Begitu dia turun dari mobil, seorang wanita langsung menyambutnya. Wanita itu berani menampakkan diri karena dia sudah memeriksa kalau keadaan aman.


"Apa benar dia ada di dalam?"


Tanya wanita itu. Ken mengangguk menjawab pertanyaan dari wanita yang tak lain adalah Clara.


Clara lantas mengikuti langkah Ken, masuk ke dalam apartemennya.


Di dekat lift, seorang memakai hodie dan bermasker, ikut bergabung dengan Ken dan Clara.


Clara terlihat antusias, sedang pria di samping Ken terlihat waspada.


Lift membawa ketiganya naik ke lantai 20, di mana unit Ken berada. Clara membulatkan matanya begitu keluar dari lift. Belum masuk unit Ken saja, matanya sudah dimanjakan dengan mewahnya desain ekterior apartemen itu.


"Ken pasti sangat kaya. Tahu begini kenapa aku tidak coba menggodanya. Setelah Rea lenyap, aku akan membuat Ken bertekuk lutut padaku."


Bayangan hidup mewah tanpa bekerja segera memenuhi angan Clara. Dia sudah lelah melayani hasrat pria hidung belang setiap malam. Dia ingin berhenti tapi tidak mau hidup susah.


Penghasilan Clara memang besar. Sebab dia pandai memuaskan para pelanggannya. Sampai tak jarang para pria itu sudah menghujani tubuh polos Clara dengan uang, saat mereka masih bercinta, saking nikmatnya rasa yang diberikan Clara.

__ADS_1


Begitu Ken membuka pintu, mata wanita itu semakin melebar kelopaknya. Sebuah penthouse langsung menyambut pemandangan Clara. Meski suasana sedikit gelap, tapi kemewahan itu jelas terlihat.


"Di mana dia?"


Pria yang ikut bersama Ken langsung bertanya.


"Ada di kamar. Kau bisa melakukannya sekarang. Kamera juga sudah on. Dia sudah menunggu dari tadi."


Senyum pria yang tak lain adalah Janson itu langsung terlihat di wajah pria tersebut. Bercinta dengan Rea adalah hal yang sudah lama dia tunggu.


"Apa adikku pernah menyentuhnya?"


Ken menyembunyikan wajah kesalnya. Dia tidak suka mendengar Janson merendahkan Rea. Tapi untuk saat ini, dia harus menahan diri. Agar rencananya berjalan lancar.


"Adikmu...aku pikir belum. Tapi kalau Andra aku tidak tahu. Kau tahu kan mereka sudah bersama cukup lama. Alah nikmati saja tubuhnya, kau pasti menyukainya."


Kata Ken sembari memainkan ponselnya. Dia sebenarnya ingin mengumpat dirinya sendiri. Karena sudah mengatakan hal yang belum tentu benar soal Rea. Meski begitu, Ken percaya kalau Rea masih segelan, belum tersentuh oleh siapapun bahkan Andra sekalipun.


Mendengar perkataan Ken, Janson langsung masuk ke kamar yang ditunjuk oleh Ken. Begitu tidak terlihat, Clara langsung mendekat ke arah Ken.


Goda Clara sambil meraba paha Ken yang masih terbalut celana jeans. Ken seketika memejamkan mata. Menahan diri untuk tidak menampar Clara, karena berani menyentuh tubuhnya.


"Aku sedang malas."


Ken menggeser tubuhnya, menjauh dari Clara.


"Apa kau cemburu karena Janson tengah menikmati tubuh Rea di dalam sana?"


Pancing Clara.


"Tentu saja tidak."


"Yang didalam bukanlah Rea. Enak saja membiarkan Rea disentuh oleh pria brengsek seperti Janson."


Ken mengumpat dalam hati. Yang berada di dalam kamar Ken, hanyalah wanita malam yang dia sewa untuk menjebak Janson.


"Apa kau sedang ingin bermain?"

__ADS_1


Clara langsung membulatkan matanya. Sebab dia sendiri mulai gelisah. Tubuhnya panas dingin membayangkan Janson sedang bercinta.


"Kau mau?"


"Sudah kubilang aku sedang malas. Tapi jika kau mau, aku bisa memanggilkan seseorang untukmu. Dia temanku, tinggal di sebelah. Dan hobinya tidur dengan banyak wanita. Dia sangat panas di ranjang. Dia baru saja menghubungiku. Bertanya apa aku punya teman wanita yang sedang ready. Dia sedang ingin bercinta."


Otak Clara langsung on mendengar perkataan Ken. Tak berapa lama seorang pria dengan tubuh berotot, muncul di pintu setelah Ken menghubunginya. Tanpa Clara tahu kalau pria itu adalah gi*****.


Melihat tubuh atletis pria dihadapannya. Clara langsung menggigit bibir bawahnya. Tubuhnya langsung panas dingin. Apalagi tatapan mesum pria itu sudah Clara tangkap sejak tadi.


"Kamar kosong ada di sebelah kamar mereka."


Tanpa banyak bicara, Clara langsung berjalan menuju kamar yang ditunjuk Ken. Ken langsung melengos, karena Clara dan pria itu belum masuk ke kamar tapi keduanya sudah berciuman dengan panas. Tangan pria itu bahkan sudah masuk ke dress pendek Clara.


"Menjijikkan!"


Umpat Ken bersamaan dengan pintu yang ditutup. Malam itu di dalam dua kamar apartemen milik Ken, suara dessahan bersahut-sahutan. Janson bahkan langsung menubruk wanita yang tengah tergolek di atas ranjang besar di kamar itu.


Baik Janson maupun Clara sangat menikmati sesi panas mereka. Berkali-kali keduanya memekik, karena rasa nikmat yang mereka rasakan saat bersetubuh dengan pasangan masing-masing.


Tanpa Clara sadar, selama sesi panas mereka. Si pria terus mengajaknya bicara, mengorek semua keterangan yang diperlukan untuk menjebloskan wanita itu ke penjara. Sesuai skenario yang sudah diberikan padanya. Pria itu tentu tidak menolak. Apalagi ada bayaran besar yang akan dia terima jika dia berhasil melakukan misi ini. Kalaupun dia tidak mendapat uang. Setidaknya dia sudah dapat wanita gratis. Untuk menghangatkan ranjangnya.


Sedangkan Janson, memang dia buronan. Jadi dia harus ditangkap kembali. Dan kali ini tuntutan Janson bertambah. Karena dalam pelariannya, pria itu sudah menculik Rea dan menganiayanya. Mencoba melecehkan gadis itu, serta melukai Brad dan Andra. Bisa dipastikan kalau Janson akan mendekam di penjara untuk waktu yang cukup lama.


Selama sang pria mencari bukti, di luar ruangan Ken menunggu sembari mendengarkan rekaman suara Clara yang tanpa ragu, menyuarakan kebenciannya pada Rea. Wanita itu menyebut kalau hidupnya hancur karena Rea. Hidupnya berantakan karena ulah Rea. Dan banyak lagi umpatan dan perkataan kasar yang ditujukan untuk Rea.


Tak berapa lama, beberapa anggota polisi masuk ke apartemen Andra. Setelah sedikit berbasa-basi. Mereka mulai mendengarkan apa yang Clara ucapkan. Meski beberapa dari mereka mendengar rekaman itu dengan alis bertaut. Bagaimana tidak, karena rekaman suara Clara bercampur dengan suara dessahan dari dua orang itu.


"Saya cukup terkesan dengan rencana Anda, tuan Ken. Meski sedikit tidak biasa bagi kami. Tapi tidak masalah, selama kami bisa menangkap Janson Scott kembali. Ditambah satu komplotannya."


Ken tersenyum, mendengar pujian dari anggota kepolisian itu. Ya, rencananya memang sedikit aneh, tapi seperti yang polisi itu katakan. Tidak masalah. Yang penting mereka berdua bisa ditangkap.


****


Ritual jempolnya jangan lupa...


Like dan teman-temannya ditunggu ya 😅😘😘

__ADS_1


__ADS_2