
"Deandra Oliver Sky," gumam Rea. Dia baru tahu kalau pria yang tadi mengantarnya adalah Andra Sky. "Kamu kan belajar akuntasi, pasti tahu dia dong," seloroh Gina. Yah, siapa yang tidak kenal dengan nama itu. Akuntan terbaik saat ini. Hasil auditnya selalu akurat. Semua diatas 90%. Jarang yang bisa lolos dari kejelian seorang Andra Sky. Rea sejak dulu mengidolakan pria itu, menjadikan Andra motivasinya dalam belajar.
Tapi setelah melihat bagaimana galaknya Andra, penilaian Rea sedikit berubah. "Otaknya cerdas...tapi kalau mulutnya ikutan cerdas. Nggak deh," gerutu Rea. Gerutuan gadis itu terhenti ketika Gina memanggilnya. Sehari setelah Matt meminta persetujuan adopsi dirinya. Rea menyetujuinya. Dan hari ini, seorang pengacara akan mengesahkan surat adopsi Rea dengan gadis itu sendiri yang menandatangi surat itu.
"Selesai, selamat datang Nona Aherne," pengacara itu langsung memberikan selamat. Begitu Rea dan Matt menandatangani berkas adopsi itu. Di sana juga tertera nama ibu Rani sebagai saksi meski wanita itu tidak hadir di sana. "Untuk sementara saya akan mengurus perubahan identitas Anda, Anda akan menyandang nama Aherne di belakang nama Anda,"
Rea sesaat melongo, tidak paham dengan perkataan tuan Smith, pengacara Matt Aherne yang kini resmi menjadi papanya. "Selamat datang putriku, Andrea Kirana Aherne," Matt membuka kedua belah tangannya. Sejenak Rea terpaku hingga kemudian gadis itu menghambur masuk ke pelukan Matt. "Call me Papa, my dear," pinta Matt. "Papa...." ucap Rea setelah beberapa waktu terdiam.
Gina dan Berta pun ikut bergabung dengan dua orang itu, keempatnya saling berpelukan. Benar-benar merasa bahagia. Tapi percayalah, Realah yang paling bahagia saat itu. Dalam semalam, hidupnya berubah. Dia yang yatim piatu seketika punya papa dan mama. Dia yang sebatang kara tiba-tiba punya keluarga. Terbayar sudah tetesan air mata yang selama ini mengalir dari mata bulat bening milik Rea.
Malam itu, sebuah makan malam di adakan untuk menyambut Rea sebagai anggota baru keluarga Aherne. Pria itu mengundang Andra dan keluarganya. Sebagai kolega mereka sudah lama tidak bertemu. Sedang Gina tentu saja mengundang Nicky sang tunangan, meski di sayangkan orang tua Nicky tidak bisa hadir. Ada Mark, yang kebetulan sedang free. Serta Shane dan juga Bryan. Dua orang yang belum pernah Rea temui.
Rea jelas sedikit kikuk, harus berkumpul dengan banyak orang, yang dia sendiri belum kenal. "Senang kau sekarang? bisa jadi adiknya Gina," satu suara dari belakang Rea langsung membuat gadis itu menunduk. Andra langsung berdiri di depannya. Menatap tajam pada Rea. "Kau apakan dia, An," seru Gina. Wanita itu cukup paham dengan watak Andra. Dia tidak mudah percaya pada orang baru. Apalagi baru dia kenal.
"Hanya memberinya selamat," Andra menjawab enteng. "Selamat dari mananya. Orang Rea ketakutan gitu. Awas kamu ya!" ancam Gina. Wanita itu membawa Rea menjauh dari Andra. Memperkenalkan sang adik pada papa dan mama Andra. "Wah....dia cantik sekali. Cocok sama Andra," seloroh Katya, mama Andra. Pria itu langsung memutar matanya malas mendengar ocehan sang mama.
__ADS_1
Rea langsung menarik nafasnya dalam. Gadis itu berdiri di tepi kolam renang. Mencoba mencari udara segar. Dia menyukai semua orang yang ramah padanya. Terlebih Mark, pria itu bahkan sudah menklaim adik padanya. Perlahan seulas senyum terbit di bibir Rea. Gadis itu berdoa kalau semua ini bukanlah mimpi. Tapi nyata.
"Apa sebenarnya tujuanmu? Gadis yatim piatu sepertimu, tiba-tiba muncul dalam kehidupan kami," suara Andra kembali terdengar di belakang Rea. Gadis itu berbalik dengan cepat. Rea langsung memundurkan langkahnya. Melihat Andra yang berdiri sangat dekat dengannya.
Melihat hal itu, Andra langsung bereaksi, pria itu meraih pinggang Rea, mencegah gadis itu tercebur ke kolam. "Watch your way," desis Andra penuh penekanan. Menarik tubuh Rea menjauh dari kolam. Rea buru-buru melepaskan tangannya dari jas Andra, gadis itu reflek berpegangan. "Ma...maaf," jawab Rea kembali menundukkan kepalanya.
"Katakan apa tujuanmu mendekati Gina dan keluarganya? Kau ingin menumpang hidup pada mereka?" sarkas Andra. Pria itu benar-benar bermulut pedas. Mata Rea berkaca-kaca mendengar ucapan Andra. "Jawab! Jangan hanya diam! Kau pikir aku akan percaya dengan wajah polosmu itu? Kau bisa menipu yang lain. Tapi tidak denganku!" tegas Andra.
"Andra! Apa yang kau katakan?" Suara Gina mengggelegar. Andra seketika memutar matanya malas. "Tunggu dulu. Aku mau bicara padamu!" Gina menahan tangan Andra. "Rea masuk ke keluargaku karena keinginanku. Aku yang memintanya......byurrrrrrr, keduanya langsung menoleh. Gina seketika menjerit melihat Rea yang sudah tercebur ke kolam."Oh shi***"!!!!!" Andra mengumpat. "Pintar sekali dia mencari perhatian!" sambung pria itu.
"Uhuk!!!!" suara Rea yang terbatuk membuat Gina dan Andra seketika menarik nafasnya lega. Meski detik berikutnya gadis itu kembali tidak sadarkan diri. "Hei....hei....bangun!" Andra menepuk-nepuk pipi Rea.
"Panggil Mark, aku akan membawanya naik," Andra berkata cepat. Lantas membawa tubuh Rea naik ke kamarnya. Suasana seketika menjadi heboh. Saat mereka melihat Andra yang menggendong Rea dalam keadaan pingsan plus basah kuyup.
"Ada apa?" Matt dan Daniar bertanya bersamaan. "Nanti saja. Mark!!!!" teriakan Gina melengking, Mark yang tengah berbincang bersama Nicky langsung menoleh. Belum sempat bertanya, Gina sudah berkata, "Rea...Rea....." Mendengar nama Rea. Pria itu langsung melesat keluar dari sana. Menuju ke mobilnya, di mana alat-alat medisnya selalu dia bawa.
__ADS_1
Andra merebahkan tubuh basah Rea di sofa. Tidak mungkin dia meletakkan tubuh gadis itu langsung di ranjangnya. Melihat wajah pucat Rea, terselip sedikit rasa bersalah di hati Andra. Pria itu cukup panik melihat keadaan Rea. "Sudah keterlaluankah dia?" batin Andra. Tapi pria itu begitu benci pada kebohongan dan kepura-puraan.
Baginya, wajah polos Rea hanyalah topeng untuk menutupi tujuan sebenar dari gadis itu tiba-tiba muncul di hadapan mereka. "Aku kan sudah bilang padamu. Tekanan darahnya sangat rendah. Dia hampir mengalami anemia," kata Mark saat memeriksa Rea. Gina sempat mendelik tajam pada Andra. Melihat pria itu dengan pandangan menuduh.
"Oke, saturasi oksigennya cukup. Dia tidak perlu oksigen tambahan," Mark menarik nafasnya lega. Lalu mulai memeriksa tensi Rea. "Kau lihat, inilah yang membuatnya nyebur ke kolam. 80/60, dia pasti tiba-tiba pusing langsung oleng ke kolam," kata Mark. Gadis itu sudah berganti pakaian kering. Sedang Andra baru saja keluar dari kamar mandi Rea. Setelah mengganti bajunya.
"Angkat dia!" pinta Gina. "Kenapa aku? Suruh kakak tercintanya itu mengangkatnya," tolak Andra, pria itu masih mengeringkan rambut dengan handuk Rea. "Tidak masalah!" Dalam hitungan detik, tubuh Rea sudah berpindah ke kasur empuknya.
"Aku akan memberikan suntikan zat besi dulu. Tapi besok kau harus membawanya untuk cek laboratorium. Bukankah Rea besok ada schedule bertemu Bella?" kata Mark.
"Dia akan mulai konselingnya besok," jawab Gina. Mulai keluar dari sana diikuti yang lain. "Konseling? Bella?" gumam Andra.
"Tidak jangan lakukan itu padaku! Apa salahku pada kalian?" gumaman Rea membuat Andra mendekat ke arah kasur. Pria itu tertegun melihat Rea mengigau dalam tidurnya.
****
__ADS_1