Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Perpisahan Sementara


__ADS_3

Sebuah brankar pasien didorong masuk ke ruang UGD, dengan Mark yang siap menyambutnya. Sementara Rea langsung masuk pemeriksaan oleh dokter kandungan.


Arka terluka di bahunya, setelah baku tembak sendiri dengan 30 orang pembunuh bayaran yang seharusnya dikirim untuk membunuh Rea. Arka jelas tidak akan membiarkan seorangpun menyentuh sang adik.


Semua sangat terkejut dengan skill menembak yang Arka miliki. Pria itu hanya perlu waktu lebih kurang sepuluh menit, untuk melumpuhkan 30 orang tersebut. Berbekal dua Glock dan dua Revolver yang Jack lemparkan saat pria itu kehabisan amunisi.


Arka memilih melawan mereka tanpa melibatkan yang lain. Pria itu hanya menyuruh Andra dan Alex menjaga Rea. Dengan Jack sekali-sekali mengcover Arka.


"Aku tidak apa-apa!"


Arka menyentak tangan Mark ketika pria itu ingin mengobati luka Arka setelah membersihkan darah di bahu Arka.


"Diamlah!"


Mark hampir berteriak. Dia pikir kenapa Arka begitu keras kepala. Mark hanya ingin memastikan kalau luka itu bukan luka tembak serius. Pria itu duduk dengan tubuh topless, sementara Mark mengobati lukanya.


"Ya, halo....."


Untuk sesaat Arka hanya diam. Mendengarkan seseorang bicara di ujung sana. Satu dua kali ekor matanya melirik Mark yang tengah sibuk dengan lukanya. Hingga panggilan itu berakhir. Dan Arka menarik nafasnya pelan.


"Mereka mulai tahu soal identitas Andrea Kirana. Istrimu membuat kekacauan besar hari ini."


Arka memejamkan matanya. Satu dua kali meringis saat Mark menyentuh lukanya. Sebuah pesan Arka kirim pada orang kepercayaannya. Menyuruh orang itu menghabisi Sonya tanpa jejak. Sejenak Arka terdiam. Hingga Mark selesai mengobati lukanya. Saat Mark ingin berlalu dari sana, suara Arka menghentikan langkah Mark. Dia tahu benar siapa Mark.


"Seberapa besar kalian bisa menjamin keselamatan Andrea Kirana?"


Mark menghentikan langkahnya. Lantas berbalik menghadap Arka yang telah menegakkan duduknya.


"Kami akan melakukan apapun untuk melindunginya. Dia adikku. Tidak akan kubiarkan siapapun menyakitinya."


Arka tersenyum tipis. Ya, dia tahu Mark akan melakukan itu. Satu helaan nafas terdengar dari bibir Arka.


"Kalau begitu aku bisa tenang sekarang."


Pria itu melompat turun dari brankar pasien. Menyambar jaketnya. Sebuah panggilan Arka buat tepat di depan Mark.


"Siapkan semuanya. Kita berangkat malam ini."


"Antarkan aku ke tempat Rea."


Mark sesaat terdiam, hingga kemudian keduanya sudah berjalan masuk ke ruangan di mana Rea dirawat. Jack sejenak menatap lama pada Arka, sementara Arka hanya menggeleng pelan.

__ADS_1


Ketika Arka masuk ke ruangan Rea, Andra langsung bereaksi. Pria itu ingin menghajar Arka yang sudah membawa Rea dalam situasi berbahaya. Jika tidak mengingat mereka sedang di rumah sakit, bisa dipastikan adu jotos akan terjadi.


"Maaf sudah menimbulkan bahaya pada Rea. Tapi aku jamin, ini akan jadi yang terakhir."


Ekor mata Arka menangkap raut wajah terkejut dari Jack. Tapi Arka mengabaikannya. Fokusnya ada pada Rea yang kini terlelap dalam pengaruh obat penenang.


"Bagaimana keadaannya?"


Kali ini Andra tidak mampu menahan diri. Pria itu maju dan mencengkeram kerah leher Arka.


"Apa kau tahu dia sedang hamil?"


Mendengar perkataan Andra, Arka segera menepis cekalan tangan suami Rea itu. "Aku bahkan tahu lebih dulu kalau dia hamil."


Desis Arka. Haishh, Arka benci kala ingat kalau Andra adalah suami Rea, yang berarti dia adalah adik iparnya. Tapi bagaimanapun juga, Arka bisa menarik nafasnya lega. Di bawah perlindungan Andra, dia yakin sang adik pasti aman.


Arka mendorong tubuh Andra, berjalan melewati suami sang adik. Lantas berdiri di samping tempat tidur Rea. Ada bahagia yang membuncah saat Arka menatap wajah pucat Rea. Sekian tahun dia mencari, akhirnya dia menemukan Rea, satu-satunya adik yang dia punya. Perlahan tangan Arka terulur, menyentuh pelan wajah Rea.


Hal itu membuat emosi Andra tersulut. "Jangan menyentuh istriku!" Ancam Andra. Tapi Arka tidak menggubris ucapan Andra. Pria itu tidak tahu jika mata Arka sudah berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, Arka menitikkan air mata.


Dia menemukan adiknya, tapi dia tidak bisa bersamanya. Batin Arka ingin berteriak, protes. Tapi dia tidak mampu. Dia tidak punya pilihan selain pergi. Demi keselamatan Rea, Arka akan pergi dari negeri ini. Kenyataan dirinya yang seorang mafia, membuat dirinya memiliki musuh di mana-mana. Dan itu bisa mengancam keselamatan sang adik. Bagi Arka cukup mengetahui siapa sang adik. Pria itu akan melakukan apapun untuk keselamatan Rea.


"Hei apa yang kau lakukan?"


Protes Andra. Dia jelas tidak terima saat Arka memasangkan cincin di jari Rea. Tapi protesnya seolah hanya angin lalu, tidak seorangpun menggubrisnya. Pria itu akhirnya hanya diam, bahkan ketika Arka mencium kening sang adik. Air mata Arka luruh untuk pertama kalinya. Perjumpaannya kali ini menjadi pertemuan terakhir mereka. Selanjutnya dia akan mengalah pergi, memancing musuhnya agar tidak mengancam keselamatan Rea.


Perlu beberapa detik bagi Arka untuk merelakan Rea. Meninggalkan adik yang baru dua bulan ini dia jumpai. Hingga perlahan Arka menegakkan kembali tubuhnya. Diusapnya pelan pipi Rea.


"Semoga hidupmu selalu bahagia. Maafkan Kakak yang tidak bisa menjagamu."


Arka berbalik dan melangkah keluar dari sana. Andra hanya bisa mematung menyaksikan semua itu. Dia jelas tidak paham akan apa yang baru saja terjadi.


*


*


"Sonya dipastikan sudah meninggal."


Arka tersenyum mendengar laporan anak buahnya. Mereka sedang berada di sebuah hanggar pesawat pribadi. Malam ini, dia akan bertolak ke negara M. Dia akan memulai era baru dengan mengambil alih kepemimpinan klan mafia Black Chimaera di sana.


"Apa yang kuminta sudah kau lakukan, Max?"

__ADS_1


Max, orang kepercayaan Arka mengangguk. Klan Black Dragon telah dibekukan dengan semua aset dan operasional akan menjadi satu di bawah Black Chimaera. Ini Arka lakukan untuk menghilangkan jejak soal dirinya pernah berada di negeri ini. Memancing semua musuhnya keluar dari negara ini. Hingga sang adik dipastikan akan aman.


"Setengah jam lagi kita berangkat."


Arka menggangguk. Satu hembusan nafas kasar terdengar dari bibir pria yang masih menyessap nikotin di jarinya. Pria itu baru saja beranjak dari duduknya. Kala suara Jack terdengar.


"Apa yang kau lakukan?"


Arka tersenyum melihat sikap Jack.


"Aku akan pergi."


"Lalu bagaimana dengan Rea. Dia akan senang jika tahu masih punya seorang kakak."


Senyum Arka terukir. Dia juga akan senang jika memiliki seorang adik seperti Rea. Tapi dia tidak bisa bersama Rea sekarang. Setidaknya untuk beberapa waktu mendatang.


"Aku pergi demi keselamatannya. Kau tahu sendiri keadaanku seperti apa."


"Apa kau akan kembali?"


Hening sejenak. "Aku akan kembali, dan saat itu aku akan menemuinya sebagai kakaknya. Untuk saat ini, rahasiakan ini dulu dari Rea."


"Tapi...K...."


Arka memberi kode diam, saat Jack menyebut nama dirinya dalam dunia bawah.


"Aku pergi. Titip adikku. Jaga dia dan keponakanku. Aku hanya punya mereka di dunia ini."


Seolah terhipnotis, Jack mengangguk. Lantas membiarkan Arka masuk ke dalam pesawat pribadinya. Ada bulir bening yang luruh di pipi Arka saat pesawat itu mulai tinggal landas, meninggalkan kota yang entah, dia tidak tahu kapan akan kembali.


"Maafkan Kakak, Rea. Semua untuk keselamatanmu. Keadaanku belum stabil untuk bisa berada di sisimu saat ini. Tapi Kakak berjanji, ini hanya perpisahan sementara. Kakak akan kembali."


****


Up lagi readers..


Ada yang ingat K siapa? Yup pemimpin klan mafia Black Chimaera di Princess's Handsome Bodyguard. Cerita K akan berlanjut di sana. Tapi cerita soal Arka akan ada di spin off setelah Andra dan Rea selesai. Ada yang kepo dengan cerita K aka Arka.... Tungguin dan kepoin ya...


Jangan lupa ritual jempolnya ya...😘😘


****

__ADS_1


__ADS_2