
Mendengar berita kalau Janson dan Clara sudah ditangkap, membuat semua orang lega. Andra dan Matt segera pergi ke kantor polisi. Memastikan kalau berita yang mereka terima benar. Di kantor polisi, dua pria itu sedikit terkejut, ketika mereka diberitahu. Kalau penangkapan Janson dan Matt berkat bantuan Ken.
Andra dan Matt saling pandang. Bagaimana ini semua terjadi? Kenapa justru Ken yang bisa menangkap dua buronan itu. Hingga mengalirlah cerita dari kepala polisi di dana.
Andra mengerutkan dahinya, tidak menyangka kalau Ken, anak yang selalu dia sebut anak ingusan, bisa membantu pihak kepolisian untuk menangkap Janson dan Clara.
Sekarang semua bisa berhenti mengkhawatirkan Rea, sebab pihak kepolisian memastikan Janson tidak akan bisa kabur lagi. Saat kedua pria itu berjalan keluar kantor polisi. Dilihatnya Ken yang keluar dari mobilnya.
"Ken....."
Andra memanggil Ken, dan di sinilah ketiganya berada. Di sebuah kafe dekat kantor polisi. Secara jelas, Matt mengucapkan terima kasih atas bantuan Ken yang sudah membantu mereka menangkap Janson dan Clara. Ken tersenyum kecut mendengar ucapan terima kasih Matt.
"Kau melakukannya karena Rea?"
Andra bertanya setelah Matt pergi lebih dulu.
"Apalagi alasan yang kupunya selain dia."
Ken beranjak pergi dari sana. Masuk ke dalam kantor polisi. Meninggalkan Andra yang diam membisu setelah mendengar jawaban Ken. Andra tahu benar kalau Ken masih mencintai Rea. Pria itu lantas berlalu dari sana.
Mulai saat itu, Andra dan Rea mulai disibukkan dengan persiapan pernikahah mereka. Hari itu keduanya berjanji akan pergi ke toko Nana untuk mencoba cincin pernikahan mereka. Pria itu menjemput sang kekasih di kampus, setelah urusan di kantor polisi selesai.
Wajah Rea begitu bahagia, saat melihat Andra yang melambaikan tangan padanya. Sekarang semua orang tahu soal hubungan Andra dan Rea. Hingga lebih banyak yang bergosip soal Rea. Sebab gadis itu belum bisa lepas dari rumor kedekatannya dengan si dosen killer. Bradley Scott.
Brad hanya bisa menghela nafas, melihat Andra yang memeluk hangat tubuh Rea sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mereka. Pria itu melihat keduanya dari jendela ruangannya.
"Kau masih punya kesempatan untuk merebutnya."
Satu suara membuat Brad memejamkan mata. Dia berbalik dan melihat Stacey berdiri sembari bersandar pada meja kerja Brad.
"Jangan memprovokasiku. Aku tidak akan mengejarnya jika dia tidak memintaku."
Stacey tersenyum mengejek. Wanita itu tidak ikut ditangkap karena Stacey tidak melakukan apapun pada Rea. Wanita itu memang berada di gudang tempat Rea diculik. Tapi Stacey langsung pergi. Pihak kepolisian hanya menegur karena Stacey tidak melaporkan kejadian itu pada polisi.
Brad rupanya telah banyak berubah, dia bukan lagi pria yang dengan mudah melakukan hal yang dia suka. Brad penuh dengan pertimbangan sekarang.
"Jika kau tidak ada urusan, cepatlah pergi. Aku banyak pekerjaan."
Brad langsung meraih laptopnya, berusaha melupakan bayangan Rea. Lalu mulai mengerjakan tugasnya sebagai dosen. Memeriksa pekerjaan mahasiswanya.
*
__ADS_1
*
Mata Rea membulat senang, melihat bagaimana cantiknya cincin pernikahan mereka. Sebuah cincin sederhana namun terlihat anggun sekaligus elegan. Cincin itu berkilau di bawah terpaan sinar lampu yang menerangi ruangan kerja Nana.
"Kamu menyukainya?"
Rea mengangguk antusias. Senyum Nana dan Andra mengembang sempurna bersamaan. Terlebih Nana. Dia takut kalau sang sahabat tidak menyukai designnya. Ternyata tidak. Rea sangat puas melihat cincin buatannya.
"Terima kasih, ini cantik sekali."
Rea berkata sembari menatap Nana. Dua gadis itu saling pandang lalu tertawa pada detik berikutnya. Ya, bersahabat lebih dari lima tahun membuat dua gadis itu sangat dekat. Nana bahkan sering diundang ke rumah oleh Berta. Jika Nana sedang tidak sibuk. Maklum, bisnis Nana mulai berkembang. Semakin banyak pesanan yang datang ke toko Nana.
Gadis itu sudah menambah tenaga kerja di tokonya. Tiga orang kini berjaga di outlet mereka. Siap melayani pembeli. Dan untuk proses produksi, Nana telah merekrut dua pembuat perhiasan untuk bekerja padanya.
Meski hidup Nana masih berantakan saat di rumah. Tapi dia sangat bahagia saat berada di tokonya. Terlebih Mark dan Dena sering menemaninya saat dia harus lembur.
Setelah urusan dari toko Nana selesai. Andra dan Rea memutuskan untuk jalan-jalan. Toh pekerjaan Andra sudah selesai atau lebih tepatnya ia limpahkan pada Shane yang langsung manyun wajahnya. Gagal sudah acara kencannya dengan Dena gegara sikap Andra yang seenaknya sendiri.
"Kau sebentar lagi akan merasakan betapa brengseknya pewaris Sky Airline Corp itu."
Tawa Alex langsung berhenti begitu mendengar perkataan Shane. Pria itu teringat kalau Andra masuk kantor sang papa, dia akan ikut ke sana sebagai asisten Andra.
"Habis kau!"
"Mau ke mana?"
Tanya Andra tersenyum, melihat Rea yang bergelayut manja di lengannya. Memakai masker, keduanya berhasil mengecoh para pejalan kaki yang berlalu lalang di sekitar mereka.
"Kita jalan-jalan saja dulu ya."
Bisik Rea di telinga Andra. Dia harus melakukan itu, karena suara bising yang terdengar di kiri kanan mereka. Andra mengangguk mendengar permintaan Rea. Sembari menggenggam tangan sang tunangan yang dalam beberapa hari lagi akan menjadi istrinya.
Keduanya menikmati kencan mereka. Beberapa kali berhenti untuk melihat dagangan yang dijajakan di kiri kanan tempat itu. Canda dan tawa sering terdengar dari bibir keduanya. Andra sangat menyukai Rea saat tersenyum. Pria itu lantas berjanji akan membuat Rea tersenyum selama hidupnya. Dan tidak akan membuat gadis itu menangis. Janji itu terpatri dalam hati Andra.
Malam itu, Rea dan Andra menghabiskan waktu mereka di tempat itu.
*
*
Empat hari menjelang hari pernikahan.
__ADS_1
Rea masuk ke kantor Andra setelah perasaan gadis itu tidak nyaman sejak tadi. Dia pikir calon suaminya tidak enak badan atau hal buruk terjadi pada Andra.
"Eh calon manten, dilarang ketemuan sampai hari H."
Seloroh Alex yang melihat Rea berjalan ke arahnya.
"Pingitannya mulai besok, Kak."
"Tak kira seminggu."
Kekeh Alex, mengiringi langkah Rea masuk ke ruangan Andra.
"Eh kok kosong?"
Alex menggaruk kepalanya karena sama sekali tidak tahu di mana sang atasan berada. Pria itu melihat ke arah Rea yang sedang menghubungi Andra. Melihat ekspresi Rea, bisa dipastikan jika Andra tidak mengangkat ponselnya.
Alex yang menghubungi Shane juga mendapat jawaban yang kurang memuaskan. Shane berkata kalau Andra sudah kembali ke kantor sejak sejam yang lalu. Tapi anehnya, sampai sekarang Andra tidak terlihat di sana.
Setelah beberapa kali mencoba menghubungi Andra dan tidak terhubung. Alex menghubungi Jack. Pria berambut sebahu itu mengatakan kalau Andra juga tidak ada di sana. Ketika Alex meminta Jack menghubungi pengawal bayangan Andra, pria itu menjawab kalau sejak kemarin Andra meminta untuk diberikan privasi. Hingga pengawal bayangan Andra diliburkan.
Di saat bersamaan, ponsel Jack yang lain berbunyi. Pria itu mengerutkan dahinya. Pun dengan ponsel Rea yang juga berbunyi. Sebuah pesan dari Andra membuat gadis itu keluar dari sana.
"Aku ikut."
Alex dan Jack melaju dengan kendaraan masing-masing menuju ke sebuah tempat yang disebutkan dalam ponsel masing-masing.
"Kau yakin dia belum keluar sejak sejam yang lalu?"
Pria yang ditanya Jack mengangguk yakin. Meski semua pengawal bayangan dihentikan, rupanya ada satu pengawal bayangan yang iseng mengikuti Andra. Berdalih tidak ada kerjaan, pria itu mengikuti Andra hingga berakhir di tempat ini.
Sebuah hotel bintang lima, saat Jack melangkah masuk ke lobi, mobil Alex datang. Rea langsung mengikuti langkah Jack masuk ke hotel itu.
Jack semakin curiga kalau ada hal yang tidak beres tengah terjadi pada sang atasan. Terlebih setelah Rea menunjukkan pesan yang dikirim Andra pada calon istrinya.
"Semoga hal yang kutakutkan tidak terjadi."
Doa Jack saat mereka masuk ke lift yang akan membawa mereka ke lantai 10. Di mana nama Andra terdaftar sebagai tamu di salah satu kamar di lantai itu.
"Aku harap semua baik-baik saja."
***
__ADS_1
Ritual jempolnya jangan lupa...
Selalu ditunggu ya ...