
Hari berikutnya Andra dan Rea nikmati dengan jalan-jalan berdua. Mereka benar-benar quality time. Bahagia jelas tergambar di wajah keduanya. Berjalan di pantai sambil bergandengan tangan. Senyum mereka tak pernah lekang dari bibir masing-masing. Saling melempar senyum dan tawa. Berpelukan dan banyak lagi moment romantis yang mereka ciptakan berdua. Sungguh, Andra tidak ingin mengakhiri liburan singkat mereka.
Meski liburan kantor Andra berkedok family day. Tapi di lapangan kenyataannya yang sibuk ke sana ke sini adalah Shane dan Dion. Sebab Andra sama sekali lepas tangan.
"Elu bener-bener njelehi, An. Mentang-mentang yang cover biaya elu semua. Dia jadi bos beneran. Pokoknya pacaran terus."
Gerutu Shane ketika mereka sudah kembali ke rumah Rea malam harinya. Rea dan sang ART sedang menyiapkan makan malam mereka. Sementara Andra hanya menatap Rea dengan wajah berbinar bahagia. Melihat tingkah Andra, Shane gemas seketika.
"Yaelah, gue dikacangin lagi. An, lu dengar gak aksi protes gue ini!"
Shane kembali berteriak.
"Gue dengar. Gue double-in gaji elu bulan depan sama Dion. Dah, jangan berisik aja lu. Ganggu kesenangan gue aja."
Shane mingkem seketika mendengar gajinya double bulan depan. Pria itu kini anteng memeluk keripik singkong satu plastik besar sebagai camilan.
"Dengar gaji double aja langsung diem tu mulut."
Ledek Andra, tapi Shane tidak menggubrisnya. Yang penting gaji dua kali lipat. Hanya suara keripik singkong yang dikunyah Shane yang terdengar sekarang.
"Kak Mark mana? Kok belum pulang."
Rea bertanya sembari ikut mencomot keripik singkong Shane.
"Pedekate ma Nana."
Shane hampir tersedak makanannya. Dia cukup terkejut dengan berita ini.
"Dia sembuh?" Shane bertanya kepo.
"Kalau Nana bisa buat Mark turn on. Artinya dia bisa lempeng lagi."
Rea mendelik mendengar jawaban Andra.
"Jangan jadikan Nana umpan ya. Aku gak suka. Aku gak terima. Dia temanku, satu-satunya. Aku gak mau dia nangis gara-gara di-PHP-in kak Mark."
"La caranya harus gitu, Re. Mau bagaimana lagi."
Andra menyahut protes Rea.
"Kalau mereka sampai begituan. Terus Nana-nya hamil gimana?"
Rea cemas. Mereka kan tinggal ujian sebentar lagi. Kalau Nana ketahuan hamil bisa berabe semua urusan.
__ADS_1
"Ya gak sampai bercinta juga. Paling cuma dilibas abis sama Mark bibirnya Nana yang hobi ngomong itu."
Celetuk Shane.
"Kalaupun kebablasan juga, gue jamin Mark langsung nikahin Nana. Mark gak mungkin lepasin cewek yang bisa buat dia balik ke jalan lurus lagi."
Shane dan Andra saling beradu pandang, kemudian keduanya tos. Setuju dengan pendapat masing-masing.
Sementara Rea langsung mendelik melihat tingkah dua pria itu. Gadis itu berpikir. Apa begitu ya isi pikiran tiap pria apalagi yang masuk level dewasa seperti mereka semua.
"Jadi itu ya isi kepala kalian. Bercinta, ciuman kagak ada yang lain apa?"
Rea berkata sebal pada Shane dan Andra. Lantas berbalik menuju dapur. Meninggalkan Andra dan Shane yang melongo melihat wajah kesal Rea.
"An, gue cariin cewek dong. Masak gue doang yang jomblo." Keluh Shane tiba-tiba.
"Kan masih ada Alex yang jones. Sama Alex nooh."
"Idiiihhh, amit-amit. Mark aja balik lempeng. Masak gue yang gantian belok. Lagian Alex kan di sini."
"Lu pacarin aja si Anna, cantik tu. Body seksoy juga. Lagian kalau Rea pulang, Alex gue tarik ke kantor pusat. Dia yang bakal jadi asisten gue kalau gue masuk kantornya bokap."
"Lu tarik Alex ke sana?"
Andra mengangguk. Shane hanya bisa melihat Andra sembari memakan keripik singkongnya.
"Lama kelamaan gue musti balik ke habitat gue. Di situ kan gue cuma sementara. Elu yang menghandle sebelum bos besarnya datang."
Andra menatap lurus ke depan, ketika dia menyebut "bos besar" Shane pun mengikuti arah pendangan Andra. Dan dia paham dengan apa maksud Andra.
"Kantor itu akan jadi mahar pernikahan gue buat dia."
Shane melongo mendengarnya.
"Termasuk gue sama staf, elu jadiin mahar juga."
Andra hanya mengedikkan bahu.
"Anjiirrrrr, gini amat punya bos super tajir. Main tunjuk aja semua bakal follow perintah dia."
Shane menggerutu, sedang Andra menulikan telinganya.
*
__ADS_1
*
Sementara itu, seperti dugaan Andra. Mark memang pedekate dengan Nana. Pria itu ingin membuktikan kalau Nana bisa menyembuhkan perilaku menyimpangnya. Pulang sekolah, Mark mengajak Nana untuk menemui Andreas, sebagai kedok agar bisa membawa Nana keluar. Plus dengan alasan, Alex sibuk jadi gak bisa mengantarnya.
Jadi dia perlu penunjuk jalan, dan Nana adalah pilihan yang tepat. Setelah bertemu Andreas, mengobrol sembari makan siang. Mereka melanjutkan acara kencan tersembunyi.
Dan jalan-jalan di mall menjadi pilihan mereka. Terlebih Mark ingin mencari baju ganti. Sebab dia diambil Shane langsung dari rumah sakit.
"Semoga cutiku tiga hari tidak sia-sia. Aku bisa menikah dengan perempuan tulen. Bukan abal-abal."
Batin Mark penuh harap. Menatap Nana yang berjalan santai di samping. Sesekali kulit tangan mereka bergesekan tapi Mark merasa tidak risih sama sekali. Justru pria itu merasa nyaman dengan kehadiran Nana. Sikap Nana benar-benar masih polos. Jadi Mark harus ekstra sabar. Maklum gap usia mereka hampir delapan tahun. Mark 26 dan Nana 18 tahun.
"Dapat abege gue."
Kekeh Mark. Lamunan Mark buyar ketika Nana menarik tangan pria itu, masuk ke sebuah outlet pakaian pria.
"Ngapain?" Mark malah asyik melihat Nana yang menggandeng tangannya.
"Katanya nyari baju ganti. Ini outlet yang jual pakaian yang merk-nya sering Kakak pakai."
Mark mengedarkan pandangannya. Dan benar saja, ini outlet pakaian kesukaannya. Pria itu menatap heran ke arah Nana. Bagaimana dia tahu soal brand pakaian yang biasa dia suka pakai. Padahal dia tidak pernah memberitahu Nana.
"Bagaimana kamu tahu aku suka pakai baju brand ini?"
"Aku suka desain baju, Kak. Sekali lihat aku tahu Kakak suka brand apa?"
Gadis itu tengah memilah-milah kaos dan kemeja dari rak display outlet itu. Mark kemudian ingat cerita Rea soal Nana. Gadis itu masih galau mau kuliah apa. Dia dulu mengambil jurusan akuntansi karena dia asal saja. Padahal passion Nana adalah design terutama design perhiasan.
"Coba deh."
Nana menyerahkan beberapa kemeja, kaos dan celana untuk Mark coba. Melihat tangan Nana penuh dengan baju. Timbul pikiran iseng Mark untuk mengerjai Nana.
"Nggak sekalian pakaian dalamnya."
Nana mendelik mendengar bisikan Mark. "Pilih sendiri, yang itu aku gak tahu ukurannya."
Ceplos Nana tanpa sadar. Mark terbahak mendengar jawaban Nana. "Makanya pilihan. Biar tahu ukurannya."
"Idih ogah!"
Nana bergidik ngeri membayangkan sesuatu di pikirannya. Hiiiiiii, Nana berjalan menjauhi Mark yang semakin terpingkal-pingkal melihat ekspresi Nana yang malu. Rona merah jelas terlihat di wajah manis Nana.
"Bisa aja ni dokter belok ngerjain gue."
__ADS_1
Maki Nana dalam hati. Dia tidak tahu saja kalau Mark otewe normal. Alias sembuh.
*****