Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Calon Mantu Idaman


__ADS_3

Andra melihat santai pada Matt yang menatapnya garang. Pria itu menangkap basah Andra yang tengah mencium kening Rea. Keduanya duduk di ruang keluarga Aherne, setelah Andra membawa tubuh Rea naik ke kamarnya.


"Ayolah Om, cuma cium kening doang....." Andra berhenti bicara ketika Matt mendelik padanya.


"Jangan-jangan coba-coba ya," ancam Matt. Matt tahu benar track record Andra yang sangat baik. Dia hanya belum rela, anak bungsunya dipinang oleh seorang pria.


"Nggak kok Om," cengir putra Daniar itu.


"Ingat, sampai lulus kuliah, kau tahu kan dia baru datang kemarin. Dan sekarang kau sudah sibuk ingin mengambilnya," nada bicara Matt berubah sendu.


"Nggak ngambil kok Om. Cuma saya nikahin."


"Sama saja songong. Orang bapakmu aja bilang, besok kalau sudah kalian sudah nikah, Rea harus tinggal di rumahmu."


"Makanya nyetak anak cowok biar bisa bawa anak gadis orang pulang ke rumah." Sebuah bantal sofa melayang ke wajah Andra sebagai jawaban atas perkataan Andra.


"Calon mantu gak ada akhlak!" maki Matt.


"Ooohh kirain Om mau ngumpat, dasar anake Daniar Sky," balas Andra.


"Sebelas dua belas memang kalian ini. Besan sama mantu durjana," sambung Matt dongkol.


******


Rea menghela nafasnya pelan. Gadis itu baru saja menyelesaikan acara tendang samsaknya. Kali ini Rio benar-benar menolak jadi sabeum-nya. Melihat wajah Rea yang mendung sejak datang ke dojangnya, sudah membuat Rio waspada. "Nggak! Kalau mau cari partner tanding. Mending lu tanding sama samsak aja sana," tolak Rio.


"Sama samsak gak seru, Rio."


"Ogah. Elu giliran frustrasi aja ke sini. Kalau lagi happy gak pernah kemari," gerutu Rio. Rea jelas membantah semua tuduhan Rio. Sebab dirinya termasuk rajin berlatih.


Dan setelah satu jam menghajar samsak yang tidak merespon sama sekali tendangannya. Rea mendudukkan diri di sebuah kafe di sebelah dojang Rio. Kafe itu menghadap ke halaman belakang dojang yang berbukit dengan lapangan rumput sebagai tempat latihan outdoor anak-anak taekwondo.

__ADS_1


Hari ini, dua hari menjelang hari pertunangan Andra. Rea semakin galau dibuatnya. Berkali-kali dia menarik nafasnya untuk menghilangkan rasa kecewa atau lebih tepatnya rasa cemburu dan tidak terimanya. Hingga gadis itu merasa kesal sendiri. "Dasar cowok gak peka!" maki Rea seraya merenģgut paksa gelang pemberian Andra dari tangannya.


Rea sudah siap melemparnya ke kolam yang ada dihadapannya. Ketika sebuah tangan menahan gerakannya. "Kenapa dibuang? Tidak suka?" tanya Andra sembari mengambil gelang itu dari tangan Rea, yang melongo melihat kehadiran Andra. "Ngapain di sini?"


"Ketemu kamulah. Jemput kamulah. Apalagi, kata kakakmu, kamu lagi ke dojang. Ya sudah aku susulin. Kenapa dibuang? Mau ganti yang lain, aku beliin."


"Aku bukan cewek matre yang semua minta dibelikan." Rea berjalan menjauh dengan Andra yang bergegas mengekorinya. Melihat Andra yang mengikutinya, Rea berbalik. "Jangan ganggu aku, aku lagi pengen sendiri."


"Re.....kamu marah sama aku?" tanya Andra tiba-tiba. "Marah? Punya hak apa aku marah sama kamu? Aku bukan siapa-siapa kamu. Aku cuma orang lain. Lagi satu, stop ngikutin aku. Kamu lusa tunangan, aku gak mau Rana salah paham soal hubungan kita."


"Kamu cemburu sama Rana?" seulas senyum terbit di bibir Andra. "Cemburu? Apalagi itu? Dengar tuan Andra Sky, tidak ada rasa cemburu atau apapun itu. Sebab cemburu hanya untuk mereka yang memiliki perasaan lebih pada lawan jenisnya. Dan aku....tidak punya perasaan itu."


"Benarkah?" pancing Andra. Rea berbalik tanpa menjawab pertanyaan Andra. Berjalan menjauh menuju ke perbukitan di belakang dojang. "Re....mau ke mana? Mendung, mau hujan," Andra berteriak.


"Jangan sok perhatian padaku!" Rea memekik marah. Mata gadis itu berkaca-kaca. Rasa sesak didadanya benar-benar sudah mencapai puncaknya. "Aku tidak sok perhatian padamu, Re. Aku benar......"


"Stop....kau mau tunangan lusa. Jadi jangan buat kekacauan dengan membuatku salah paham soal perhatianmu padaku, oke? Pergi...tinggalkan aku sendiri," usir Rea.


"Kau pikir aku sudah gila. Memintamu melakukannya." Rea mendelik mendengar perkataan Andra yang baginya tidak masuk akal.


"Jika kau minta. Aku akan melakukannya." Andra memandang lurus wajah Rea. Satu sisi Rea berteriak agar gadis itu melakukannya. Tapi sisi warasnya mencegah untuk melakukannya.


"Aku masih waras, meski aku punya rasa padamu. Aku tidak akan melakukannya....."


Andra mengembangkan senyumnya. Mendengar pengakuan tanpa sadar Rea. Gadis itu mulai mendaki bukit. Meninggalkan Andra dengan jutaan perasaan bahagia di hatinya. "Dia punya rasa padaku."


"Re...kembali. Jangan ke sana. Mau hujan!" Andra berlari menyusul Rea di tengah rintik hujan yang mulai turun. Makin lama makin deras, dengan kilat mulai menyambar.


"Pergi. Jangan pedulikan aku!"


"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu? Jika kamu baru saja mengaku punya rasa padaku."

__ADS_1


Rea tertegun. Gadis itu berbalik, melihat Andra yang berdiri di depannya. "Jangan ngaco kamu, aku tidak punya perasaan apa-apa padamu!" pekik Rea.


"Barusan kau bilang begitu."


"Tidak. Kau pasti salah dengar." Rea mulai kelabakan. Gadis itu merutuki kebodohannya yang asal bicara. "Tidak mau mengaku?" goda Andra.


"Mengaku apa?"


Duuuuaaaaarrr, petir menyambar pohon di belakang Rea. Gadis itu terkejut. Rea berbalik dan melihat dahan pohon mulai terbakar dan berjatuhan. "Awas Re.......!" Andra bergerak cepat saat ada dahan pohon yang cukup besar akan menimpa Rea. Pria itu memeluk tubuh Rea. Membawanya menjauh, tapi sayangnya, kaki Andra tersandung, hingga keduanya jatuh berguling-guling menuruni bukit.


Andra memeluk erat tubuh Rea. Membenamkan kepala Rea di dadanya. Kedua tubuh itu berguling dengan cepat. "Hah!!!!" Andra menarik nafasnya lega, begitu tubuh mereka berhenti berguling di tepi kolam renang. Andra menatap ngeri pada pohon yang habis terbakar akibat sambaran petir itu.


"Re....kamu tidak apa-apa?" tanya Andra, mengusap pelan punggung basah Rea yang berada tepat di atas tubuhnya. Tidak ada jawaban. Andra mendudukkan tubuhnya dengan Rea berada dalam pelukan. Kepanikan melanda Andra, ketika pria itu mendapati Rea pingsan dalam dekapannya.


******


"Bagaimana, Dok?" Tanya Andra pada dokter yang memeriksa Rea. Mereka ada di klinik dojang tempat Rea berlatih. Di tempat itu selalu ada dokter jaga jika ada anak-anak yang berlatih.


"Cuma shock. Tidak apa-apa." Andra menarik nafasnya lega. Setelahnya pria itu masuk ke dalam klinik, dilihatnya Rea yang selesai berganti baju. Gadis itu sedang mengeringkan rambutnya.


"Jangan bilang pada Papa," Rea bicara melihat Andra dari pantulan cermin di depannya.


"Aku tidak jamin. Kalau dia menempatkan pengawal bayangan di sekitarmu. Aku bisa apa." Rea terdiam mendengar ucapan Andra. Jika Matt tahu soal kejadian ini, bisa jadi Andra yang akan jadi sasaran kemarahan sang papa.


"Jangan mencemaskanku. Papamu paling cuma marah. Gak bakal bunuh aku." Kata Andra santai. Rea mendelik mendengar ucapan Andra.


"Kan aku calon mantu idaman." Batin Andra.


"Ni orang gak ada takut-takutnya sama singa Aherne," batin Rea.


*****

__ADS_1


__ADS_2