Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Akira Yuki


__ADS_3

Mark mengerutkan dahinya setelah keluar dari ruang pemeriksaan kandungan dengan Nana. Kandungan wanita itu baru berusia lima minggu. Itu artinya tidak akan terlalu kentara jika mereka menggelar pernikahan mereka tiga bulan lagi. Yang membuat Mark terkejut adalah sosok Vio yang tengah berjalan ke arahnya. Beberapa staf rumah sakit tahu Vio dan Mark berteman, tanpa mereka tahu apa yang sudah terjadi di antara keduanya.


Pertanyaannya adalah kenapa Vio muncul lagi di rumah sakit itu. Bukankah dia mengatakan kalau sudah menemukan cinta sejatinya, dan berhasil sembuh dari kebiasaan buruk mereka. Semakin mencurigakan ketika Vio jelas berhenti di hadapan Mark.


"Mark....."


Sapa Vio dengan wajah sumringah. Penampilan Vio tetaplah pria, karena dia memang pria tulen sebenarnya. Nana yang berdiri di samping Mark, terlihat bingung. Pun dengan Vio, pria itu menatap penuh arti pada Nana. Dalam hati Vio bertanya, siapa gadis cantik yang bersama Mark. Gadis yang sejak tadi bergelayut manja di lengan Mark.


"Dia siapa?"


Mark menarik nafasnya. Lantas memperkenalkan Vio pada Nana. Dalam kesempatan itu, Mark memperkenalkan Nana sebagai calon istrinya. Raut wajah Vio langsung berubah sendu. Vio pun meminta izin pada Nana untuk bicara berdua dengan Mark. Nana pun mengizinkan. Merasa tidak curiga sedikitpun dengan Vio.


"Ada apa?"


Tanya Mark sedikit ketus. Vio merasa kecewa melihat sikap Mark. Dia pikir ingin menjalin kembali hubungan dengan Mark. Tapi sepertinya Mark benar-benar sudah menemukan belahan jiwa dan cinta sejatinya.


"Apa benar kalian akan menikah?"


"Iya. Dan dia sedang mengandung anakku."


Vio mendengus kesal mendengar jawaban Mark. Gadis kecil itu bahkan sudah hamil anak Mark. Sementara dia, hubungannya kandas begitu saja.


"Kenapa kamu kembali lagi ke sini? Katamu waktu itu kau sudah menemukan cinta sejatimu?"


Wajah Vio bertambah sendu.


"Dia berubah pikiran. Dia pergi setelah tahu aku dulu g**."


Mark menarik nafasnya pelan. Hal itu yang sering terjadi pada mereka yang pernah mengalami gangguan orientasi seksual. Pasangan tidak bisa menerima masa lalu, lalu meninggalkan mereka begitu saja.


"Lalu maksudmu menemuiku?"


Vio terdiam, ada binar keraguan di mata pria itu. Hingga tiba-tiba dia memeluk Mark. Mark jelas kaget, dia berusaha melepaskan pelukan Vio. Takut ada yang salah paham.


"Bisa kita kembali seperti dulu?"


Mark semakin terkejut. Sejak bertemu Nana dan merasakan kalau dirinya bisa normal kembali, pria itu tidak punya keinginan untuk kembali ke lembah yang sama. Dia sangat menghargai kesempatan kedua yang diberikan untuknya. Mark sudah tentu tidak akan menyia-nyiakan peluang untuk memiliki keluarga yang harmonis seperti impian banyak orang, termasuk dirinya.


"Maaf Vio, tapi aku sudah benar-benar sembuh. Dia membuatku kembali bergairah."


Mark melirik Nana yang tengah memainkan ponselnya. Binar bahagia itu bisa Vio lihat di wajah Mark.


"Kita bisa menyembunyikan hubungan kita darinya."


Mark menggeleng, lantas menjelaskan kalau dia tidak mau membuat Nana salah paham. Dia tahu kejujuran penting dalam sebuah hubungan. Karena itu dia akan berusaha melakukan itu. Tidak akan membohongi Nana apapun alasannya.


"Apa dia tahu kalau kamu penyuka sesama jenis dulu?"


Mark mengangguk. "Dan dia mau menerima masa laluku. Bahkan mau mengandung anakku. Dia mau memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri dan membuktikan kalau aku bisa normal kembali."


Pria itu berlalu dari hadapan Vio, berjalan menghampiri Nana. Wanita itu langsung mengembangkan senyum, melihat Mark yang menggandeng tangannya. Nana bahkan sempat melambaikan tangan ke arah Vio sambil menganggukkan kepalanya. Wanita itu beranggapan kalau Vio adalah teman Mark.


*


*

__ADS_1


Di ruang kerja Bradley, wajah pria itu tampak kacau. Beberapa kali, dia mengusap kasar wajahnya. Suara Rea masih terngiang di telinganya.


"Aku sudah menikah dengan Andra."


Pria itu tentu tidak percaya begitu saja. Dia baru saja menyuruh anak buahnya memeriksa apa kabar pernikahan Rea dan Andra adalah benar. Saat ini, dia tengah menunggu kabar dari orang suruhannya. Ponsel Bradley berdering. Pria itu bergegas memeriksa. Satu file masuk ke ponselnya. Tubuh Bradley lemas seketika. File itu berisi bukti pernikahan Andra dan Rea berupa buku nikah. Juga beberapa dokumen pendukung perrnikahan lainnya.


"Jadi dia benar-benar sudah menikah dengan Andra?"


Batin Bradley lara. Meski dia sudah belajar merelakan Rea. Tapi rasanya tetap sakit. Melihat orang yang dia cinta menikah dengan orang lain. Padahal, dia sudah menyiapkan hati sejak lama. Namun ternyata semua tidak semudah yang dia pikirkan dan rencanakan.


Yang membuat melupakan Rea menjadi lebih sulit adalah karena dia dan Rea akan sering bertemu, setidaknya untuk beberapa waktu ke depan. Sampai skripsi wanita itu selesai. Brad menggeram kesal, mengingat apa yang diinginkannya sulit dia miliki. Tapi dia juga tidak mungkin merusak kebahagiaan Rea.


Akhirnya Bradley hanya bisa menarik nafasnya pelan. Berusaha menghilangkan rasa cintanya pada Rea, mungkin jalan satu-satunya yang dia punya. Di tengah kekalutan suasana hatinya, seseorang mengetuk pintu ruangannya. Tak lama muncullah sosok yang baru saja menjadi sumber kegalauan hatinya.


Rea, wanita cantik itu tengah berjalan ke arahnya. Bradley sejenak terpana, apapun yang ada dalam diri Rea selalu menarik perhatiannya. Entah suara, gesture tubuhnya apalagi senyum yang sering kali wanita itu tampilkan. Semua selalu bisa mengalihkan dunia Bradley.


Seperti saat ini, begitu Rea duduk di hadapan dosen itu, seluruh perhatian Bradley terpusat pada Rea, tidak ada hal yang lebih menarik daripada wajah dan suara Rea. Hingga penjelasan wanita itu soal perkembangan penyusunan skripsinya sama sekali tidak diperhatikan oleh Bradley. Pria itu sepenuhnya tenggelam dalam angan, dengan Rea sebagai porosnya.


"Anda tidak mendengarkan saya, Pak!"


Protes Rea mengembalikan kesadaran Bradley. Pria itu menatap lurus Rea yang ada di hadapannya.


"Kamu benar sudah menikah dengannya?"


Rea menghela nafasnya pelan. Lantas mengiyakan. "Apa kamu yakin?"


"Yakin dan tidaknya, saya tidak tahu. Tapi yang jelas pernikahan ini sudah terjadi dan saya sangat menghargai sebuah pernikahan. Karena itu saya akan menjalani pernikahan ini sebaik mungkin."


"Apa kamu mencintainya?"


"Sejak dulu saya memang mencintainya. Dan itu akan berlangsung selamanya."


Bradley tersenyum kecut, mendapati dia mengalami kekalahan telak dalam urusan cinta. Pria itu pikir apa tidak ada wanita lain yang bisa menarik perhatiannya selain Rea, wanita yang sudah bersuami.


Pria itu kembali tenggelam dalam lamunan, setelah Rea keluar dari kantornya. Hingga suara ribut di pintu ruangan membuyarkan lamunannya. Seiring gerutuan keras seorang gadis yang terdengar sampai telinga Brad.


"Anjiiirrr, ni pintu model apaan sih? Susah amat dibukanya."


Begitulah suara cempreng yang masuk ke indera pendengaran Bradley. Atensinya segera beralih pada satu sosok yang tengah berkutat dengan knop pintu ruangannya. Sudut bibir Bradley tertarik sedikit, melihat kekonyolan gadis yang rambutnya dicepol asal itu. Dia menguatik-atik pintu ruangan Brad, tanpa tahu kalau si pemilik ruangan mengamatinya dari tadi.


Hingga tiba-tiba, "klek". Mata si gadis membulat gemas, sementara Bradley melebarkan senyumnya.


"Alamak, malah patah ni. Kalau begini bagimana urusannya."


Gumam gadis berhidung mancung tersebut. "Siapa itu?"


Suara galak Bradley, membuat tubuh si gadis mematung. Apalagi dia mendengar rumor, kalau pemilik ruangan itu seorang dosen killer. Meski menurut rumor juga, kalau ketampanan si dosen killer juga tidak ada obat alias kebangetan.


Tak berapa lama, sosok yang baru saja ada di benak gadis itu, menjadi nyata di depannya. Gadis itu melongo, melihat kebenaran gosip yang beredar. Dilihatnya seorang pria tinggi, putih, hidung mancung, bibir tipis. Minusnya satu, raut wajahnya seperti mau makan orang. Galak, judes.


"Ngapain kamu di depan pintu ruangan saya?"


Suara dingin dan ketus Bradley membuat gadis itu melompat mundur. Pertanyaan yang sederhana tapi nyelekit karena penuh nada menuduh.


"Sorry Pak, saya matahin handle pintu, Bapak."

__ADS_1


Bradley mendelik, mendengar jawaban jujur gadis itu. Terlebih bukti potongan handle pintunya memang ada di tangan gadis itu. "Masuk!"


Satu titah singkat dan mutlak membuat tubuh gadis itu gemetar.


"Gue gak langsung di kirim ke akhirat kan?"


Celoteh gadis itu lirih. Meski begitu, Brad bisa mendengarnya. "Nama?"


Bradley memindai penampilan gadis yang menurut penilaian matanya, sangat amburadul penampilannya. Celana jeans sobek, kaos oversize dan jaket yang menurut Brad sangat tidak matching. Gadis itu asal memakai pakaian.


"Saya tanya nama kamu siapa?"


"Astaga! Jantungan ini gue jatuhnya."


"Makanya kalau ditanya jawab, malah bengong!"


Gadis itu melotot ke arah Bradley. Meski kemudian dia dengan cepat menundukkan wajahnya, seraya bergumam lirih, "Akira Yuki."


"Akira Yuki."


Bradley hampir meledakkan tawanya. Nama Jepang abis, tapi tampang bule sekali.


"Orang tuamu tidak salah kasih nama?"


Reaksi Bradley sungguh di luar dugaan. Dia tadi berencana ingin memarahi gadis itu. Tapi mendengar nama yang tidak sinkron dengan wajah, membuat Bradley sedikit hilang fokus.


"Apa salahnya dengan nama saya?"


Gadis yang bernama Akira Yuki itu mulai protes. Ini yang selalu dia hadapi. Masalah nama. Ayolah, itu sekedar nama, kenapa juga harus dipermasalahkan.


"Namamu saja sudah tidak konsisten. Seperti kelakuanmu."


Brad menggebrak meja dengan setumpuk berkas mengenai siswi bernama Akira Yuki ini. Bisa disebut kalau gadis di hadapannya ini adalah mahasiswa abadi di kampusnya. Tengil, keras kepala. Urakan, bertindak sesuka hatinya. Ancaman DO berkali-kali dilayangkan padanya, tapi gadis itu tidak gentar sama sekali.


Bradley sendiri cukup terkejut, ketika rektor senior kampus tempatnya mengajar, secara pribadi memintanya untuk menghandle kelakuan Akira Yuki. Dengan target tahun depan gadis itu melepas status mahasiswa abadi di kampus Brad.


"Sepertinya gadis ini bisa kumanfaatkan untuk mengalihkan perhatianku dari Rea."


Batin Bradley yang mulai menyadari kalau Akira mempunyai kecantikan tersembunyi di balik sikap urakan yang ditonjolkan oleh gadis itu.


****


Akhirnya othor dapat wangsit untuk jodohnya Bradley Scott,


Bonus visual mereka,



Bradley Scott dan Akira Yuki,


Jangan protes ya kalau visual Yuki sama dengan visual Lexa di novel othor yang satu lagi.


Oke, ritual jempolnya jangan lupa..


Ini Senin, bisa kasih vote-nya ke sini...kalau berkenan..🤭🤭

__ADS_1


***


__ADS_2