
Rea membulatkan mata, ketika Bradley menunjuk dirinya menjadi asisten selama dia belum bisa mengajar full.
"Jangan ngadi-ngadi ya."
"Terserah, kau mau mengumpat juga boleh. Memang itu kan yang selalu kau lakukan."
"Tapi kenapa harus saya. Siswa lain kan banyak."
"Tapi aku mau kamu. Sekalian bimbingan untuk ujianmu."
Rea mendengus kesal. Dia sudah berusaha meminimalkan interaksinya dengan Bradley, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Bradley semakin menjeratnya.
Pada akhirnya Rea pasrah. Padahal Jerry dan Devi sudah menyarankan untuk menolak hal itu. Ini bisa menimbulkan salah paham antara Rea dan Andra. Tapi Rea terlanjur menģiyakan.
Dan begitulah, Bradley duduk di kursinya sembari memperhatikan Rea yang tengah menyampaikan materi soal pajak penghasilan.
"Hanya ini, cara yang bisa aku lakukan untuk menjagamu. Maaf jika ini akan membuatmu salah paham dengan Andra."
Batin Bradley, menatap laptopnya.
"Kau punya bakat mengajar."
Bradley berkata ketika Rea tengah menelaah materi yang mungki ada di ujiannya nanti.
"Pengen jadi guru TK."
Jawab Rea singkat. Gadis itu bicara, tanpa melihat ke arah sang dosen.
"Lalu kenapa nyasar jadi akuntan?"
Pria itu pun menatap laptopnya, memeriksa pekerjaan siswanya yang dikirim via e-mail.
"Itu kan dulu waktu Rea tinggal di panti..."
"Sekarang kan kamu putri gubernur."
Potong Bradley cepat. Rea langsung mendengus kesal mendengar parkataan Bradley.
"Marah mulu perasaan."
"Pak, kalau Bapak gak bisa berhenti ngomong. Tak korek lagi tu jahitan di perut Bapak."
"Emang berani?"
Rea menggigit bibirnya. Keduanya bicara tanpa memandang satu sama lain.
"Nggak!"
"Ya sudah, diam kalau begitu."
Rea langsung memanyunkan bibirnya kembali menatap pada buku di hadapannya.
"Dua bulan Rea, dua bulan saja."
Batin Rea berusaha membentengi diri dari pesona Bradley yang bisa saja meluluhkan hatinya. Rea menggelengkan kepala. Mencoba menghilangkan bayangan yang tidak-tidak soal dia dan Bradley.
"Fokus, Re. Fokus...."
Rea semakin kesal saja dibuatnya. Tak berapa lama, pintu terbuka, menampilkan Ken yang masuk tanpa diundang.
__ADS_1
"Maksudmu apa?"
Todong Ken pada Bradley. Pria itu jelas emosi ketika Jerry memberitahu kalau Rea sedang bimbingan dengan Bradley. Ken baru saja kembali dari luar kota. Jadi dia sedikit ketinggalan berita.
"Aku membimbingnya untuk ujian akuntannya. Arrrgghhh."
"Ken, lepaskan!"
Rea berteriak ketika Ken mencengkeram kerah Bradley. Nyeri langsung menghantam bekas jahitannya. Sementara Rea berusaha melepaskan tangan Ken dari leher Bradley.
"Ken, lepaskan! Yah...Pak berdarah lagi."
Rea berkata melihat ke arah kemeja putih yang sudah berubah merah. Melihat itu, Ken seketika melepaskan tangannya. Dia ikutan panik. Sementara Brad langsung memejamkan mata, sambil menggigit bibir bawahnya. Nyeri, perih dan panas sekaligus ia rasakan. Pria itu duduk di kursi dengan kepala mendongak ke atas.
"Obat tahan sakitnya mana?"
Bradley menunjuk laci meja kerjanya. Rea dengan cepat mencarinya.
"Botol biru..."
Lirih Bradley. Sedang Ken hanya mematung melihat hasil perbuatannya. Dia tidak tahu kalau Brad terluka. Brad langsung menelan obatnya bahkan ketika Rea belum mengambilkan air minumnya.
"Ini bagaimana? Aku telepon kak Mark ya?"
Brad mengangguk. Beberapa waktu berlalu, Mark ternyata masih di ruang operasi. Tapi kata asisten yang menjawab ponsel Mark, dia disuruh membersihkan darah yang keluar dari luka Brad. Lalu dilihat apa jahitannya terbuka lagi atau tidak. Kalau tidak ya tidak apa-apa. Kalau terbuka harus dijahit ulang.
Brad mendesis, ketika kapas yang sudah dibasahi alkohol itu, menyentuh kulit perutnya. Pria itu telah membuka kemejanya. Melemparnya ke lantai. Rea seketika menelan ludahnya, perut rata dengan sixpack itu terpampang nyata di depan mata Rea.
"Pelan Re...."
"Ini sudah pelan, Pak."
Huh! Rea menghembuskan nafasnya kasar. Begitu dia selesai membersihkan darah di luka Brad. Sementara keringat dingin sudah membanjiri tubuh Brad.
"Bentar Pak, kak Mark telepon."
Rea menjawab video call dari Mark. Pria itu diperlihatkan bekas jahitan di perut Brad. Hening sejenak. Terlihat Mark yang mengamati luka Brad. Hingga pria itu berkata kalau jahitannya tidak terbuka. Tapi Brad harus memeriksakannya. Sebab takut ada infeksi dan sejenisnya.
Brad mengiyakan saja. Dia hanya bisa memejamkan mata. Menetralkan detak jantung yang berdebar karena melihat Rea yang menyentuh tubuhnya. Plus nafas hangat Rea yang menerpa kulitnya.
"Gadis ini benar-benar bahaya."
Batin Brad sembari membenarkan posisi duduknya. Pria itu meminta Rea untuk mengambilkan kemeja di mobilnya.
"Memang kau terluka kenapa?"
Ken bertanya ketika Rea sudah keluar dari sana. Melihat kepanikan Rea, bisa dipastikan kalau luka itu ada hubungannya dengan gadis itu.
"Dia diculik Janson dan kebetulan aku di sana."
Kata Brad, masih dengan mata terpejam. Ken memicingkan mata, tidak percaya dengan jawaban sang dosen.
"Kenapa kau bisa ada di sana?"
"Karena Janson kakakku. Jadi aku berusaha mencegahnya melecehkan Rea....aawwww..."
Ken mendelik mendengar perkataan Brad. Sementara Brad kembali mengerang lirih. Kenapa jadi sakit begini sih.
Rea kembali membawa kemeja hitam milik Brad. Pria itu memakainya dengan susah payah. Hingga Rea berinisiatif membantu. Saat Rea mengancingkan kemeja Brad. Jantung Brad kembali dibuat tidak aman. Apalagi jemari Rea beberapa kali menyentuh dadanya. Beeuuhhh rasanya seperti kena aliran listrik tegangan tinggi. Kesetrum.
__ADS_1
"Sudah."
Rea menepuk pelan dada Brad untuk merapikan kemeja pria itu. Kebiasaannya kalau sedang bersama Andra. Bisa dibayangkan bagaimana merahnya wajah Brad. Malu, berdebar-debar. Hingga deheman Ken membuat Brad sadar. Terlebih, Rea sudah berlalu dari hadapan pria itu.
"Berhati-hatilah. Jika bukan aku yang menghajarmu. Maka akan ada orang lain yang menghajarmu."
"Ayo."
Suara Rea membuyarkan situasi tegang antara Ken dan Brad.
"Ke mana?"
"Rumah sakit. Aku akan mengantarmu."
Senyum Brad hampir mengembang sempurna, tapi semua tidak seindah yang Brad bayangkan. Karena detik berikutnya Ken yang mengambil alih kunci Brad.
"Aku yang akan mengantarkan. Toh dia begitu karena ulahku."
Rea mengerutkan dahinya. Tapi dia tidak terlalu ambil pusing. Justru kebetulan. Karena dia ingin mengunjungi Nana. Gadis itu sibuk sekali akhir-akhir ini. Dan dia sudah lama tidak ke toko Nana.
Mereka berpisah jalan. Rea diantar Jerry dan Devi. Keduanya sekarang ditugaskan menjaga Rea full.
*
*
"Beneran, kakakmu yang nyulik Rea."
Ken bertanya kepo. Keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Brad mengangguk. Setelahnya, mengalirlah cerita dari bibir Brad soal malam itu. Ken hampir menginjak pedal rem ketika Brad bercerita, kalau Rea hampir dilecehkan oleh sang kakak. Bahkan sang kakak sempat memberikan obat perangssang pada Rea.
"Kakakmu minta dihajar."
Geram Ken.
"Sayangnya dia berhasil kabur bersama Clara."
Ken membulatkan matanya. Bagaimana bisa Clara juga muncul di sini.
"Clara...bagaimana dia ada di sini?"
"Kau kenal Clara?"
"Apa Rea tidak cerita?"
Brad menggeleng. Detik selanjutnya, gantian Ken yang bercerita soal siapa Clara. Apa yang sudah dia lakukan pada Rea di masa lalu. Ken juga menceritakan kalau dirinyalah yang menekan bisnis keluarga Clara, agar gadis itu bisa mengoreksi dirinya. Tapi sepertinya ini tidak berpengaruh pada Clara.
"Akan kuberi pelajaran tambahan pada Clara kalau aku bertemu lagi dengannya."
Kata Ken sembari memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit.
****
Puyeng gak tu Rea....
Ritual jempolnya ditunggu....
Like, vote, gift dan komennya jangan lupa 😘😘
__ADS_1