Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Keliyengan


__ADS_3

Rea mengangkat wajahnya ketika merasa sebuah selimut tersampir di pundaknya. Melihat siapa pelakunya, Rea kembali melanjutkan tangisnya. Bradley hanya bisa menghela nafas. Pria itu berlalu dari hadapan Rea. Membiarkan gadis itu menumpahkan tangisnya hingga puas.


Mereka berada di vila Brad di tepi pantai waktu itu. Rea memandang ombak laut yang bergulung-gulung. Mata gadis itu bengkak, dia terlalu banyak menangis. Ada sesal kala dia mengucapkan kata putus pada Andra. Tapi mengingat bagaimana pria itu mencekiknya, amarah Rea kembali naik. Dia tidak mau lagi dibully, dia tidak mau lagi direndahkan.


Beberapa waktu berlalu, hari mulai merayap malam. Hampir seharian Rea tidak mengisi perutnya. Hingga sepiring sup yang masih panas tiba-tiba sudah berada di depannya.


"Makanlah, setidaknya itu bisa menenangkan perasaanmu meski sedikit."


Ingatan Bradley kembali ke tadi pagi, Bradley memang sudah tahu apa yang terjadi. Meski dia suka kalau Andra dan Rea gagal menikah. Tapi bukan dengan cara membuat Rea menangis sepanjang hari. Begitu tahu siapa dalang di balik penjebakan Andra, Brad langsung menuju tempat yang digunakan untuk membuang Stacey.


Kali ini Bradley cukup tercengang dengan sifat kejam yang Andra miliki. Saat Bradley berkunjung ke ruangan Stacey dan temannya dibuang, di pintu masuk ruangan itu, tertulis "for free". Yang artinya kau bisa bermain dengan wanita yang ada di dalam ruangan itu tanpa membayar, alias gratis. Ditambah kau bisa bermain sampai kau puas.


Begitu Bradley masuk, dilihatnya ruangan temaram, ia disambut suara desahaan yang membuatnya muak. Dengan satu lampu menyala di atas ruangan itu. Beberapa pria terlihat tengah menyetubuhi seorang wanita di atas kasur, sementara yang lain di sofa.


"Kau benar-benar menunjukkan sisi gelapmu, Andra."


"Hei jika kau ingin bermain, mengantri sana!"


Teriak seorang pria yang sedang membuka bajunya. Sepertinya itu giliran dia. Sebab beberapa pria sudah mengenakan pakaiannya kembali. Mendengar teriakan pria itu, Bradley berdecih. Bercinta dengan bekas kalian. Big no.


"Maaf...kalian saja. Aku tidak berminat."


Wanita yang berada di atas kasur langsung bangun begitu mendengar suara Bradley. Matanya berbinar penuh harapan. Stacey berharap kalau Brad akan mengeluarkannya dari sana.


"Brad, tolong aku. Aku sudah tidak tahan lagi."


Pinta Stacey memelas. Diliriknya sang teman yang keadaannya tidak jauh berbeda dengannya. Temannya yang lebih dulu masuk, tentu keadaannya lebih parah darinya.


"Seharusnya kau memikirkan akibatnya sebelum kau berurusan dengan Andra Sky. Pernikahannya gagal, dan kau masih berharap untuk bisa lepas darinya. Jangan mimpi. Kalau kau bisa lepas dari tempat ini. Dia akan memburumu, bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun. Sudahlah, nikmati saja harimu. Bukankah kau sangat suka bermain."


Bradley berbalik. Keluar dari ruangan itu. Mengabaikan teriakan minta tolong Stacey yang kembali diseret ke kasur.


"Habis sudah harimu, kau salah memilih lawan kali ini."


Masih bagus Clara yang dijebloskan ke penjara oleh Ken. Daripada Stacey yang berakhir di tempat paling mengerikan di muka bumi bagi seorang perempuan.


Kembali ke Rea, gadis itu tampak enggan menatap sup yang disodorkan Brad ke arahnya. Gadis itu menggeleng pelan. Hingga Brad akhirnya duduk di hadapan Rea.


"Makan sendiri atau kusuapi. Kau boleh menangis semalam suntuk. Tapi makan dulu."


Pria itu mulai menyendok sup lalu menyuapkan. Rea menolaknya.


"Baiklah jika kau mau mati."


"Aku tidak akan mati hanya karena tidak makan satu hari."

__ADS_1


Ketus Rea. Gadis itu memalingkan wajahnya. Kembali memandang laut.


"Jangan berpikir untuk menenggelamkan diri di sana."


Rea tidak menggubris perkataan Brad, meski benar, ada keinginan untuk berada disana. "Rasanya sakit. Lebih sakit dari apa yang kau rasakan sekarang."


"Apanya?"


"Bunuh diri."


Rea mulai mengamati penampilan Brad yang berbeda hari ini. Jika pria itu sering terlihat formal saat mengajar, tapi hari ini Brad berbeda. Memakai kemeja luar berwarna ungu cerah, dan inner kaos putih. Tampilan pria itu terlihat santai.



Kredit Pinterest.com


"Siapa juga yang mau bunuh diri."


"Baguslah kalau kau tidak berpikir begitu. Ayo kuantar pulang. Mereka pasti bingung mencarimu."


"Kenapa aku harus pulang? Aku bisa tidur di sini kan."


"Boleh. Tentu boleh. Tapi aku tidak jamin aku bisa menahan diri."


Rea mendengus geram. Lalu beranjak dari duduknya. " Semua laki-laki sama saja."


Perlu satu jam lebih untuk sampai ke rumah Rea. Selama itu pula tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Brad memang membiarkan Rea berbuat semaunya. Asal tidak berbahaya.


Begitu mobil Brad masuk ke kediaman Brad, terlihat beberapa orang berlari ke pintu utama. semua jelas merasa cemas. Saat Rea turun, lalu disusul Brad. Satu mobil, melesat masuk ke rumah tersebut. Mobil itu berhenti, lantas pemiliknya keluar dari dalamnya.


Tanpa basa basi, pria itu memukul wajah Bradley. Rea, Gina seketika memekik. Sedang Berta langsung membawa Kai masuk. Sementara Matt dan Nicky langsung menarik tubuh Andra menjauhi Brad yang sempat tersungkur ke lantai konblok.


"Lepaskan aku! Beraninya dia membawa pergi Rea!"


Bradley bangun sembari mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Dia tidak melawan, Brad hanya terdiam saat Andra terus memakinya.


"Berhenti bicara! Kalau Kakak mau marah. Marah padaku. Tapi jangan pada orang lain."


Rea berdiri di hadapan Brad, seolah menjadi tameng bagi pria itu.


"Kau membelanya? Dia brengsek!"


"Yang salah aku, bukan orang lain!"


Tegas Rea. Suasana hening sejenak. Hingga semua orang masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Andra dan Rea. Bahkan Brad pun ditarik masuk oleh Nicky.

__ADS_1


"Re...percayalah padaku. Maafkan aku untuk yang kulakukan tadi pagi. Aku tidak bermaksud melukaimu."


Digenggamnya tangan Rea, tapi gadis itu melepas genggaman tangan Andra.


"Re...."


Rea menarik nafasnya pelan. Dia sungguh tidak tahu apa yang akan dia lakukan.


"Maaf Kak. Aku tidak bisa menjanjikan apapun pada Kakak. Percaya...entahlah. Rea perlu waktu."


Gadis itu berlalu pergi dari sana. Meninggalkan Andra yang benar-benar putus asa.


"Waktu? Baik akan kuberi waktu yang kau minta. Tapi selama itu, hanya ada benci dalam hatiku. Andrea Kirana, keraguanmu padaku akan membuatmu terkejut saat kita bertemu lagi."


Mobil Andra keluar dari kediaman Aherne. Tanpa Andra tahu, Rea menatap kepergian Andra dengan pedih.


"Maafkan aku. Aku sungguh ingin percaya padamu. Tapi hatiku sangat sulit melakukannya. Maaf."


Enam bulan kemudian.


Andra menatap nanar selembar kertas yang berada di tangannya. Sertifikat akuntan Rea, mereka mengirim bukti kelayakan Rea sebagai seorang akuntan pada dirinya. Di sana, tertulis Rea lulus menjadi seorang akuntan dengan nilai sempurna. Nilai Rea berimbang dengan nilai Andra. Pria itu menghela nafas. Enam bulan berlalu, dan dia sama sekali tidak bertemu Rea.


Gadis itu mengajukan izin cuti pada pihak kampus. Dan sudah enam bulan, gadis itu tidak pernah masuk kampus. Padahal menurut schedule, gadis itu seharusnya sudah masuk proses pembuatan skripsi. Pihak keluarga Aherne menutup semua akses hubungan Andra dengan Rea. Mereka seolah mendukung keputusan Rea yang ingin meminta waktu untuk berpikir. Tapi sampai enam bulan, yang benar saja.


Sedangkan usaha Jack belum membuahkan hasil. Pria itu tidak bisa menemukan Rea di manapun. Padahal setahu Jack, Matt tidak memiliki jaringan keamanan yang bagus.


Dalam enam bulan ini, Andra sudah masuk ke kantor Daniar. Sejak pria tersebut terkena serangan jantung waktu itu, Andra langsung memutuskan masuk kantor sang papa. Bisa dibayangkan betapa hebohnya pemberitaan, saat Daniar mengungkap siapa penerusnya. Mulai saat itu pula, kehidupan ruwet Andra dimulai. Dia jadi kejaran banyak wanita. Mereka semua berebut ingin menarik perhatian Andra. Padahal pria itu telah mengunci hatinya dengan kebencian. Dia tidak akan membuka hatinya kecuali dia bertemu dengan orang yang sudah menumbuhkan rasa benci di hatinya.


Andrea Kirana, hanya satu nama itu yang ada dalam hati Andra, tapi bukan cinta yang dia rasa, melainkan benci. Sikap dingin dan tegas Andra menjadi momok tersendiri bagi karyawannya. Tidak ada yang berani berbuat kesalahan saat pria itu memimpin. Satu kesalahan, maka pemecatan yang mereka dapat.


Alex tentu dibuat pusing tujuh keliling dengan perubahan sikap Andra. Pria itu bahkan berdoa tiap hari agar Rea segera menampakkan diri.


"Gue lama-lama bisa gila Shane, kerja sama tu kutub utara."


Curhat Alex pada Shane. Shane sendiri mengakui kalau Andra bukan lagi Andra yang dulu.


"Kita berdoa saja. Semoga Rea cepat ketemu. Hanya dia seorang yang bisa mengembalikan Andra seperti dulu."


"Pawangnya hilang, kita yang keliyengan."


Shane terkekeh mendengar ucapan Alex.


***


Ritual jempolnya jangan lupa ya...

__ADS_1


Like, komen dan votenya ditunggu 😘😘


__ADS_2